
POV Dhea
Tekad yang aku miliki sudah sangat bulat hingga bisa di bilang sudah bundar sempurna. Setelah kemarin menghabiskan malam dengan putri kesayangan bos monster itu, aku mulai sadar jika semua yang di ucapkan oleh gadis ajaib itu benar benar spektakuler.
"Tante Dhe, harus kuat. Harus berani. Kalau tante Dhe kaya gini terus, yang ada daddy aku itu tetap bertahan di kondisi ini. El, rela kok tante. Jika nanti daddy tidak seutuhnya jadi om jo yang dulu El miliki, El bener bener menerima. Asalkan memang semua rasa sedih di mata daddy hilang. Lama kelamaan, El bener bener kurang nyaman dengan sikap daddy ke semua orang. Pasti setiap manusia memiliki batas pertahanan. El hanya takut, jika daddy seperti ini terus menerus. Daddy justru kehilangan semua orang yang menyayangi daddy dengan tulus."
Daniela menunduk. Menenggelamkan kepala mungilnya dalam dalam. Mengabaikan wajahku yang puas karena malu sekaligus terkaget kaget dengan kalimat yang begitu lancar keluar dari mulut kecil nya.
"El.." Ucapku pelan.
"Ya tante?"
"Tante sama kamu, tuaan siapa ya?" Tanyaku terkagum kagum.
"Hahaha, tante ini loo".
Gadis kecil ini kembali tertawa riang, seketika kesedihan yang membuat hatiku hancur sirna begitu saja. Lega, jika melihat senyum dan tawa seperti anak anak sebayanya.
"Tante, maafin daddy ya. Tante juga harus berani melawan semua yang gak baik di dalam diri daddy. Masa tante kalah sama monster. Haha" Tawa Daniela malu malu, seperti ketahuan sudah berbuat salah.
Senyumku mengembang begitu mengingat apa yang kali bicarakan saat itu. Tidak rugi, aku harus kena caci maki karena membawanya pulang bersamaku.
Menang. Tentu saja! Aku mengantongi Izin resmi dari bu Amanda.
Setelah memanggil mbak Siska untuk membersihkan kantor bos, aku kembali duduk di mejaku. Fokus pada deretan pekerjaan yang melambai lambai untuk di kerjaan sebelum pulang. Sedangkan bos monster itu entah pergi kemana.
[Aku jemput kamu hari ini, motor kamu di parkir kantor saja. Love yoi, Dheaku sayang.]
Bunyi pesan masuk yang menyambutku di akhir jam kerja. Pesan dari Isa. Pria yang babak belur kenapa pukul bos monster. Salah sendiri, setiap mau ku ajak latihan bela diri, Isa selalu saja mengelak.
[Jangan lama lama. Aku tunggu di depan kantor. Sayang kamu juga.]
Setelah mengetik pesan balasan, aku merapikan semua yang ada di meja. Dan juga merapikan penampilanku di kamar mandi.
"Pulang, Dhe?" Tanya Ahmad. Saat aku melewati depan mejanya.
"Iya ini, Mas. Mas hari ini lembur?"
"Begitulah! Dhe.. Tadi kamu yang ngebanting pintu ruangan bos?" Tanya Ahmad hati hati.
"Hehe, iya." Aduh, malunya aku.
"Sabar ya Dhe, kita sudah bertahan selama ini. Semoga mas Jo lekas kembali." Sedih. Sendu.
"Semoga mas. Semoga bos mau pensiun jadi monster." Jawabku mencoba melucu. Berharap tidak lagi melihat kesedihan.
"Hahaha. Bisa saja kamu."
"Duluan, mas!"
Sesampainya di depan kantor. Aku menunggu cukup lama hingga pesan dari isa membuatku merasa lega. Buru buru aku membukanya. Berharap dia baik baik saja, walaupun sepertinya memang sangat terlambat untuk menjemputku.
[Dhea manis. Kamu tetap saja akan selalu menjadi yang entah keberapa setelahku. Maafkan aku yang meminjam pacarmu tanpa izin langsung darimu.]
Remuk. Hatiku kembali remuk. Kembali terasa nyeri. Semua ini benar benar membuatku kehilangan minat terhadap cinta. Aku kembali di telantarkan demi membantu perempuan yang kata Isa, di telantarkan suaminya.
Setelah melihat apa yang terjadi dengan diriku sendiri dan juga bos monster serta bu Amanda. Hatiku meski remuk tetaplah kuat.
"Perempuan sempurna seperti bu Amanda saja terluka karena cinta dan dia masih kuat, siapa lah aku ini. Malu kan kalau mau hancur lebur." Cibirku pada diriku sendiri setelah melihat foto wajah perempuan dari depan yang sedang di peluk oleh Isa. Pacar empat tahunku.
[Betul, aku memungut sampah yang kau buang. Karena aku kira, dia itu sampah yang bisa di daur ulang. Atau sampah yang bisa di gunakan sebagai pupuk. Yaaah, jika sekarang dia belum bosan untuk terus jadi budak mu. Artinya, dia benar benar sampah yang busuk dan tidak lagi ada manfaatnya. Bye.. Silahkan di ambil lagi, neng. Hahaha]
Puas. Puas meski hatiku sakit. Jariku bergetar saat mengetik deretan kalimat itu. Lututku juga terasa lemas. Hingga aku benar benar berakhir duduk jongkok di tengah jalan depan kantor.
Tin.. Tin... Tin
Suara klakson membangkitkan kembali rasa Maluku yang entah baru saja hilang kemana.
"Sial!" Bisikku pelan. Bagaimana bisa dia berada di sini.
"Dheaaa.. Why?" Teriak suara merdu yang sesuai dengan wajah sempurnanya.
"Ah, bu Amanda. Barusan lagi lihat sesuatu." Jawabku pura pura riang seperti biasa. Gawat kalau beliau melihat kondisiku seperti itu. Repot jadinya kalau biar juga tahu aku sekarang ini proses single.
"Bu Amanda mau ketemu sama Bos?" Tanyaku pelan. Mencoba untuk tidak tersenyum, dari pada nanti ketahuan.
"Enggak. Aku mau ketemu kamu kok, beruntung kamu belum pulang. Bisa minta tolong?"
Seperti Daniela yang tidak bisa berhenti berbicara barang sedetik saat kalimat pertama keluar dari mulutnya.
"Iya, Bu. Ada apa ya?" Penasaran.
"Mas Jo--"
Satu nama yang berhasil menyingkirkan kekecewaan ku karena perlakuan Isa. Justru kini hatiku berdebar kencang.
__ADS_1
"Mas Jo, sampai rumah tadi siang langsung tidur di kamar sampai sekarang belum bangun"
Debaran jantungku berhenti. Kembali tenang. Aduh, bu Amanda ini berlebihan sekali. Kalau tidur ya biarin. Baru beberapa jam ini kan. Belum satu hari penuh.
"Terus, saya ngapain bu?" Tanyaku konyol.
"Ikut saya ke rumah Jo ya. Kita menginap di sana. Kamu ambil baju ganti sama baju buat besok, atau terserah deh. Pokoknya ikut aku" Paksa perempuan itu lembut. Lembut karena memandangku dengan mata yang bikin meleleh.
" Jo sudah lama gak bisa tidur nyenyak. Kata Ela, sekarang jo lagi tidur nyenyak. Aneh kan. Jadi, temenin aku ya. Biar, mas Doni enggak cemburu terus mikir macam macam."
Demi apapun, aku menyesal sudah memikirkan perempuan yang mirip dukun ini.
*****************************
POV Jovan
Tidurku kali ini benar benar pulas, setelah rasa pusing yang mendera kepalaku karena terlalu memikirkan semua yang terjadi akhir akhir ini.
"Daddy sudah bangun?"
Suara perempuan yang akhir akhir ini menjadi semangat hidupku, samar samar terdengar.
"Aargh... Ela? Daniela?" Tanyaku penasaran. Karena kini bola mataku menangkap wajah senyum putri kesayanganku.
"Aargh, mimpi. Pasti mimpi." Desahku pelan. Menyakinkan diriku bahwa ini mimpi. Karena seingatnya, tadi pulang dari kantor tidak ada Daniela.
"Nyata kok!" Jawab gadis itu sambil berlari membanting dirinya di tubuhku.
"Aduuh. Ouugh.."
Sakit, putriku kini mulai bertubuh berat. "Kamu sudah mulai besar rupaya, bikin daddy jadi kesakitan. Uuuh"
Ternyata memang ini kenyataan.
"Daddy, miss you!"
"To. Kangen juga. Kesini sama siapa? Jam berapa ini?"
"Tengah malam, daddy. Kesini sama mama."
"Wow.. Woww. Daddy tidur selama itu heh?" Kataku sambil terkekeh pelan. Sudah lama sekali, aku tidak bisa tidur nyenyak setelah kejadian itu.
"Iya, begitu. Sampai lupa makan. Daddy mau makan? Ela bisa kok bawa ke sini kalau daddy tidak mau makan di dapur."
"Ke dapur aja. Ela kok belum tidur?" Tanyaku pelan. Menyingkirkan selimut di tubuhku dan memakai sandal rumah.
"Sudah tidur kok. Tadi kebangun, terus pindah ke kamar daddy."
Aku mengangkat tubuh mungil ini ke gendongan.
"Duduk diam sambil mengamati daddy tidur, eh." Bisikku sambil terus berjalan ke arah dapur. Menikmati tanya Daniela yang riang.
"Eeh!" Sentak ku kaget,
Ada sosok yang bikin aku mundur satu langkah saat sampai di dapur. Sosok yang sedang makan sesuatu di tengah keremangan lampu.
Setelah sosok itu berhenti menikmati entah makan apa di depannya, baru aku menghidupkan saklar lampu supaya lebih terang.
"Eeeh-- bos!" Pekik Dhea tertahan.
"Ngapain kamu malam malam di rumah saya." Tanyaku pelan bukan ramah.
Sedangkan Dhea justru salah tingkah. Malu.
"Di paksa mama buat ikut ke sini." Bisik Daniela.
Aku memandang wajah Daniela dan gadis itu secara bergantian. Sebelum akhirnya menurunkan Daniela dari gendonganku dan kami duduk di meja makan.
"Duduk, Dhe. Kamu habis makan apa?"
"Em.. E.. Anu... Itu--itu pak--"
Brak!
Reflek tanganku memukul meja. Benar benar menyesal mengingat ada putriku di sini. Yang sama kagetnya dengan Dhea.
"Daddy--" Rendah. Suara rendah Daniela yang menakutkan. Wajahnya penuh intimidasi.
"Daddy bisa kehilangan semuanya jika terus seperti ini. Ela sayang sama daddy, mama juga sayang sama daddy. Ela mungkin masih kecil, daddy. Tapi Ela tahu. Ela punya mata, Ela punya perasaan. Semua orang sayang sama daddy, mencintai daddy. Tapi, daddy justru sibuk melukai semuanya--"
Ini putriku?
"Dan tante Dhea... Hidup tante Dhe itu punya tante Dhe sendiri. Bukan punya mama... Bukan juga punya daddy. Tante Dhe punya hak untuk berbicara tidak. Tante Dhe bisa bilang tidak ke siapapun."
Nyaring,
__ADS_1
Suara putriku memenuhi ruang dapur. Membuat kami berdua mematung karena terkejut.
"Itu putri aku, Dhe?" Tanyaku heran. Setelah Daniela memukul meja keras dan beranjak pergi dengan suara hentakan kaki yang keras.
"I--iya bos." Jawab Dhea gagu. Menyebalkan.
"Kamu kenapa jadi gagu. Kemana Dhea liar yang tadi siang, hem?"
Cibirku.
"Bos mau makan apa?"
"Kamu bisa masak mie instan? Pedas?" Tanyaku pelan. Lebih terasa ringan daripada sebelum nya.
"Bisa dong bos. Hahaha" Dhea tertawa.
"Ya sudah. Bahannya ada di laci itu." Tunjuk jariku.
Setelah membiarkan Dhea memasak di dapur. Aku memikirkan kembali setiap kalimat yang keluar dari bibir mungil putriku. Bagaimana bisa dia memiliki semua kalimat itu di kepalanya.
Seberapa tahu Daniela selama ini. Apa hanya aku yang terlalu menganggap remeh gading kecil itu. Apa hanya aku buang selalu memandang berapa kecilnya putriku. Apa selama ini aku sudah terlalu berlebihan.
"Tenang, Jo. Kamu memang punya putri yang sangat istimewa. Tapi, semua yang di katakan Daniela memang benar adanya."
Wajahku mendongak, memandang ke arah Amanda yang kini duduk di depanku.
"Sejak kapan kamu di sini?,"
"Sejak tadi kamu bopong Ela sambil nunggu Dhea selesai makan untuk nyalain saklar lampu."
Eh?
"Aku di belakangmu." Lanjut Amanda seperti bisa membaca pertanyaan yang ada di benakku.
"Aku mendengar semua. Ela memang suka gitu. Dia istimewa, Jo. Setidaknya hanya dia yang mendapat efek positif setelah semua badai yang kita lalui."
Aku menghembuskan nafas kasar. Berharap sekretaris ku cepat bergabung dengan kami.
"Semua tidak baik baik saja setelah ini terjadi. Semua ini tidak membaik hingga saat ini, Jo. Padahal-- hay, Dhe. Sini... Bawa sini aja kalau sudah matang."
Dari dingin menjadi ramah. Cepat sekali perubahan itu. Aku menoleh ke arah Dhea yang memandang kami dengan pandangan takjub. Jika aku tidak keliru.
"Ini, Bos." Kata Dhea sambil meletakkan semangkuk mie instan sesuai dengan harapanku. Cabe dan beberapa sosis dan daging. Persetan dengan kalori.
"Saya mau kembali ke kamar dulu, Bos... Bu Amanda."
Aku hanya menoleh sebentar dan kembali meniup isi sendok ku.
"Iya, Dhe. Makasih ya." Sahut Amanda ramah. Seolah olah perlu mengucapkan terima kasih menggantikan aku.
"Mas... Dhea cantik ya."
"Heeem"
Malas kalau sudah mulai bahas topik ini. Paling ujung ujungnya--
"Maaas. Dhea itu baik ya."
"Baik, supel, ramah, hangat, cerdas dan nurut. Persis seperti perempuan iblis yang merusak rumah tangga mu."
"Hahaha. Mas Jo suka sadis gitu."
"Tadi wanita yang kamu bilang sempurna itu, mukul tubuh aku berkali kali. Bahkan nekan luka aku tanpa perasaan. Sengaja banget." Ceritaku lebay, sambil menunjukkan jariku yang terkena serpihan beling.
"Oh ya?"
"Jangan pura pura kaget." Sindirku pelan, sambil menyantap makanan hangat di depanku.
Amanda hanya tertawa. Cantik. Selalu tetap cantik dan cermelang.
"Aku bodoh kan. Terluka karena sangat mencintai, namun kini aku juga melukai orang orang yang mencintaiku."
Sesak. Hatiku terlalu nyeri. Tenggorokanku seperti tersedak kuah pedas ini. Dan air mataku meleleh.
"Hahaha, aku jadi lemah kaya perempuan gini." Ucapku hambar. Sambil mengusap air mata yang membuat mataku buram.
"Mas Jo hanya terlalu berusaha untuk kuat, sampai lupa bagaimana kuat itu sendiri." Bisik lembut Amanda yang kini sudah berada di sampingku. Memeluk kepala ku seraya mengusap rambutku penuh kasih sayang. Mencium ujung kepala ku sambil menangis.
"Kita hanya butuh waktu sedikit lagi sudah benar benar mampu menjadi kuat, mas. Menerima semua ini dengan lapang dada."
Tanganku semakin erat memeluk pinggang ramping Amanda. Dan akhirnya, kami benar benar kembali menangis bersama untuk sekian lama.
Benar.
Aku belum bisa kuat, karena aku sendiri belum bisa menerima semua kenyataan pahit ini.
__ADS_1