
POV Dhea
Menghabiskan malam dengan bu Amanda itu menyenangkan, menenangkan juga menegangkan.
"Nte Dhe!" Panggil gadis ajaibku itu, kesayanganku. Berat rasanya, harus menahan rindu dengan gadis mungil ini. Akhirnya... Kini aku bisa memeluk kembali, seperti sudah bertahun-tahun tidak bertemu.
"Geli, tante! Jangan di ciumi semua kepala El!" Rengek gadis kecil ini. Semakin membuatku gemas saja.
"Sudah bawa perlengkapan sekalian, Dhe?" tanya perempuan yang juga sama sama ajaib.
"Sudah, Bu."
"Langsung bawa kamar kamu aja ya, yang biasa itu."
Bahasa yang di gunakan bu Amanda suka bikin hati jadi dag dig dug, melambung tinggi ke angkasa.
"Besok besok, perlengkapan itu gak usah di bawa lagi deh, Dhe. Bikin repot kalau harus nginap di sini." Jelas bu Amanda sambil bersandar di lemari pakaian.
Aku tersenyum. Bahagia. Siapa yang tidak bahagia jika di perlakuan seperti ini?
"Sudah makan, Dhe? Dari kantor langsung pulang terus kesini kan?"
Sebelum aku menjawab, gadis kecil yang dari tadi duduk di atas kasur sudah berhasil mendahului, gesit.
"Mama masakin tante Dhe, barusan!"
Tidak terkejut lagi seperti dulu, bu Amanda memang sangat menghormati tamu. Lebih tepatnya, memuliakan tamu.
Bahkan ketika bu Amanda tahu kenapa sampai saat ini aku belum memiliki mobil, padahal gajiku cukup di atas rata rata sebagian sekretaris pribadi. Beliau justru semakin membuatku kagum, bangga bisa menjadi salah satu orang yang di kenal beliau.
Baik, cantik, kaya raya, perhatian, mulia. Kombinasi yang tidak semua perempuan bisa miliki. Sedangkan aku? Jauh di bawah standar kelayakan untuk bisa di tempatkan satu baris dengan bu Amanda.
Garis keturunan, jabatan, isi tabungan. Semua sangat berbeda denganku. Aku? Hanya anak yang kebetulan beruntung bisa memiliki otak yang cemerlang, hingga bisa menyelesaikan pendidikan ku dan mendapat pekerjaan di tempat orang-orang baik.
"Masak apa, Bu?" tanyaku pelan.
"Banyak, Nte! Semua kesukaan tante ada di sana. Hehehe!"
"Kesukaan kamu juga, El!"
Kami tertawa bersama, seperti keluarga bahagia. Wajar kan? Jika aku berkhayal menjadi salah satu anggota keluarga mereka? Bukan sekedar bawahan? Memang, serakah keinginan ku.
"Ada brownies, sup jagung brokoli, tumis daging, ayam panggang, sambal ampela hati, sayur sambal kacang."
Baru dengar saja sudah bikin liurku berkumpul, siap untuk menetes.
"Ikan salmoooon, mamaaa!"
__ADS_1
Hahaha, tawa bu Amanda menggema di kamar, seraya merangkul tubuhku erat.
"Saya mandi dulu deh, Bu. Bau kaya gini." Ucapku tak enak hati.
"Habis mandi langsung gabung ya, kami tunggu di ruang tengah!"
Aku mengangguk, melihat mereka.. Ibu dan anak itu keluar dari kamar baru aku beranjak untuk mandi.
Setelah bergegas membersihkan diri, aku melangkah menuju ruang tengah, di sana bu Amanda dan Daniela sedang membahas sebuah buku yang aku tahu itu milik Daniela.
"Sudah, Dhe? Langsung makan aja ya!" sahut bu Amanda saat melihatku mendekat.
"Mama juga nunggu tante Dhe buat makan bersama."
Aku tersenyum, bersyukur. Mereka orang-orang baik yang juga di berikan hadiah oleh Tuhan berupa hal hal yang menakjubkan. Iya kan? Mutiara terproses dengan keadaan yang menyakitkan dan semua logam mulia juga di bentuk dengan proses yang berbelit belit.
"Pak Doni belum pulang, Bu?" tanyaku spontan. Dari tadi tidak terlihat sama sekali. Biasanya kalau aku lagi nginap di sini, pak Doni akan menyapa ramah, bercakap-cakap akrab yang berjarak.
"Papa sudah gak tinggal di sini lagi, Nte!"
Aku terkejut, baru menyadari wajah cantik bu Amanda yang meringis, tersenyum tidak enak dengan jawaban Putrinya.
Gadis ajaib itu?
Tidak terpengaruh apapun, tetap menikmati potongan brownies yang berada di piringnya. Datar tanpa ada sedikitpun rasa sedih, hanya sekilas garis kebencian di mata bulat sempurnanya.
Kompak kami berdua, aku dan bu Amanda menghembuskan nafas kasar. Aku memandang bu Amanda penuh tanda tanya, yang hanya di jawab dengan kode bahwa melanjutkan makanan lebih baik. Semudah itu bu Amanda mengembalikan suasana menjadi tenang.
"El habis ini mau belajar di kamar aja, Mam. Barangkali mama sama tante Dhe mau berbagi waktu khusus perempuan dewasa. Tahu gini kan, tadi El minta jemput Daddy!" Omel Daniela sambil mengunyah buah apel di tangannya.
"Atau mau minta di anter pak supir aja? Atau minta daddy jemput?" tanya bu Amanda khawatir.
Sedangkan aku justru tidak enak. Biasanya kami bertiga akan membahas beberapa buku ensiklopedia sebelum gadis kecil itu tidur.
"Gak usah deh! Daddy lagi gak asyik di ajak ngobrol. Ribet bawaanya." Ucap Daniela sambil berjalan mengambil beberapa buku.
"Tante Dhe santai aja, mama memang butuh banyak waktu sama tante Dhe. Kasihan mama, temannya cuma tante Dhe!"
Plak!
Bu Amanda menepuk bagian belakang putri kesayangannya itu.
"Mama punya banyak teman, kan ada tante sisil, terus teman teman mama yang lainnya, arisan juga kan."
"Terus sama om Daniel juga kan, maaaa. Hahaha"
Sedangkan yang sedang di tertawakan kini memerah mukanya. Membuatku semakin penasaran.
__ADS_1
"Selamat malam, Tante Dhe sayang" Ucap gadis manis ini sambil meluk leherku erat.
"Selamat malam juga, kesayangan."
Bisikku di tengah tengah cium pipi.
Sepeninggal gadis kesayangan ku itu, wajah Bu Amanda menjadi sendu dan sedih. Air mata mulai memenuhi kelopak matanya.
"Bu?" panggil ku khawatir, mengambil alih tangan bu Amanda yang mulai saling meremas. Gelisah, takut, sedih dan hancur. Lengkap semua kesan suram di mata perempuan yang aku sayangi ini.
"Aku cerai, Dhe. Aku yang gugat cerai, mas Doni. Setelah sekian lama aku berusaha, akhirnya sampai di detik ini juga. Rasanya, begitu lama Dhe. Setiap malam, saat aku harus tidur dengan pria itu, dada ini sakit."
Aku termenung tidak percaya, jika perempuan yang aku ketahui sangat kuat ternyata benar benar kuat. Semua cerita mengalir deras sederas air mataku. Semua hal hal yang baru saja aku ketahui.
"Apa tidak sebaiknya, bu Amanda sama bos saja?" tanyaku yakin dan mantap, masa bodoh dengan hatiku yang nyeri. Aku hanya ingin melihat wanita ini bahagia.
Bukankah selama ini aku melihat beliau bahagia selama berada di samping bos?
Bu Amanda tersenyum penuh kasih sayang sebelum mengeluarkan pertanyaan yang membuatku menangis histeris.
"Kamu rela, Dhe? Kamu menerima aku sama jo bersama?"
Aku hanya mampu mengangguk angguk kepala, tidak berani menatap wajah perempuan mulia ini.
"Saya rela, Bu. Perasaan saya tidak lebih penting dari pada melihat bu Amanda dan bos bahagia." Ucapku lirih.
Pelukan dan tepukan halus di punggungku menenangkan, beliau ini... Sudah hancur namun masih sempat semuanya memikirkan orang lain. Jika seperti ini, bagaimana aku bisa egois? Berniat menggeser posisi bu Amanda pun tidak berani.
"Kita tidak bisa bersama, Dhe. Jo dan aku tidak bisa bersama. Kita berdua akan selalu terbayang bayangi masa kelam kita. Jujur, aku mencintai Jovan dengan kapasitas sangat besar. Jovan juga begitu ketergantungan dengan diriku. Kami satu paket, jika ada yang ingin memiliki salah satu dari kami, dia harus mampu menerima kami semua. Benar benar menerima dan rela membagi."
Aku menangis semakin kencang, tidak sanggup jika aku harus memilih salah satu dari mereka, tidak sanggup jika aku harus lepas dari kehidupan mereka, aku yang sebatang kara, sendirian di muka bumi ini mendadak memiliki seseorang yang seperti keluarga, yang selama ini aku idam idamkan.
Aku yang besar di panti asuhan, selalu memimpikan untuk bisa menjadi bagian penting dari hidup orang lain. Hal ini yang baru saja beberapa tahun terakhir seperti menjadi nyata.
"Kamu tahu, Dhe. Aku sungguh menyayangi mu. Jadi, bisakah kamu berbagi Jovan dengan kami? Aku dan Daniela?"
Sesak, hatiku sesak dan terasa sakit. Mencintai seseorang memang begitu berat. Sungguh! Aku tidak pernah berharap sedikitpun untuk berada di posisi ini. Bagiku, bisa mencintai mereka adalah anugerah terindah dalam hidupku.
Aku rela,
Aku menerima,
Bahkan jika seandainya aku harus memilih, antara memiliki mas Jo atau membiarkan bu Amanda bersama mas Jo, jelas aku akan memilih mundur, asal mereka bahagia.
Baru aku sadari, ternyata... Mencintai seseorang butuh energi yang sangat besar. Ternyata, menerima dengan kesungguhan hati, membuang keserakahan, justru membuatku mendapatkan semuanya.
"Bersabarlah sebentar lagi, Dhe. Pintu yang ku dobrak paksa sudah mulai terbuka lebar!"
__ADS_1