
Hari ini hari pertama aku mengantar jemput Nadira . Bahagia? Tentu saja. Entah, apa yang dirasakan olehnya. Setelah berpamitan dengan mas Adit, aku melajukan motor ku ke sekolah
Begitu turun dari motor, aku yang sudah terbiasa dengan tatapan semua orang, merasa biasa saja. Tetapi kelihatannya berbeda dengan Nadira. Dia terlihat bingung dan canggung.
"udah aku bilang kan, turunkan aku di gedungku saja. Kalau harus kesini dulu, pasti seperti ini. Kan kau harusnya paham akan hal itu. Apalagi disini ada calon tunanganmu. Apa kau ingin membunuhku? Urusan kemarin aja kita belum tau dalangnya, ini sudah membuat keonaran lagi? "ucap Nadira. Aku hanya tersenyum menanggapi nya.
" kau takut? "tanya ku padanya.
" bukan takut. Cuma malas saja kalau harus ada drama. Males aku tuh! "Nadira memberengut. Uhhh.... Sangat menggemaskan
Sebuah kecupan kudaratkan di dahinya. Serentak koor suara orang orang yang melihat menghiasi udara SMA kami
" justru dengan mampir dulu kesini, mereka jadi tau kalau kamu sudah taken. Biar ngga ada yang berani mendekati atau merusuh lagi. Ini juga buat pengumuman ke mereka kalau kamu dapat perlindungan dari aku mulai sekarang" jelas ku. Tentu saja aku sangat bangga karena mendapatkan nya. Meskipun dengan aji mumpung. Mumpung dia dijebak, aku pun memanfaatkannya. Dia cantik, cerdas dan mandiri. Tipe yang sangat sempurna bukan?
"aku ke kelas ku sendiri. Jangan ikut!"
"jangan rewel. Aku antar. Sebentar lagi kelas masuk!" aku pun langsung melepaskan kunci motorku sambil tanganku tetap menggenggamnya erat. Tak akan aku biarkan dia lepas sedikitpun. Sulit-sulit kudapatkan kok mau lepas begitu saja. Jangan harap!!!
Kelasnya agak jauh dari gedung ini. Butuh jalan kaki 10 menit untuk ke kelasnya. Tak kuperdulikan omongan orang orang tentang wanitaku ini. genggaman tanganku pun tak pernah terlepas hingga kami tiba di depan kelasnya
"aku tinggal dulu. Nanti waktu jam istirahat, aku kesini lagi"
Cup
kuberikan kecupan di dahinya. Entah kenapa aku sangat suka melakukan hal itu.
*****
Setiba di kelas, austin,betrand dan calvin sudah berkumpul di mejaku. Serasa jadi terdakwa sekarang. Anak anak pasti akan menanyakan tentang kejadian tadi pagi
"jadian lo bos sama anak beasiswa? Lo kan tau dia dulunya kerja apaan? Emang mau lo sama barang bekas?" kata kata austin sangat menyinggung sebenarnya. Tapi jika kubantah aku takut akan terkuak tentang insiden masa lalu itu
"dia ngga seburuk itu. Tenang aja" aku tak mau menyangkal juga tak meng iyakan. Takut anak anak curiga
__ADS_1
"ngga seburuk itu apaan? Kerjanya aja di tempat ngga bener. Apanya yang ngga buruk coba? Jangan buta karena cinta, bos! Kalau bos besar tau, apa kabar sama dia?" kali ini calvin yang menyanggah ucapanku. Memang pandangan orang tak bisa kita paksakan
"dia kerja karena keadaan. Jangan terlalu berpikir negatif!" aku mencoba mengacuhkan mereka. Ini tidak baik
"gimana ngga berpikiran negatif? Dia itu beasiswa full. Dikafe kata anak anak para karyawan juga sudah diberi konsumsi. Kos tempat dia itu juga ngga terlalu mahal ya? Gaji sebulan masih sisa kalau mau nabung. Terus ngapain masih kerja di club malam kalau bukan karena gatel?"Sambung calvin lagi. Kelihatan sekali kalau mereka tak menyukai pekerjaan Nadira di club
" kalian ini sebenarnya kenapa sih? Bukannya pada awalnya kita sama sama tertarik sama dia? Ngga terima gue dekat sama dia atau gimana sih? "mejaku sengaja kugebrak.tak tahan sebenarnya Nadira dihina mereka terus terusan. Tapi kalau mau jujur, aku yang belum siap
" gue awal emang respek sama dia. Tapi saat tau dia kerja di club, rasa itu pudar. Sama saja kayak yang lain. Cuma bisa buat mainan"
"yes. Gue setuju. Sebejat bejatnya kita, ngga maulah kita pacaran sama cewek ngga bener. Tetep yang terbaik lah kalau buat masa depan" calvin dan austin tetap saja terus terusan menghina Nadira. Sebegitu kecewa kah mereka dengan tempat kerja Nadira? Bagaimana kalau sampai mereka tau bahwa akulah orang pertama yang merusak Nadira? Tak bisa kubayangkan mereka akan kecewa seperti apa dengan kata kata mereka barusan
"LO diem ae, bet? Sembelit lo?" ucap austin pda betrand. Ini sedikit aneh sih memang. Betrand adalah anggota geng Rafael yang paling pendiam. Tapi kalau dari tadi dia tak menanggapi apapun, itu yang aneh. Dia adalah penasehat utama.
"lagi ngga mood. Gue balik ke meja dulu"
Tentu saja mereka masih menatap aneh salah satu anggotanya ini. Benar benar aneh. Tapi dipaksa bicarapun dia pasti ngga mau.
*****
Kubawa 2 mangkuk bakso ke kelas Nadira. Terlihat dia masih sibuk mengemasi buku buku diatas mejanya
"mau???" tawarku padanya. Kelihatannya dia sangat pengen dengan bakso ini. Akupun maklum. Tiap hari makan terlalu sehat, tidak baik untuk lidah. Benarkan?
"boleh???" tanyanya.aku hanya memotar bola mataku malas. Kalau ngga buat dia terus buat siapa? Kan tadi yang aku tawarin dia kan? Bakso itupun langsung kuputar posisi ke hadapannya. Tanpa basa basi dia segera menambah saos, sambal dan kecap. Sungguh mengerikan. Mangkuk itu sudah penuh merah merona. Antara sambal, saos dan kecap yang aku pikir pasti sangat minim.
"jangan terlalu banyak sambal!" toples sambal itu pun langsung kututup. Aku masih mendengar dia menggerutu tidak jelas.aku hanya tersenyum tipis.
"ngga repot makan bakso bawa komplit segini banyak ke kelasku. Jauh lho ini dari kantin sekolah" dia mencoba mengajak ku bicara. Tapi aku takut membuatnya tersedak menjawab seadanya
"ngga. Ntar diambil mang Slamet kesini." jawabku
"teman teman geng kamu kemana? Akhir akhir ini kelihatannya kamu lebih sering sendirian." tanya dia lagi
__ADS_1
"pacaran" balasku singkat. Ngga mungkin kan aku katakan kalau lagi selisih paham sama mereka
"kok kamu nggak ikut pacaran?" tanya nya lagi. Cerewet juga dia ternyata
"lagi jaga anak orang"
"siapa!?"
"Lo.ngga sadar? Dari tadi gue disini lo pikir gue ngapain kalau ngga njaga lo"
Selanjutnya kami hanya diam. Menikmati makanan kami masing masing
Selesai makan, dia merapikan gelas dan piring yang sudah kami pakai untuk makan. Aku yang akan menyusulnya tiba-tiba mendengar suara keributan. Aku pun bergegas menghampirinya
"bagaimana? Enak? Sok kecentilan sih. Kemarin sama om Reza. Sekarang sama Rafael. Mau jadi pelacur kelas tinggi lo?" Putri rupanya sudah mulai menunjukkan taringnya. Aku menyesal tidak segera bersikap tegas dengannya. Dia masih saja percaya kalau aku adalah calon tunangan nya. Padahal selama ini aku tidak pernah mengiyakan Hubungan ku dengan nya. Aku mencoba memperhatikan apa yang terjadi dulu. Jika sudah benar benar parah, akan aku selesaikan sekalian Hubungan ku dengan putri
"kenapa? Takut kesaing? Makanya jangan dandan doang. Attitude didandani biar cowok ngga pada ilfeel liat lo"
"jaga mulut lo ya. Gue bisa bilang sama papa gue buat membuat lo terusir dari sekolah ini. Gue bisa lakukan apapun itu untuk tujuan gue. Jadi, jangan macam macam. Aku paling ngga suka milikku diusik orang lain" ujar putri lagi
"gue ngga takut. Tapi makasih sudah diingatkan. Skarang aku tau, sainganku hanyalah seorang pengecut yang mengandalkan harta orang tua"
Prang...
Sebuah botol minuman kubanting di hadapan mereka semua.akupun mulai mendekati mereka.
"stop jadi preman yang kampungan. Aku bukan milik siapapun. Jadi jangan coba coba untuk mengklaim atau apapun itu jika menyangkut aku...." aku masih mencoba mengendalikan emosi menghadapi sikap bar bar dari Putri itu.
"tapi kita sudah dijodohkan dan akan segera bertunangan. Kenapa sih kamu masih ngga mau menerima kenyataan ini?" putri mulai terisak isak. Mungkin dia memang sangat mencintaiku sehingga dia menjadi sangat terobsesi padaku
"gue udah bilang ngga setuju. Jadi pasang telinga lo baik-baik. Gue ngga bakal mau tunangan sama lo" itu menjadi kata kata terakhirku sebelum aku meninggalkan putri yang masih menangisi kenyataan kalau barusan dia telah tertolak mentah mentah olehku
Kulihat Nadira sangat kacau. Segera kusuruh dia untuk pergi ke toilet membersihkan diri. Kubeli peralatan mandi lengkap dengan seragam ya agar dia bisa melanjutkan kelas.
__ADS_1
"Putri pramestari Wirawan. Kau sudah mengganggu wanitaku. Kupastikan hidupmu tidak akan mudah setelah ini"