Luka Masa Lalu

Luka Masa Lalu
Lima Belas


__ADS_3

POV Jovan


"Demi kita bertiga, Amanda! Tolong! Jangan paksa aku untuk mencintai Dhea. Jika bukan untuk kita, coba pikirkan kebaikan Daniela, kita bisa menjadi orang tua lengkap untuk putri kecil kita. Pasti--"


Aku yang sedang membujuk Amanda kini terkejut karena sentakan keras dari arah belakang.


"Jangan berani-beraninya bilang demi kebaikan aku, Dad! Kalian semua sama saja, Bodoh! Stupid! Egois! Kalian pikir, dengan alasan seperti itu memang benar adanya! Kalian ini... Para orang tua selalu saja menjadikan kami sebagai alasan, anak anak. Coba sekali kali ajak, kami.. Anak anak ini untuk berdiskusi. Kami juga memiliki perasaan yang nyata, Dad! Meski kami anak-anak, kami tahu betul bahwa orang tua kami sedang tidak bahagia. Keluarga macam apa yang akan Daddy berikan? Keluarga yang selalu akan merasa bersalah? Daddy pengen aku jadi terbebani karena merasa bersalah, setiap kali melihat kalian diam diam menyembunyikan penyesalan, menyembunyikan rasa sedih? Daddy! Please, sekali-kali ajak aku diskusi!"


Aku merenggut tubuh kecil yang sedang menangis tersedu-sedu itu kedalam pelukanku, maaf sayang. Aku benar benar tidak tahu. Yang aku tahu, ini semua terasa berat untuk kita semua. Maaf sayang, belum bisa memberikan hal yang baik untuk kamu.


"Daddy gak pernah tahu, betapa sakitnya aku di abaikan sama papa. Betapa inginnya El bisa meluk papa seperti teman teman El yang lainnya. Mama sama Daddy terlalu sibuk memikirkan yang terbaik untuk El sampai lupa memastikan secara langsung, merasa tidak perlu bertanya apa yang sebenarnya El butuhkan."


Remuk hatiku, jiwaku hancur lebih hancur di bandingkan dengan pengkhianatan Rhea.


Air mataku mengalir sangat deras, dadaku tidak mampu bernafas, tenggorokanku tersumbat.


"Daniela benci, setiap melihat mata mama yang tersiksa dengan semua ini, Daddy yang menderita. El benci dengan kondisi seperti ini. El benci melihat mama harus pura pura bahagia bisa kembali dengan Papa. El sudah bersyukur, akhirnya mama menghentikan kebodohannya. El berterimakasih kepada Tuhan, karena sudah mengembalikan Daddy! Bisa tolong, jangan lagi berkorban demi El? El sudah bahagia, El sudah mencoba belajar menerima. Setidaknya El lebih beruntung dari pada anak anak di panti asuhan tante Dhe. Cukup, Dad! Sudah cukup Mama! Daniela benar benar tidak meminta kalian bersama hanya karena ada Daniela."


Amanda yang terbiasa menangis dalam diam, kini menangis histeris. Meluapkan semua kesedihan selama ini.


"Daniela tahu, kelahiran Daniela tidak di inginkan oleh siapapun, Daniela lahir di saat yang tidak tepat. Maaf mama, karena Daniela semua jadi berantakan seperti ini, Daniela hanya ingin mama bahagia. Selama ini Daniela selalu berharap bisa memiliki Papa yang seperti teman teman El, dan Tuhan sudah kasih, Daddy! Tuhan kasih Daddy yang luar biasa untuk Ela. Sudah! Mamaa! Daad! Kalian tidak perlu bersama hanya karena ingin memberikan yang sempurna bagi El, ini sudah sangat sempurna, benar benar sempurna!"


"Maaf... Maafkan kami, El! Kami terlalu asyik dengan rasa sakit kami, sampai sampai tidak peka dengan apa yang kamu alami. Maafkan kami, El. Membiarkan kamu tumbuh dewasa sebelum waktunya. Maafkan mama, El!"


Malam ini, aku memeluk malaikat dengan sayap yang patah, mencium penuh penyesalan.

__ADS_1


Jika dulu aku tidak terlalu egois, tidak terlalu asyik mencintai, tidak terlalu sibuk memikirkan rasa cintaku sampai aku lupa melihat keadaan yang nyata, mungkin aku tidak akan memeluk malaikat agung ini.


Mungkin aku masih terlalu sibuk dengan perasaanku sendiri, tidak mampu memahami perasaan orang lain.


"Kenapa kamu milih Dhea untuk diriku?" tanyaku pelan, setelah puas memeluk malaikat kecilku. Aku butuh menyelesaikan semua ini secepatnya.


"Dia baik, tulus dan tidak serakah!" Jawaban Amanda belum mampu memuaskan rasa penasaran ku.


"Dulu, Rhea juga penurut!"


"Iya, tapi karena serakah, tidak bisa bersyukur, tidak bisa menerima, jadinya seperti itu. Sedangkan Dhea, dia berbeda. Dengan Dhea, mas Joo bisa menjadi Jovan yang benar benar diri Jovan. Tidak di batasi oleh perasaan apapun. Bukan Jovannya Amanda, Jovan nya Rhea atau Jovannya Daniela. Mas Joko benar benar jadi diri sendiri."


Aku termangu heran, bagaimana bisa Amanda sedetail ini memperhatikan.


"Yang terpenting, Dhea bisa memahami kondisi ini. Keadaan rumit ini."


"Dhea yang di besarkan dengan serba kekurangan, tidak lantas membuatnya hilang akal, saat mendapatkan apa yang tidak pernah dia dapatkan."


Aku tahu, Dhea di besarkan di panti asuhan. Tapi, sekarang sudah tidak tinggal di sana lagi.


"Hidup Dhea itu keras, Mas. Tapi, Dhea berhasil punya karakter yang kuat. Wajar jika Dhea selalu menuntut untuk di cintai, tapi... Sekali Dhea mampu mencintai, Dhea rela berbagi. Dhea rela berbagi mas jo dengan kami."


Aku termenung, diam.


"Bukaaaan. Bukan maksud aku kita nikah, terus mas juga Nikah sama Dhea. Bukaaan, Diiih!"

__ADS_1


Aku tertawa,


Lantas maksudnya bagaimana?


"Dhea mau dan menerima jika mas Joko tetap dekat dengan Daniel!"


"Jelas dong, harus itu! Siapapun nanti, Dhea atau entah siapa! Harus rela menerima kamu sebagai mamanya Daniela, dan harus menerima Daniela. Harus bisa menyatu perasaannya dengan kalian, jadi gak drama cemburu yang bikin semua retak. Yang jelas tetap tahu batasan!"


"Nah, ini pinter!"


Aku terkejut!


Ternyata seperti ini, kemauan Amanda.


"Kalau kamu sendiri?"


"Sama! Harus seperti Dhea. Menerima kedekatan kita sebagai keluarga, menerima kamu mas!"


Amanda tersipu, mukanya memerah!


"Ada yang belum kamu ceritain?" Pancingku penasaran. Sepertinya ada bagian yang di sembunyikan.


"Kamu gak menerima aku karena ada pria lain? Siapa?" Desakku penasaran.


"Bukan ih, belum... Gak gitu ih!"

__ADS_1


Jelas sekali, perempuan ku ini sedang tertarik dengan seseorang. Siapa?


__ADS_2