
POV Dhea
Rasa nyaman yang hadir karena perubahan sikap bos, ternyata membuatku mulai kembali berharap bisa bertemu pria yang mencintai dengan kesetiaan penuh.
Jika melihat bu Amanda dan bos kemarin, aku tidak bisa menyangkal bahwa di hatiku ada perasaan lega sekaligus kecewa.
Kecewa karena ternyata aku tidak sepenting itu bagi mereka. Aku mah apa atuh, perempuan biasa yang kebetulan terseret masuk di dalam gelombang yang pada akhirnya akan terpental keluar.
Tapi, bagaimanapun kita memang harus profesional, bukan?
"Makan siang bareng kita, Dhe?"
Kepalaku mendongak ke arah sumber suara di depanku, Ahmad. Pria baik hati yang juga begitu menyayangi bos.
"Sudah lama kita gak bisa makan bersama kan?"
Aku tersenyum, "oke.. Di kantin?" tanyaku kemudian.
"Iya.. Gabung sama yang lainnya. Kita juga rindu kok sama kamu. Tapi... Kalau kamu, emm-- mau makan berdua di luar, oke juga."
Tidak... Aku sudah tidak punya energi untuk kembali berharap dengan sesuatu yang belum pasti. Bos sudah menyerot, mengambil semua energi berharap yang aku miliki.
"Di kantin aja"
Aku tidak mau mengumbar harapan dengan menyetujui makan siang hanya berdua saja dengan Ahmad. Aku sendiri tahu betul, bagaimana tanpa sengaja berharap pada sesuatu yang tidak pasti.
Setidaknya ini caraku untuk berusaha tidak lupa menjaga hati orang lain karena terlalu sibuk menjaga hati sendiri.
"Welcome back! Dheaaaa!" Suara melengking milik Reni terdengar hampir ke seluruh penjuru kantin. Memalukan!
"Duuh! Jangan bikin malu!" Sahutku pelan setelah memeluk satu persatu teman perempuan ku.
"Kita rindu sama kamu! Rasanya, sudah ribuan tahun kita tidak bertemu" Goda Zaenal. Pria yang duduk di depanku dan Ahmad. Sekretaris pak Satria.
"Berlebihan, Nal! Aku lebih sering ngobrol sama kamu dari pada ngobrol sama Ahmad!" Jelas ku yang akhirnya membuatku menyesal. Ceroboh!
"Cieee... Ahmaad! Aduuuh, segitu rindunya sama Ahmad" Goda Bunga. Bikin aku salah tingkah.
"Kapan kita makannya?" tanyaku setelah tertawa ringan.
Sudah sangat lama, aku tidak bergabung bersama mereka. Namun ternyata, mereka tetap baik dan hangat seperti ini. Padahal, aku sudah siap siap untuk menghadapi sikap yang... Ternyata, tidak terjadi.
Aku tersenyum penuh rasa syukur, karena di kelilingi oleh orang orang yang tidak sibuk dengan urusan tentang diri mereka sendiri. Merek perduli, benar benar perduli.
POV Jovan
"Daddy mau makan bubur?" tanya putri kecilku, manis. "Atau pengen makan sup aja?" Lanjutnya cepat.
Cerewet.
Besar nanti, menurutku dia bakalan jadi perempuan cerewet yang perhatian, di sisi sikap dia yang terkadang menakutkan. Meski nanti jadi pemimpin, pasti tidak akan kehilangan sisi wanitanya.
Badan panas sekaligus kepala terasa pusing. Keadaan ku kalau Amanda sedang ngambek. Heran... Kenapa ini mulut bisa lancang sekali, jelas bukan seperti aku yang biasanya.
Amanda bukan Dhea.
Sial!
Kini justru aku mulai membandingkan mereka. Kacau... Jelas saja kacau.
"Dad!"
__ADS_1
"Iya?"
"Mau apa?"
Mau kamu, gitu kan kalimat yang di ucapkan Dhea saat kemarin patah hati.
Aduuhh, semakin pusing kepalaku.
"Mama kamu di mana?"
Jelas! Sangat jelas, hati dan otak serta mulutku memang tidak selaras. Otak mikir siapa... Hati, siapa!
"Mama lagi ada urusan sama om pengacara yang ganteng."
Acuh,
Khas Daniela.
"Om ganteng siapa?" tanyaku setengah tidak percaya.
"Om pengacara. Daddy belum tahu?" tanya putriku bingung. Membuatku mengernyit.
"Jadi bener?" aku balik tanya, sekaligus mengamati ekspresi datar gadis kecilku ini.
"Iya. Mama sama papa mau pisah kaya daddy sama tante Rhea."
"Are you oke?"
"El bukan anak kecil lagi, Dad. El punya mata yang bisa melihat jelas, punya telinga yang bisa mendengar dengan normal, dan... El punya hati yang bisa merasakan. Terlebih, punya rasa peka yang mungkin lebih besar dari pada teman teman El." Jelas Daniela, putri kecilku yang ajaib. Sempurna sekaligus istimewa.
"El, baik baik saja kok!"
Belum keluar semua yang aku pikirkan, kekhawatiran ku. Ehh... Sudah di jawab tegas, tanpa lupa ada senyum indah yang merekah di sana.
Daniela mungkin kuat, tapi Amanda?
"Mama... Gitu sih! Pura pura kuat. Mama sempurna kalau jadi artis. Beneran deh, Dad."
Bingung tentu saja!
Gadis sekecil ini bisa berbicara kalimat sulit dan ambigu seperti itu.
"El bahkan gak kaget, kalau mama sama papa mau pisah. Cerai ya namanya?"
Glek!
Aku tersedak air liur sendiri.
Ya Tuhan. Bagaimana bisa? Putriku?
"Mama sama Papa, walaupun terlihat baik baik saja selama beberapa tahun ini. El paham kok, kalau sebenarnya... Emm-- gimana ya. Aduh, Daddy tanya langsung ke mama aja deh!"
Aku mengangguk setuju, jelas sekali putriku paham apa yang terjadi tapi sulit untuk membicarakannya.
"Terus soal om ganteng?" ungkitku lagi. Masih penasaran.
"Pengacaranya mama kan? Gitu? Apa lagi, Dad?"
Ah!
Senyum jahil yang menyebalkan.
__ADS_1
"Mama tahu gak? Kalau Daddy sakit?" Aku tak bisa menahan perasaanku yang mulai aneh. Sebal? Marah? Jelas aku yakin ini bukan soal cemburu. Hanya... Terbiasa dengan Amanda dan tiba tiba saja, dia gak ada. Di saat seperti ini.
"Tahu. Aku tahu!" Suara merdu Amanda terdengar di telingaku.
Mimpi, khayalan. Jika bukan karena suara Daniela yang menyapa Amanda, mungkin aku bakal yakin jika barusan adalah khayalanku.
"Hay Ma! Mama sudah selesai bicara sama om itu?"
"Sudah, sayang. Daddy kamu sudah makan apa?"
aku buru buru menjawab, sebelum di dahului gadis kecilku, "Belum!"
"Aku nggak tanya sama kamu!" Ujar Amanda, ngambek. Jelas sekali cemberut di bibirnya. Gemas, bikin gemes.
Aku dan Daniela tertawa. Amanda memang terlalu imut jika sedang seperti ini.
"Ma, El bilang sama mbok Nah dulu ya. Buat bikin bubur"
"Gak perlu, El. Mama tadi sebelum kesini udah bikin bubur. Mama taruh di dapur" Jelas Amanda tanpa berhenti, cerewet. Aku di antara dua perempuan cerewet yang menggemaskan.
"Dad mau makan sekarang atau nanti?"
"Nanti aja."
"Kalau gitu, El mau ke bawah ya. Mau lihat kak Adit sama om Satria."
Amanda, meski masih cemberut namun tetap saja mengecek suhu badanku. Menata bantal supaya lebih nyaman di punggungku.
"Maaf! Aku minta maaf!" Sahutku pelan, menarik tangan Amanda untuk duduk di sampingku.
Kalau bukan karena tidak tahan melihat wajah Amanda seperti ini, buat apa aku minta maaf. Toh, aku tidak salah. Itu kan kalimat bukan untuk Amanda.
"Walaupun kalimat itu bukan buat aku secara langsung, tapi sakit mas! Sakit di sini, kalau denger kamu bilang gitu."
"Maaf. Oke? Kita damai?" Pintaku lembut. Jelas tidak akan menang melawan perempuan ini, mengalah itu justru satu langkah maju untuk menuju kemenangan.
"Kamu? Gimana cara kamu jelasin semua ke putri kita?" tanyaku memberanikan diri.
Yang di tanya justru menundukkan kepala, menangis tanpa suara. Kebiasaan Amanda yang aku ketahui dengan betul.
Ternyata memang benar, kami tidak baik baik saja selama ini. Aku merengkuh tubuh kurus itu kedalam pelukanku, mencoba menenangkan sebisa mungkin. Dengan diam. Kita berdua sama sama tidak memerlukan kalimat penenang jenis apapun. Sikap dan perilaku lebih manjur dari pada kata kata yang keluar dari mulut.
"Daniela tahu semuanya, tahu mengapa selama ini papanya begitu tidak perduli, kenapa justru om jo kesayangannya yang selalu ada dalam keadaan apapun. Ela tahu, mas. Semuanya tanpa terkecuali" Jelas Amanda sambil menatap ku, nanar.
Tarikan nafasku berat, berusaha tetap tenang sambil mengusap wajah perempuan ini, ibu dari anakku.
"Aku gak mau, mas! Gak mau Daniela jadi seperti ini. Aku mau Daniela bahagia layaknya seusianya. Bermain, bercanda, belajar."
Paham. Paham sekali dengan apa yang di rasakan oleh ibu anakku ini. Siapa yang tidak merasa khawatir, jika memiliki putri seistimewa Daniela? Tahu apa yang tidak semua orang ketahui. Mampu membaca apa yang tidak terlihat.
"Bukan aku tidak bersyukur, mas. Hanya saja-- mas tahu kan?"
Aku menangguk patuh, memegang erat jemari Amanda yang nanti justru akan di remas remas sendiri jika tidak aku pegang.
"Makanya, aku butuh Dhea buat jadi pendamping, Mas Jo!" Sentak Amanda kasar. Berganti menggenggam erat tanganku. Seolah olah meyakinkan.
Aku yang masih terkejut, berusaha mencerna semua yang terjadi. Kenapa nama Dhea jadi di bawa bawa?
"Bawain aku bubur, lapar!" Elakku kemudian. Jalan satu satunya supaya lekas berakhir pembahasan ini adalah mengabaikan dan mengalihkan ke hal lain.
"Maaas!" Rengek Amanda, menyebalkan. Menyebalkan karena membuatku merasa begitu, ah! Dasar pria! Terutama aku. Yang tidak bisa menolak wajah menggemaskan, imut seperti ini, meskipun menyebalkan.
__ADS_1
"Haus. Tenggorokan ku kering, perutku lapar."
Amanda berdiri sambil tetap bermuka masam. Bagaimanapun, memang benar kalau aku sedari tadi belum makan apa apa.