
Hari ini om Reza harus kembali ke Amrik. Tampa berpamitan padaku. Sangat jahat tau ngga!!!
"om ngga mau liat kamu nangis. Nanti juga ketemu lagi" om Reza mencoba merayuku tewat telepon
"ngga mau tau. Aku akan ngambek." ancamku
"jangan ngambek. Nanti tambah kangen. Om udah ada panggilan buat masuk pesawat. Jaga diri baik-baik. Jangan nakal. Sering sering pulang. Kasihan kakek sendirian. Love you, sayang" om Reza akhirnya menutup obrolan kami
"love you, om" balas ku lirih. Padahal baru beberapa hari ketemu. Tapi sudah harus terpisah karena kewajiban.
Jam pulang telah tiba. Beberapa sudah memenuhi pintu gerbang. Hanya aku yang masih males untuk pulang.
Tidak kerja di kafe, tapi aku masih bertahan kerja di club. Meskipun akan banyak godaan, tapi aku pikir, aku bisa jaga diri
"naik. Aku anter!" tiba-tiba Rafael sudah ada di depanku. Mau apa dia?
"ngga perlu. Jalan aja cuma 5 menit." kakiku masih melangkah menuju belakang sekolah. Disini ada pintu kecil menuju kosku.
"ck... Apa susahnya sih nurut." Rafael lagi lagi maksa
"ck... Apa susahnya sih ngga ngganggu" kulewati motor Rafael dan segera berlalu pergi. Kemana sih para anak buahnya? Kok kepala sukunya bisa lepas liar gini
Akhirnya sampai juga aku di kos. Badan dan pikiran yang lelah membuatku langsung menuju kamar. Segera kuganti baju dan bergegas tidur. Tanpa kusadari ada seseorang ada di kasurku
"kos kosan bebas kayak gini yang lo mau ya? Laki-laki perempuan bebas keluar masuk tanpa ada penjagaan." kata Rafael yang langsung membuatku kaget setengah mati. Aku memang kebiasaan tak mengunci kos kalau aku ada didalam. Males ribet. Tapi kalau malam, selalu aku kunci
" pintu tak dikunci, ganti baju tanpa liat liat, sudah biasa itu tubuh dipamerin? Atau memang itu pekerjaan sampinganmu biar tetap bertahan di Nusantara?" kulihat senyum sinis Rafael. Begitu hinakah aku dimatanya
"apakah itu jadi beban buat Anda? Ini kos saya, ini hidup saya, terus masalahnya buat Anda dimana?" balas ku santai. Aku tau jika aku emosi, aku akan makin dihinanya
"Lo menghina markas gue sebagai tempat mesum kan? Gimana kalau lo layani gue ntar di markas? Bayaran gue kalikan 3"
Rupanya bener-bener rendah harga diriku didepan matanya karena aku ganti baju ngga liat liat.
"maaf. Hari ini saya sibuk. Silahkan anda pergi dari sini" ucap ku
"sibuk apa? Sudah punya langganan? Closing aja. Nanti aku ganti"
__ADS_1
"bukan urusan Anda. Dan saya tak mau mempunyai pelanggan anak kecil"
"kau menghinaku???" Ucapan Rafael kali ini membuatku merinding. Tatapan tajam itu seolah bersiap membunuhku. Bibirnya langsung ******* bibirku sangat kasar. Beberapa menit kemudian ciuman itu terlepas
Plak
Aku menamparnya dengan keras. Seenaknya dia merendahkanku. Kulihat ujung bibirnya mengeluarkan sedikit darah.
"keluar dari tempat saya. KELUAR!!!"
Senyum sinis itu masih tergambar di bibirnya. Setelah dia keluar, lekas kukunci pintuku. Aku membencinya. Sangat membencinya
Pukul 9 malam aku terbangun. Terlalu lama menangis membuat mataku membengkak. Kucari es batu untuk mengompres mataku. Aku ngga mau kerja dengan mata bengkak seperti ini.
Sampai tempat kerja aku segera berganti pakaian. Mini dres berwarna merah menjadi seragamku kali ini." Sangat seksi dan menggoda" batinku
Aku bekerja sebagai pelayan di club ternama. Kalau sampai keluargaku tau, aku pasti akan dibabat habis. Keluarga kaya kok bekerja di tempat haram kayak gini. Tapi mau bagaimana lagi. Hidup susah sudah menjadi kebiasaan ku. Tak pernah mengandalkan orang lain karena kita tak tau, didepan nanti apakah mereka masih akan menyayangi kita atau tidak. Jadi lebih baik tidak usah berharap lebih. Andalkan diri sendiri saja. Biar tidak terlalu sakit
"datang juga lo!" mas Roni sudah menyambut ku dipintu
"ngga. Kalau hari biasa emang tamunya ngga seberapa kan? Coba lo bolos kalau weekend. Habis lo!!!" ucap mas Roni
"hehehe... Udah ya, bang. Duluan!" kulambaikan tangan masuk ke dalam club. Semua pelayan di club ini memakai topeng. Mungkin untuk mengurangi pelecehan yang terjadi di dalam club. Tapi memang dasarnya nafsu itu cerdas, ada banyak cara untuk berbuat dosa
"Red, meja depan butuh beberapa botol vod**. Tolong anterin ya?" sapa temanku yang biasanya aku panggil tosca
"siap!"
Akupun mengantarkan pesanan itu ke meja yang dimaksud. Disini kami tak pernah memanggil nama asli. Nama panggilan kami, tergantung dari warna seragam yang kami pakai. Jadi tiap hari nama kami pun berganti. Tatapan para pria hidung belang itu lalu tertuju ke tubuhku. Bukan salah mereka sih. Tapi memang seragamku yang mengundang
"hari ini Red. Ok! Gue transfer bayaran lo. Awas kalau sampai bohong. Abis lo"
Tak sengaja ku dengar orang menyebut seperti identitas ku hari ini. Aku hanya cuek Hari ini bukan hanya aku yang memakai merah kan? Banyak pelanggan wanita yang memakai warna merah kok
"bang..." kusapa bartender yang bertugas hari ini
"napa?" bang blue menatapku heran.
__ADS_1
"ngantuk!" jawabku
"kalau jam segini ngga ngantuk, perlu diperiksakan. Ini jam 12.lumrah ngantuk!" jawab bang blue
"biasanya gue juga seger seger aja perasaan. Kenapa sekarang jadi ngantuk banget ya?" keluhku
"tadi minum sesuatu atau makan sesuatu?" bang blue menatapku menyelidik
"kagak.abang kan tau aku sangat berhati hati kalau di club." balasku
"kirain"
"aku ke toilet dulu bang. Bilang ma yang lain kalau pada nyariin"
"oke"
Setelah berpamitan sama bang blue, aku bergegas ke toilet.sedikit cuci muka, mungkin akan membuat mataku sedikit terbuka. Namun begitu aku akan masuk ke kamar mandi, seseorang telah membekapku dari belakang. Seketika itu juga, pandangan ku langsung gelap
******
Mataku perlahan terbuka. "ini bukan di club. Lalu dimana aku?" batinku mulai bergejolak saat tanganku terikat kuat di belakang tubuhku.
Aku dimana?
Sunyi, sepi disini. Ketakutan mulai menghantui ku. Aku takut dengan pikiranku sendiri jika sudah seperti ini
"hai....
Sudah kubuktikan bukan kalau aku akan membuatmu datang ke markasku bagaimana pun caranya"
Deg...
Suara itu, kata kata itu, aku tau ini dimana dan dia siapa
BRENG***
PENGECUT
__ADS_1