Luka Masa Lalu

Luka Masa Lalu
Bab 37


__ADS_3

Setelah dari rumah Wirawan, kami langsung pulang ke rumah. Setelah bebersih, ingin rasanya langsung tidur. Baru akan merebahkan tubuh, mama sudah memanggilku lewat intercom


"Fa, turun sekarang. Mama sama papa mau bicara"


"iya"


Meski agak males malesan, aku langsung turun ke bawah. Kalau tidak segera dituruti, nanti malah ceramah panjang lebar


"siapa nama pasangan mu yang kamu bela mati-matian tadi? Jangan macam-macam ya, Raf! Mama ngga suka kalau kamu mainin perempuan. Ingat, mama perempuan juga. Kalau kamu macam-macam, mama pindahin sekolah kamu ke Kairo.. Biar nambah agama kamu." mama mulai dengan ceramah nya. Sebenarnya aku belum ingin mengenalkan Nadira dulu ke keluarga. Tapi kelihatannya mereka akan terus mendesak kalau tak segera ku kenalkan


" iya tuh, Raf. Papa setuju. Abangmu pacaran juga dari SMA. sampai sekarang masih awet. Bahkan akan menikah tahun depan. Ngga apa-apa kalau kamu berniat serius. Perusahaan abangmu juga semakin berkembang. Papa dengar juga setelah abangmu menikah, calon mertuanya akan menambah modal usaha abangmu. Sekarang kamu. Kalau mau serius, pikirkan dari sekarang. Sebentar lagi lulus. Mau kemana, mau jadi apa, bisnis apa pikirkan sekarang. Papa ngga akan memaksa anak anak papa melanjutkan usaha papa kalau kalian ngga mau. Biar diurus sama orang kepercayaan kalian suatu saat nanti. Asalkan kalian bisa berkembang sesuai keinginan kalian, papa akan mendukung. Termasuk dalam hal jodoh. Kalau boleh yang baik, yang cantik dan bagus akhlak nya. Kalau ngga ya ngga apa-apa. Asal kamu bahagia. "pungkas tuan Geo Admaja papaku tercinta


" aku belum serius sama dia ma, pa. Karena dia masih punya pacar. Tapi inginku, dia jodohku"


Tiba-tiba lemparan gumpalan kertas hingga di kepalaku. Mas Rafli rupanya mendengarkan pembicaraan kami. Kupikir dia belum pulang


"cewek macam gitu mau lo seriusin. Ngga takut lo dia selingkuh ampe tua? Mbok ya pilih pasangan itu yo pake mikir tow, Raf! Cewek tukang selingkuh gitu kok dipilih" mas Rafli ikut-ikutan dalam rapat keluarga ini. Meskipun kami semua sibuk, aturan dari mama, maximal jam 8malam,kami semua harus sudah dirumah. Jika tidak, bakal merajuk Ibu Ratu. Imbasnya, semua orang akan didiamkan dalam waktu yang tidak ditentukan. Dan kodratnya wanita kalau ngambek lama dan betah. Oleh karena itulah, kami tidak berani melanggar titah kanjeng ratu


"aku yang maksa dia. Ngga mungkin lah kalau ngga dipaksa dia mau aku antar jemput. Secara pacarnya aja Maheswara."


Kata-kataku ini tentu saja membuat semuanya kaget. Maheswara sekarang bagi keluargaku adalah" idola. Dalam waktu 10tahun,segala usaha Maheswara melesat cepat. Ketiga lelaki Maheswara menguasai berbagai bidang bisnis. Bahkan kini mereka sangat dipuja dimana-mana


"jangan cari masalah, Raf! Lo taukan kemampuan Maheswara seperti apa? Kalau sampai mereka tau masalah ini, entah apa yang akan mereka lakukan" ujar mas Rafli.


"papa setuju dengan Rafli. Ini ngga baik, Raf! Putusin dia sekarang. Apalagi kamu paksa. Tertekan anak orang. Kalau dia lama-lama depresi, bagaimana kamu mengatasinya. Cinta bukan paksaan, Raf. Belajarlah dewasa. Papa ngga melarang siapapun yang menjadi pasangan. Asalkan jangan atas dasar paksaan. Kasihan batin anak orang kalau gitu. Apalagi dia sudah punya pacar. Maheswara lagi. Pikirkan baik-baik. Ayo ma, kita tidur. Sudah malam!"


papa segera bangun dan meninggalkan aku. Mama pun mengikutinya setelah bilang beliau setuju dengan keputusan papa. Segala sesuatu yang dipaksakan tidak akan baik. Begitu juga mas Rafli. Kisah cintanya yang mulus tidak pernah merasakan bimbang seperti aku sekarang. Kak Anisa Sebangun sangat mencintai mas Rafli. Bahkan mbak Anisa yang mengejar duluan. Kisah cinta yang indah


******

__ADS_1


Drt Drt drt


Ponsel ku bergetar. Mata masih sangat ngantuk sebenarnya. Aku semalam susah tidur karena memikirkan ucapan mama dan papa. Haruskah aku melepaskan Nadira? Apakah Reza masih mau menerima Nadira apa adanya setelah tau dia sudah tidak utuh?


Kutengok pesan yang ada di hp. Dari Nadira. Mataku langsung terbuka terang. Untuk apa Nadira mengirim aku pesan subuh-subuh gini?


"aku mau berangkat sekarang. Mau jemput atau aku berangkat sendiri?"


SIAL. Tak tau apa kalau ini masih sangat pagi. Segera aku mandi kilat. Segera bersiap ke sekolah. Begitu sampai di bawah, mama ku memandang kaget. Ini memang masih terlalu pagi untukku yang tidak bisa bangun pagi sebelum kanjeng Ratu ngomel


" kesurupan kamu Raf?" mama malah bilang aku kesurupan. Bukannya seharusnya dia senang karena tidak usah bernyanyi dulu untuk membangunkan aku


"ada sesuatu yang penting, ma! Buatin bekal aja, ma. Sudah ditunggu!" aku hanya minum susu yang ada di meja. Memang ini sudah menjadi kebiasaanku dari dulu yang sulit dihilangkan


"putuskan dia mulai sekarang, Raf. Jangan main api! Mama ngga suka" mama masih saja menasihatiku sembari memasukkan makanan bekalku


"jangan dipikirin lagi. Diputusin Rafael!" mama masih saja berteriak lantang


"beres, ma!"


*******


Tin Tin tin


Kubunyikan klakson memanggil Nadira. Mata ngantuk, badanpun masih lemes membuat malas untuk melangkah jauh dari mobil. Kulihat dia segera keluar dan menghampiriku


"mau ngapain jam segini dah mau berangkat sekolah? Takut kalau ketemu nenek lampir dibully lagi?" ucap ku kesal.ini baru jam 06 lebih sedikit.sedangkan sekolah kami masuk jam 07.15


"ada bisnis." jawabnya singkat

__ADS_1


"bisnis apaan?"akupun menjadi ingin tau. Mana ada bisnis di pagi buta begini


"ada urusan sebentar sama Elsa. Teman kelasku dulu.kenapa? Masih mau tanya lagi urusan apa? Urusan perempuan dan laki-laki ngga boleh tau"


hilih...


Mau ngerumpi ternyata. Mengganggu ketenangan hidupku saja.


"Ck... Emang Elsa berangkat pagi?" tanyaku lagi. ini masih terlalu pagi, kemungkinan itu kecil kalau Elsa sudah berangkat.


"Kuharap sih. Tapi kalau ngga ya terpaksa cuma bisa berbalas pesan."


"kenapa ngga berbalas pesan aja sih, Dir? Kan ngga repot harus berangkat pagi kayak gini" keluhku lagi. Males banget kan sebenarnya. Berangkat pagi hanya untuk mengantarkan orang ngerumpi. Namun pandangan tajam langsung dia arahkan padanya


"ngga ikhlas? Kenapa tadi ngga bilang aja? Ok! Ini terakhir kamu ngantar jemput aku. Nanti pulang aku bilang aja sama mas Adit untuk menjemputku.ngga masalah kok" hadehhhh..... Malah dia yang ngambek. Wanita wanita!


"ck... Bukan gitu maksud gue. Kan emang praktis kalau ngomong pake hp. Buat apa itu hp bagus kalau hanya buat pajangan? Lagian itu pemberian dari pacar lo kan? Ngga mubadzir kalau ngga digunakan? Mas Adit lagi kerja. Jangan diganggu. Gua udah ijin mas Adit buat jadi ojek lo. Dan itu berlaku selama gue masih mampu. Kalau gue sudah sibuk, nah lo cari tukang ojek lain"


Tak terasa sudah tiba disekolah.mungkin karena terus menggerutu dalam hati, aku tak sadar sudah tiba disekolah saja. Nadira pun segera berlalu dari mobil ku setelah mengucapkan terima kasih


Langkah gontai aku menuju gudang belakang sekolah. Masih sangat ngantuk. Benar saja, baru beberapa detik, aku langsung terlelap


Beberapa menit kemudian, Austin, Betrand dan Calvin sudah berkumpul di markas. Namun kucueki saja. Biarlah mereka sibuk dengan urusan mereka sendiri


"Perhatian semuanya, karena hari ini ada rapat komite mendadak, diharapkan untuk semua siswa segera pulang ke rumah masing"


"Uhhhh..... SETAN!!!!"


Kita lelah wora wiri.kenapa ngga sekalian dari kemaren sih pengumumannya

__ADS_1


__ADS_2