
POV Jovan
"Mas Jo!"
Suara menggelegar bak petir di siang hari jelas adalah milik perempuan aneh. Sedikit sedikit nangis, sedikit sedikit berubah jadi tawa, kadang kadang terlihat bodoh, kadang kadang sadis kelewat licik.
Amanda!
Siapa lagi yang berani berteriak di rumah ini sampai membuat mbok Anah memecahkan piring karena terlalu kaget.
Bodoh sekali, kenapa dulu aku begitu nurut saja semua kata kata Amanda. Asal tahu beres. Rumah, sopir, asisten. Semua mutlak di bawah keputusan perempuan aneh itu.
Jadinya gini kan, satu teriak kencang sekali. Satunya latah memecahkan piring. Sempurna, akhir pekan kali ini. Belum lagi wajahku yang bengkak. Dan wajah cemberut bidadari kecilku.
"Di dapur!" Teriakku tak kalah kencang. Pasti sampai ke ruang depan, suaraku ini.
"Minum deh, Daddy. Jangan sok kuat ikutan aksi konyol mama nya El."
Aku mengerutkan kening, bingung sekaligus geli. Bibirku berhasil tersenyum geli.
El?
Daniela jadi Ela dan sekarang-- El?
Why? Kenapa?
"Karena El itu lebih imut kedengarannya di telinga. Jangan bengong daddy!" Sentak putriku kasar.
Ya Tuhan,
Salah, ini salah. Nada suara putriku harusnya tidak se kasar ini.
"Jangan kasar kasar jadi cewek! Telinga mama sakit denger kamu ngomong nadanya kasar gitu." Tegas Amanda cuek. Tiba tiba saja sudah duduk bersama kami di meja pantry.
Sepertinya, aku setuju kepada siapapun yang bilang kalau Amanda mirip makhluk astral. Telapak kakinya saja tidak terdengar. Padahal pendengaran ku cukup sensitif.
"Masak apa hari ini, mbok nah?" Tanya Amanda sambil menatap mbok nah, ramah.
Selalu saja seperti ini, dia ramah. Dan semakin ramah di bandingkan dahulu. Lebih kuat dibandingkan Amanda versi dulu.
Sedangkan aku?
Tersenyum ramah kepada mbok nah saja rasanya kaku, saraf bibirku seperti membeku. Begitu mataku melihat orang lain selain Amanda dan Daniela, seluruh saraf di tubuhku kembali membeku. Dulu, beberapa bulan belakangan ini, sikap seperti ini rasanya enak dan bikin nyaman. Hingga saat ini. Rasanya nyaman, saat kita gak tahu mana bahagia mana sedih. Mana kenyataan mana lamunan. Mana masa lalu dan mana masa sekarang.
__ADS_1
Hanya mereka berdua yang terlihat jelas di hidupku. Setelah-- sekretaris terkutuk itu. Mana ada orang yang mau di perlakuan seenaknya oleh orang yang bukan siapa siapa jika memang dia bukan orang yang di kutuk.
Mengingat jelas bahwa gadis itu tetap saja bersikap baik saat tanpa sadar aku memukul tubuh gadis itu tanpa ampun, memaki dengan kalimat yang membuat semua perempuan baik baik menangis histeris. Dan hal yang paling menyebalkan adalah aku seperti keluar dari batas diriku sendiri saat bersama gadis mungil itu.
Mulutku dengan entengnya memaki, mencemooh, mencibir dan bahkan berkata sesuatu yang berlebihan dalam kontek yang negatif.
"Mas Jovan!" Teriak Amanda keras. Membuatku benar benar jatuh dari kursi.
Ya Tuhan,
Bisa tolong hilangkan saja perempuan bar bar ini.
"Daddy, sini.. El bantu." Sahut Daniela sambil mengulurkan tangan mungilnya. Sedangkan mamanya justru sedang tertawa terbahak bahak sambil memegang garpu bekas buah, menertawakan ku yang jatuh dari kursi karena kaget.
"Daddy hari ini El mau makan bakso saja deh. Boleh kan ma, ya! Bakso yang dekat sama rumahnya tante Dhea. Benar benar enak kan daddy!"
"Jangan!"
"Jangan!"
Kompak lagi, berbarengan lagi. Bikin aku curiga dengan perempuan cenayang ini. Tumben dia bereaksi sama denganku jika menyangkut perempuan yang di kutuk itu.
"Kenapa?" Tanya Daniela kecewa. Rasa antusias kini berganti desah kecewa yang bikin hatiku nyeri.
"Karena--"
"Mau nginap di tempat tante Dhea aja deh, Ma. Besok mama anterin aku ke kantor daddy, terus biar Ela langsung pulang bareng tante Dhea pakai sepeda motor. Asyik!"
Gadis mungilku itu sudah melompat lompat kegirangan, mengacuhkan ekspresi ku yang keberatan total. Sedangkan Amanda justru tersenyum senang, sambil menikmati potongan buah di depannya. Persis! Mereka sama sama mengacuhka pendapatku.
"Ayamnya sudah siap, Mbak Amanda. Sama ini nasi uduk sama sambal atinya sudah siap semuanya." Kata mbok Nah pelan, menghentikan aktivitas Daniela yang bercerita ini itu entah apa tentang perempuan yang sepertinya benar benar di kutuk.
Kami semua beranjak pindah duduk di meja makan, bersama dengan mbok nah dan juga putranya. Semua lengkap, ayam ada, nasi uduk ada, telor dadar iris ada, pelengkapnya ada. Dan-- mataku berhenti menatap isi meja, bergantian menatap Amanda dan mbok nah.
"Daddy! Stop! Di sini lalapannya. Ini nih, Daniela bawa. Daddy bikin mbok nah mau pingsan. Kasihan kan." Cerca Daniela tanpa berhenti barang hanya sekedar tarik nafas. Stabil. Jalan sambil bawa piring isi lalapan kesukaan ku dan mulutnya tidak berhenti mengomel. Benar benar stabil dan pandai mengontrol.
"Ma---maaf, Den Jo." Bisik Mbok Nah, takut takut.
Aku hanya menarik nafas kasar sambil menaruh nasi ke atas piringku.
"Tenang aja, mbok. Ayo kita makan." Pinta Amanda kembali seolah olah menjadi wakilku dalam melakukan apapun.
Heran,
__ADS_1
Sibuk benar Amanda memikirkan hidupku, sedangkan dia ini kembali ke pelukan pria setan itu. Ya, walaupun kembali satu atap dengan Amanda, kami memang tidak pernah bertemu. Dan pembahasan tentang mereka benar benar haram di bahas di tempatku.
"Mas Jo, maaf. Besok saya mau izin ke pulau Bali. Ada studytour. Untuk surat keterangan dari sekolah, sudah di meja kerja mas Jo." Sahut Adityo tenang. Sudah paham dengan semua yang terjadi dengan bos ibunya itu.
Aku mengangguk pelan, meneruskan menikmati paha ayam yang di goreng renyah di luar namun lembut dan bumbunya benar benar meresap sampai dalam. Bahkan aku sudah sampai habis dua dan ini yang ketiga.
Mbok Nah memang juara. Juara membantuku melupakan rasa nikmat masakan yang dulu rutin di buat oleh perempuan iblis. Aku benar benar menghindari menu yang biasa dia masak. Dan selera masak mbok Nah memang berbeda.
"Memang sudah di bayar, Dit?" Tanya Amanda pelan.
"Sudah, mbak. Mas Jo yang bayar."
"Kak Adit, beli oleh oleh buat El ya."
Aku hanya menyimak percakapan mereka. Hanya berbicara ketika di jawab. Berusaha sekuat tenaga mengusir rasa sesak yang muncul dengan bayangan tentang Rhea yang duduk bersama kami dengan dua anak yang saling berinteraksi seperti ini. Sakit. Nyeri dan akhirnya hampa.
"Kamu yang bayar, mas?" Tanya Amanda. Menyelamatkan aku dari kehampaan.
"Iya. Surat pemberitahuan nya kan di kirim ke kantor. Terus sekalian aja aku kasih uang sakunya. Di kasih kan sama Sekretaris aku ?" Jawabku pelan. Tanpa mengalihkan pandanganku dari sambal ati khas mbok Nah.
"Sudah, mas Jo. Terima kasih." Jawab aditya, manis. Tetap manis meski lawan bicaranya seolah berada di zona yang berbeda. Meskipun sekilas sedang asyik dengan masakan ibunya.
"Sebenarnya tidak perlu uang saku, Den. Ini saja sudah cukup. Lebih dari cukup." Tambah mbok Nah mencoba memberanikan diri. "Aditya juga tidak keberatan, den."
"Banyak orang yang hanya meminta untuk di kasih perhatian, meminta untuk di hargai tanpa mereka sadari bahwa mereka sudah lupa kalau belum bisa menghargai orang lain. Setidaknya ini cara kami mengingat bahwa kami juga perlu menghargai dan juga memberi perhatian kepada orang lain." Tutur Amanda lembut. Kembali mengambil alih posisi yang seharusnya aku yang melakukan.
"Hahaha, kak Adit itu malah justru sebenarnya gak mau berangkat lo ma. Mama gak tahu kan, kalau kak Adit itu sebenarnya memilih di rumah ajah. Tapi surat pemberitahuan nya keburu di baca daddy."
Suara riang Daniela menyelamatkanku dari perasaan yang entah aku sendiri tidak tahu itu apa namanya. Yang jelas kini hidup ku kembali tersinari cahaya.
"Dari mana kamu tahu detail kaya gitu, El?" Tanya Amanda gemas.
"Kan denger pas kak Adit lagi ngobrol sama tante Dhea."
Berhasil,
Nama itu berhasil membuatku tersedak sambal yang bikin tenggorokanku terasa tidak enak.
"Eh, Daddy itu sukanya kaya tante El. Makan saja pakai acara tersedak. Ini, di minum dulu." Ejek Daniela sambil mengulurkan gelas berisi air putih.
Ah, gadis ini memang kadang menyebalkan. Dasar, anak Amanda.
Dhea. Satu nama yang terdengar seperti Rhea di telinga dan otakku. Sakit dan perih. Masih sesakit ini meski sudah beratus ratus jam berlalu.
__ADS_1
Cinta-- hanya membuatmu menjadi manusia bodoh yang rela menjadi apapun asal demi dia yang kita cintai. Lebih menyedihkan dari pada seorang budak.
Cih!