
"RUPANYA KELINCI KECIL SANGAT SUKA BERMAIN DENGAN LAKI-LAKI KAYA YA??? BAGAIMANA KALAU MARCEL DAN REZA TAU KALAU PEREMPUAN IMPIANNYA PERNAH CEK IN DI HOTEL DENGAN LAKI-LAKI LAIN????"
Sebuah pesan teks terkirim di hpku disertai foto aku dibopong Rafael
Ancaman picisan!!!!
" kau pun tak tau bagaimana kemampuanku untuk menghadapi mu. Coba saja kau kirimkan foto itu pada mereka. Dan mari kita liat, siapa yang akan kalah dan akan menang. Kamu pasti taukan kedudukan kan ku di mata mantan pacarmu itu?" balas ku. Kunantikan balasan berikutnya. Dengan cara dia mengancam, aku tau pasti, dia adalah mantan tunangan pakde Marcel. NAURA
" liat apa yang akan terjadi. Karena aku pastikan lo dan abang lo akan menderita karena sudah membuatku dan Marcel putus"
Deg....
Mas Adit!!!!
Ngga boleh. Mas Adit sudah mati matikan berjuang untuk ke posisi ini. Kalau sampai dia mengganggu mas Adit, kupastikan hidupnya ngga akan tenang lagi
Ku telp nomer mas Adit berkali kali. Namun masih juga tidak diangkat. Aku bingung.
Tok tok tok
Pintu kamar mandi diketik dari luar. Mungkin ini Rafael. Kulongokkan kepalaku keluar. Dan benar saja kulihat Rafael membawa banyak kebutuhan ku.
"cepat ganti. Nanti sakit" beberapa paper bag diberikan nya padaku. Kulihat ada perlengkapan mandi dan seragam serta sepatu sekolah
Segera saja kubersihkan tubuhku. Badanku sudah sangat lengket dengan aroma yang sangat luar biasa. 20 menit akhirnya aku telah selesai. Baju kotor dan sepatu ku sudah aku simpan di dalam plastik
Saat aku buka pintu, ternyata Rafael masih ada di depan kamar mandi.
"kamu ngga balik ke kelas?" tanyaku. Niatku mau ke taman sekolah saja dan kembali ke kelas saat jam pelajaran selanjutnya
__ADS_1
"ngga. Mau nyusul anak anak aja di markas. Pakaian kotormu gue bawa saja. Nanti gue taruh di motor sekalian. Lo mau kemana setelah ini?" balas Rafael. Perhatian sekali dia.
"ngga perlu. Biar aku keluar dulu. Mau aku laundry sekalian. Daripada bawa pakaian kotor pulang. Lagian tadi baunya sangat luar biasa. Kasihan saja nanti motormu jadi kotor." ucap ku. Ngga enaklah gila! Masak dia harus membawa pakaian kotorku juga. Secara tadi dia sudah repot repot membelikan segala perlengkapan ku
" Lo yakin? "tanya Rafael lagi. Yang kubalas dengan anggukan kepala
" ok. Kalau butuh apa-apa, telp saja. Aku ke markas dulu. "lagi lagi sebuah kecupan hadir di keningku. Lama-lama aku baper juga kalau tiap hari perhatianmu seperti ini, raf!!!
****
Pulang sekolah hari ini tetap seperti saat pagi tadi. Diantar sang idaman sekolah. Rafael Admaja. Padahal aku tau, kelas reguler pulang jam 2 tadi. Sedangkan kelasku paling cepat jam 4 sore baru pulang
"kenapa ditunggu?" tanyaku heran. Aku bisa pulang naik angkot atau taksi bila dia tidak bisa mengantarku pulang. 2 jam waktu yang sangat lama menurutku
Sesaat kemudian dia menyentil kepalaku. Aku hanya bisa meringis karenanya
Sepanjang perjalanan kami lebih banyak diam. Aku pun sebenarnya sudah sangat lelah. Berada di kelas akselerasi benar-benar menguras otak dan tenaga.sepertinya aku pun menyesal telah masuk ke kelas itu. Karena orang yang aku hindari sekarang malah selalu dekat denganku
"mungkin ngga kejadian dulu itu membuahkan hasil, Dir?" tiba-tiba saja Rafael bertanya tentang malam itu.
"mungkin sih kalau aku lagi masa subur" jawabku. Sebenarnya aku masih kurang nyaman bila ingat malam kejadian terkutuk itu
"kira-kira itu dalam masa subur tidak?" tanya Rafael lagi. Kenapa tiba-tiba dia membahas tentang malam itu? Apa ada sesuatu yang aneh pada hari itu? Atau dia juga dikirim foto horor seperti ku hingga ingat akan malam terkutuk itu
"kenapa tanya-tanya tentang hal itu?" tanyaku balik. Aku ingin tau saja apa yang mengganggu pikirannya tentang malam itu
"aku hanya takut saja kalau malam itu membuahkan hasil tapi lo ngga ngomong ke gue, dan bilang lo bisa mengurus anak itu sendiri. Itu bukan hanya kesalahan lo pribadi. Itu juga kesalahan gue yang ngga menyadarkan lo malah mengambil kesempatan. Jadi kalau emang malam itu membuahkan hasil, kita tanggung sama-sama. Meskipun hanya Cafe kecil, aku yakin kalau aku bisa menghidupi lo dan anak kita nanti"jelas Rafael. Entah dapat wangsit darimana hingga dia bisa berpikir normal seperti itu
"akan aku kasih tau kalau memang itu membuahkan hasil." aku pun ingin berlalu dari hadapan Rafael. Namun genggaman tangannya membuatku tak jadi melanjutkan langkah
__ADS_1
Kecupan kening lagi dan lagi. Bener-bener kalau dilanjut, aku tak akan tau hatiku akan seperti apa
" ngga usah cium kening terus. Aku takut baper" ujarku sengit. Kalau hatiku sudah porak pora da, memangnya dia mau bertanggung jawab?
"gpp, baper. Kalau memang hubungan ini bisa serius, kenapa ngga?" balas nya santai. Dia pikir semudah itu barang kali ya menjalin hubungan dengan orang tua
"jangan cuma digodain. Kalau serius, jemput lalu bawa pulang. Kenalkan sama orang tua situ. Jangan cuma omong doang"
"besok. Sekarang aku pulang dulu"
Segera saja dia menyalakan motornya dan berlalu dari rumahku. Akupun melupakan segala kata katanya. Tidak mungkin dia akan mengenalkan aku pada orang tuanya. Sedangkan menurut rumor yang beredar, putri dan Rafael akan segera melangsungkan pertunangan
Kulangkahkan kakiku masuk ke rumah tugas mas Adit. Semua lampu belum dinyalakan. Padahal meskipun ini masih jam 5 sore, keadaan sudah sangat gelap
Segera ku cari stop kontak lampu ruangan ini. Begitu lampu menyala, aku kaget setengah mati karena ternyata mas Adit sudah pulang. Wajahnya terlihat sangat lesu. Apakah ini ada hubungannya dengan WA tadi siang?
"mas..." kusapa mas Adit perlahan. Aku takut kalau dia akan kaget karena kehadiranku
Mas Adit ternyata masih tak merespon kehadiranku. Kupegang pelan bajunya sekedar untuk memberi tahu keberadaanku. Wajah yang lesu, mata memerah, pandangan yang kosong membuatku ngeri membayangkan apa yang terjadi
Aku duduk disampingnya. Kucoba merengkuh bahunya. Dan mas Adit membalas dengan memelukku erat
"mas dipecat, Dir! Mas kecewa karena mereka semua tidak percaya pada mas. Apa salah mas hingga mereka tega memfitnah mas kayak gini. Demi pendidikan ini mas mengorbankan kasih sayang kamu dan alm ibu. Tapi setelah semua perjuangan mas membuahkan hasil, malah mas dijebak oleh mulut busuk orang orang berduit. Mas sangat marah, Dir. Tak terima. Tapi mas bisa apa saat semua orang menuduh mas tanpa diselidiki dulu asal muasal berita itu"
Seketika mas Adit bercerita kalau ada pasien yang mengaku keluarganya meninggal setelah dioperasi mas Adit
Saat kejadian terjadi di loby rumah sakit. Tentulah ini menjadi pukulan telak untuk rumah sakit. Tampa peringatan, mereka lalu memecat mas Adit tanpa penyelidikan dulu. Bukankah seharusnya pihak manajemen rumah sakit menerangkan dulu duduk perkaranya. Bukan asal pecat seperti ini
Sangat aneh. Tapi aku janji, aku akan menyelidiki ini dan membersihkan namamu mas
__ADS_1