Luka Masa Lalu

Luka Masa Lalu
Bab 18(terbongkar)


__ADS_3

Malam ini mas Adit datang menengok ku. Dari tatapan matanya, aku tau dia menaruh curiga dengan keadaanku


Tangannya menempel didahiku. Matanya seakan menelisik ke seluruh tubuhku. Dinaikkannya daguku. Aku pasrah. Mas Adit pasti akan tau akan hal ini


"kita ke rumah sakit. Visum" kata mas Adit tegas. Namun aku menggeleng. Ini bukan masalah sepele yang bisa diatasi oleh orang orang kasta rendah seperti kami


"buat apa, Mas?" aku hanya bisa menangis.


"seenggaknya jika terjadi sesuatu ke depannya, calonmu bakal tau kalau ini bukan atas kemauanmu. Tenang saja ngga usah malu. Ada temen perempuan mas disana." mas Adit kembali meyakinkanku.kali ini aku mengangguk.alasan mas Adit masuk akal.


****


"kapan kejadian nya?" tanya dokter yang kulihat dari nametag namanya Wulan


"ehmmmm...kemarin malam." jawabku takut


"kenapa malam malam keluar? Kamu masih kerja? Bukankah mas udah bilang, jangan kerja ditempat yang berbahaya?mas sibuk Dira, ngga bisa ngawasin kamu terus menerus." kali ini mas Adit ikut ikutan bicara. Mungkin dia marah karena aku masih kerja di club


"masih. Aku ngga mau ngerepotin mas. Uang dari mas ngga pernah aku pakai. Aku sudah biasa hidup usaha sendiri, Mas. Aku takut terlalu bergantung sama orang" ucap ku lirih


"Dira, sekarang dengerin mas! Dengerin! Keluar dari club itu. Mas yang akan biayain hidup kamu. Mas ngga akan lalai lagi. Mas janji, kamu ngga akan kekurangan lagi. Sekolah aja yang bener. Mas sayang sama kamu. Maaf dulu mas pernah melupakan tanggung jawab, Mas! Jika dari kecelakaan kemarin ada hasilnya, Mas yang akan rawat. Itung itung pengganti anak mas yang dimatiin orang gila kemarin. Paham!!! "ucap mas Adit tegas.


Kupeluk mas Adit. Air mataku sudah bak air terjun. Aku senang mas Adit tetap bersamaku setelah kejadian kemarin. Aku janji mas, aku akan baik-baik saja dan menjadi lebih baik lagi


*******


Keesokan harinya, aku sudah bersiap ke sekolah. Setelah pulang dari rumah sakit, Mas Adit memindahkan kosku ke rumah dinasnya. Alasannya tentu saja agar aku selalu dalam pengawasannya.


"entar pulang sekolah jangan kemana mana. Mas jemput nanti." mas Adit mengulurkan tangannya untuk kucium.


"heem. Tapi tadi mbak Wulan WA, nanti mau jemput"


Mbak Wulan, dokter yang bersamaku saat visum kemarin ternyata kenalan mas Adit. Mereka dikenalkan mas Wisnu, sahabat mas Adit yang bertugas di rumah sakit yang sama dengan mbak Wulan


"nanti mas kabarin ulang. Kamu pergi dulu aja dengan Wulan"pungkas mas Adit


Aku turun dari mobil mas Adit yang disambut pandangan kurang sedap dari teman temanku di sekolah. Mungkin mereka berpikir karena aku anak beasiswa, jadi aku tak pantas naik mobil


Kulangkahkan kakiku menuju ruang bk. Tapi tanganku tiba-tiba diseret oleh seseorang. Aku hanya menuruti saja. Mungkin ini saatnya aku bicara

__ADS_1


"beneran sudah jadi pelacur lo? Kemana kemarin seharian ngga ada di kos? 2hari nggak masuk sekolah, dah merasa hebat lo?apalagi pagi-pagi dah dianterin om-om. Mau beasiswa lo dicabut?" ucap Rezki. Dia salah satu osis disini.


"aku kemarin sakit. Ini surat dokternya"


Kataku sambil menyodorkan surat keterangan dokter padanya


Begitu rendahnya mereka menilai ku.mungkin memang ini yang terbaik. Kutinggalkan mereka begitu saja. Tak ada gunanya menjelaskan semua pada mereka. Aku yakin, aku akan tetap salah di mata mereka


Kulangkahkan kaki menuju ruang BK. terlihat bu Mela masih santai di ruangannya. Kuketuk pintu dahulu sebelum dia mengizinkan ku masuk. Begitu beliau mengizinkan, aku segera


"ada yang bisa saya bantu, nak?" sapa bu Mela ramah padaku


"saya ingin menerima tawaran untuk pindah ke kelas akselerasi apakah boleh, bu" jawabku


Ya, aku pernah ditawari untuk masuk ke kelas akselerasi dulu waktu pertama kali masuk ke sekolah ini. Nilai dan kemampuanku membuat sekolah menawariku masuk kelas akselerasi. Tapi karena untuk masuk kelas ini ada biaya tambahan, aku pikir pikir lagi. Kelas akselerasi itu jadwal padat, pulang petang, hari hari penuh tes, dan yang paling penting ada biaya tambahan yang harus aku bayar sendiri. Ini yang membuat ku berat.


Dulu aku masih ragu dengan keuangan mas Adit. Meskipun dia bilang akan berubah, tapi pengalaman seperti dulu, tak bisa hilang begitu saja. Kemarin mas Adit sudah mentransferku sejumlah uang. Aku pikir itu cukup sampai aku lulus nanti. Kini, tak ada salahnya aku ikut kelas akselerasi itu. Cepat lulus, cepat bebas dari keadaan toxic ini


"kamu tau kan ini sudah hampir tes semester?kalau kamu bisa lolos di tes itu, kamu bisa melanjutkan ke kelas itu. Kalau tidak, kamu harus kembali seperti awal. Ada biaya tambahan itu juga kamu harus paham. Banyak tes di kelas akselerasi ini. Dan itu tidak dibantu dari beasiswa. Apakah kamu sudah siap dengan uang nya? Ini bukan niat saya untuk menghina atau merendahkan kamu, tapi kamu pernah menolak masuk kelas ini karena terbentur biaya kan? Sekarang bagaimana? "jelas bu Mela panjang lebar.


Ku keluarkan kartu ATM dari saku. Kuberikan ke bu Mela sebagai deposit. Aku tau pasti banyak biaya yang akan aku keluarkan karna menyusul di tengah semester seperti ini.


"ini saya ambil 10 juta untuk kelas susulan. Untuk biaya selanjutnya, sama seperti teman-teman mu di kelas akselerasi saat ini. Sebaiknya kamu ke kelas itu sekarang, biar tak semakin jauh tertinggal pelajarannya. Ayo saya antar"ucap bu Mela lagi


Kelas akselerasi berpisah gedung dengan kelas biasa. Lebih jauh sedikit.


Kupandangi kelasku yang baru kuhuni hampir 4 bulan ini. Kenangan tak indah teringat kembali. Apalagi soal pengkhianatan yang dilakukan salah satu dari mereka. Tak ada yang tau aku kerja di club itu selain mas Adit dan teman dekat ku. Dan mas Adit tak tau nama samaranku disana. Jadi pikiran ku langsung menuju kesana. Betapa jahatnya dia sampai tega menjebakku seperti ini?


Aku tidak ingin mendengar ataupun meminta penjelasan. Aku hanya tau, tak ada sahabat sejati dalam hidupku


Kakiku kini menuju ke ruangan kelas yang akan kuhuni nanti. Kelas sangat nyaman namun mirip perpustakaan karena disekeliling tembok penuh dengan buku. Terdapat hanya 10 kursi dikelas ini. Mereka pun terlihat sangat fokus saat belajar. Berbeda dengan kelasku dulu. Yang sangat santai bahkan banyak yang acuh dengan materi yang diberikan guru.


Bu Mela mengetuk pintu yang telah terbuka. Semua atensi jadi tertuju kepada kami berdua. Setelah menjelaskan segala sesuatunya,bu Mela berpamitan. Aku pun dipanggil untuk masuk kelas


"silahkan perkenalkan namamu" guru itu pun menyuruhku melakukan perkenalan


"nama saya Nadira Maheswari."


"silahkan duduk di tempat yang kosong itu" titahnya padaku

__ADS_1


Akupun menuju ke satu satunya kursi kosong di ruangan ini. Setelah itu, pelajaran dimulai kembali. Tak ada basa basi sama sekali


Pelajaran di kelas ini rupanya sangat padat dengan tes. Setelah tes, baru akan ada pembahasan materi. Untung saja otakku ngga dlosor dlosor banget. Jadi meskipun aku telat masuk kelas ini, otakku masih mampu mengikuti


Bel istirahat berbunyi. Setelah guru keluar, kami semua menghembuskan nafas lelah. Ternyata orang pintar pun bisa sambat.


"kalau bukan karena gengsi, gue pengen pindah ke kelas biasa. Bisa gilaaaaa....." seru anak yang kulihat dari nametagnya bernama salsa


"berisik" sahut yang lain. Mereka mengambil buku yang ada di rak dinding. Sebegitu monotonkah hidup mereka disini?


"Hai!" sapa salsa padaku


"Hai juga" balas ku ramah.


"kenapa pindah ke kelas ini? Bisa stres tau ngga?" gerutunya


"pengen cepet lulus. Kamu sendiri ngapain?"


"nurut i gengsi" balas salsa lagi. Kenapa dia terus terusan menggerutu. Padahal kan dia sudah hampir 4 bulan disini. Seharusnya kan sudah biasa?


Terdengar suara troli semakin mendekat. Rupanya di kelas ini makanan pun sudah tersedia. Makanya mahal, semua ada.


Makanan pun segera dibagi kepada kami. Banyaknya tes membuatku sangat lapar


"kita tiap hari kayak gini?" tanyaku. Kelas ini benar benar sepi karena hanya aku dan salsa yang ngobrol dari tadi


"heem. Nanti siang ada lagi."


"bukan makanan. Tapi orang orangnya. Sepi banget." keluhku


"awal dulu masih full. Tapi mungkin orang orang nggak betah tes terus, akhirnya, cuma tinggal segini. Yang lain pindah ke kelas biasa." jawabnya sambil makan biskuitnya


Kulanjutkan acara makanku. Roti dan susu kotak. Lumayan buat tenaga untuk tes selanjutnya


Tes demi tes kulakukan dengan baik (Menurutku). Hingga pukul 5 sore, aku baru keluar dari kelas. Mbak Wulan pun sudah kukabari untuk menjemput ku di depan gerbang.


Kulangkahkan kakiku menuju gerbang sendirian karena aku harus mengambil beberapa tugas dari guru karena telatnya aku masuk kelas


Sebelum sampai gerbang, mulutku dibungkam seseorang. Aku mencoba memberontak, tapi kelelahan sekolah hari ini membuatku lemah. Begitu mudahnya dia menyeretku ke belakang sekolah

__ADS_1


"Ternyata kamu bersembunyi disana. Sebegitu takutnya kah lo sama gue???"


__ADS_2