
"Jadi, dulu sebelum Rhea nikah sama mas, Rhea pernah memiliki hubungan yang terlanjur bebas seperti yang Rhea ceritakan saat di malam pertama kita. Hanya saja, Rhea membuang bagian Rhea yang hamil kemudian harus menggugurkan kandungan Rhea karena hubungan Rhea tidak di restui oleh keluarga, Fandi."
Setelah Rhea menjatuhkan bom di depan mataku, baru dia menjelaskan tentang tentang hal ini. Memang betul, dulu Rhea menceritakan hubungannya dengan Fandi yang tidak di restui oleh keluarga Fandi. Ketidak tegasan sikap Fandi membuat Rhea mundur kala itu. Membiarkan Fandi menikah dengan gadis pilihan keluarga nya.
Ternyata yang membuat Rhea hancur saat itu bukan hanya tentang Fandi yang memilih menikah dengan pilihan orangtuanya.
"Fandi menikah dengan orang lain, meninggalkan aku begitu saja, Mas. Dan saat itu, dengan kesedihan yang aku rasa kan, membuat aku jadi gegabah. Membuang janin, buah cintaku dengan fandi."
Nafasku semakin berat. Setumpul itukah, pemikiran wanita yang aku nikahi.
Hebatnya, setelah sekian banyak kenyataan yang membuat aku kaget. Kini hati ku jadi lebih tenang. Aku butuh merasa tenang untuk mencerna semua yang terjadi padaku.
"Dan soal Daniela. Maafkan aku, mas. Sungguh maafkan aku."
Tangis Rhea kembali terasa menyedihkan.
"Beberapa tahun lalu, saat kita pergi ke Bali bersama Amanda dan Doni. Mas ingat?"
Suara Rhea semakin pedih. Sangat pedih. Sedangkan aku, diam tak bergerak sedikitpun.
"Kondisi kita semua saat itu setengah mabuk, dan maafkan aku mas.. Sungguh, maaf kan aku. Saat itu aku benar benar khilaf mas."
Kini Rhea sudah memegang kakiku, duduk bersimpuh persis di bawah kakiku.
"Saat itu.. Saat itu, entah bagaimana awalnya.. Aku.. Aku dan Doni. Sungguh mas, maafkan kami."
Satu bom lagi, kau jatuhkan padaku, Rhea. Kenyataan apa lagi yang harus aku terima.
"Saat itu, aku dan Doni memilih untuk tidur bersama, mas. Maafkan aku, mas. Maafkan aku."
Lantas siapa wanita yang saat itu juga aku gauli. Amanda?
"Dan ide dari Doni, supaya mas tidak curiga, Doni memindahkan Amanda ke kamar kita. Doni paham betul tabiat mas jika sedang mabuk tidak mengenali siapapun, semua perempuan tampak sepertiku."
Ini yang jadi alasan kenapa selama ini aku selalu menghindari minuman keras jenis apapun, aku tidak kuat mabuk. Semua kacau saat aku kehilangan kendali atas diriku sendiri.
Dan Amanda, kenapa dia tidak berontak saat itu.
"Amanda terlalu mabuk untuk mengetahui siapa yang tidur dengannya, Mas. Dan setelah kami selesai, Doni kembali membawa Amanda kekamarnya. Sebelum mas dan Amanda menyadarinya."
Biadab.
Segila itukah wanita yang aku nikahi sela bertahun tahun ini.
"Hanya ini yang mampu aku jelaskan, mas. Aku pasrah dengan semua yang akan jadi keputusanmu."
Baik,
Soal siapa yang membuat Rhea harus menggugurkan kandungannya, bukan berita baru lagi bagiku. Di malam pertama pun aku sudah tahu soal Fandi.
Tapi ini,
Persoalan Doni dan Amanda. Doni?
Pria yang selama ini aku anggap santun dan bermartabat. Sahabat dekat Amanda dan Rhea, yang akhirnya menikah dengan Amanda.
Aku begitu bodoh ternyata selama ini, tidak curiga sedikitpun saat Rhea terlihat begitu nyaman dengan Doni. Bagiku wajar, toh mereka memang bersahabat dari dulu. Sebelum aku masuk di kehidupan mereka.
Dan Amanda, begitu tega memberikan informasi basi kepadaku hanya demi menyulut emosiku dan membuat Rhea harus menjelaskan semuanya.
"Tidurlah, Rhea. Besok pagi kita selesaikan semua hal kotor ini. Hubungi mereka, suruh besok pagi harus sudah berada di sini."
Suaraku bergetar.
Lelah sakit, entah apa yang aku rasakan saat ini.
Bagaimana bisa selama ini aku tidak pernah menyadari sisi jahat yang Rhea miliki.
Apakah aku terlalu terpesona dengan wajah cantiknya, ataukah aku terlalu mencintai perempuan ini dengan cinta yang buta.
__ADS_1
Kurang baik apa lagi sikapku kepada Doni, kenapa dia begitu tega berbuat rendahan seperti ini.
Lagi pula, jika betul saat itu aku menggauli Amanda. Bukan berarti Daniela adalah putriku, bukan.
************************************
Sekarang ini, aku berada di titik terendah yang pernah aku alami sepanjang hidupku. Sungguh, bukan sedang sok suci atau apalah itu namanya. Aku benar benar tumbuh dengan didikan sopan santun yang sungguh sungguh di terapkan oleh kedua orangtuaku.
Dari kecil aku tahu minuman keras itu apa, tapi baru merasakannya langsung di saat aku duduk di jabatan ku sebelum jabatan saat ini. Kondisi yang mengharuskan aku harus ikut menegur minuman berbahaya itu.
Dan efeknya, saat itu aku menari sepanjang jalan raya. Tanpa bisa di cegah oleh siapapun. Aku yang selalu sopan menjadi begitu brutal. Kalimat kasar terlontar begitu saja dari bibir tipis ku. Kalimat yang semua orang tahu, aku tidak. Akan pernah mengucapkannya saat aku sadar.
Aku benci ketika harus kehilangan kontrol diriku sendiri. Dan saat liburan keluarga, begitu julukan yang aku ucapkan untuk acara berliburku, Rhea dan juga dua sahabat paling dekat. Dan kenyataan nya, itu adalah awal neraka sepanjang yang baru saja aku ketahui.
Aku memang pria lemah yang bodoh, terus saja berprasangka baik dan bersikap baik supaya bisa jadi suami goal bagi perempuan yang selama bertahun-tahun ini aku puja.
Aku menerima Rhea dengan segala masa lalu buruknya. Bahkan, soal keperawanan pun aku tidak masalah. Padahal saat itu, Rhea adalah wanita pertamaku.
Tragis, bukan.
Aku sudah tidak tahu lagi apa yang aku rasakan. Jijik pada diri sendiri, jijik pada dua orang itu. Dan kasihan, saat mengingat wajah Amanda akhir akhir ini.
Harusnya Amanda tidak se hancur itu jika ia hanya sekedar merasa bersalah kepadaku.
"Mas.."
Kepalaku menoleh ke arah sumber suara, wanita malang yang baru saja aku pikirkan, kini sudah berdiri membuka pintu kamar tamu yang menjadi tempat istirahat ku saat ini.
Jijik, sedih, kecewa, marah bahkan bingung gak tau harus merasakan apa lagi, gak tau harus bagaimana lagi. Jijik, jika aku harus tidur di kamar yang baru saja ku gunakan sebagai kuil persembahan cintaku pada Rhea.
"Mas, bisa tolong jangan seperti ini." Sahut Amanda yang kini ikut duduk dilantai sepertiku.
"Mas.." Suara tangis Amanda kembali membuat jantungku hancur menjadi serpihan debu.
"Maafkan aku, Amanda." Bisikku pelan, entah terdengar sampai telinga Amanda atau tidak.
Bisa saja, saat ini Amanda sudah menenangkan diri di pelukanku, setidaknya menyandarkan kepalanya di dada bidangku. Tapi, nyatanya.. Dia hanya menundukan kepala, sambil menangis tersedu sedu. Meski kita saat ini sedang duduk berdampingan.
Amanda, perempuan baik.
"Katakan semuanya sekarang, Amanda. Jangan membuatku semakin bodoh dengan semua ini." Suaraku meninggi. Marah, kecewa ketika ku sadari aku adalah orang terakhir di antara mereka ya g mengetahui semua kelakuan iblis. Kotor!
"Sebenarnya, setelah liburan tahun itu. Doni begitu dingin padaku, mas. Bahkan sampai Daniela lahir pun, Doni tidak menyentuhku. Rambutku pun tidak."
Buka hanya suara Amanda yang bergetar putus putus, tubuhnya kini bergetar menahan semua kesedihan yang ia rasakan.
Aku tahu tentang sikap Doni yang dingin, aku saja heran kenapa setelah acara liburan justru rumah tangga mereka jadi sedikit aneh. Hanya saja saat itu, Rhea mengatakan...
Ya Tuhan. Pantas! Pantas Rhea mengatakan jika semua itu karena Doni belum siap menerima kehamilan Amanda. Karena saat itu Doni belum berada di posisi yang menurutnya baik untuk memiliki anak.
Oh.. Ternyata.
Aku mengusap wajahku kasar. Menunggu Amanda siap untuk melanjutkan ceritanya.
"Mas Jovan tahu kan, masa masa sulit saat aku mengandung Daniela. Doni selalu saja sibuk dengan urusannya. Dan bodohnya aku, tetap menerima semua perlakuan itu."
Ya.. Amanda. Tidak jarang juga, Rhea memaksaku untuk membantumu. Berkunjung ke dokter. Membeli perlengkapan bayi. Membantumu membeli semangkuk soto di tengah malam karena paksaan Rhea. Bahkan, saat Daniela lahir, aku ada disana. Aku yang harus mengadzani gadis mungil itu karena papanya sedang ke luar kota untuk memperluas bisnisnya.
"Mas.. Ternyata bukan karena Doni, belum siap dengan kehadiran Daniela. Tapi, karena... Karena..." Suara Amanda kembali pecah, kini isak tangisnya benar benar kencang.
Seketika aku memeluk tubuh Amanda yang akhir akhir ini semakin kurus saja. Biarlah, biar ku peluk perempuan malang ini.
Kami berdua diam. Menyelami isi pikiran kami sendiri sendiri. Dua orang yang begitu mencintai pasangannya namun justru tersakiti dengan luka yang sama.
Benar, Amanda.
Cinta hanya membuat kita jadi bodoh. Orang orang baik seperti kita memang selalu saja mudah di bodohi oleh cinta.
Kami menangis bersama. Melepas jiwa yang lelah atas permainan manusia laknat yang terbutakan oleh nafsu kotor.
__ADS_1
"Kita harus kuat, Amanda!" Bisikku sambil mengusap air mata yang keluar dari mata bengkak perempuan lugu ini.
Perempuan yang selama ini sudah ku anggap sebagai adikku sendiri. Perempuan yang selama ini sudah aku jaga layaknya adik kesayangan.
Dulu, saat aku tahu. Bahwa, kondisi rumah tangga Amanda dan Doni terganggu karena kehamilan Amanda, aku.. Aku yang mendanai seluruh bisnis Doni supaya ia tidak lagi merasa takut kekurangan hanya karena hadirnya bidadari kecil itu.
Aku memberikan kebebasan penuh antara Rhea, Amanda dan Doni untuk tetap menjaga persahabatan mereka. Bahkan tidak pernah curiga saat Rhea harus pergi keluar kota dengan tim Doni. Membantu memasarkan bisnis baru mereka. Bukan hanya dua orang saja, tapi satu tim. Tujuh orang dengan Doni sebagai leader nya.
"Bersihkan wajahmu. Kita harus kuat di hadapan mereka. Jangan lagi menangis, Amanda! Stop!" Ucap ku dengan suara meninggi.
Setelah beberapa saat kami menghabiskan waktu untuk merapikan penampilan, aku melirik ke arah Amanda yang memasukkan kembali handphone ke tasnya.
"Doni sudah di sini, Mas."
"Amanda, bisa tolong katakan. Sejak kapan kamu sadar kalau Daniela bukan buah cinta kamu dan Doni?"
Biarkan mereka menunggu, menerka berkata apa yang kami lakukan di dalam kamar ini. Aku juga tak perduli, jika mereka melepas rindu. Yang jelas, ini kali pertama aku berbuat seperti ini. Berdua dengan wanita selain Rhea.
"Mas, ingat. Daniela sempat sakit parah beberapa waktu lalu?"
Aku mengangguk. Kecelakaan saat sedang mau skuter di jalan. Lepas dari pengawasan Amanda yang masuk kedalam rumah untuk mengambil buah kesukaan bidadari kecil itu.
"Darah kami tidak ada yang cocok. Dan saat itu mas Doni tampak begitu panik."
Perempuan itu mengangkat kepala ke arah atas. Usaha kuno untuk menahan air mata.
"Rasa penasaran ku dan sedikit kecurigaan menguap begitu saja, aku kira. Daniela adalah bayi yang tertukar. Hahaha"
Tawa Amanda menular kepadaku. Ada ada saja. Bayi tertukar, heh.
"Menguap begitu saja. Hilang. Karena mas Doni begitu ketakutan dan terlihat sangat panik dan juga khawatir."
Wajar.
Selama ini Doni memang tidak terlalu dekat dengan Daniela. Wajar jika Amanda merasa Doni takut kehilangan putri kecilnya.
"Ternyata, takut karena ketahuan golangan darah kami berbeda. Dan fakta menarik nya, justru Rhea yang mendonorkan darahnya. Darah Rhea dan Mas Jovan sama kan."
Gila.
Benar benar, gila.
"Setelah Daniela sembuh, aku baru kembali teringat tentang golongan darah kami yang beda. Aku ini parno, mas. Noid. Takut Daniela yang menjadi pelipur laraku bukan darah dagingku."
Aku tertawa keras.
Dia tidak curiga ke arah suami justru curiga tentang bayi tertukar. Dasar emak emak korban sinetron.
"Aku minta tolong ke mama buat bantu nambahin dana, terus ke Rhea. Bilangnya mau buat usaha berlian." Amanda tersenyum malu. Jelas, bukan tipe perempuan suka berbohong.
"Buat tes DNA?"
Amanda mengangguk. Katanya berkaca kaca. Jelas sekali hasilnya menunjukkan bukan anak Doni.
"Aku gak pernah selingkuh sedikitpun, Mas. Bahkan, denganmu saja aku tetap jaga jarak normal. Meskipun kamu baik banget. Bikin aku nyaman. Tapi, aku sadar. Menerima rasa nyaman dari pria lain juga sudah termasuk selingkuh kan, mas."
Aduh, perempuan menggemaskan. Aku tertawa kecil. Dia persis seperti ku.
"Dan sejak saat itu aku mulai berfikir keras. Hingga, akhirnya chat dan video mbak Rhea bikin aku sadar sesadar sadarnya."
Hah, apa lagi ini. Chat apa maksudnya. Bagian mana lagi yang belum aku ketahui.
Sial.
Mood yang aku tata rapi, mulai berantakan lagi.
Chat?
Video?
__ADS_1