
Sejak pertemuan nya dengan Samuel, keadaan Nadira mulai menunjukkan kemajuan. Pandangannya tak lagi kosong seperti dulu. Namun dia masih trauma dipegang laki-laki selain kakek dan Reza. Mungkin karena mereka laki-laki yang sering dia temui selama ini.
Dan untuk Samuel, dia masih bertemu saudara serahimnya itu secara diam-diam. Samuel meminta untuk pertemuan rahasianya itu. Dia tidak ingin bertemu dengan keluarga dari ibu kandungnya. Karena dia pun tau, keluarga ibunya tidak menginginkan pernikahan antara kedua orang tuanya.
"kak, mau sekolah lagi ngga?" ucapan Samuel mengalihkan pandangannya. Di sekolah deritanya dimulai. Hatinya belum bisa menerima seutuhnya tentang musibah yang membuatnya hamil juga kehilangan buah hatinya itu
"belum siap" jawab Nadira singkat
"mau home schooling?" tanya Samuel lagi. Nadira hanya meliriknya sesaat. Apa yang dia mau saat ini dia pun tak tau. Dia masih belum siap jika harus berhadapan dengan orang banyak. Dia kehilangan kepercayaan dirinya. Dia hanya menunduk. Bingung dengan bagaimana masa depannya nanti
"mau aku carikan home schooling yang bagus?" tanya Samuel lagi. Dia melihat kakak nya ini sepertinya kebingungan. Atau mungkin dia sedang trauma dengan sekolah
Melihat tidak ada respon dari kakaknya, Samuel mencoba memegang kedua tangan kakaknya. Dari dokter Steven dia tau kakaknya trauma akan laki-laki, jadi dia ingin mendekati nya pelan-pelan.
"apa mau kakak? Bicaralah" pungkas Samuel. Dia ingin kakaknya mengungkapkan kata hatinya.
"pergi" ucap Nadira singkat
"kakak mau aku pergi?" tanya Samuel memastikan. Tapi genggaman tangan mereka semakin dipererat Nadira
"kakak mau pergi kemana?" tanya Samuel lagi. Sebisa mungkin dia gunakan waktu sebaik-baiknya karna waktu bertemu mereka sangat terbatas
"jauh" balas Nadira kembali yang membuat Samuel semakin bingung. Untung lah ayahnya segera menyusul.
__ADS_1
"kita akan pikirkan nanti jalan keluarnya. Sekarang kamu kembali ke kamar dulu. Daddy pasti bantu sebisa mungkin masalahmu, ya? Percayakan sama daddy?" dokter Lukman mencoba menengahi mereka. Tidak baik kalau mereka sampai ketahuan keluarga Maheswara yang lain
Terlihat Nadira menganggukkan kepalanya. Suster Michelle kembali membawa Nadira menuju kamarnya.
********
Rafael masih pontang panting ke beberapa rumah sakit di kota. Dia sangat kebingungan saat ini. Tak ada kabar apapun dari Nadira membuatnya nyaris gila
Pagi ini Rafael, Austin dan Calvin berkumpul di markas. Mereka sudah melewati ujian semester jadi hari ini hari bebas.
Terlihat dari jauh Betrand menuju markas. Tentu saja ini membuat bingung Rafael, calvin dan Austin. Saat sudah dekat Betrand tanpa ba bi bu langsung menonjok pipi Rafael dengan sangat keras. Air mata Betrand sudah mengalir bak sungai. Disusul kakaknya juga ikut menghajar Rafael. Ketika akan dilerai, malah calvin dan Austin pun kena hajar. Mereka kewalahan menghadapi kedua kakak beradik yang sedang diselimuti emosi itu.
"hajar balik gue! HAJAR BALIK GUE! gue goblok ngga bisa melindungi adek gue. Padahal dalam hati gue yakin dia adek gue. Gue goblok ngga bisa menghajar kalian saat itu. Gue goblok yang menyadari dari awal tentang adik gue. Gue menyesal. GUE MENYESAL. Aaaaaarrrrrrrhhhhhhh...... "suasana markas seketika berubah sunyi. Hanya tangisan Betrand yang mengisi kesepian markas kali ini
" maafin kita. Lo tau kan kalau kita juga sangat tertarik sama Nadira sejak awal? Saat ada kesempatan, nafsu langsung menguasai kami. Maafkan kami yang membuat adikmu semakin terluka." calvin mendekati Betrand. Berusaha menenangkan emosi sahabatnya yang sedang buruk
Rafael yang sudah babak belur mencoba berbicara dengan Betrand. Meski dia tau dia paling bersalah dalam hal ini. Kecemburuannya telah membuat orang yang dia cintai menghilang hingga kini belum ditemukan
"cobalah untuk ikhlaskan. Kita pasti bisa menemukan dia. Kita cari dia sampai ketemu. Percuma lo tangisi kayak gini. Dia ngga bakalan ketemu kalau cuma lo tangisi" Rafael mencoba memberi ketenangan dengan mengelus pundak Betrand. Namun malah tepisan kasar yang diberikan Betrand padanya. Tentu saja para sahabatnya kaget. Benar-benar Betrand berada di emosi paling tinggi. Biasanya Betrand selalu paling halus tindakannya diantara ketiga temannya
"disini lo perawanin Nadira kan?" Ucapan Betrand langsung saja membuat semua tatapan beralih ke Rafael. Mereka seperti serempak menginginkan jawaban kejujuran dari Rafael
"ya" jawab Rafael singkat yang melahirkan senyuman sinis dari betrand
__ADS_1
"Lo pernah tanya ke Nadira ngga soal malam itu menghasilkan janin atau ngga?" tanya Betrand kembali. Pertanyaan kali ini membuat alis ketiga sahabatnya menukik tajam. Apa mereka kecolongan menyiksa seorang wanita hamil?
"apa maksud lo menanyakan hal ini. Gue cuma melakukan sekali. Ngga mungkinlah langsung jadi janin." jawaban Rafael kali ini dibalas pukulan keras dari Calvin. Dalam hatinya sangat takut kalau sampai benar perkataan batinnya, dia akan menjadi laki-laki paling jahat sedunia. Kakaknya bunuh diri karena hamil di luar nikah. Dan pacarnya tidak mau bertanggung jawab. Jangan sampai dia melakukan hal kejam itu
"gue cuma sekali. Udah gue bilang, gue ngelakuin itu cuma sekali sama dia. Ngga mungkin jadi janin. Kalau sampai jadi janin, kenapa dia ngga minta tanggung jawab? Gue nganterin dia setiap hari kalau ngga sibuk. Kecuali sehari sebelum kejadian itu. Goblok kan kalau dia ngga memberi tau hal itu sama gue? Kalau dia takut sama orang tua gue, cukup bilang ke gue. Gue pastiin akan mencari jalan keluar nya. Toh gue sudah bilang ke kakaknya, kalau sampai kejadian itu jadi janin, gue akan nikahi siri dia. Kalau orang tua gue sudah mengizinkan, gue baru ke negara. Serinci itu gue sudah bilang. Apakah masih kurang gue meyakinkan dia kalau gue tanggung jawab? "balas Rafael berapi-api. Dia benar-benar tidak terima dicap sahabatnya sebagai lelaki tak bertanggung jawab. Dia hanya benar-benar refleks waktu kejadian dulu itu. Tidak ada niat utama untuk menyakiti. Dia hanya cemburu miliknya disentuh orang lain. Dia lebih memilih miliknya disentuh sahabatnya daripada orang lain.
Tapi dia tidak menyangka akan kehilangan jejaknya seperti ini. Dia sebenarnya juga bingung. Kakaknya hanya seorang dokter. Bukan orang kaya. Tapi kenapa pencariannya selama ini tak membuahkan hasil?
Kini dia paham alasannya. Jika adik tiri Betrand adalah Nadira, berarti kemungkinan besar hilangnya Nadira, ada campur tangan keluarga Maheswara. Karena setau mereka, mama tiri Betrand adalah Anggun Maheswara
Kembali Betrand tersenyum sinis. Dari kantongnya dia mengambil sebuah kertas.
Tunggu!!!
Di kertas tersebut juga ada semacam ct scan USG. dada Rafael berdetak tak karuan.
"jangan sampai. Jangan sampai ya, Tuhan. Jangan sampai!" batin Rafael terus menyerukan kata-kata itu. Semoga yang ada dipikirkannya tidak menjadi kenyataan
"sepuluh minggu!dan baru diperiksa sehari sebelum kejadian itu. Niatnya dia akan memberitahukan hal itu sama lo. Tapi ternyata adik palsu gue sudah menyiapkan jebakan. Dan bodohnya, kita semua terjebak. Mereka gugur karena perlakuan bodoh kalian. Bahagia kan kalian sekarang? "
JEDEEEERRRRR!!!!!!
ucapan sinis Betrand mencabik cabik batin ketiga sahabatnya yang lain. Kini bukan hanya Betrand yang menangis pilu. Tapi juga ketiga sahabatnya
__ADS_1
Terutama Rafael . Dia telah membunuh. Gara-gara dia anaknya hilang. Gara-gara dia kekasih hatinya terluka sangat dalam. Sontak dia langsung membentur-benturkan kepalanya ke tembok. Rasa sakit tak dia hiraukan meskipun darah sudah mengalir deras dari dahinya. Kawan-kawan yang lain pun manciba mengahalau tindakan bodoh itu. Namun Rafael tetep kekeh melukai dirinya.
Hingga pandangan gelap mulai terasa