
Kejadian yang menimpa mas Adit membuat ku geram. Tanpa berpikir panjang, aku langsung menghubungi kakek.kuceritakan semua yang menimpa mas Adit dan ancaman yang aku terima. Aku punya kekuatan sekarang. Kenapa harus berjuang sendiri sedangkan aku punya keluarga yang lebih dari mampu untuk menghancurkan orang yang mengusik hidupku
"sejak kapan dia meneror kamu???" tanya kakek dari seberang telepon
"Kemarin sih, kek. Waktu Rafael mulai nganter aku ke sekolah."
"kok ngga langsung bilang ke kakek? Dapat bully atau hanya pesan teror saja?"
"bully juga. Tapi ada Rafael kok yang sudah membantu. Bullying nya gpp, kek. Aku sudah biasa. Yang aku ngga terima, kok mas Adit diikut sertakan dalam masalahku. Ngga fair kan, kek? Mas Adit sekarang depresi. Dan gelar dokter mas Adit jadi dipertanyakan sekarang. Aku takut kalau sampai gelar dokter mas Adit dicabut"
GILA!!!! Cepu banget aku sekarang ya?
"besok akan kakek selidiki kasus ini. Semuanya akan dapat balasan. Itu pasti. Setelah semua selesai, suruh Adit bekerja di rumah sakit keluarga kita saja. Keluarga punya usaha kok, kerja sama orang lain." pungkas kakek. Sungguh aku bahagia sekali sekarang. Ada banyak orang yang bisa aku jadikan sandaran.
" kek..... "
" hemz.... "
" makasih banyak. Jadi kangen kakek."tak terasa airmata mataku ikut mengalir. Aku terharu
" kangen kesini. Masak harus kakek terus yang kesitu"balas kakek
"aku malas ketemu nenek sihir, kek!" ucap ku malas. Aku tak mau kalau nanti harus ketemu putri lagi disana
"pulang ke rumah keluarga sendiri kok malas. Atau mau pulang ke tempat Wirawan?"
"apaan sih, kek. Bikin males tau ngga! Aku belum bisa kesitu, kek. Kondisi mas Adit belum stabil emosinya. Nanti kalau sudah mendingan, aku pasti kesana. Janji!"ucap ku. Mana mungkin aku tega meninggalkan mas Adit yang lagi pusing karena masalahnya
" suruh Adit kesini. Gue ajak mabar. Biar tenang hidupnya" tiba tiba suara pakde marcel menggelegar di telingaku
"PAKDEEEEE....."
__ADS_1
"ck.... Ngga gue bantuin lo ya? Panggil UNCLE NO PAKDE. malu maluin aja lo jadi ponakan." balas pakde Marcel tak terima dengan panggilan ku. Lagian sudah tua juga. Ngapain mesti malu ya kan?
Usia mama saat menikah, 20 th beda 13 th dengan om Reza. Sedangkan waktu itu pakde Marcel usia 21 th. Itu cerita kakek. Jadi waktu melahirkan aku, usia mama 21 th belum genap. Dan itu katanya mereka sudah menikah Siri dulu. Lalu kakakku lahir waktu umur mama berapa ya? . Tapi papaku katanya waktu itu sudah 27 th. Nikah tanpa cinta itu memang sesuatu banget. Yang sabar, bisa selamanya. Yang ngga sabar, ya seperti ini. Aku yang dikorbankan
"Uncle Uncle, makanya nikah. Biar bisa awet muda. Ngga dipanggil pakde lagi. Apalagi kalau dapat daun muda, tambah awet muda pasti, De!" godaku
"sama temenmu ya?" balas pakde. Dahiku langsung mengernyit. Pakde mau jadi Sugar Daddy?
"Turah duwet, De? Mau ngopeni cabe cabean?" tanyaku tak terima. Ya kali keluarga ku ikut aliran itu.
Terdengar suara geplakan keras dari seberang. Sepertinya pakde lagi kena bullyan kakek nih
"aww.... Pa....
Putumu ae sing salah ngomong kok aku sing mbok keplak. (cucumu yang salah bicara kok aku yang kamu geplak). Dir, jangan asal ngomong. Bikin sengsara ae lo. Bukan gitu maksud gue. Gue lagi deket sama temen lo. Kelihatannya sih dia baek.cari tau tentang dia dong! "pinta pakde Marcel
Aku terbengong. Aku yakin kakek pasti juga sama. Kami saling diam untuk beberapa waktu. Hingga akhirnya suara jeritan pakde membuyarkan pikiranku.
"Pakde pedofil. Ngeri!!!" akupun ikut ikut mengajukan pendapatku
"mbok yo sing waras to, Cel! Kacek umur karo Dira ae wes 22 th. Lha karo kancane trus pirang taun?...."
Belum sempat kakek menyelesaikan kata katanya pakde Marcel sudah menyelutuk
"21 th, pa! Tenang!"
"Astagfirullah..." aku dan kakek mengucap istighfar serentak. Tak habis pikir dengan pikiran pakde Marcel saat ini
"pakde pikirkan baik-baik. Jika pakde nikah sama temanku, kebayang ngga kehidupan rumah tangga kalian akan terlihat seperti apa? Yang satu tua renta, yang satu masih kinyis kinyis. Disaat pakde sudah sakit sakitan, ditinggal selingkuh. Nah lo! Bagaimana bagaimana bagaimana? "ucap ku menakut nakuti pakde. Lagian ada ada saja kelakuan berondong tua ini. Kenapa ngga cari yang usianya ngga berbeda jauh. Apa kalau usia laki laki sudah mumpuni, akan seperti pakde ya. Lebih greget sama yang kinyis kinyis. Toh temanku banyak yang jadi simpanan om om.
"omongan lo, Dir. Takut gue kalau ada malaikat lewat omongan lo di aminin kan habis gue" gerutu pakde. Aku dan kakek hanya bisa mentertawakan penderitaan pakde Marcel
__ADS_1
"lagian pakde ngapain sih ngincer temenku? Stok tante tante dah habis?" tanyaku lagi. Masih tak terima saja kalau sampai beneran pacaran sama temanku. Bukannya apa apa, takut saja kalau pakde Marcel hanya dimanfaatkan
"ck... Mau dibantuin ngurusin masalah nya Adit ngga?" kayaknya mau ngajakin barter info nih. Memang kalau bakat bisnis sudah mendarah daging, tak akan ada kata rugi biarpun hanya sekedar informasi recehan
"ok. Siapa namanya?" ucap ku pasrah
"Elsa Pringgo Asmoro. Kenalkan?"
"Ha...."
*******
Setelah aku meminta bantuan kakek, aku sedikit tenang. Aku yakin saja kalau kasus ini bakal cepat selesai
"makan, Mas! Jangan melamun. Perut kosong ngga akan mendatangkan duit. Yang ada mendatangkan penyakit"
Sejak kemarin mas Adit selalu murung. Aku tau dia pasti merisaukan gelar kedokteran nya. Entah sudah berapa hal yang dia korbankan demi gelar ini. Termasuk lupa dengan almarhumah ibu.
"kakek akan bantu masalah ini, Mas. Pasti selesai dan gelar dokter mas ngga akan dicabut" ucap ku menenangkan mas Adit
"kamu bilang ke keluarga Maheswara soal masalah ini?" tanya mas Adit kaget.
"ini masalah besar, Mas. Aku yakin mereka melibatkan orang orang berduit. Kalau cuma kita berdua yang melawan, ngga akan berpengaruh apa apa buat mereka. Beda kalau keluarga Maheswara ikut campur. Semua pasti cepat selesai dan ngga perlu diperpanjang. Lagian punya keluarga punya kekuasaan, mubadzir kalau ngga dimanfaatkan"ungkapku yang dibalas dengan tawa mas Adit
"aku hanya takut merepotkan" lanjut mas Adit
"ngga ada yang direpotkan. Ibu saja yang dulu cuma jualan kue dan gorengan aja mau kok direpotkan olehku. Anggep aja sekarang balas budi" ucap ku asal
"suuttttt.... Ngga boleh bilang kayak gitu. Nanti kalau almarhumah ibu ngga terima bagaimana?" balas mas Adit sedikit tegas. Aku pun langsung tersadar
"Maafin Dira ya, bu. Dira khilaf"
__ADS_1