Luka Masa Lalu

Luka Masa Lalu
Empat


__ADS_3

Bukan lagi hatiku yang kembang kempis, hidungku sedari tadi menahan tarikan nafas kasar juga kembang kempis.


Perempuan Laknat. Tapi mengapa hati ini masih menjerit, cinta yang begitu besar ternyata memang menyakitkan.


"Mas Jovan belum tahu?" Tanya Amanda, bingung. "Mbak Rhea belum cerita bagian ini?" Sambung Amanda. Takut.


"Sini.. Kita duduk dulu lagi. Masa bodoh mereka. Pintu sudah aku kunci." Jawabku sambil menarik tangan Amanda untuk kembali duduk.


"Mas Jovan sambil makan cemilan ya, ini ada cemilan kok di tas Amanda."


Ya Tuhan, perempuan macam apa, Amanda ini. Bisa bisanya dia bahas soal makanan sekarang.


"Yakin deh, Mas Jovan belum makan apapun." Sahut Amanda jahil. Mengulurkan sekotak brownies kesukaan Daniela.


Oh, Daniela.


Nyeri hatiku.. Pedih.


"Jangan nangis lagi ah, mas. Katanya di suruh kuat. Aku sih, udah puas nangis kemarin kemarin."


Amanda tertawa. Gila. Dasar perempuan. Mood nya sering berubah ubah.


"Cerita.. Cerita semuanya." Perintahkan sambil melahap sepotong brownies. Sebenarnya, bukan hanya Daniela yang tidak tahan dengan cokelat. Aku, juga penggemar berat cokelat. Ah.. Sudahlah.


"Jadi, kebetulan aku penasaran dengan HP mas Doni. Baru ini aku tertarik buka buka HP mas Doni. Mas Jovan juga gak pernah buka HP mbak Rhea, pasti."


Benar.


"Kebetulan di sana ada kontak namanya kesayangan. Aku udah GR kan, mas. Pasti itu aku. Dan ternyata.. Itu mbak Rhee aa." Suara Amanda saat mengucapkan nama Rhea benar benar membuatku ingin menguatkan perempuan ini.


"Isinya bikin aku mual mas. Untung saja, otak aku masih waras. Semua bukti itu aku salin ke HP aku pribadi. Setelah itu aku pura pura tidak tahu apa apa. Meski, setiap malam aku selalu menangis. Setelah semua itu, aku langsung membuka barang barang masa lalu. Mencari bukti tentang mbak Rhea yang pernah sengaja menggugurkan kandungan. Aku bukan perempuan lemah saat aku terluka seperti ini mas. Dulu, fandi itu pacar aku, mas. Tapi aku ikhlas jadi milik mbak Rhea. Percuma aku rebutin sesuatu yang menurut aku sudah gak penting lagi. Buat apa. Itu yang bikin aku merekam semua curhatan mbak Rhea. Bodoh juga mbak Rhea, kenapa curhat sama aku. Walaupun diam diam aku bersyukur, tidak sia sia aku melepas sampah macam fandi. Setelah itu, kita kembali sahabatan. Kerja bareng di kantor mas Jovan, hehehe." Amanda tertawa. Wajahnya sudah mulai tampak pulih. Tidak se hancur tadi.


Aku tertawa. Tidak menyangka ternyata Amanda cukup licik.


"Aku tipe orang yang selalu ketakutan dan kelewat waspada, jadi merekam semua itu hanya buat jaga jaga jika suatu hari nanti mbak Rhea bikin ulah lagi seperti merebut Fandi dariku. Cara merebutnya itu tipis tipis mas, sopan dan tidak ketahuan. Aku tidak sepenuhnya menyalahkan Fandi, toh memang kita sudah pisah saat itu."


Amanda berhenti sejenak buat ikutan makan brownies di hadapannya. Menangis itu bikin lapar. Kalau sadar.


"Benar kan adanya. Sekarang ini. Terus, saat aku cerita tentang mas Jovan. Mbak Rhea jadi ikut tertarik. Jadi belum terlanjur, aku memutuskan untuk mundur." Jelas Amanda sambil menundukkan wajahnya.


Kaget.


Maksud Amanda, dia pernah ada perhatian kepadaku?

__ADS_1


Jelaskan.. Dulu aku bujangan paling di minati di kantor.


"Kemudian kita mulai bersahabat juga dengan mas Doni. Awalnya, mas Doni sangat tertarik dengan mbak Rhea. Tapi karena mbak Rhea memilih mas Jovan. Jadi mas Doni mundur. Aku kira mereka benar benar memilih persahabatan ini. Sudah move on gitu. Kemudian, mbak Rhea dan Mas Jovan menikah. Dan di susul aku dan mas Doni.Semua baik baik saja sampai liburan saat itu. Cinta lama belum kelar ternyata. Dan mereka benar benar menggunakan cara yang mirip dajjal."


Kami diam. Sama sama malu.


"Aku pergi menemui mbak Rhea sambil membawa banyak bukti. Dan akhirnya, mbak Rhea menjelaskan semuanya. Meminta maaf. Begitu juga mas Dhoni. Dan naas sekali, saat itu mas Doni harus keluar kota. Aku mengizinkan. Aku bodoh mas, bodoh. Benar benar bodoh karena selalu menyerah saat melihat wajah mas Doni."


Tangis kembali pecah, Amanda kembali menangis. Sedangkan aku diam saja. Energiku habis.


"Mbak Rhea bilang kalau mas Jovan tidak akan percaya semua ini. Mbak Rhea minta waktu buat menjelaskan sendiri ke Mas Jovan."


Aku diam, tidak tahu harus menanggapi apa. Kebas dan mati rasa sepertinya.


"Dan saat aku mengirimkan bukti mbak Rhea menghilangkan kandungannya. Sebetulnya, aku sendiri malu mas. Membuka aib orang lain. Aku gak nyaman dengan semua ini. Tapi, selain itu. Aku tidak mampu menyerahkan sendiri ke mas Jovan. Aku sendiri tidak kuat melihat orang yang begitu baik justru harus merasakan sakit yang seperti ini. Walaupun aku ingin menghancurkan mbak Rhea sama mas Doni. Tapi mas, aku gak mampu. Cinta membuatku menyerah."


Aku tertawa, mengusap ujung kepalanya. Dasar perempuan labil.


"Kamu cenayang ya?" Tanyaku mendadak.


"Eh, apa mas?" Amanda kaget.


"Bisa tahu apa yang akan terjadi."


"Gak mas. Cuma insting ku lumayan kuat."


"Hancur lebur mas."


Amanda tertawa lepas yang di susul tawaku sendiri. Semua terasa lebih ringan saat tertawa bersama. Hingga ketukan pintu dan suara Rhea menghentikan kami.


"Mas Jo" Teriak Rhea marah.


Bagaimana tidak marah, baru pertama ini aku menghabiskan waktu di dalam kamar dengan wanita selain dirinya.


"Sebaiknya kita keluar, Mas." Bisik Amanda yang hanya di jawab anggukan kepala.


"Nanti, apapun yang terjadi. Jangan perlihatkan kelemahan kita di hadapan mereka. Cukup, kemarin mereka lihat kita hancur."


Kami hanya sedang saling menguatkan. Untuk memutuskan bagaimana akhir dari drama yang mereka mainkan.


************************************


"Didalam ngapain aja sih, Mas.?" Tegur Rhea masam.

__ADS_1


Reaksiku hanya diam saja, biarlah seperti angin lalu. Ku genggam tangan Amanda erat. Tak perlu lagi aku pertimbangkan perasaan Rhea.


Sekarang, kita berempat duduk bersama di ruang tengah. Jika di waktu lalu tempat ini adalah tempat kami saling bercengkrama hangat. Sekarang, panas. Penuh gejolak amarah.


"Aku harap kalian semua tidak memotong ucapan ku sebelum aku selesai." Kataku tenang.


Semua diam.


Amanda memainkan jemarinya, khas Amanda saat gelisah.


Doni hanya menundukkan kepala, bahunya tak setelah biasanya.


Dan perempuan yang paling aku percaya di dunia ini, menatapku berkaca kaca.


"Don, soal Daniela. Jika nanti rumah tanggamu dengan Amanda tidak bisa di pertahankan, maka jangan sekali kali menuntut hak asuh atas Daniela." Sahut ku pelan. Tenang.


Aku berfikir, mengatasi semua ini tak perlu lagi dengan teriakan atau tangisan.


"Kemudian, soal beberapa saham yang aku miliki di tempat mu. Itu hak Rhea semuanya. Jika di kemudian hari, kalian justru memilih hidup bersama. Maka itu semua bisa menjadi bekal bagi gaya hidup Rhea yang selama ini tak pernah aku batasi. Kamu pasti juga paham, selera fashionnya."


Rhea menatap ku tak percaya. Air mata mulai menetes ke pipinya yang halus.


"Kemudian, Amanda. Soal aku dan Daniela, itu mutlak hak kamu untuk memutuskan."


Amanda mengangguk lemah, entah selaras dengan apa yang ada di pikirannya atau tidak.


"Terakhir, Rhea. Semua ini sudah cukup sampai di sini. Kamu memiliki semua yang perempuan di luaran sana inginkan. Hanya saja, kamu terlalu rakus untuk menjadi pusat semesta semua orang. Mungkin memang salah aku terlalu memujamu. Membuatmu besar kepala hingga merasa pantas memiliki semua apa yang kamu ingin miliki. Mulai saat ini, kita selesai. Dan mengingat kejadian tadi malam, jika nanti kamu hamil, aku butuh kepastian yang pasti itu memang keturunanku atau keturunan setan." Sahut ku mantap. Perkara hatiku remuk, biarlah waktu yang menyembuhkan.


Rhea menangis histeris, memeluk kakiku sambil meminta kesempatan lagi.


"Persoalan rumah tangga ku dengan Rhea sudah selesai. Kalau Rhea sampai mempersulit proses perceraian, maka semua bukti tentang perselingkuhan kalian akan aku bawa. Dan soal rumah tangga kalian. Kamu tidak mau ikut campur. Silahkan kan di bahas sendiri."


Setelah mengucapkan kalimat terakhirku. Aku bergegas meninggalkan mereka. Menuju dapur, mencari apa yang bisa aku konsumsi tanpa harus repot memasak.


Bukan berdamai.


Hanya terlalu sakit hingga tidak mampu merasakan sakitnya.


Bagiku semua sudah selesai. Aku tidak perlu merebutkan sesuatu yang memang tidak layak untuk di rebut kan. Tak perlu mempertahankan sesuatu yang memang sudah tidak layak di pertahankan.


Bukankah cara paling tepat memperlakukan sampah adalah membuangnya di tempat sampah. Terlebih, sampah yang sudah tidak bisa di daur ulang.


Hari ini juga, aku harus angkat kaki dari rumah ini. Bila perlu tidak usah kembali lagi ke tempat menyakitkan seperti ini. Biarlah waktu mengobati setiap senti luka yang mengaga.

__ADS_1


"Tolong urus perceraian saya dengan Rhea. Secepatnya." Perintahku pada seseorang di sebrang sana.


Mulai saat ini, detik ini juga. Aku menutup telinga, aku menutup mata, untuk setiap hal tentang Rhea maupun Doni.


__ADS_2