Luka Masa Lalu

Luka Masa Lalu
Enam


__ADS_3

POV DHEA


Kepalaku pusing karena tadi malam tidak bisa tidur memikirkan kejadian menegangkan tadi malam. Takut, cemas sekaligus miris.


Dua tahun adalah waktu yang cukup lama untuk mengenal sosok big boss dengan kepribadian yang luar biasa santun, lembut. Pokoknya semua sifat baik ada di dalam diri, Mas Jovan.


Sekelas pimpinan dengan gaji yang bikin wanita matre meneteskan ludah karena terlalu ingin menjadi kekasihnya, rela begitu saja di panggil mas oleh semua karyawannya. Biar lebih dekat dan akrab gitu alasannya dulu. Lebih kekeluargaan begitu, tambahnya.


Dan saat big boss terluka, kami semua berduka, tidak terkecuali rival Mas Jovan. Masih ingat betul panggilan yang aku terima, "Belum sembuh juga Dhe? Bos kamu itu. Saya bosan kalau Jovan seperti ini" Ujar Pak Darto di sebrang telepon.


Semua bahu membahu membantu kondisi kantor yang kalang kabut karena pimpinannya sedang lumpuh. Lumpuh, seperti mayat hidup yang bawaannya hanya menangis dan mengamuk. Jalan tanpa menyadari apa yang di lewatinya.


Untuk beberapa saat, aku menyesal lahir dengan nama Dhea. Hanya beda satu huruf dengan nama mantan istri Mas Jovan. Dulu, mas Jovan sering sekali memanggilku dengan mana Rhea, nama perempuan itu. Dan setelah itu beliau tertawa malu, meminta maaf karena di isi otaknya selalu ada nama itu.


Kadang kalau kami sedang keluar bersama dengan karyawan yang lainnya. Mas Jovan selalu bercanda jika menyebut nama ku, beliau jadi ingin pulang untuk menemui istrinya.


Jelas saat itu aku pun tertawa sambil melontarkan kalimat kalimat jahil. Begitu juga beberapa teman. Hangat dan menyenangkan. Hingga tiba badai tsunami dan gunung meletus, menghancurkan semua tawa kebahagiaan itu. Sejak saat itu, aku tidak lagi ikut bergabung dengan teman teman. Aku memaklumi, karena jika melihatku, mereka tidak tahan untuk teringat atau menanyakan kabar bos mereka yang pada akhirnya hanya membuat mereka merasa sedih.


"Jika ini bukan Mas Jovan. Mungkin sudah jadi buah bibir hingga penjuru kantor."


"Jika ini bukan Mas Jovan, pasti saham perusahaan merosot drastis."


"Jika ini bukan Mas Jovan, semua pesaing pasti sedang berpesta pora."


Kalimat kalimat yang terdengar di balik kubikel setiap devisi.


"Aku gak tega, huhuhu."


"Semoga Mas Jo lekas membaik."


"Aku mau ngelakuin apa saja, asal mas Joko kembali normal."


"Ya Tuhan, kenapa ini begitu tidak adil."


Terus saja seperti itu. Seakan akan mereka tidak bosan mendoakan kebaikan untuk mas Jovan.


Untung ada Satya, yang membantuku menangani semuanya. Adik mbak Amanda yang saat itu bergabung dengan kami.


"Tolong bantu menenangkan Jo dulu, Dhe. Biar pekerjaan aku yang handle." Katanya saat itu.


"Tapi nanti mas Satya jadi pulang lembur. Kasihan istrinya." Alasanku untuk menghindari tugas menemui Mas Jovan.


Gila, rasanya aku jadi tumbal di sini. Tidak selalu berada di kondisi yang siap untuk menerima teriakan, bentakan, caci maki, dan hatiku belum siap hancur berkeping-keping karena melihat mas Yovan yang menangis sambil tertunduk lesu.


Beliau memang selalu hilang kontrol seperti itu saat bersamaku. Memang beda jika bersama dengan yang lainnya. Hanya diam, dingin, tidak fokus dan melamun. Kadang saat rapat pun seperti itu. Beruntung, beliau memiliki orang orang dengan pengabdian tanpa batas. Mereka semua tahu apa yang harus mereka lakukan selama bos mereka dalam kondisi seperti ini.


Hanya saat bersama Amanda dan Daniela, tampak jelas di mata mas Jovan, cahaya kehidupan. Meski redup.

__ADS_1


"Selamat siang!" Teriak seseorang di luar sambil menggedor pintu rumahku. Membuatku kembali ke masa sekarang.


Setelah meletakkan cangkir berisi teh panas, aku membuka pintu dan tara, kejutan!


"Hallo, gadis baik baik. Selamat siang." Sapa riang perempuan cantik banget anggun ini.


Bu Amanda!


Siapa lagi yang bisa hadir seperti makhluk halus, hahaha. Sekali di pikiran langsung muncul di kenyataan. Hebat!


"Siang, Bu. Mari masuk" Ajak Ku tulus, bukan basa basi. Dan tak lupa senyum manis mengembang dj wajahku. Tanpa paksaan.


Siapa yang tidak luluh dengan senyum manis di wajah perempuan cantik ini.


"Kamu sehat kan, Dhe. Aku bawa makanan ini."


"Sehat, Bu. Wah.. Beruntungnya aku ini. Memang dari tadi belum bisa makan apa apa, Bu." Jelasku malu malu. Sambil membuka bekal yang di bawa Bu Amanda.


"Sehat kok belum makan apa apa. Kamu ini gimana. Aku kesini itu, karena tadi Daniela kasih kabar. Umm-- tau lah ya, gak perlu di ulang. Kan kamu juga di sana." Ucap Amanda hati hati.


"Saya ambilkan minum dulu ya, Bu. Sambil sekalian ambil piring." Sahutku pelan. Mencoba menghindari topik yang bikin kepala pusing.


"Gak usah. Langsung makan pakai itu aja. Tuh sudah aku sediain sendok. Sini, duduk saja. Jangan kaya mas Jo yang sukanya menghindar. Hahaha"


Tawa wanita ini memang manis. Aku yang perempuan saja mengakui, apalagi kaum adam. Pasti banyak yang bertekuk lutut. Heran, kenapa mau maunya kembali sama suami jahanam.


"Makan, Dhe. Aku tahu kalau kamu bakalan kepikiran. Emm, kalau boleh tanya, kamu masih jalan sama Isa?"


Perempuan yang ahli mengagetkan itu mengangguk pelan.


"Emang bener sampai mukulnya itu berkali-kali?"


"Gak sopan kan, Bu. Saya makan sambil cerita. Hehehe" Jujur saja, ini bukan topik enak yang bikin nafsu makan naik.


"Sopan aja ah. Seperti sama siapa aja. Beneran atau gak si. Aduh, saya butuh versi kamu." Paksa Amanda, Gemas. Tidak sabaran.


"Jadi memang salah Isa, bukan Daniela, Bu. Daniela itu betul kok. Aku saja mendukung seratus persen. Memang reaksi Isa suka gitu kalau di kasih nasehat, suka mendorong kasar orang yang ngasih nasehat tanpa melihat lihat siapa orang itu." Jelasku pelan. Setelah meletakkan olahan daging sapi yang-- Lezat banget!


"Saya kaget pas Isa dorong tubuh kecil Ela. Dan ternyata, Big boss juga lihat.--" Penjelasanku berhenti. Tawa bu Amanda pecah.


"Masih suka manggil big boss kamu. Haha"


"Ih, ibu."


"Maaf, Lanjut ya."


"Kemudian big boss kalap gitu kan, mukul berkali kali sampai muka Isa bonyok." Aku bergidik ngeri. Mengingat tatapan mematikan milik mas Jovan.

__ADS_1


"Isa mukul satu kali kena, bibir. Mas Jo entah mukul berapa kali. Hidung Isa sampai bonyok sepertinya. Tidak ke rumah sakit si, Bu. Cuma dokter Herman datang ke pos keamanan sama pak Dirman."


Nafasku terasa berat saat mengingat tatapan mas Jo yang entah di sadari atau tidak, jelas tidak suka saat melihatku. Mungkin-- entahlah.


"Jovan sampai gak sadar gitu ya kalau kamu ambil Daniela saat dia mukul pacar kamu itu. Parah bener! Anak gua di ajak nonton film action secara live." Decak bu Amanda, sebal. Tapi jelas ia sama sekali tidak marah.


"Gitu bu. Langsung aku peluk erat, putri ibu yang cerdas itu. Aku sembunyiin wajahnya di sini" Kata ku sambil menepuk dada.


Gila,


Takut kalau si cantik Daniela sampai trauma.


"Jovan sih ngakunya cuma mukul dia kali. Atau jangan jangan dia jadi psikopat ya. Aduh, gimana ini ya." Racau bu Amanda bikin kesel.


"Gak lucu deh, Bu." Kata ku mulai santai.


"Hahaha"


Sakit semua deh kalau kaya gini. Dua duanya jelas sakit.


"Dhea--" Suara Amanda tertahan, pelan namun pasti.


Aku sadar, siap siap menerima kalimat mengejutkan apapun bu Amanda. Tahu persis jika sudah seperti ini maka bakalan jadi momen menegangkan atau mengejutkan.


"Dhe... Jo jadi lepas kontrol saat tanpa sadar melihat kamu sebagai Rhea. Paham kan, Dhe?"


Aku mengangguk, paham. Wajahku pun seserius wajah perempuan di depanku ini.


"Maafkan, Jovan. Dia belum sepenuhnya sembuh. Maafkan aku juga, memaksamu untuk bertahan di samping Jovan." Sendu. Wajah perempuan ini sedih. Entah gurat wajah perempuan yang memperjuangkan kebahagiaan kakaknya atau kekasih hatinya. Aku tak mau menduga duga untuk saat ini.


"Saya paham, Bu. Dan saya menerima." Nyeri hatiku.


Aku menerima dengan kesadaran penuh untuk di perlakuan seperti ini, penderitaan di mata mereka berdua membuatku merasa kuat untuk menerima. Penderitaan yang terpendam di wajah Daniela membuatku semakin yakin untuk bertahan di posisi ini.


"Jika-- jika kamu memutuskan untuk pergi. Jovan benar benar akan mengontrol dirinya menjadi penyihir es seperti ucapan mu."


Aku menunduk.


Saat saat yang bikin aku menyesal kenapa harus dekat dengan bos karena namaku, Dhea. Nama yang selalu membuat bos merasa ingin pulang ke rumah saat mengucapkan nya. Bukan karena terlalu tergoda oleh diriku hingga melampiaskan ke istrinya, bukan! Justru aku hanya semacam alarm atau alat pengingat dan penghilang fokusnya karena selalu teringat Rhea, mantan istrinya.


"Mas Jo, memendam semua kemarahan yang ia miliki. Saat itupun mas Jo, langsung keluar dari rumah itu tanpa meluapkan amarah di dadanya. Beliau menahan hingga titik dimana beliau justru merasa mati rasa. Dan maaf, Dhe. Hanya denganmu mas Jo bisa melupakan semuanya. Melepas kontrol yang membuatnya mati rasa. Maaf, Dhe. Sungguh.. Kami benar benar minta maaf."


Perempuan ini menangis tanpa suara. Air matanya mengalir tanpa beban. Tidak ada sesenggukan bukan berarti tidak begitu menyakitkan.


"Dhe, kamu berhak bahagia. Kamu berhak hidup normal. Kamu bukan tumbal dhe! Maafkan keegoisan aku. "


Perempuan cantik ini memainkan tanganya, jelas sekali secang bingung maupun cemas. Sisi rapuh, Amanda kembali terlihat oleh mataku.

__ADS_1


"Semua akan membaik, Bu. Saya yakin. Tidak apa apa jika saya harus menjalani seperti ini. Saya menerima tanpa keberatan sedikitpun. Sungguh! Bukan karena saya berhutang budi dengan pak Jovan. Ini murni karena keinginan saya sendiri." Ujarku penuh penekanan. Mencoba menenangkan perempuan rapuh di depanku.


Genggaman tangan kami semakin menguat. Berusaha saling menenangkan.


__ADS_2