
"Hai....
Sudah kubuktikan bukan kalau aku akan membuatmu datang ke markasku bagaimana pun caranya"
Deg
Suara ini!!! Aku sangat hafal suara ini. Kutajamkan mata untuk melihat sosok yang kuyakini adalah dia.
Kulihat senyum mengejek hadir di bibir tipisnya. Ternyata, banyak orang yang sudah menyiapkan jebakan untukku
"segitu pengecutkah cowok yang sekarang ada dihadapanku? Sampai membuat jebakan rendahan kayak gini hanya untuk membuatku datang di tempat penuh dosa ini" aku memberanikan diri untuk melawan ya. Setidaknya aku tidak pasrah ngalah sama nasib
"kalau perempuan itu lo, segala cara akan gue lakukan. Karna gue tau, pelanggan lo banyak di luar sana" balasnya santai.
Dahiku mengernyit bingung. Apa maksudnya???
"LO pernah jalan sama om-om. Gue yakin bukan hanya dia pelanggan lo. Lagian ngga ada cewek baik-baik mau kerja di club malam. Cewek murah kayak lo hanya mengotori nama sekolah. Sebelum lo dikeluarkan, mendingan gue ikut ngicipi kan? Dan gue ingin gratis. Terlalu berharga duit gue kalau hanya buat cewek kayak lo. So....
Kita nikmati saja malam ini"
Akupun mulai panik. Perasaan ku mulai tak karuan. Aku mencoba untuk menggerakkan anggota tubuh ku. Tapi kenapa begitu berat. Aku seperti lumpuh.
Setiap gerakanku dilihatnya. Bukannya kasihan, tapi dia malah tersenyum penuh nafsu. Keringat dingin mulai mengalir deras. Oh Tuhan....
Bagaimana ini???
"kenapa?ngga bisa gerak? Kelihatannya dia menyuntikkan sesuatu yang membuat tubuhmu tak bisa bergerak. Tak kusangka, cewek miskin kayak lo, punya musuh kalangan jetset." lanjutnya lagi
"apa maksudmu?" tatapan tajam kuberikan padanya. Apa ada orang lain yang menjebakku?
"perempuan yang menyuntikkan itu mungkin musuhmu. Karena aku tau, dia akan memberikan tubuh lumpuhmu ke laki laki tua bangka yang mau membayar mahal. Untung saja aku yang menemukan mu. Jadi aku saja yang mengicipi. Bersyukur lah akan hal itu" kata rafa sambil menaik turunkan alisnya
"siapa perempuan itu? Putri? Risa?Naura? Heh....
Ternyata banyak perempuan yang sakit hati karena ku" batinku
"kita mulai ya.jangan panik! Bukannya lo sudah biasa?anggep aja karena lo sudah berani menghina markas kita. Jadi aku minta balasan dari kata-kata lo dulu. Ok?"
Tangan Rafael mulai bergerak. Oh Tuhan....
"jangan, raf! Jangan....
__ADS_1
Oke oke oke, aku minta maaf kalau sudah menyinggung dan menghina markasmu.tapi aku mohon, lepaskan aku. Aku bukan perempuan seperti itu. Aku mohon, raf!!!!" aku terus memohon padanya. Bagiku keperawanan adalah asetku di masa depan.
" maaf diterima. Tapi sudah terlambat. Aku juga minta maaf.......... "
Sreettt....
Dress seragamku rusak. Kini hanya dalaman yang masih ada ditubuhku. Diapun semakin semangat melepas semuanya.
Malu, marah, kecewa yang akhirnya hanya sikap pasrah yang bisa aku lakukan sekarang.
"wow....
Istimewa. Kau takkan kecewa dengan servisan anak kecil ini nona"
Kata kata Rafael sudah tak ingin kudengar kan lagi. Air mata sudah mengalir deras. Sakit dan ngilu sudah kurasakan di seluruh tubuhku. Tapi sepertinya dia belum juga puas. Tenaga ku seakan terkuras habis hingga akhirnya kegelapan menghampiriku
*******
Saat mataku terbuka, kurasakan sinar matahari sudah bersinar terang. Kulihat sekitar, ternyata aku sudah ada di kamar kos ku
Ingatanku kembali ke kejadian semalam. Ingin menjerit, tapi aku takut suaraku akan mengganggu orang orang di sekitar kamar kos ku. Aku hanya bisa menangis dalam diam. Aku kacau. Aku rusak. Aku tak bermasa depan sekarang.
Hampir 1 jam aku berada di kamar mandi. Hawa dingin mulai kurasakan menusuk kulit. Segera aku keluar kamar mandi berganti baju hangat.
Dalam diam aku berpikir, bagaimana kalau sampai aku hamil?
Bagaimana kalau sampai keluarga Maheswara tau? Apakah aku akan dibuang kembali?
Bagaimana dengan mas Adit? Dia pasti marah dan kecewa karena aku tak bisa jaga diri
Bagaimana dengan sekolahku?
Bagaimana dengan masa depanku?
Bagaimana dengan pekerjaan ku?
Aaaarrrrrgggggg......
Semua ini benar-benar membuat kepalaku mau pecah! Kenapa lagi lagi Luka yang Kau beri? Aku sakit, Tuhan! Aku menyerah!
Kuambil sebuah cutter dari dalam tasku. Inginku mengakhiri hidup ini. Aku berpikir, untuk apa aku hidup kalau hanya untuk terluka. Kuletakkan ujung cutter ke pergelangan tanganku. Baru tergores, namun kepalaku sudah sangat pusing.
__ADS_1
Akhirnya gelap. Dan aku pingsan
Saat aku membuka mata, kulihat Rafael sudah ada disamping kasurku sambil menggenggam tanganku. Dengan sekuat tenaga kucoba melepas tangan ku. Tak sudi rasanya kembali bersentuhan dengan orang yang telah merusak masa depanku itu
"maaf. Lo boleh marah. Seharusnya aku minta maaf semalam saat aku telah merusakmu. Tapi karena nafsu, aku jadi melupakan kenyataan bahwa semalam yang pertama bagi mu. Tubuhmu terlalu kaget jadi demam seperti ini. Maaf ya" Rafael minta maaf untuk sesuatu yang sudah rusaknya dan seharusnya dia pun tau kalau yang rusak itu sangat berpengaruh di masa depanku
Aku diam. Malas meladeni orang tak punya pikiran seperti dia
"untuk kejadian semalam, aku sudah me transfer beberapa ratus juta ke dalam rekening mu. Tak sengaja, buku itu keluar dari dalam tasmu saat aku membawamu ke markas. Bukan maksudku merendahkanmu, jika kurang, kau bisa meminta lagi padaku. Kalau gratis, kurasa kamu ngga semurah itu bukan? "
Diam dan hanya diam. Aku sangat malas meladeni ucapannya
" Ra, ngomong! Kamu pukul aku boleh. Marahi aku juga boleh. Aku semalam hanya terlalu excited ternyata kamu jauh dari yang aku pikirkan. Aku pikir, kamu sudah menjual tubuhmu kesana kemari. Tapi ternyata, aku yang pertama untukmu. Pergi bersama om om. Bahkan ditraktir Hp mewah. Bukankah aneh kalau kamu tak memberi imbalan yang sepantasnya? "Rafael seakan tak sadar, kata katanya sudah membuatku terhina begitu dalam
" Keluar!"
" maaf, Dir. Bukan maksudku...... "
" KELUAR!!!! "
Aku sudah tak dapat mengendalikan emosi ku lagi. Mereka tak mengenalku. Tapi sudah mengecapku sebagai sugar Baby simpanan om om kurang belaian
Sangat rendah mereka menilaiku. Apa salah ku jika aku akrab dengan laki laki yang lebih tua dariku. Biarpun mereka tak tau siapa orang yang selalu bersamaku, pantaskah mereka memandang hina diriku?
Tak ada hasrat untuk makan atau apapun. Kurebahkan kembali tubuhku ke ranjang. Berharap aku bisa tenang dan melupakan semua masalah yang terjadi.
Belum sampai terlelap, hp ku sudah berdering. Tertera nama mas Adit di layar
"halo, Mas" sapaku untuk mas angkatku itu
"halo, Dir? Kamu sakit? Pihak sekolah tadi telepon mas menanyakan kabarmu. Hpmu dari pagi juga ngga aktif." mas Adit kedengarannya sangat sibuk tapi menyempatkan waktu untuk menanyakan kabarku dulu
"ngga kok, Mas. Cuma sedikit pusing!" jawabku. Aku ngga mau mas Adit terlalu memikirkan keadaanku
"minum obat dulu. Jaga diri baik-baik. Nanti kalau sempat, Mas kesitu"
Deg....
"maaf mas. Diri ini sudah ngga baik-baik saja" batinku. Air mata langsung kembali mengalir deras
Apakah kamu masih menganggapku adik kalau keadaanku sudah seperti ini, Mas????
__ADS_1