Luka Masa Lalu

Luka Masa Lalu
Bab 34


__ADS_3

Pov Rafael


Meskipun kata kata kasar yang keluar dari mulutku itu kejam, aku tak akan pernah menyesalinya. Sikap keras kepala dan tidak mau diatur membuatnya selalu dalam masalah.aku ingin dia sadar, dia tak sekuat itu menghadapi dunia sendirian


Pergantian jam pelajaran aku sengaja membeli rujak. Aku tau di kelas akselerasi semua sudah disediakan. Jadi kubelikan saja rujak biar lebih segar.


Kebetulan sekali kalau kali ini bu Maria berhalangan hadir. Jadi aku bisa ngobrol puas dengan pujaan hati. Ceileh.... Pujaan hati konon!!!


Ruangan kelas yang luas tapi hanya diisi 10 orang siswa. Sisanya dimonopoli sama buku. Membuatku berpikir, ini kelas atau perpustakaan???


Kuhampiri Nadira yang sudah menyambutku dengan muka kesal nya


"makan. Gue sengaja kasih ini biar ngga jenuh lo. Entar pulang gue anter" ucapku. Kehadiranku seperti membuat magnet tersendiri di kelas ini. Namun lagi lagi aku tak memperdulikan mereka. Bagiku yang terpenting bisa memandang perempuan yang ada di hadapanku saat ini. Wajah kesal yang memerah membuatku selalu nyaman berada disisinya


"ngga perlu. Gue ntar dijemput mas Adit" balas ya sengit. Tapi tentu saja aku tak akan menyerah semudah itu. Semakin sulit kudapatkan membuatku semakin tertantang


"ngga ada alasan apalagi bantahan. Kalau nanti sudah dijemput, gue kawal lo sampai rumah. Ngomong lo sama orang rumah, mulai besok lo urusan gue" Ucapku


Dia mendekat. Jantungku berdebar tidak karuan dibuatnya. Apalagi bibirnya berada tepat disamping telingaku. Semakin dia mendekat, semakin gila jantung dan celanaku. Otakku langsung ngelag saat ini


"silahkan ngomong sendiri kalau lo mau cepat mati. Jangan lupa, setelah kejadian itu, gue sudah visum. So, jangan ganggu gue lagi kalau lo ngga mau dipenjara" bisiknya. Wow... Langkahnya sangat jauh. Apa dengan bukti visum itu dia ingin membuktikan kepada dunia kalau aku memaksanya malam itu? Dan membuat laki-laki lain menerima nya dengan suka hati? Tak akan pernah kubiarkan!!!


Aku hanya menghadiahi senyum sinis untuknya. Apa dia pikir aku takut menantang dunia untuk mendapatkan nya???


"gue Rafael Admaja ,ngga bakal takut sama ancaman picisan dari lo"


Sebuah kecupan dibibir kudaratkan di bibirnya. Aku tau bahwa ini akan jadi berita heboh keesokkan harinya. Tapi aku tetap tak perduli. Aku pun melangkah pergi dengan senyuman kemenangan.

__ADS_1


"Sampai jumpa di saat pulang sekolah nanti, sayang" batinku


*****


Sepulang sekolah seperti rencana awal, aku mengikuti mobil yang menjemput Nadira. Aku ingin selalu berguna untuk nya. Dalam keadaan apapun.


Saat mobil sudah tiba di rumah dinas mas Adit,kulihat Nadira sudah turun duluan untuk menghampiri ku. Apa dia sudah menjelaskan niatku untuk mengantar jemputnya tiap hari? Kan dia ini baru turun dari mobil. Secepat itulah ngobrolnya?


"sudah ngomong?" tanyaku padanya


"sudah. Mas Adit mau ngomong" balas nadira


Akupun langsung turun dari motorku. Nadira mengajakkumenuju ruang tamu rumahnya.


Saat masuk, Mas Adit langsung menyuruhku untuk duduk


"aku mau minta ijin mulai besok mengantar jemput Nadira." balasku tanpa basa basi pula


"buat apa?apa kamu pikir aku tak mampu mengantar jemput ya?"


"bukan. Aku hanya mengurangi beban Anda saja"jawabku tegas. Kelihatannya mas Adit juga bukan orang yang suka basa basi


"kalau aku ngga mengizinkan?"


"aku akan terus mengikuti mobilmu dari mengantar dan menjemputnya"


"baguslah. Jadi Dira jauh lebih aman karena sekarang punya pengawal. Tapi kau itu pengawal atau penghancur ya?" ujar mas Adit

__ADS_1


"aku minta maaf atas apa yang aku lakukan sama Dira beberapa waktu yang lalu. Meskipun aku masih kecil, aku juga sudah bisa tergoda dengan Dira. Anda juga tau kan kelebihan dari adik Anda?" jawabku jujur. Atau mungkin terlalu jujur ya? Dan hasilnya....


Bugh Bugh bugh


"bang***! Jangan pernah memandang rendah adikku. Dia dijebak. Dan kau pun tau itu. Kenapa kau malah memanfaatkan keadaan?" mas Adit menghajarku membabi buta.Nadira pun segera melerai kami.mungkin takut masalah ini menjadi panjang. Padahal aku tak ada niat sama sekali untuk memperpanjang masalah ini. Karena aku tau, itu akan membuatku semakin sulit menggapai perempuan idaman ku itu


" aku hanya lelaki biasa. Ada godaan di depan mata ya aku lanjutkan. Aku bukan pengecut yang lepas tangan. Maka dari itu, ini sebagai bentuk tanggung jawab ku. Aku tau kesalahan ku itu tidak bisa mengembalikan segala sesuatu nya seperti semula. Setidaknya, sampai dia dewasa, aku akan menjaganya dan meminangnya sampai saatnya tiba.


Aku juga sudah mempunyai beberapa usaha. Jadi aku tak bergantung pada orang tuaku. Aku hanya butuh waktu sampai dewasa saja untuk bertanggung jawab. Tidak mungkin sekarang karena masa depan juga butuh kepandaian psikis. Jadi, aku minta kepada Anda untuk merestui hubungan kami "jelasku panjang lebar. Kini aku sudah kelas 3 SMA. Jadi sangat penting bagiku untuk lancar pendidikan sampai lulus


" bagaimana kalau dari kejadian kemarin menjadi janin? "tanya mas Andi


" biarkan kami menikah Siri dan Dira home scooling. Tidak ada masalah dengan hal itu. Dan aku mampu menghidupinya jika memang itu yang diinginkan"aku pun tak akan lepas tangan jika tragedi kemarin menghasilkan janin. Aku tau pasti itu anakku. Karena aku yang pertama melakukan itu


"apa kamu pikir aku mau? Ngga inget sudah punya calon tunangan yang galaknya melebihi asu manak(anj"*** melahirkan)? "jelas Nadira. Kelihatannya kebencian ya pada putri sudah men darah daging. Aku tak pernah tau sebelum nya kalau Nadira bisa bicara kasar juga


" gue ngga pernah sepakat soal perjodohan itu. Jadi kamu tenang aja. Mama papaku aja manut apa kataku kok. Cukup persiapkan hatimu untuk aku aja"tegasku. Karena memang aku belum memberikan jawaban atas perjodohan ini. Sedangkan orang tuaku memasrahkan semuanya padaku karena aku yang akan menjalani rumah tangga ini nanti


" kalau benar Dira dijebak, seharusnya kamu tau dong siapa yang sudah menjebak Dira? Kenapa ngga kamu tindak lanjut? Bagaimana kalau kedepannya dia berusaha mengganggu Dira lagi? Bisa apa kamu untuk melindungi dia" cerocos mas Adit lagi


"cukup dia disampingku. Tak perlu berkeliaran lagi. Aku cukupi semua kebutuhan dia. Yang membuat dia terjebak kan memang tempatnya yang terkutuk. Di dukung banyaknya musuh yang Dira punya. Lo, gue dan Maheswara itu mempunyai masa lalu dan masa sekarang dengan cewek toxic. Seharusnya ini bukan hanya tanggung jawab gue. Lo dan Maheswara itu juga perlu mengingatkan ceweknya agar tak mengganggu Dira. Cukup sekian dan terima kasih. Aku pulang dulu"


Aku lihat Nadira sedikit tersentak. Mungkin kaget dengan kata pamitanku


Sebuah kecupan di kening aku tinggalkan untuk Nadira sebagai salam perpisahan.


"ini disini dulu. Besok kita lanjutkan." pamitku. Aku pun ijin juga ke mas Adit. Tak sopan bila langsung pulang sedangkan calon kakak ipar masih ada disitu.

__ADS_1


Aku tersenyum sepanjang jalan. Berharap masa depanku bersama Dira akan menjadi lebih baik


__ADS_2