Luka Masa Lalu

Luka Masa Lalu
Bab 31


__ADS_3

"Tuhan lebih sayang mereka Dira. Ikhlaskan ya" usapan tangan mbak Dira yang menenangkan ku tak bisa membuat pikiranku tenang.


Anak anakku....


Yang ku hayalkan dapat mengurangi masa sepiku. Aku sudah mengkhayalkan akan mengurus dan memberi mereka kasih sayang yang melimpah. Yang akan menantiku dikala aku sibuk diluar rumah. Anak anak lucu yang akan menjadi kebanggaan kini sudah lenyap. Mereka orang orang jahat yang hanya Menyimpulkan apa yang mereka lihat tanpa mencari tau kebenaran yang sesungguhnya.


Aku marah tapi harus kulampiaskan pada siapa?


Aku kecewa pada diriku sendiri yang tak mampu melindungi anak anakku. Tapi apa dayaku. Kemampuanku saat hamil aku yakin tak sekuat jika aku masih normal


Hanya air mata yang mampu aku limpahkan.bahkan untuk sekedar merespon ucapan mereka pun aku tak berdaya. Kenapa ujian hidupku belum juga berakhir? Kurang susah apa masa kecilku? Disaat kini aku sudah bahagia, lagi lagi semua itu kembali terenggut paksa


Aku hanya nyaman saat tertidur. Bisa memimpikan kedua jagoanku yang berlarian di taman yang indah. Sesekali mereka memanggilku untuk bermain bersama mereka. Tapi saat aku kembali membuka mata, mereka kembali menghilang. Dan kembali hanya air mata yang berbicara. Bukan maksud aku untuk menjadi lemah. Tapi memang hasrat untuk berbicara itu yang tidak ada. Aku mampu mendengar mereka. Tapi untuk mengucapkan barang 1 katapun itu sangat berat.


Pov Reza


"apa kita kirim saja ke Amrik ya, pa? Aku bisa menjaganya sekalian dia meneruskan sekolahnya. Jika dia masih disini, bukan tidak mungkin masa lalu nya akan mengganggu lagi." ucapku


"aku setuju sama Reza, pa! Sudah saatnya kita mengambil alih tanggung jawab atas Nadira. Maaf, dit! Bukan kami ingin mendahului, tapi keadaan Dira akan semakin parah kalau dia tetap disini. Kita bisa menengok nya bersama sama suatu saat nanti. Tapi kali ini saya meminta ijin darimu sebagai orang yang telah merawat nya dari kecil, ijin kan kami mengambil alih tanggung jawab ini. Kami tak ingin merampas nya darimu. Untuk itu, bolehkah kami mengambil alih tanggung jawab Nadira mulai saat ini? "ucap mas Marcel. Sebenarnya aku ingin berbicara seperti itu dari dulu. Tapi karena aku si bungsu dari keluarga ini, rasanya lancang kalau aku mendahului titah yang lebih tua

__ADS_1


" ngga perlu seperti ini, Mas! Kita disatukan Nadira menjadi keluarga. Sesama keluarga tak perlu meminta ijin keluarga lainnya untuk kebaikan. Saya selalu menyetujui apapun demi kebaikan Nadira" balas Adit. Aku sebenarnya malu untuk mengakui kesalahan keluarga kami. Hanya karena kekurangan segi finansial, kami seperti tak dihargai saat keluarga Wirawan membuang Nadira. Mereka menitipkan Nadira pada mantan asisten rumah tangga mereka karena mereka pikir, kami tak sanggup merawatnya. Dari aku lahir, ibuku sudah meninggal. Satu satunya wanita di keluarga kami hanya mbak Anggun. Diapun memilih kembali ke keluarga Siri nya. Benar benar keluarga yang kacau. Tapi kini kami sudah mampu berdiri dengan tegak. Aku pikir memang sudah seharusnya Nadira menjadi tanggung jawab kami sepenuhnya


"terima kasih, dit! Semua perlengkapan harus mulai diurus hari ini. Suruh semua anak buah kita untuk mempersiapkan semua nya" ucap papaku


"paspor dan visa Nadira sudah aku urus. Termasuk penggantian nama. Namanya sudah menjadi Maheswara sekarang!" ucap ku. Memang setelah adanya tes DNA dulu aku langsung mengubah semua data diri Nadira. Biar semua langsung jelas.


"kapan?" seru papa dan mas Marcel.


"setelah tes DNA. biar nanti ngga repot kalau ada keperluan mendadak. Terbukti kan!" aku menaik turunkan alisku. Bangga pada pemikiran ku sendiri yang luar biasa cerdas


"pinter!!! Sekarang kita tinggal urus tiket. Rumah disana sudah siap, Reza?" ucap papaku. Pertanyaan tak bermutu. Selama ini aku tinggal disana otomatis akan selalu siap kan?


" aku sih setuju. Lagian rumah sakit itu sudah komplit kok! Yang paling penting dekat rumah dan kampus." sahut mas marcel


"ya sudah kalau begitu. Ayo kita berangkat. Surat rujukan sudah aku dapat. Jet pribadiku juga sudah ada di bandara. Anak buahku juga sudah mengurus ijin ijinnya." aku dibuat melongo dengan kata kata calon kakak ipar Nadira ini. Katanya dari kampung, kok kemampuannya menyamai kalangan jet set. Bikin aku rendah diri ae. Adit yang orang biasa biasa saja mendapatkan jodoh yang luar biasa


" Semakin cepat, semakin baik.biar Dira juga cepat sembuh, dan sukses. Kembali dengan kekuatan untuk membalas orang orang tengik itu. Kalau membunuh ngga dipenjara, sudah aku habisi mereka semua,. Dasar brengsek!" nafas gadis itu naik turun. Segitu sayangnya kah dia kepada Nadira yang notabene bukan siapa siapa. Hanya calon adik ipar saja sebenarnya kan?


" kenapa ngga dihabisin aja. Ntar juga kalau dipenjara bakal cepat keluar. Kelihatannya kamu bukan orang miskin kan?" kata kata mas Marcel masuk diotakku. Memang di dunia ini uang punya kuasa kan

__ADS_1


"janganlah. Ya kalau cepat dibebasin. Kalau masih lama, ngga jadi kawin dong! Eh salah nikah! Tinggal bulan depan ini" jawaban gadis itu membuatku geleng geleng kepala. Bener-bener aneh


"kita masih ada masalah. Kalau ditunda dulu, bagaimana?" kali ini Adit yang bersuara. Memang sih keadaan Dira masih seperti mayat hidup. Kamipun belum tau kapan dia akan kembali sehat seperti semula


"ngga ada. Percaya sama aku. 2 minggu lagi dia akan bisa tertawa.kebetulan aku punya kerabat di rumah sakit itu. Dia sudah menyiapkan spikolog terbaik 2 hari lagi. Kan pas waktunya kalau sekarang kita berangkat"


Nah.... Kejutan lagi kan. Bener-bener hebat anak kampung ini. Semua jadi mudah di genggaman tangannya.


"persiapkan semua sekarang. Jangan ditunda lagi. Aku akan mengurus administrasi sekolahnya dulu sambil melihat kabar orang orang yang sudah membuat adikku seperti ini." ucap gadis itu kembali. Akupun segera bertindak. Semakin cepat semakin baik


"lalu kamu berangkat ngga bareng kita?" tanya papa pada gadis itu


"ngga, om! Tapi saya sudah mengirimkan foto anda sekeluarga pada kru yang bertugas. Anda tenang saja. Saya masih banyak urusan dulu. Termasuk ijin ke rumah sakit tempat saya bekerja." gadis itu seperti sosok yang sempurna. Sungguh beruntung Adit mendapatkannya


" aku temani saja. Aku juga mau pamitan sama almarhumah ibu dan kembar dulu"ucap Adit. Kami hanya menganggukkan kepala


1 jam kemudian kami sudah tiba di bandara. Dan ada kru yang menyambut kami di loket keberangkatan. Ternyata benar-benar sultan itu gadis. Semua sudah dipersiapkan dengan baik olehnya. Bahkan dokter yang mendampingi Nadira pun sudah dipersiapkan


"kita berangkat, sayang! Menyambut masa depan yang lebih baik sebagai Maheswara bukan seseorang yang tak jelas asal usul nya lagi. Berjuanglah lebih keras untuk lepas dari penderitaan mu. Kami sekarang akan selalu bersamamu. We love you, Nadira Maheswara"

__ADS_1


__ADS_2