
Kali ini Nadira dibuat mati kutu dihadapan keluarganya. Tentu saja ini semua karena pertemuan tak sengaja ya dengan Salsa di resto tadi. Papa Moana yang ternyata adalah pakde kesayangan nya. Pakde Marcel. Langsung menggeretnya kembali keluar resto. Nadira hanya bisa pasrah karena tidak mungkin baginya harus menghindar terus menerus
"10 tahun ini kemana?" tanya kakek pada Nadira. Kangen, marah tapi tak bisa dia lampiaskan. Cucu yang selama 10th memenuhi pikirannya kini telah kembali
"Batam" ucap Nadira. Dia memang tidak pernah keluar negeri. Hanya kata itu yang mampu keluar dari mulut Nadira.
"kenapa ngga ngabarin keluarga?" om Reza ikut menanyakan keadaan Nadira yang telah membuat sekeluarga panik sepuluh tahun yang lalu. Hanya sebuah surat yang dia titipkan ke suster. Setelah itu, tidak ada apapun
"pengen menyendiri dan mandiri" Nadira berkata seolah dirinya lupa akan keluarga yang selama ini mengkhawatirkan nya
"sepertinya kamu kurang sehat. Istirahat lah dahulu dikamar. Besok kita lanjutkan. Sudah malam. Sa, tolong antarkan Nadira ke kamarnya." ucap pak Broto kepada Nadira. Mata Nadira tentu saja langsung menatap Dewa yang juga menatap nya. Setelah Dewa menganggukkan kepalanya, dia baru melangkah
Sementara itu, Dewa yang ditinggal menjadi ketar ketir. Ini dia pasti akan ditanya macam-macam pasti sama keluarga Nadira
__ADS_1
"Wa, ikut!" ucapan Nadira bagaikan air sejuk di gurun pasir. Sebenarnya, dia ingin segera mengikuti Nadira, tapi pandangan anggota keluarga Nadira yang lain seperti tak menginginkan hal itu.
"ck, dia ngga doyan perempuan. Besok aja saya menjelaskannya. Biarkan Dewa ikut saya dikamar" Nadira memberikan keterangannya tentang kelainan Dewa agar keluarganya tak khawatir tentang dia dan Dewa sekamar. Bagaimana pun dia masih belum berani sendirian
"ngga. Biar aku aja yang nemenin kamu ya? Anak-anak ngga papa kok sama ayahnya dulu" ucapan Salsa membuat anggota keluarga yang lain lega. Tapi tidak buat Nadira. Dia masih belum percaya terhadap orang lain meskipun dulu mereka pernah berteman dekat
"anak-anak lo udah kayak tempat penitipan anak kayak gitu mau lo titipkan ke ayahnya sendirian? Yakin? Jangan berpikiran yang ngga ngga. Kalau masih ngga ngijinin Dewa tidur ma aku, aku lebih baik nginep di hotel lagi aja. Lumayan sambil nyicil kerjaan." Nadira yang akan naik ke lantai atas jadi membatalkan niatnya. Keberadaan Dewa saat ini sangat dia butuhkan untuk tidur nyenyak nya
Keesokan harinya di ruang keluarga seperti sedang menyidang seseorang yang mereka tunggu kabarnya. Bertahun tahun menghilang membuat semua anggota keluarga menjadi panik. Berbagai cara sudah mereka lakukan, tapi sepertinya ada yang sedang dengan sengaja menutup akses informasi tentang Nadira
"sekarang cerita"ucapan pria berusia 70th itu seperti mandat yang harus segera dilaksanakan
Nadira yang dari datang ke negara ini sudah menyiapkan mental sebenarnya. Tapi begitu berhadapan langsung dengan mereka, semua keberanian seolah buyar
__ADS_1
" waktu dari Amerika, aku meminta bantuan bang Daniel untuk keluar dari negara itu. Semua bantuan sampai penutupan akses dilakukan bang Daniel. Dari Amerika ke Singapura. Disini aku dibantu Daddy Lukman untuk meneruskan sekolah. Sambil pengobatan tentunya. Hidup sebagai pesakitan itu ngga mudah. Berulang kali aku mencoba menghilangkan nyawaku sendiri. Tapi malah tak mati - mati. Akhirnya nambah beban Daddy"Nadira terkekeh mengingat betapa bodohnya dia yang selalu menyusahkan orang lain. Apalagi Daddy Lukman dulu hanyalah ayah tirinya. Tapi kasih sayang Samuel, Daniel dan Lukman sangat luar biasa untuknya.
"Lukman ayah tirimu?" tanya Marcel kepada Nadira.Dan Nadira langsung mengangguk membenarkan ucapannya. Dia heran saja kok bisa Nadira malah bertemu dengan Lukman. Sedangkan dirinya dan keluarga tak pernah lagi bertemu dengan mereka setelah pemakaman Anggun
" sekarang mereka dimana?" ucap kakek Broto. Dan Nadira hanya mengangkat bahunya
"setelah aku kuliah, mereka menghilang. Entahlah. Sudah kucari informasi kemanapun, tapi tak menemukan mereka semua"
"lalu selama kuliah, kamu bagaimana bisa mencukupi kebutuhan mu?" tanya Marcel kembali. Jika mereka menghilang, tentu saja biaya juga ikut hilang bukan?
"ada uang peninggalan mama dan peninggalan terakhir Daddy sebelum menghilang masih sangat cukup untuk hidup. Tapi aku masih kerja di club juga. Lumayan buat tambah tambah" Nadira menanggapi santai pertanyaan tersebut seolah dia tidak pernah mengalami hal tragis di tempat seperti itu
"Club? Ngga kapok lo?"
__ADS_1