
"ternyata kamu bersembunyi disana?
Sebegitu takutnya kah lo sama gue?"
Lagi lagi Rafael hadir lagi. Tak tahukah dia kalau aku sangat membencinya?
"gue kan udah minta maaf! Sejumlah uang juga udah gue kirim ke rekening lo. Kurang apalagi?"bener-bener ini orang ngga punya pikiran. Apa dengan maaf dan uang bisa mengembalikan selaput itu? Bagaimana jika di masa depan suamiku tak mau menerima ku karena selaput itu dan berpikir kalau aku hanya perempuan murah?
" apa dengan maaf dan duit lo bisa mengembalikan semuanya seperti sedia kala? Kenapa kalau niat membantu cukup mengembalikan aku ke kos? Kenapa harus dirusak dulu? Apa karena aku kerja di club, aku sama seperti mereka? Apakah otakmu memang sekerdil itu?" ucap ku marah dan kecewa dengan tingkahnya
" jangan cuma menyalahkan gue. Salahin diri lo yang ngga bisa jaga diri. Jika lo pikir lo itu berharga, jauhin tempat yang membuat diri lo ngga berharga. "balas Rafa lagi. Seketika aku ingin membalas kata kata nya yang tak tau apapun tentang diriku
" jangan membantah! Jangan pula menyalahkan keadaan. Sekolah lo beasiswa. Kerja juga dapat makan. Gaji kerja bisa buat bayar kos. Yang go**** disini elo karena tamak dan ngga bisa bersyukur. Kalau bukan gue, lo juga akan habis sama pelanggan lo yang lain. Camkan kata kata gue, cewek baik-baik ngga akan kerja di tempat terkutuk karena itu bisa menghilangkan harga dirinya. Paham? Otak cerdas lo pasti bisa nalar kata kata gue tadi. Bye! "Rafael pun kini telah berlalu meninggalkan aku yang merenungi setiap kata katanya.
Benar-benar aku yang salah. Aku yang tamak dan tak pandai bersyukur. Pengalaman masa lalu membuatku ingin terus berkembang. Aku ingin lebih, lebih dan lebih. Tapi ternyata, kini semua itu sudah menjadi bomerang untuk ku
"dicariin dari tadi malah ngelamun disini." rupanya mbak Wulan sudah menyusulku kemari
"hei.... Kenapa nangis? Laki-laki brengsek itu nemuin kamu lagi? Jangan takut. Kita hadapi bersama" mbak Wulan memeluk tubuhku erat. Tangisku pun semakin menjadi. Aku malu pada diriku sendiri. Aku malu pada keluargaku karena sudah menciptakan aib ini.
Setelah setengah jam berlalu, kami memutuskan kembali ke rumah mas Adit karena jam juga sudah malam dan kami gagal ngerumpi berdua.
"mbak mau ngobrol apa?" tanyaku
"bentar. Cari masmu sekalian" kata kata mbak Wulan semakin membuatku bingung. Dia sebenarnya mau bicara sama aku atau mas ku sih?
"mas Adit... Dicari mbak Wulan" teriakku. Aku lelah buat naik turun. Jadi teriak saja biar cepet
"ada apa?" terlihat mas Adit terlihat baru habis mandi. Dirambutnya masih terlihat tetes air
"sibuk ngga?" mbak Wulan rupanya ingin ngomong sama mas Adit. Kulanjutkan langkahku menuju kamar.
"Dira, sini dulu dong. Mbak mau ngobrol sebentar"
Dahiku mengernyit. Ini sebenarnya mau ngomong sama aku atau sama mas Adit sih?kulihat mas Adit hanya mengangkat bahunya tanda tak tau.
__ADS_1
Kuhampiri keduanya agar masalah cepat selesai
"aku pikir, kita harus memindahkan sekolah Dira" mbak Wulan mulai berbicara
"mbak..." aku ngga terima kalau harus pindah sekolah. Ini sekolah impian ku. Meskipun ternyata berat, tapi aku bangga sekolah disini
"dengarkan....
Itu sekolah internasional. Kita ngga bisa njagain kamu atau keluar masuk dengan bebas. Sedangkan sang predator itu 1 sekolah sama kamu. Dan kamu pasti lebih paham, kemampuan Dia di sekolah itu. Emang kamu nyaman sekolah kayak gitu? Ini semua demi masa depan kamu. Bukan mbak memaksa. Tapi alangkah baiknya, jika menghindari masalah"lanjut mbak Wulan seraya menatap mas Adit. Aku tau dia pasti mencari dukungan
"aku rasa yang dibilang Wulan bener, Dir. Kita tidak bisa menjaga kamu di sekolah. Jadi lebih baik kita yang menghindari masalah. Soal biaya pindah, biar itu menjadi masalah mas. Kamu fokus ke sekolah kamu" ujar mas Adit
"biar aku yang cari sekolah yang kualitasnya hampir sama dengan sekolah itu." mbak Wulan dengan semangat
"mbak, mas aku tau semua itu. Tapi aku mohon, jangan terlalu khawatir. Aku sudah pindah ke kelas akselerasi hari ini. Kami pisah gedung. Kesempatan buat ketemu juga tipis. Kalau bukan dia niat banget ketemu aku, kami ngga bakal ketemu. Jadi tenang dulu ya mbak mas"jelasku. Uang 10 juta baru saja kukeluarkan. Masa iya aku harus pindah dan membiarkan uang 10 juta mubadzir
"kalau dia niat ketemu tiap hari?" tanya mbak Wulan lagi. Terlihat matanya memicing melihatku seakan ragu akan jawabanku
"aku menghindar" jawabku singkat
Bunyi hpku menyelamatkan aku. Aku bernafas lega saat kulihat pakde marcel yang menelepon.
"hallo, pakde" terlihat mbak Wulan dan mas Adit menatapku tajam. Aku memang belum menceritakan apapun tentang keluarga kandungku. Pasti sidang akan berlanjut nanti
"Uncle, Dira. Punya ponakan 1 lakn**e ra umum. Pindah ke mana? Ma papa nih." jawab pakde Marcel.
Waduh!!! Ma kakek lagi!
Kulihat mas Adit untuk meminta persetujuannya.
"boleh kuberikan alamat ini ke keluarga kandungku, Mas?" tanyaku pelan
"keluarga kandung siapa?" suara mas Adit sangat kencang. Mungkin dia kaget karena aku ketemu keluarga kandung ku tapi tak cerita sama dia
"entar aku cerita. Yang jelas, boleh tidak?" pungkasku. Aku tak mau pakde dan kakek menunggu terlalu lama
__ADS_1
"boleh!" jawab mas Adit ketus
"siapa yang berani teriak sama kamu tadi? Mau dibikin rempeyek dia?" rupanya pakde mendengar suara mas Adit
"mas Adit. Putra bu Ayu. Yang mengadopsi ku. Aku share alamat ya, pakde. Aku tunggu disini" segera ku sharelock tempatku.
Mas Adit yang masih menatapku kesal kudekati. Aku tau, aku salah karena tak bercerita tentang keluarga kandungku itu
"jangan marah, Mas! Aku ketemu nya juga baru beberapa minggu yang lalu. Aku belum sempat cerita soalnya akhir akhir ini mas sibuk sama operasi." langsung kuceritakan tentang pertemuan ku dengan keluarga kandungku itu. Dan mereka berdua seakan tak percaya bahwa aku keturunan kaya raya yang tak diinginkan
" jadi dulu kamu bohong sama ibu tentang asal usulmu? Tega kamu ya! Masih kecil sudah mahir bohong" ucap mas Adit kesal mengingat awal pertemuan kami
"bukan bohong, Mas. Taktik mempertahankan diri. Orangtua ku memang tak menginginkan ku. Tapi tetap saja ada uang berlimpah jika merawatku. Ibu sama mas memang tulus, tapi bagaimana sama orang lain kalau mereka tau siapa aku yang sebenarnya?apalagi namaku sudah digantikan anak gadis lain. Kalau sampai dia tau aku masih hidup, apa dia tidak akan mengincarku? Aku hanya ingin hidup tenang. Aku bertemu keluarga dari pihak ibu mungkin sudah takdir Tuhan agar aku tak terlalu mengenaskan. Kalau tidak, akupun tak akan mau untuk mencarinya."pungkasku
Tok tok tok...
Ternyata keluargaku sudah datang. Akupun mengenalkan mereka pada mbak Wulan dan mas Adit.
Terlihat mas Adit sampai melongo tak percaya. Dia menampar pipinya berkali kali yang membuat ku tersenyum kecil.
" udah mas. Mereka nyata kok!" ucapku
"saya mau mengucapkan terima kasih pada kamu juga almarhumah ibumu yang bersedia merawat dan membesarkan cucu saya disaat saya tak mampu melindunginya. Saya malu berhadapan dengan anda disaat harta dan kekuasaan saya pegang, saya tak bisa berbuat apa-apa disaat anak dan mantu saya berbuat gila. Terima kasih, terima kasih, terima kasih! "kakek tertunduk di hadapan mas Adit. Aku terharu. Kakek yang berkuasa tertunduk hanya karena pernah melalaikan ku
" bukan saya yang telah berjasa dalam hidup Dira, kek. Tapi ibu saya. Saya hanya membantu ibu saja. Lagian saya tak punya saudara. Jadi sayapun bahagia saat ada kesempatan punya seorang saudara" balas mas Adit
"bener itu, kek. Soalnya dia juga sudah lalai sama ibu juga aku" sengitku yang dibalas tatapan tajam mas Adit
"jangan diingetin. Kan udah minta maaf" bela mas Adit yang kubalas dengan bibir manyun
"kemarin ke rumah sakit Retro ngapain, Dir?" tanya pakde Marcel
Deg....
Aku, Mas Adit dan mbak Wulan saling pandang.
__ADS_1
GAWAT!!!!