Luka Masa Lalu

Luka Masa Lalu
Tiga Belas


__ADS_3

POV Dhea


Kehidupan pribadi ku mulai kembali seperti beberapa tahun lalu, semua sudah kembali ke tempat semula. Tentu saja aku bahagia, semua orang di kantor juga bahagia. Bahkan, ada yang diam diam merayakan semua ini.


"Lama tidak jumpa, Dhe!" Sapa bu Amanda kepadaku. Lama memang, sangat lama jika di bandingkan dengan kebiasaan beberapa bulan lalu. Aku hanya tersenyum ramah, seperti biasa.


"Hari ini ada janji gak, Dhe?"


"Sepertinya gak ada, Bu"


"Bisa tolong nanti pulang ke tempat saya?"


Pasti ada sesuatu yang tidak beres. Wajah bu Amanda sudah mulai tidak tenang. Walaupun aku sadar, bahwa aku kembali menjadi orang asing bagi mereka, tetap saja selalu seperti ini. Khawatir layaknya seorang adik kepada kakak perempuannya yang sangat ia sayangi.


"Bisa bu! Sekaligus menginap?" tanyaku menawarkan. Seakan mengatakan bahwa aku mampu memberikan semuanya untuk wanita di depan ku ini.


Dulu mungkin aku memang rindu, sangat rindu dengan bos yang versi dulu. Senyum, tertawa, ramah dan bahagia. Sekarang? Sama sama merindu, hanya saja dengan kapasitas dan versi lain.


Bos kembali tersenyum padaku, ramah padaku, profesional. Hanya sebatas itu. Kembali menjaga jarak. Semua yang pernah terjadi belakangan ini, seperti menguap dengan sisa kenangan yang membuat hati jadi merindu.


Tidak ada lagi kotak bekal makan siang!


Tidak ada lagi sosok yang tiba tiba datang mengejutkan!


Tidak ada lagi celoteh cerdas milik gadis kecil yang istimewa.


Tidak ada lagi paksaan paksaan yang bikin aku menggerutu namun tetap saja aku lakukan.


Tidak ada lagi drama yang menyebalkan dengan pria dingin yang angkuh sekaligus mulut yang sadis.


Hingga hari ini. Wanita cantik ini datang dengan wajah letih yang tidak beliau sembunyikan. Munafik jika aku tidak mengakui, bahwa aku kecewa karena kembali menjadi orang asing, tapi munafik juga jika aku tidak mengakui, hatiku bahagia. Bahagia bisa bertemu dengan wanita menakjubkan ini. Aku rindu.


"Terima kasih, Dhe! Terima kasih!" Ucap wanita ini dengan pelukan yang hangat, tepat seperti keinginanku.


Aku rindu, Bu. Andai aku bisa mengucapkan seperti itu. Nyatanya, aku hanya diam dan balas memeluk erat. Menahan mataku yang mulai memanas.


"Saya tinggal dulu, Dhe. Nanti, kalau saya belum pulang pas kamu sudah di rumah. Gak papa kan? Ada yang mesti saya urus dulu."


Aku mengangguk paham, melepas senyum untuk mengantar kepergian wanita luar biasa ini.


Pekerjaan hari ini jalan lancar, semua baik baik saja. Bahkan bos juga terlihat baik baik saja, meskipun sesekali kehilangan fokus. Entah, apa yang kini sedang menganggu pikirannya.


Tentu saja bukan aku kan, yang menjadi gangguan di kepalanya. Hahaha. Miris, mirisnya diriku yang akhir akhir ini terlalu halu.


[Sayang! Aku rindu.]


Isa, lagi lagi mengirim pesan singkat. Padahal sudah aku abaikan beberapa kali.


[Sa, kamu jangan jahat gini deh. Butuh sama aku untuk melengkapi status, tapi juga selalu membutuhkan Keke sebagai pelengkap hidupmu. Berhenti ganggu aku dengan semua omong kosong itu! ]


Pesan terkirim. Aku memutuskan untuk membalas. Memastikan perasaan biasa biasa saja di hatiku memang nyata adanya.


[Kalau ini omong kosong, maka beri aku kesempatan bertemu kamu.]


Huh! Dasar tebal muka!


[Asupan cinta dari Keke selalu bikin kamu merasa kekurangan, ya? Dasar dong! Kamu itu yang ke dua! Harus rela di bagi bagi.]


Aku tersenyum miring.


[Aku nggak butuh Keke! Yang aku butuhin kamu, Dhe! Only You!]


Dih, enak saja.


[Kamu nggak terlalu berharga untuk aku perjuangan apa lagi rebutin. Rela sepenuhnya untuk wanita murahan itu.]


Hahaha, aku tersenyum hambar. Empat tahun yang sia-sia.


"Dhe?"


Suara ini, tegas dan dalam. Namun terasa sejuk dan lembut.


"Iya, Bos."


Mataku menatap pria tampan di depanku. Hatiku meleleh. Jantungku terpompa dengan cepat.


"Langsung ke tempat Amanda?" tanya bos yang seketika membuat jantungku kembali normal.


Milik Amanda. Jelas sekali brand itu kini terpampang nyata di wajah pria ini.


Aku rela. Asal mereka kembali bahagia. Lebih pantas mereka bersama dari pada bos yang bersamaku.


"Iya, Bos. Ini sebentar lagi mau turun." Jawabku cepat. Berusaha menutupi semua yang ada di hati dan pikiranku.


"Kamu sama Isa, apa kabar?"


"Baik, Pak. Isa sehat."


Sebenarnya aku paham bukan itu maksudnya.


"Bukan itu maksud saya, Dhe!"


Aku tersenyum, "Kami sudah selesai, Pak. Isa tidak sepenting itu untuk di pertahankan."


Tidak sepenting kamu bagi hatiku, bos. Kebersamaan dan kebiasaan, membuatku nyaman berada di sisimu. Walaupun, yah... Sisi buruk mu.


"Bagus. Kamu pantas mendapatkan yang lebih baik."


"Iya, seperti bapak?"


"Eh, maksudnya?"


Aduh, mulutku lepas kontrol lagi. Sial!


"Bapak juga pantas mendapatkan yang lebih baik lagi, seperti bu Amanda." Jawabku tepat sasaran.

__ADS_1


Aku memang tidak baik baik saja, tapi jika dengan bu Amanda, aku rela bos!


Hatiku remuk sekaligus lega, melihat senyum matahari terbit di wajah bos yang kini rapi.


"Baru potong rambut, Pak?"


Aku tersenyum geli. Mengumpulkan segenap kekuatan untuk tampil biasa biasa saja.


"Iya. Bagus?"


Pria ini tertawa bahagia.


"Bagus kok!"


"Amanda yang motong kemarin."


Bugh! Dadaku terpukul bogem mentah yang tak terlihat. Sakit, Pak. Karena saya tidak punya kesempatan itu juga.


Lagi lagi, aku tersenyum. Sakit tapi ada sedikit rasa bahagia.


Mereka pantas memiliki setelah semua ini terjadi.


"Kamu juga bisa motong rambut?"


Ah!


Pak Jovaaaaan! Jangan kau beri aku sedikit harapan yang bisa berkembang menjadi kehaluan tingkat dewa.


Aku hanya tertawa, lebih tepatnya menertawakan diriku sendiri.


"Mari Pak! Saya duluan."


"Bareng aja, Dhe."


Berjalan bersama saja sudah bisa membuatku bahagia seperti ini.


"Kamu sebenarnya sadar gak sih, Dhe? Kalau Amanda mencoba jadi mak comblang bagi kita?"


Aku mengangguk. Awalnya memang menyebalkan, kini jadi hal yang paling aku rindukan.


"Maaf ya, Dhe. Kalau aku nyakitin kamu tanpa aku sadari."


Aku mengangguk lagi. Sakit memang, Pak. Hanya jadi tukang bersih bersih di hati bapak terus setelah selesai harus pergi.


"Kamu juga mau maafin Amanda, Dhe?"


Aku mengangguk lagi, sakit pak. Bisa kita berhenti berbicara.


"Kamu sayang sama saya?"


Aku mengangguk, eh--


"Eh! Bapak tanya apa?"


Hahaha, tawa bos menggema. Menatapku lucu sambil mengacak rambutku.


"Fokus kamu lagi jalan jalan ke mana, Dhe?"


"Gak jalan jalan sih, Pak. Cuma ketinggalan di hati bapak."


Ciaaaa!


Aku mengambil alih kedudukan, sekarang gantian bos yang kikuk, mati gaya.


"Saya duluan, Pak. Bye byeee bos ganteng!" Godaku riang.


Biarlah pak, biar saja kebahagiaan kecil ini jadi milik hatiku. Karena seperti ini saja aku sudah bahagia, Pak.


Untuk pertama kali, aku mencintai. Setelah sekian lama hanya fokus untuk bisa di cintai. Dan, Tuhan sepertinya sedang bercanda saat memberikan perasaan ini padaku, karena... Aku mencintai kalian berdua. Rasa kasihan menjelma menjadi rasa cinta yang begitu biru.


Mencintai itu merelakan, rela melihat kalian bahagia meski tanpa diriku.


Pov Jovan


"Iya, Pak?" Terdengar suara merdu di ujung sana. Lembut dan menenangkan sekaligus penurut, meski terkadang suka jahil.


Tanpa sadar, aku mendesah pelan, "Hari ini minta di antar sopirnya Amanda aja. Kayanya mau hujan."


Kenapa harus khawatir?


Toh, dia juga biasanya memang pakai sepeda motor, kan?


Dasar! Isi pikiran jadi bikin pusing.


"Pakai motor aja, Pak. Gak enak sama bu Amanda."


Aku membuang nafas kasar, "serahin hpnya ke Amanda!"


"Mau ngapain, pak?"


"Serahin aja!" Ngotot. Heran sendiri, kenapa aku harus ngeyel demi sesuatu yang absurd.


"Gak usah ah! Sudah ya pak, ini mau siap siap sarapan!"


"Aku mau bilang, aku kangen sama Daniela!"


Alasan tepat!


"Sudah terbaca rencana bapak di kepala saya, sampai jumpa di kantor, Pak! Jangan rindu sama saya."


Aku masih terpaku, bibirku menyunggingkan senyum secerah mentari. Hangat, ada rasa hangat di hatiku.


Lama lama otakku mulai terpengaruh dengan kalimat yang di paksa selalu ku dengar oleh Amanda, "Dhea itu terbaik dari semua perempuan, Mas."


"Dhea kemarin buatin Daniela brownies lo mas!"

__ADS_1


"Dhea itu manis, gemesin gitu!"


Semua tentang Dhea, Dhea ini.. Dhea itu. Belum lagi semua kesabaran yang Dhea miliki, ketulusan yang terasa nyata. Untuk sesaat, aku berfikir Dhea itu gadis yang pantas dan layak untuk menggantikan Rhea.


Dekat dengan Amanda, dekat dengan Daniela. Tapi, semua orang bisa berubah, bukan? Awalnya baik baik saja, barangkali nanti bisa menjelma sesuatu yang menakutkan. Semua bisa saja terjadi kan?


Sedangkan Amanda, meskipun akan bercerai dengan Doni. Namun, sampai saat ini, aku bahkan belum tahu persis alasan akhirnya mereka berpisah apa. Bahkan, alasan mereka untuk tetap bersama juga aku tidak tahu.


Aku bukan pria naif yang tidak mengharapkan kehadiran Amanda sepenuhnya dalam hidupku. Setelah semua hal di ambil alih oleh Amanda, semua. Bahkan soal penampilan. Semua baju yang beli Amanda. Sedetail itu.


Tapi kenapa Amanda tidak bisa menerima kehadiranku? Kenapa justru bertahan dengan pria bodoh itu. Kenapa juga, pria iblis itu mengizinkan Amanda melakukan semuanya, walaupun yah... Kita berdua tahu batasan sampai mana.


[Jangan telat, Mas. Ada yang mau aku bicarain, penting!]


Mataku terpaku pada pesan singkat yang di kirim oleh Amanda barusan.


[Kamu nganterin Dhea?]


Pagi ini benar benar hujan, bukan sekedar langit mendung.


[Iya! Aduuuh, yang mulai kasih perhatian. Aku jadi cemburu]


What?


Cemburu?


Tawa tipis muncul di bibirku.


"Saya pantas jadi suaminya Amanda, Pak Nur?" tanyaku pelan sambil masih tersenyum karena pesan yang belum aku balas.


"Tentu saja, Pak. Terlebih, ini baik untuk non Daniela"


Baik, sangat baik. Kita bisa menjadi keluarga utuh bagi Daniela setelah semua yang terjadi padaku dan Amanda.


[Kenapa gak mau nikah aja sama aku?]


Terkirim. Akhir akhir ini, Pertanyaan itu yang hampir selalu ku ulang setiap kali ada kesempatan.


[Aku sayang kamu, Jo! Kita satu paket yang utuh]


Jawaban juga sama. Selalu saja seperti ini.


[Jadi?]


Tanyaku lagi.


Dasar Amanda!


Perempuan penuh teka teki yang sulit sekali untuk di prediksi. Buat apa dia harus mendoktrin aku tentang Dhea, jika memang dia ingin bersamaku.


"Lama sekali sih, mas? Macet?"


Aaaah!


Dua perempuan yang menakjubkan kini berdiri di depanku, dengan senyum yang merekah utuh.


"Kalian sudah sampai dari tadi?" tanyaku. Ada debaran kuat di dalam hatiku, entah karena melihat wajah Amanda yang lebih bersinar serta perlakuan Amanda yang kini mendekat dan mencium punggung tanganku. Atau karena melihat wajah Dhea yang tampak begitu menerima, meski sekilas ada percikan cemburu di matanya.


Setelah percakapan ringan, aku dan Amanda masuk ke dalam. Meninggalkan Dhea yang tersenyum.


"Mas?"


"em!"


"Mas mulai suka ya sama Dhea?"


"Sedikit."


"Banyaaaak, tapi gengsi mau bilang."


"Pernah gak sih, kamu berfikir atau sekedar membayangkan kita sebaiknya jadi keluarga utub?"


Amanda yang tadi berwajah jahil sudah menyelama menjadi perempuan serius yang menakutkan.


"Munafik jika aku tidak mengakui kalau aku juga ingin memilikimu, mas. Setelah semua yang terjadi dengan kita."


Tanpa sengaja, aku menarik nafas panjang, berat. Selalu ada luka, setiap teringat kembali.


"Aku-- Aku tidak sebaik itu, Mas. Selama ini, aku juga merasa bangga bisa menempati posisi Nyonya Jovan secara tidak langsung. Menunjukkan kepada Rhea, bahwa dia tidak selamanya bisa memiliki apa yang aku inginkan. Aku juga bisa membalikkan keadaan, ya! Aku memiliki semua yang Rhea inginkan."


Amanda tertawa bengis, menakutkan. Sisi Amanda yang lainnya.


Wajar!


Aku maklum dan memahami. Dari dulu Amanda sudah begitu mengalah atas semua perlakuan Rhea.


"Aku menikmati peran ku, semua tentang mu selain soal ranjang, ada di bawah kekuasaanku. Aku ini sebenarnya jahat mas, menggunakan mas Jo sebagai salah satu alat untuk menghancurkan setiap inci perasaan Doni. Mas, gak tahu ini kan?"


Sudah aku duga. Ada yang tidak beres di antara mereka berdua.


"Beruntung, mas Jo tidak mau mendengar semua hal tentang doni dan Rhea selama ini. Jadi aku bisa fokus, membenahi diriku dan mas Jo."


"Kenapa akhirnya kamu memutuskan nuntut cerai dari Doni?"


Setelah sekian lama, aku akhirnya bisa menyebut nama ini kembali.


"Karena mas sudah mulai baik baik saja."


Kalimat Amanda membuatku terpaku, wajah basah dengan air mata itu kini tersenyum lega dan bahagia.


Kenapa?


"Kenapa?"


"Karena aku sayang sama mas Jo. Aku merasa berhak memastikan mas Jo bahagia sebelum aku menentukan kebahagiaan ku sendiri."

__ADS_1


Jatuh, jatuh air mataku yang sedari tadi ku tampung di kelopak mataku. Ku peluk erat wanita menakjubkan ini. Entah apapun alasannya, aku beruntung memiliki dia di sisiku.


__ADS_2