
"Kemarin ke rumah sakit Retro ngapain, Dir?" tanya pakde Marcel
"periksa kesehatan, pakde!" jawabku ragu. Aku takut berbohong. Tetapi tak mampu juga untuk jujur
"bisa bicara jujur?" kali ini kakek yang bertanya. Akupun mengernyitkan dahi seolah mereka sudah tau apa yang terjadi padaku. Hanya pura-pura tak tau saja
"aku belum mau membahas ya. Maaf!" jawabku
Semua mata tertuju padaku. Aku tau itu. Tapi jika mereka ikut campur, selesai sudah hidupku
"bukan sepenuhnya salah dia. Ada seseorang yang menyuntikkan obat perangsang kepadaku. Cuma aku ngga respon. Aku pikir itu cuma cubitan pelanggan biasa. Yah, setelah itu. Seperti bayangan anda semua." lanjutku
"seharusnya dia ngga ambil kesempatan dalam kesempitan. Dia juga salah. Ngga perlu dilindungi" ujar mas Adit
"ngga lo selidiki dia siapa?" tanya pakde lagi
"harus mulai darimana, pakde? Aku bukan polisi yang dapat bebas melakukan penyelidikan. Aku hanya anak SMA yang selalu sial dengan cobaan." pasrahku
"kalau ketemu sama orang yang menjebak kamu, kamu mau ngapain?" tanya pakde lagi
Akupun hanya mengangkat bahuku. Karena memang aku tak tau apa yang akan aku lakukan kepada orang itu
"hidup saya itu sudah bergelimang orang jahat, pakde! Tambah beberapa lagi juga ngga masalah. Toh saya masih hidup juga. Berarti, Tuhan pun berpikir, saya sanggup dan mampu menerima cobaan ini" ucap ku. Memang bener kan?
"bagaimana jika dari kejadian kemarin itu kamu hamil?" tanya pakde lagi
"mas Adit mau merawat."
"kalau kamu hamil, Diraaaaaa.....
Bukan kalau kamu melahirkan. Soal bayi itu lahir, gampang. Kami juga mampu merawatnya. Yang jadi masalah, bagaimana kamu menutupi kehamilan kamu selama di sekolah? Apa baji**** itu akan membiarkan kamu hidup tenang? Tadi saja dia sudah mengganggu mu kan? " tanya pakde lagi
" cuti sekolah kan bisa"lagi lagi aku menjadi sorotan buat mereka
"ini sekolah, bukan kuliah. Seenak jidat mau cuti. Pikirkan dari sekarang" pungkas kakek
__ADS_1
"aku belum kepikiran akan hal itu. Lagian baru kemarin aku kecelakaan, kenapa sekarang aku seperti dipojokkan ya?"
"kami sayang sama kamu. Jujur waktu kejadian itu saya marah. Ada yang mengirim fotomu bersama lelaki menuju kamar hotel. Tapi saya bacanya keesokan harinya. Pastilah sudah terlambat sekali.
Aku sudah menyelidiki kasus ini. Kelihatannya orangnya hanyalah orang dekat. Tapi kita belum tau siapa itu. Kamu sudah kepikiran siapa yang melakukan ini? "tanya pakde lagi
Mas Adit, mbak Wulan dan kakek Broto hanya diam. Tapi aku tau, mereka juga mencari jalan terbaik untuk masalahku ini
" aku kebanyakan musuh, Mas. Putri, Risa(mas Adit langsung melotot ke arahku), ada juga mantanmu. Si Naura. Aku sudah tak kepikiran siapa lagi. Memang sudah takdirku seperti ini" air mataku mulai menetes. Sekuat kuatnya aku, akupun juga ada titik lemah. Lelah sebenarnya, tapi bagaimana lagi. Tuhan masih enggan mencabut nyawaku
Mbak Wulan langsung memelukku. Kubalas erat pelukannya. Aku benar benar butuh sandaran saat ini
"sudah malam. Sebaiknya kami pulang. Kita akan membahas ya besok lagi." pakde Marcel berpamitan. Kakek pun ikut pergi.
Tubuhku sangat lelah sekarang. Emosi membuatku sangat lemah. Padahal besok aku masih harus bertemu dengannya lagi
****
Pagi ini mas Adit yang mengantarku. Dia ingin tau sekolah dan juga kelasku
"namanya juga kelas akselerasi, Mas. Kalau banyak siswa, kegiatan ujian ya ngga bakal khusyuk. Pasti berisik. Padahal kelas ini hampir setiap mapel kan ujian tiap hari" jawabku menjelaskan
"ngga stres???" tanya mas Adit lagi. Aku pun hanya tertawa terbahak. Ada ada saja mas ku ini
"ngga lah, Mas. Ini tuh cuma tantangannya penguasaan materi harus cepet dan harus siap sewaktu waktu ujian. Kalau ngga ya santai saja." jawabku.
"ya sudah. Mas pulang dulu. Mau ada jadwal operasi. Kalau kuat, kamu lanjutkan. Kalau ngga, kamu home scooling aja. Jangan pikir ruwet. Nanti malah beban" sambung mas Adit pamitan. Kucium punggung tangannya yang dia balas dengan mencium keningku. Seperti sepasang kekasih. Tapi bagiku ini sudah biasa. Ibu ayu yang mengajarkan kami seperti ini
"siapa tuh?" salsa yang baru datang langsung mengedip ngedipkan matanya seolah menggodaku.
"mas aku" jawabku singkat
"mas ketemu gede?" goda salsa lagi
"ehmz.... Ketemu saat aku umur 5 tahun. Ibunya yang mengadopsiku" jawabku lagi
__ADS_1
"dibuang lo? Nyusahin sih." kali ini reina yang menyaut.
"mungkin sih. Berkah dari Tuhan aja yang masih ngijinin gue hidup sampe sekarang. Secara sudah dibuang orang tua kandung,dibuang pengasuh sekarang ketemu sama kalian jadi dibuang dari circle pertemanan. Eh, masih aja tetep hidup. Tapi ngga papa. Ngga buat gue tambah miskin kok" balas ku. Biar mereka puas sudah bully aku
"berisik lo semua." Danu kali ini yang bersuara. Kelas yang seharusnya diisi 30 orang, hanya diisi 10 orang. Jadi kami bicara sedikit saja, sudah membuat keributan
Akupun bergegas membuka bukuku. Menanti guru yang akan mengajar sebentar lagi
Jam pelajaran terasa cepat berlalu. Bukan karena kami nyaman belajar. Tapi otak yang diajak berpikir terus membuat waktu berputar dengan cepat
Karena semua sudah tersedia, biasanya kami istirahat tetap didalam kelas. Begitu pun denganku. Apalagi kalau harus bertemu Rafa. Aku sama sekali belum siap
Tiba-tiba diatas mejaku ada rujak. Kupandang orang yang berdiri disampingku. Ck....
Aku tak keluar malah disamperin masuk kelas.
"makan. Gue sengaja kasih ini biar ngga jenuh lo. Entar pulang gue anter" ucap Rafa. Kehadiran nya benar benar membuat magnet tersendiri di kelas ini. Siswa umum yang kesasar ke kelas istimewa
"ngga perlu. Gue ntar dijemput mas Andi" balas ku. Malas aku memperpanjang urusan kami
"ngga ada alasan apalagi bantahan. Kalau nanti sudah dijemput, gue kawal lo sampai rumah. Ngomong lo sama orang rumah, mulai besok lo urusan gue" Ucap Rafa lagi
***cari mati ini orang***umpatku
Kudekatkan bibirku disamping telinganya
"silahkan ngomong sendiri kalau lo mau cepat mati. Jangan lupa, setelah kejadian itu, gue sudah visum. So, jangan ganggu gue lagi kalau lo ngga mau dipenjara" bisikku
Kulihat Rafa malah tersenyum sinis.
"gue Rafael Wijaya,ngga bakal takut sama ancaman picisan dari lo"
Sebuah kecupan dibibir mendarat di bibirku. Dan tersangkanya melangkah pergi dengan senyuman kemenangan.
SIAL....
__ADS_1