
Hari ini hari pertama aku diantar jemput Rafael. Masih aneh karena akupun belum terlalu mengenal siapa dia. Hanya karena penjebakkan oleh orang tidak dikenal itu melahirkan kesalahan besar diantara kami
Begitu turun dari motor, semua tatapan langsung tertuju padaku. Dan aku paham akan hal itu. Rafael adalah idaman setiap Siswi disini. Dan aku, yang kemaren hanyalah seorang anak beasiswa, tentulah membuat hinaan buat semua Siswi berduit disini
"udah aku bilang kan, turunkan aku di gedungku saja. Kalau harus kesini dulu, pasti seperti ini. Kan kau harusnya paham akan hal itu. Apalagi disini ada calon tunanganmu. Apa kau ingin membunuhku? Urusan kemarin aja kita belum tau dalangnya, ini sudah membuat keonaran lagi? "ketus ku. Aku malas kalau harus ada pembullyan lagi. Ini bukan salah ku kalau aku bareng sama bintang SMA ini. Dia yang memaksa mau nganter jemput aku
" kau takut? "tanya Rafael padaku. Seakan akan dia tak paham situasi saat ini
" bukan takut. Cuma malas saja kalau harus ada drama. Males aku tuh! "sahutku malas
Sebuah kecupan mendarat di dahiku. Serentak koor suara orang orang yang melihat menghiasi udara SMA kami
" justru dengan mampir dulu kesini, mereka jadi tau kalau kamu sudah taken. Biar ngga ada yang berani mendekati atau merusuh lagi. Ini juga buat pengumuman ke mereka kalau kamu dapat perlindungan dari aku mulai sekarang" jelasnya
Akupun hanya melongo tak percaya. Apa sebenarnya maksud ini bocah?
"aku ke kelas ku sendiri. Jangan ikut!"
Tiba-tiba tanganku digenggamnya. Sekuat tenaga aku ingin melepas nya tapi tak bisa.
"jangan rewel. Aku antar. Sebentar lagi kelas masuk!" Rafael melepaskan kunci motornya sambil tangannya tetap menggenggamku erat. Seolah olah aku akan hilang jika dia lepaskan tanganku
Kelasku agak jauh dari gedung ini. Butuh jalan kaki 10 menit untuk ke Kelasku. Sepanjang jalan aku tau kalau aku jadi bahan gunjingan mereka.genggaman tangan Rafael pun tak pernah terlepas hingga kami tiba di depan kelasku
"aku tinggal dulu. Nanti waktu jam istirahat, aku kesini lagi"
Cup
Lagi dan lagi kecupan di dahi menghampiri. Rasanya aneh. Nyaman. Tapi aku tak ingin berharap lebih.
"dah jadian?" salsa tiba-tiba saja sudah ada di hadapanku
"jadian apaan?" jawabku. Aku tak ingin membahas tentang Rafael sama sekali kali ini. Waktu bel masuk sebentar lagi. Dan itu juga berarti ujian lagi lagi menghampiri
__ADS_1
"ck...
Trus ngapain itu bocah kemari?" tanya salsa lagi. Ternyata itu anak masih kepo
"nganterin gue. Emang ngga liat tadi?" jawabku ngasal
Tiba-tiba saja salsa menggeplak kepalaku. Mungkin dia sudah gemas dengan jawaban jawabanku
Selanjutnya miss maria sudah hadir. Tes ujian pun segera dimulai. Tak ada lagi pembahasan mengenai Rafael. Semua fokus ke ujian
*****
Bel istirahat berbunyi. Aku pun meregangkan otot yang terasa kaku setelah mapel mapel tadi. Seperti janjinya, Rafael pun langsung ada di depan kelasku
Kulihat dia membawa bakso yang sangat menggiurkan. Aku sebenarnya lebih tertarik ke bakso dari pada makanan yang ada di depanku ini
"mau???" tanya Rafael padaku. Seperti nya muka mupengku sangat begitu kentara
"boleh???" tanyaku. Bakso itupun langsung berputar posisi di hadapanku. Segera kutambah saos, sambal dan kecap. Uuuuhhhhhh......
"jangan terlalu banyak sambal!" toples sambal itu pun langsung ditutupnya. Membuat ku menggerutu tidak jelas.
"bukankah bakso itu lebih sedap jika pedas melejit ditambah manis kecap dan kecut acar? Kenapa sih mengganggu kemerdekaan ku saja!" batinku
"ngga repot makan bakso bawa komplit segini banyak ke kelasku. Jauh lho ini dari kantin sekolah" akupun mencoba mengajak dia bicara. Tak enak saja jika kami yang sudah jadi pusat perhatian malah diem dieman kaya orang berantrm
"ngga. Ntar diambil mang Slamet kesini." jawabnya. Dia seolah menikmati sekali makanan yang disediakan pihak sekolah untuk kami, siswa pilihan
"teman teman geng kamu kemana? Akhir akhir ini kelihatannya kamu lebih sering sendirian." tanyaku lagi
"pacaran" balas ya singkat
"kok kamu nggak ikut pacaran?" tanyaku lagi. Lagi lagi kepo urusannya
__ADS_1
"lagi jaga anak orang"
"siapa!?"
"Lo.ngga sadar? Dari tadi gue disini lo pikir gue ngapain kalau ngga njaga lo"
Selanjutnya kami hanya diam. Aku ngga tau kalau lagi kumpul itu harus ngobrol apa. Karena selama ini pun, aku tak pernah main ataupun nongkrong sama teman-teman. Hidupku habis untuk mencari uang.
Selesai makan, aku merapikan gelas dan piring yang sudah kami pakai untuk makan. Saat akan mencuci tangan, tiba-tiba saja ada yang menyiram aku dengan air kotor. Entah air apa ini. Sangat bau
"bagaimana? Enak? Sok kecentilan sih. Kemarin sama om Reza. Sekarang sama Rafael. Mau jadi pelacur kelas tinggi lo?" Putri rupanya sudah mulai menunjukkan taringnya. Aku tau ini pasti akan terjadi. Secara aku sudah sangat dekat dengan calon tunangannya
"kenapa? Takut kesaing? Makanya jangan dandan doang. Attitude didandani biar cowok ngga pada ilfeel liat lo"
"jaga mulut lo ya. Gue bisa bilang sama papa gue buat membuat lo terusir dari sekolah ini. Gue bisa lakukan apapun itu untuk tujuan gue. Jadi, jangan macam macam. Aku paling ngga suka milikku diusik orang lain" ujar putri lagi
"gue ngga takut. Tapi makasih sudah diingatkan. Skarang aku tau, sainganku hanyalah seorang pengecut yang mengandalkan harta orang tua"
Prang...
Sebuah botol minuman dibantingnya. Aku pun kaget. Ternyata makhluk satu ini kalau marah mengerikan juga
Rafael terlihat mulai mendekati kami. Raut marah terlihat sangat jelas dimatanya.entah apa yang membuatnya marah. Akupun tak tau
"stop jadi preman yang kampungan. Aku bukan milik siapapun. Jadi jangan coba coba untuk mengklaim atau apapun itu jika menyangkut aku...." Rafael rupanya sangat emosi dengan jiwa bar bar calon tunangannya itu.
"tapi kita sudah dijodohkan dan akan segera bertunangan. Kenapa sih kamu masih ngga mau menerima kenyataan ini?" putri mulai terisak isak. Mungkin dia memang sangat mencintai Rafael sehingga dia menjadi sangat terobsesi padanya
"gue udah bilang ngga setuju. Jadi pasang telinga lo baik-baik. Gue ngga bakal mau tunangan sama lo" itu menjadi kata kata terakhir Rafael sebelum dia meninggalkan putri yang masih menangisi kenyataan kalau barusan dia telah ditolak mentah mentah oleh Rafael
Rafael menyuruhku menunggunya di toilet sekolah. Aku tak tau dia mau kemana. Kubersihkan badanku dengan alat seadanya di kamar mandi. Entah aku masih bisa masuk kelas lagi atau ngga. Dengan keadaan tubuh seperti ini, aku pun tidak percaya diri kalau harus kembali ke kelas
"RUPANYA KELINCI KECIL SANGAT SUKA BERMAIN DENGAN LAKI-LAKI KAYA YA??? BAGAIMANA KALAU MARCEL DAN REZA TAU KALAU PEREMPUAN IMPIANNYA PERNAH CEK IN DI HOTEL DENGAN LAKI-LAKI LAIN????"
__ADS_1
Sebuah pesan teks terkirim di hpku disertai foto aku dibopong Rafael.
Ancaman picisan!!!!