
"Gue harus bikin perhitungan,"
_
"Ngapain ?" Tanya Tito.
"Ya bikin perhitungan lah !!" Jawab Indra sembari melonggarkan kancing seragam menwa nya.
"Gausah deh bang... Malah bikin runyam aja sih elahh..." Cegah Ruhi sebelum abangnya satu ini mengamuk.
"Tapi-"
"Permisi... Ruhi dan Tito dipanggil sama pak rektor... Beliau meminta kalian ke ruangannya sekarang juga," ucap seorang mahasiswa yang diminta Rajendra untuk memanggil Ruhi dan Tito.
"Ayo... Abang temenin," ajak Indra sembari menarik Ruhi dan Tito masuk lift. Aziz dan Adi juga ikut, sebagai saksi katanya.
Di ruang rektor
Terlihat Bagas duduk di salah satu sisi sofa panjang sedangkan Rajendra duduk di sofa single sembari menyilangkan kakinya sedangkan kedua tangannya bertumpu di pinggiran sofa.
"Duduk," perintah Rajendra dengan sedatar-datarnya.
Tito duduk di sisi yang bersebrangan dengan Bagas. Sedangkan Ruhi mengambil tempat duduk di tengah-tengah antara Tito dan Bagas.
Indra dan Adi duduk dipinggiran sofa single yang bersebrangan langsung dengan Rajendra yang diduduki oleh Aziz .
"Jelaskan,"
"Sebelumnya saya mohon maaf pak Raj. Ini semua salah saya yang lepas kendali. Saya akui saya salah. Tapi Tito sengaja memancing kemarahan saya-"
"Dan dengan begitu anda berhak menampar mahasiswa anda ? Begitu ?!!" Potong Ruhi tidak terima atas pembelaan Bagas.
"Ruhi !! Diam dulu !! Lanjutkan," peringat Rajendra kepada putrinya.
"Tito dengan sengaja membuat saya marah, dan saya menampar Tito... Tapi saya selepas itu juga menyesalkan tindakan saya," lanjut Bagas.
"Saya akui kalau saya salah pak karena saya bicara dengan Ruhi di dalam kelas... Itu saja tidak lebih," ucap Tito membela dirinya sendiri.
"Tapi kalian bermesraan di dalam kelasku !!" Sangkal Bagas yang mulai terpancing emosi.
"Cemburu, huh ?!" Indra berdecih kemudian memalingkan wajahnya kearah lain sembari terus bersedekap.
"Kalian bertiga kenapa disini ? Saya hanya memanggil mereka bertiga..."
"Sebagai saksi om," ucap Aziz dan Adi dengan raut tak berdosa mereka.
"Sebelumnya saya ingin tanya... Status kalian saat ini apa ?" Rajendra bersedekap.
"Mahasiswa," jawab semuanya yang berada di dalam ruangan itu.
"Dan kalian ini mahasiswa fakultas apa ?" Tanya Rajendra.
"Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan," jawab mereka sekali lagi.
"Jadi ?"
"Sebagai calon pendidik hendaknya kita harus bisa menjadi suri tauladan bagi murid kita kelak,"
"Nah itu tau... Sekarang kalian berbaikan lalu lupakan masalah ini... Saya tidak ingin masalah ini terus berlarut larut,"
"Iya pak..."
Bagas dan Tito saling menjabat tangan dan berbaikan. Begitu pula Bagas dan Ruhi.
'Andaikan aku bisa mengatakan kalau aku sangat merindukanmu Ru,' batin Bagas yang secara tidak sadar belum melepaskan jabatan tangannya dengan Ruhi.
"Jabat tangannya jangan lama lama bung..." Ucap Indra sengit sembari melepaskan tautan tangan Bagas dan Ruhi. Ruhi merasa hatinya menghangat saat berjabat tangan dengan Bagas. Tapi segera ia enyahkan perasaan itu.
#
__ADS_1
Aziz, Adi, Ruhi, Indra, dan Tito sedang di kantin kampus dengan pesanan mereka masing-masing.
Entah kenapa rasanya Indra sangat ingin menggoda Ruhi terus-terusan. Entah dengan menghabiskan es teh Ruhi dan membuat Ruhi harus pesan lagi, lalu mengeluarkan seluruh barang yang ada di dalam tas Ruhi.
Ruhi berdecak kemudian mencubit kedua pipi Indra dengan geram.
"Abang!!!!!!"
"Iya iya iya ampun..."
Ruhi melepaskan cubitannya kemudian memasukkan lagi buku-bukunya ke dalam tas.
"Kamu serius Ru ambil peran itu ? Kan kamu sendiri tau kalau pasanganmu itu.."
"Iya To aku tau... Aku setuju karena demi mas Danu..."
"Yaudah..."
Ruhi mengambil naskah pemberian Danu yang belum sempat ia baca semalam. Ruhi mulai membaca naskah setebal empat puluh lembar itu.
"Luruh Tak Embuh ? Hmm menarik..."
Ruhi mulai membaca kisah ciptaan Danu. Ruhi tercekat, kisahnya hampir sama dengan kisahnya yang dipermainkan, dimanfaatkan, dihina sampai dijadikan taruhan oleh Bagas.
Terus ia membaca halaman demi halaman naskah itu hingga tak sadar kalau air matanya sudah menetes membasahi pipinya.
Saat itu, ada pesta topeng di kampus dalam rangka ulang tahun UKM dance company. Ruhi sengaja tidak ikut dansa karena saat itu ia menjadi pengisi acara dan sengaja disembunyikan oleh pihak panitia untuk person guess katanya.
Di kejauhan, ia melihat Bagas sedang berdansa dengan seorang wanita dan terlihat sangat mesra, dunia serasa milik berdua.
Jantung Ruhi berdenyut keras dan membuat relung hatinya tergores. Ia juga melihat Bagas mencium bibir wanita itu tanpa ada penolakan dari wanita tersebut. Malah terlihat keduanya saling membalas lumatan.
Mual rasanya Ruhi melihat adegan itu.
Besok malamnya adalah malam pentas paradenya teater Langit di gedung serbaguna milik Ali, paman Ruhi yang berada di jalan Kepatihan, berjarak sekitar lima kilometer dari kampus dan berjarak kurang lebih tujuh kilometer dari rumah Ruhi.
"Kau pikir aku mencintai Ruhi ? Cihhh jangan harap, bwahahahaha," gelak Bagas saat Jodhi menyerahkan kunci mobilnya kepada Bagas sebagai hadiah atas kemenangan Bagas dalam taruhan memperebutkan Ruhi.
"Jaga mobil gue gas... Cuma seminggu lho gas..." Ucap Jodhi sembari memberikan kunci mobil dan STNK nya.
"Iya iya cerewet banget sih... Lumayan buat apel pacar gue..."
"Lo beneran punya pacar gas ?"
"Ya punya lah... Lo kira gue jomblo gitu ?"
"Trus lo sama Ruhi gimana ?"
"Emang gue pacaran sama Ruhi ? Bwahahaha jangan berharap deh ya,"
Deg!!
Ruhi terisak dan berusaha sekuat tenaga untuk menahan gemuruh dihatinya. Sesak dihatinya. Tangisnya tumpah. Ia membalikkan badan lalu beranjak pergi dari tempatnya bersembunyi.
Awalnya ia berniat memanggil Bagas karena diminta Danu agar berkumpul untuk evaluasi pentas parade.
Tak sengaja Ruhi menyenggol ember yang berisi beberapa kunci inggris dan menyedot perhatian Bagas dan Jodhi.
Bagas dan Jodhi terkejut mendapati Ruhi yang menangis sembari memunguti kunci inggris yang berserakan karena ulahnya. Ruhi mengusap air matanya dengan kasar. Bagas dan Jodhi menghampiri Ruhi.
"M-mas Bagas dipanggil sama mas Danu..."
"Kamu dengar semuanya Ru ?"
"Dengar apa ? Harusnya Ruhi yang sadar diri... Permisi..."
"Ruhi !! Ruhi !!!!"
Ruhi lari keluar gedung.
__ADS_1
'Kenapa rasanya sesak sekali ?' batin Ruhi masih dengan deraian air matanya.
Indra, Aziz, Adi, dan Tito yang menyadari kalau Ruhi menangis, langsung panik.
"Kenapa Ru ? Apa ada yang sakit ?"
"Ruhi ?"
"Ru ?"
"Adek ?"
"Lebay ya bang ?"
"Maksudnya ?"
"Iya lebay... Bukan kalian... Tapi Ruhi yang lebay karena Ruhi menangis gara-gara membaca naskah yang jalan ceritanya sama dengan apa yang Ruhi alami... Bahkan sampai adegan pemeran utama laki-lakinya meludahi sang pemeran utama wanitanya karena si pemeran utama laki-lakinya melihat sang pemeran utama wanitanya jalan berdua dengan sahabat laki-lakinya,"
"Sebentar... Meludahi ? Jangan bilang kalau Bagas pernah meludahi kamu didepan umum!!!"
Ruhi diam.
"Bajingan !!" Indra berdiri sembari memukul meja kantin dengan keras. Seluruh pengunjung kantin menatap Indra dengan takut. Ruhi mencekal tangan Indra.
"Jangan,"
"Lo udah gila apa gimana sih dek !!! Bajingan itu udah ngeludahi elu !! Kon di idoni dek !! Mikir ta !!"
"Lha terus Ruhi kudu piye ? Nge jar no sampean mateni mas Bagas ? Iyo ngono ?!"
"Sabar Ndra... Ruhi bisa kumat lagi woi," ucap Aziz tepat didekat telinga Indra.
Ruhi menutup hidungnya. Ia berlari ke kamar mandi dekat tangga.
"Lihat ?!! Lo sih elahhh !!" Aziz mengejar Ruhi ke kamar mandi.
Indra yang sadar telah membentak Ruhi, langsung menyusul Ruhi ke kamar mandi.
Di depan kamar mandi wanita
Indra, Aziz, Adi, dan Tito menunggu Ruhi dengan cemas.
"Kalian ngapain di depan kamar mandi cewek ? Mau ngintip ya ?" Tanya reno
"Ngintip pala lu..."
Beberapa saat kemudian, Ruhi keluar setelah membersihkan darah yang keluar dari hidungnya.
Indra langsung memeluk Ruhi dengan erat.
"Maafin abang,"
"Iya bang iya... Asal abang jangan pernah menyentuh mas Bagas," ucap Ruhi memberikan penekanan dikalimat menyentuh. Yang artinya jangan memberikan pembalasan apapun kepada Bagas. Indra mendesah pasrah.
"Ayo pulang,"
"Masih ada matkulnya Bu Gangsar bang,"
"Bu Gangsar izin gak masuk..."
"Beneran To ?"
"Baca grup... Padahal sepupunya sendiri ketua, malah gak tau apa-apa," sindir Aziz.
"Iye iye pak ketu,"
•••
TBC❤️
__ADS_1