Luruh Tak Embuh

Luruh Tak Embuh
LTE | DELAPAN


__ADS_3

"Dimana anak itu ?!! Kenapa kalian bisa kecolongan sih ?!!"


Semua perawat menunduk takut melihat raut kemarahan yang sangat kentara di wajah dokter sekaligus pemilik rumah sakit Mitra Husada tempat mereka bekerja ini.


Ali mendengus kesal sembari menjambak rambutnya saat mengetahui keponakan paling bandelnya itu meninggalkan ruang rawatnya tanpa sepengetahuannya maupun perawat. Baru saja ditinggal untuk memeriksa pasien lainnya, Ruhi sudah kabur dari rumah sakit.


"Kalian kembalilah... Dan kerjakan tugas kalian masing-masing,"


"Baik tuan,"


Para suster, perawat, satpam dan petugas kebersihan kembali melakukan aktivitas mereka.


Sedangkan Ali menyugar rambutnya lalu mengusap wajahnya dengan gusar, sembari berlalu kembali ke ruangannya.


Ali menggantungkan jas dokternya di lemari kaca kemudian meraih jaket jeansnya. Ali memakai jaket itu sembari merapikan rambut dan penampilannya.


Meskipun usianya sudah 35 tahun, tapi pesona dari seorang Aliandra Hayyat Khan seolah tak pernah luntur. Di usianya yang baru menginjak 25 tahun saja sudah memiliki rumah sakit sendiri dan mendapat gelar doktor di universitas ternama di Inggris.


Celana pensil berwarna putih, kaos putih yang dibalut dengan jaket jeans yang ia kenakan kini, mampu membuat wanita menatapnya dengan tatapan memuja.


Ali meraih dompet, ponsel dan kunci mobilnya lalu langsung meluncur menuju kampus satu universitas PGRI Diponegoro. Untung saja jalanan dalam keadaan lengang karena saat ini Ali memacu Maybach Exelero dengan kecepatan tinggi. Yang harusnya memakan waktu sekitar lima belas menit, hanya ditempuh kurang lebih lima menit.


Setelah memarkirkan mobilnya, Ali mengedarkan pandangannya menyisir seluruh koridor mencari keberadaan Ruhi. Rupanya benar kalau teater Langit tengah mengadakan latihan rutin di lantai tiga, di depan sanggar teater Langit.


Ali menghela napasnya lelah. Lelah menghadapi pengrusuh kecilnya itu. Ia melangkahkan kaki menaiki tangga menuju lantai tiga kampus satu universitas PGRI Diponegoro tersebut.


Di depan sanggar.


"Selama satu minggu ini kamu kemana Ru ? Kamu juga Tito ikut-ikutan ngilang," omel mas Danu yang sarat akan khawatir.


"Anu mas.." Ruhi bingung harus mengatakan apa. Ia menggigit bibir bawahnya seraya terus menunduk.


"Ruhi... Kenapa ?" Tanya Pras sembari memegang dagu kemudian mendongakkan wajah Ruhi. Perhatian Pras teralih pada bekas infus di punggung tangan Ruhi, "Ini juga ada bekas infus..." Ucap Pras mengusap punggung tangan kanan Ruhi.


"Astaghfirullah... Kamu sakit Ru ?" Tanya Pras setelah sadar akan bekas infus itu.


"Ruhi sakit tipes... Hehehe," jawab Ruhi sembari memamerkan deretan giginya.


Sedangkan Tito mati-matian menahan diri untuk tidak mematahkan tangan Pras yang seenak jidat memegang pundak dan tangan gadis yang ia cintai.


"Ya Allah hiu !!! Kenapa gak bilang sih ?!! Tau gitu kan kita jenguk kamu," pekik Caca sembari memeluk Ruhi.


"He eh... Sekalian jenguk dokter ganteng," ucap Nada.


"Siapa Na ? Jangan bilang om Saif," Caca mencondongkan tubuhnya menghadap Nada.


"Eh apaan sebut sebut papaku ?" Tito mengerutkan dahinya sembari menatap Caca dan Nada secara bergantian.


"Bukan om Saif, congek... Tapi om Ali..." Nada menjitak kepala Caca. Bukannya menanggapi Tito, nada dan Caca malah asyik sendiri. Tito mendengus kesal. Seorang Muhammad Tito Vilanova dicuekin sodara-sodara.


"Oh si om om ganteng itu ya ?" Bisik Caca.


"Akhirnya nyantol juga... Kan mayan buat cuci mata," balas Nada juga dengan berbisik sembari terkekeh sendiri. Fantasinya memang liar pemirsahhh.


"Hei hei hei kalian ini kenapa bisik bisik ?" Tanya Ruhi yang merasa ada yang tidak beres dengan dua sahabat kampretnya ini.


"Ru, kapan-kapan kita ikut dong kalo kamu main ke rumah sakit buat check up," bujuk Caca masih berbisik.


Ruhi menaikkan satu alisnya, "Kenapa memangnya ?"


"Sekali-kali kita mau cuci mata liat om mu yang gantengnya subhanallah itu," jawab Caca girang.

__ADS_1


"Ekhemm !!" Riko berdeham.


"Eh iya... Ada bebebku disini," Caca hanya cengengesan sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Nada dan Ruhi terkekeh sembari mengejek Caca yang sibuk membujuk Riko agar tidak marah kepadanya dan sesekali memelototi kedua sahabatnya itu.


"Mbok ya bilang kalau sakit... Kamu itu lho... Bikin khawatir aja," ucap Danu sedikit lega karena ia tau alasan menghilangkannya Ruhi selama seminggu ini.


"Oh ya... Ini," Danu memberikan naskah kepada Ruhi dan Tito. "Kalian baca dan pahami... Kamu dan Bagas yang jadi pemeran utama,"


Deg!!!


"Mas Bagas ?!" Cicit Ruhi tanpa bisa menutupi wajahnya yang langsung pucat.


"Kenapa ? Apa kau keberatan ?" Tanya Danu setelah melihat perubahan mimik wajah Ruhi.


Semua orang termasuk Bagas menatap Ruhi dengan tatapan penuh tanya.


"Mm anu... mas itu... ee... anu-"


"Anu apa Ru ?"


"Nggeh mboten nopo-nopo mas... Kula purun," jawab Ruhi dengan berat hati. Ia menggenggam tangan Tito yang berada diatas pahanya meminta agar Tito meyakinkannya.


Tito menggenggam balik tangan Ruhi. Ia tersenyum lembut sembari mendekatkan bibirnya ke telinga Ruhi.


"Tunjukkan padanya kalau kamu sudah move on Ru," bisik Tito.


Ruhi bersemu.


"Dih si Ruhi pipinya merah kamu bisikan apa ? Jangan jangan...." Nada memicingkan matanya, "Kalian pacaran ya !!" Pekik Nada yang berhasil merebut perhatian Danu, Bagas, Dika dan Pras yang tengah sibuk berdiskusi.


Ruhi mencubit pinggang Nada. Nada mengerucutkan bibirnya sembari mengusap bekas cubitan Ruhi.


"Lepas ih To !!!" Ruhi berhasil meloloskan dirinya, "Kamu udah gak mandi berapa hari sih ?"


"Dari kemaren hehe,"


"Tito jorok !!" Pekik Ruhi, Nada dan Caca bersamaan. Sedangkan Tito hanya terkekeh bahkan sampai tertawa terbahak-bahak saat Ruhi semakin gencar memukul dadanya.


"Berhenti atau aku cium ?"


"Tito mesum,"


"Biarin,"


Danu tersenyum geli melihat 'keromantisan' Tito dan Ruhi. Sedangkan disisi lain wajah Bagas sudah merah padam melihat kedekatan Ruhi dan Tito. Entah kenapa jantungnya berdenyut menyakitkan saat melihatnya.


"Assalamualaikum,"


Semuanya menoleh.


"Waalaikumsalam," sahut semua orang.


'Habislah riwayatmu Ru,' batin Ruhi.


Ali tersenyum kepada semua orang. Tapi bagi Ruhi itu adalah tanda siaga satu kalau omnya ini dalam keadaan murka stadium dua. Ruhi menelan ludahnya.


"Ali ? Apa kabar ?"


"Alhamdulillah baik mas," Ali mencium tangan Danu.

__ADS_1


Meskipun Ali tidak kuliah di Universitas PGRI Diponegoro, dia adalah salah satu anggota luar biasa dari teater Langit. Maka dari itu, Ali dan Danu saling kenal satu sama lain.


"Ada urusan apa kemari Al ?"


"Mau jemput pengrusuh kecil saya mas,"


"Pengrusuh ? Siapa ?"


"Tadi ada seorang gadis kabur dari rumah sakit pas saya tinggal memeriksa pasien yang lain..."


"Ruhi...." Ucap semua orang sembari menatap Ruhi yang menunduk sembari memeluk lengan Tito meminta perlindungan.


"Kamu kabur dari rumah sakit Ru ?" Tanya Tito. Ruhi mengangguk.


"Jehhh dasar,"


"Adek ayo pulang..."


"Iya om..."


"Kami pamit ya mas... Ini belum sembuh malah udah main kabur-kaburan..."


"Iya... Kalau belum sembuh jangan memaksakan diri Ru,"


"Nggeh mas..."


"Assalamualaikum,"


"Waalaikumsalam,"


"Om Ali... Gendong..." Rengek Ruhi setelah masuk lift yang berada di samping sanggar PBI (Pendidikan Bahasa Inggris).


#


"Alasan apalagi kali ini ?" Tanya Ali dengan tatapan tajamnya yang seolah berniat menguliti Ruhi.


Hening mendera ruang rawat Ruhi untuk beberapa saat. Ruhi memandang keluar jendela berusaha menahan gejolak dihatinya. Tidak percaya rasanya saat tau umurnya hanya tinggal lima bulan lagi. Ruhi menghela napasnya pasrah.


"Ruhi bosen di kamar om... Lagian Ruhi pengen ikut latihan... Minimal Ruhi ingin melaksanakan kegiatan terakhir Ruhi sebelum Ruhi meninggal,"


Ali meletakkan jari telunjuknya di bibir Ruhi, "Sshhh... Jangan berkata seperti itu... Ruhi gak akan meninggal, setidaknya untuk kali ini..." Ali menangkup wajah Ruhi. Diamatinya wajah cantik keponakan kesayangannya ini, "Om mohon Ruhi harus berjuang untuk sembuh..."


"Tapi om harus berjanji untuk mengizinkan Ruhi ikut latihan pentas tunggal teater langit..."


"Tapi Ru," Ali melepaskan tangkupannya di wajah Ruhi namun ditahan oleh Ruhi.


Ruhi meletakkan tangan kanan Ali diatas kepalanya, "Berjanjilah om,"


"Jangan keras kepala Ru," Ali menarik tangannya dari atas kepala Ruhi. Ia tidak mau terikat janji yang akan membahayakan kesehatan Ruhi.


"Kalau tidak diizinkan, Ruhi gak mau minum obat..." Ruhi bersedekap sembari memalingkan wajahnya kearah lain asal jangan menatap Ali.


"Eh eh eh iya... Iya... Om izinkan..."


"Tapi kami tidak mengizinkan,"


Ruhi dan Ali menatap ambang pintu ruang rawat Ruhi.


"Papi ?"


•••

__ADS_1


TBC❤️


__ADS_2