
Beberapa menit sebelum kejadian....
Indra kebetulan melihat Bagas yang tengah berbincang dengan Maura. Samar-samar dia mendengar nama Ruhi di sebut. Indra terkejut melihat Bagas yang memeluk Maura. Dan rasa keterkejutan Indra tidak berhenti sampai situ. Dia melihat adiknya datang dan menyaksikan adegan Bagas dan Maura berpelukan.
Indra, Reno, Kevin dan teman-temannya yang lain kebetulan tengah makan siang dan menunggu jam mata kuliah selanjutnya. Melihat Bagas kembali menyakiti perasaan Ruhi, Indra tidak bisa tinggal diam. Dia menghampiri Bagas ketika Ruhi sudah berlari keluar.
Bugh!
Indra melayangkan pukulannya kepada Bagas. Bagas yang semula akan mengejar Ruhi jadi terhambat dan belum siap menerima pukulan Indra yang tepat di rahang kirinya.
"Aku sudah memperingatkanmu. Dan kau masih saja menyakiti adikku. ******** dan ****** adalah nama yang pas untuk kalian dan selamat! Kalian cocok sekali jika berdampingan."
"Jaga ucapanmu Indra!"
"Jangan menunjukku wanita ******!" Sentak Indra.
"Aku bahkan lebih dari bisa untuk mematahkan seluruh tulang dalam tubuhmu," lanjut Indra.
Reno dan teman-temannya pun berusaha meredam emosi Indra. Tapi tetap gagal. Indra dan Maura adu mulut sedangkan Bagas tersungkur akibat pukulan telak dari Indra. Namun semua itu terhenti ketika terdengar orang luar meneriakkan nama Ruhi agar menyingkir dari tengah jalan.
Perasaan Indra berkabut. Dia lantas keluar melihat adiknya. Dia melihat adiknya yang terduduk di tengah jalan raya yang lumayan sepi. Indra menghampiri Ruhi namun naas, mini bus lebih dahulu menghantam tubuh Ruhi hingga terpental ke bahu jalan. Kepala Ruhi cedera parah.
__ADS_1
Indra berteriak lantas berlari menghampiri tubuh Ruhi. Adiknya masih sedikit sadar dan tak lama kemudian kesadaran adiknya hilang. Indra semakin emosi ketika ambulan tidak juga datang. Dia memerintahkan Reno untuk menangkap pelaku yang sudah menabrak Ruhi tapi ternyata dia kecolongan. Awas saja jika seorang Indra menemukan pengemudi keparat yang sudah mencelakai adiknya. Indra bersumpah akan menghabisi seluruh keluarga pengemudi mobil yang sudah menabrak Ruhi. Dan Indra menjamin tidak ada kepolisian di negara manapun yang bisa menjerat Indra. Karena Indra memiliki seribu satu cara untuk lolos.
***
Tap! Tap! Tap!
Suara ketukan sepatu pantofel milik Indra memenuhi ruangan pengap yang dulu ia jadikan ruangan untuk mengeksekusi Fandi dan Fani. Darah Indra berdesir seolah membangkitkan gairah membunuhnya yang dua tahun ini tertidur di sudut paling dasar dalam hatinya. Ia menghirup aroma ruangan yang khas dengan bau dari ruangan kosong tak terpakai lainya. Bedanya ada sedikit bau darah segar karena dia baru saja mendapat mangsa baru.
Maura.
"Indra! Kau gila! Demi tuhan kau gila Indra!" Teriak Maura tepat ketika Indra membuka penutup matanya.
"Ck! Ck! Ck!"
"Apa kau lupa kejadian dua tahun yang lalu?"
Maura ketakutan setengah mati. Dia ingat bahkan sangat ingat karena Fani adalah adik perempuannya yang tewas mengenaskan di gudang penyimpanan yang sudah gak terpakai ini. Seluruh keluarga tau kalau Fani mati karena dibunuh oleh Indra tapi tidak bisa menjerat Indra. Sebab seluruh bukti mengarah kepada Fandi yang turut gantung diri. Ah, lebih tepatnya di gantung oleh Indra. Sungguh kematian yang manis.
Indra tertawa, "Masih ingat ya Maura?"
"Indra, dalam hal ini aku tidak bersalah! Aku tidak tau kalau-"
__ADS_1
"Alasan!" desis Indra menekan leher Maura dengan punggung pisaunya.
"Biarkan aku hidup Ndra. Kejadian di cafe itu kau juga melihatnya kan? Iya kan? Reno! Kau juga melihatnya kan? Bagas yang memelukku lebih dulu. Dia-"
"DIAMLAH ******!" hardik Indra. Maura lantas terdiam.
"Sepertinya aku terlalu berbasa-basi denganmu."
Indra mulai mengayunkan pisaunya dan mengarahkannya kepada Maura.
"INDRA! BERHENTI!"
Pisau itu mengatung di udara. Rendi berhasil menghentikan tindakan Indra yang hampir membunuh Maura.
"Jangan. Abang mohon jangan," pinta Rendi.
"Tapi dia sudah menyakiti Ruhi adik kita bang!"
"Aku tau! Aku juga ingin membunuhnya saat ini juga! Tapi tidak aku lakukan karena memang itu adalah perbuatan terlarang. Indra... Berhentilah sebelum semua semakin runyam."
Indra melemparkan pisaunya ke sembarang arah. Ia lantas mencengkeram rahang Maura, "Kali ini kau lolos," desisnya Indra.
__ADS_1
•••
TBC♥️