
Indra menatap jam tangan yang melingkar di tangan kirinya.
"Pukul 9 malam ?" Gumam Indra. Ia mematikan laptopnya lalu pergi ke kamar Ruhi setelah menyimpan laptopnya.
"Ru, apa kamu di dalam ?" Panggil Indra sembari terus mengetuk pintu kamar Ruhi. Indra memutar kenop pintu kamar Ruhi lalu dengan perlahan mendorong pintu. Setelah pintu terbuka, kamar bernuansa merah dan emas itu nampak sepi.
"Dimana Ruhi ?" Gumam Indra.
"Indra ? Ngapain kamu di kamar adek ?" Tanya Rendi yang baru saja dari dapur untuk membuat teh hangat.
"Ini udah jam 9 bang. Dan adek gak ada di kamarnya."
"Bukannya adek ada pentas di Jalan Ki Ageng Tirtayasa ya ?"
"Iya Indra tau. Tapi, ini sudah jam 10 bang. Harusnya Ruhi udah pulang dari tadi."
Rendi melihat jam tangannya, "Kamu bener Ndra. Ayo nyari Ruhi."
"Aku ambil jaket dulu bang."
"Gak pakek lama."
#
"Dua penari yang tadi mana mas Kendra ?"
"Mereka sudah pulang. Ada urusan katanya."
"Oh, padahal pengen kenalan sama mereka. Sumpah ya, narinya itu bagus banget. Suka deh."
"Assalamualaikum," ucap Indra dan Rendi yang baru saja datang.
"Waalaikumsalam," sahut semua orang yang berada di dalam gedung pementasan itu.
"Loh mas Indra ? Ada apa mas ?" Tanya Caca sembari menghampiri Indra dan Rendi.
"Ruhi dimana Ca ?"
Caca mengerutkan keningnya, "Dia udah pulang sama Tito dari jam 8 tadi bang. Emang Ruhi belum pulang ya ?"
"Belum."
"Pasti masih jalan-jalan sama Tito bang Ruhi-nya," ucap Nada.
Indra langsung menarik Rendi ke parkiran gedung menuju mobil mereka yang terparkir.
"Kenapa sih Ndra ?" Tanya Rendi sembari masuk ke kursi pengemudi.
"Rumah sakit. Sekarang!!" Ucap Indra menekankan kata 'sekarang'.
Tanpa ba-bi-bu lagi, Rendi langsung tancap gas ke rumah sakit milik omnya.
#
Tito mondar-mandir sesekali mengintip ke dalam ruang UGD. Nampak raut khawatir diwajah tampannya.
"Tito ?"
Merasa namanya dipanggil, Tito mendongak menatap orang yang memanggil namanya.
"Lo Tito kan ?"
"Reza ?"
"Ngapain lo disini To ?"
"Apa lo rabun ?! Ini rumah sakit dan gue lagi nunggu Ruhi !!"
__ADS_1
"Wiss santai bro. Gausah nge gas. Ruhi kenapa sih ? Astaga !! Jangan-jangan !?!"
Bugh!!
Tito memukul perut Reza.
"Lo kenapa sih To !?!"
"Lo udah lama tau penyakitnya Ruhi kan ?! Kenapa lo gak cerita sama gue ?! Ruhi, Ruhiku... dia...."
"Tenangin diri lo To. Awalnya gue juga syok. Gue berniat buat cerita masalah ini ke Indra atau Rendi. Tapi, Ruhi membuat gue berjanji. Gue tau gue salah. Gue-"
"Tito !!"
"Dimana Ruhi ?"
"Di dalam mas. Dia sedang ditangani sama papa."
"Reza ?"
"Hai Rendi."
Saif keluar dari ruang UGD, "Oh Rendi, Indra... syukurlah kalian sudah ada disini. Ayo ikut ke ruanganku."
Indra dan Rendi mengekori Saif menuju ruangan Saif.
"Ruhi lupa minum obat lagi."
Kalimat itu yang terucap dari bibir Saif sesaat setelah Indra dan Rendi mendaratkan bokong mereka di sofa yang tersedia di ruangan Saif.
"Aku berpesan, jangan sampai Ruhi lupa meminum obatnya. Meskipun tidak menyembuhkan, tapi setidaknya mampu meredakan mimisan dan pusing yang dirasakan oleh Ruhi."
"Baik om."
"Dimana papi kalian ?"
"Tindakan yang bagus. Untuk kamu Indra."
"Ya om ?"
"Di kampus, jangan sampai Ruhi terkena sinar matahari lama-lama. Jangan biarkan dia angkat-angkat barang terlalu banyak. Intinya jangan sampai Ruhi kelelahan."
"Baik om."
"Baiklah. Aku sudah menyuntikkan pereda sakit kepada Ruhi. Mungkin besok siang dia baru bangun dari tidurnya dan boleh kalian bawa pulang."
"Kami permisi om."
"Ingat pesanku tadi."
"Iya om," sahut Rendi dan Indra sembari mencium punggung tangan Saif.
Keesokannya, di ruang rawat Ruhi.
"Astaga Reza !! Kenapa lo gak pulang aja sih !! Sepet gue liat lo terus-terusan !!"
"Sensi amat sih Lo kalo sama gue ?!"
"Suka-suka gue dong ya !!"
"Ya Allah kalian ini! Seperti bocah aja !! Kenapa sih ?"
Rendi berusaha menengahi pertengkaran dua bayi besar di depannya ini yang setiap beberapa menit sekali selalu berdebat mengenai hal yang tidak penting.
"Dia yang mulai duluan mas!"
"Eh? Gak salah denger nih? Bukannya lo yang nyari gara-gara sama gue!"
__ADS_1
"Nggak mas! Jangan percaya sama dia !! Dia-"
"Ren, lo percaya sama gue kan ?"
"Mas Rendi !!"
"Stop it! Aku pusing melihat kalian bertengkar! Kau Reza! Udah tua juga masih aja hobi debat sama ini bocah."
Reza tertunduk, sedangkan Tito menahan tawanya sembari menjulurkan lidahnya mengejek Reza.
"Kamu juga To! Gausah nyari gara-gara! Kalian berdua sama aja."
"I-iya mas."
Sekarang giliran Reza yang mengejek Tito.
"Keparat satu ini!" Batin Tito geram kepada Reza. Ingin rasanya ia melempari kepala Reza dengan batu. Rasanya begitu menyebalkan melihat wajah dari rivalnya satu ini. Sudah dari kecil Reza dan Tito saling berkompetisi merebut perhatian Ruhi.
"Engghhhh." Ruhi melenguh ia merasa kalau pergerakannya sedikit terbatasi oleh sesuatu.
"Bang Indra... Geser ih... sempit tau!" Gerutu Ruhi sembari menyingkirkan tangan Indra yang melingkar sempurna di perutnya.
"Engghh... apaan sih dek... abang masih ngantuk tau," lenguh Indra. Bukannya melepaskan pelukannya, Indra malah semakin memeluk adiknya, mencari kehangatan.
Ruang rawat Ruhi adalah ruang rawat VVIP. Jangan ditanya lagi kenapa VVIP. Rumah sakit ini adalah milik Aliandra Hayyat Khan, adik kandung Rajendra Hayyat Khan yang artinya ini milik om atau paman Rendi, Indra dan Ruhi.
Ranjang Ruhi memang muat untuk dua sampai tiga orang. Indra memang kebiasaan tidur di samping Ruhi jika Ruhi sakit seperi ini. Dari kecil Indra tidak mau jauh-jauh dari Ruhi karena Ruhi adalah miliknya, milik Indra. Maka tidak heran kalau banyak pemuda yang memilih mundur kalau ingin mendekati Ruhi karena mereka takut duluan dengan tanduk Indra. Hanya Tito dan Reza yang mampu lolos seleksi dalam meluluhkan hati Indra.
Saking posesifnya Indra kepada Ruhi, Indra tidak mengizinkan Rendi ataupun Rajendra untuk mendekati Ruhi jika Ruhi sakit.
"Ndra! Bangun woi! Udah siang!"
Rendi mengguncang tubuh Indra yang masih nyaman memeluk Ruhi.
"Indrasena Galuh Hayyat Khan! Wake up!"
"Iya, iya! Ish! Ganggu banget sih abang ini!" Indra setengah hati membuka matanya. Dengan malas ia bangkit dari tidurnya tapi tetap duduk di atas brangkar bersama dengan Ruhi yang tetap pada posisi tidurnya.
"Udah siang adekku tersayang...."
"Lagian elu Ndra! Tidur apa modus!"
"Woi ayam geprek !! Gue tidur sama adek gue salah emangnya ?! Dia adek gue, dan gue sayang sama dia. Gue sayang bukan nafsu, tau !!" Sungut Indra kepada Reza.
"Adek lo sensi amat sama gue Ren," ucap Reza bermaksud mengadu kepada Rendi.
"Dih, bodo amat."
"Astaga gue! Gini amat ya... gak adek, gak abang... sama-sama cuek sumpah!" Ucap Reza mendramatisasi keadaan.
"Reza! Berisik ah! Aku mau tidur nih!" Omel Ruhi sembari mencari posisi paling nyaman untuk tidur.
Reza tersenyum kuda. Dengan perlahan Indra turun dari brangkar kemudian mengecup kening Ruhi.
"Morning kiss !!" Seru Tito sembari bersiap-siap mencium kening Ruhi.
"Mau ngapain lo!" Indra mencegah Tito.
"Mau gue patahin tuh leher?" Ancam Rendi.
Glek!
Tito salah melangkah sodara-sodara. Ia lupa kalau didepannya ini adalah dua kakak Ruhi yang nauzubillah posesifnya.
"Hehe ampun yang mulia," ucap Tito.
•••
__ADS_1
TBC♥️