
Tanggal 10 Mei ditetapkan sebagai hari berkabung di Universitas PGRI Diponegoro, Surabaya. Tepat di tanggal ini, Ruhi Rajendra Hayyat Khan, menghembuskan napas terakhirnya setelah berjuang melawan kanker darah stadium akhir dan kecelakaan yang menimpanya.
Semua dosen dan seluruh jajarannya, mahasiswa/i seluruh jurusan di semua fakultas datang ke pemakaman gadis manis putri Rajendra itu. Lautan manusia berbaju hitam memenuhi area pemakaman umum dimana Ruhi di semayamkan.
Mobil ambulan yang membawa jenazah Ruhi datang. Rajendra, Ali, Rizal dan Rendi yang mengangkat peti jenazah Ruhi untuk di bawa ke peristirahatan terakhir Ruhi. Setelah keempat orang dewasa itu, Indra, Tito, Aziz dan Adi yang mengambil alih peti jenazah Ruhi hingga sampai di lubang makam yang telah di persiapkan.
Caca yang berada dalam pelukan Nada hanya bisa menangis dan masih tidak terima dengan kepergian Ruhi, sahabat terbaiknya. Ruhi meninggal dalam keadaan tersenyum dan jenazahnya berbau wangi. Semoga saja Ruhi ditempatkan di sisi Allah SWT yang paling mulia.
Alumni-alumni teater Langit turut menghadiri pemakaman Ruhi. Tangis teman-teman Ruhi mengiringi perjalanan Ruhi menuju peristirahatan terakhirnya. Semua guru dari guru SD sampai guru SMA juga menghadiri pemakaman.
Rendi, Rajendra dan Indra turun untuk meletakkan jenazah Ruhi. Rizal yang melihat Indra tidak kuat langsung meminta Indra untuk naik dan ia menggantikan Indra. Benar saja, Indra sudah lemas dan tidak kuat menahan gelombang kesedihan yang mendera hatinya. Ia tak sadarkan diri tepat setelah Tito meraih pundaknya. Kehilangan Ruhi sama dengan kehilangan separuh jiwanya. Adi, Tito, Aziz dan Riko mengangkat tubuh Indra dan membawanya masuk ke dalam mobil.
Rajendra melepas ikatan kepala Ruhi dan untuk sejenak menatap wajah anaknya. Air matanya kembali mengalir. Hatinya remuk redam kehilangan buah hatinya. Setelah ini, jika rindu kepada Ruhi, ia hanya bisa menatap foto anak gadisnya ini tanpa bisa memeluknya seperti biasa.
Rajendra mengumandangkan adzan lalu melanjutkan prosesi pemakaman. Saat ia mengumandangkan adzan, ia merasa seperti kembali ke masa dimana ia juga yang mengumandangkan adzan tepat setelah Ruhi lahir. Haru yang dulu ia rasa kini berganti dengan sakit yang ia rasa. Rajendra sudah merencanakan banyak untuk masa depan Ruhi. Dia sudah berangan-angan untuk menikahkan Ruhi dengan pemuda yang Ruhi cintai. Ia sudah membayangkan, ia menggendong anak Ruhi dan suaminya. Dan masih banyak lagi.
Prosesi pemakaman selesai.
Para peziarah satu persatu meninggalkan area makam. Rajendra dan keluarga kembali ke mansion.
Sonarika, Alfarin, Devan, Revan, Abhi dan keluarga Kurana yang lain juga hadir dalam pemakaman. Mereka ikut ke kediaman Rajendra untuk membantu menyiapkan malam tahlilan nanti malam.
***
"TIDAK!!!!!!!!!!!!!!"
Indra terbangun dengan keringat yang bercucuran. Ia kini terbaring di kamarnya. Sejenak ia merasa lega karena mimpi yang baru saja mampir di dalam tidurnya bukanlah suatu yang nyata. Dia meraih gelas lantas meneguk airnya hingga tandas.
Tok! Tok! Tok!
"Masuk!"
"Kau sudah siuman Ndra?" Tanya Rajendra.
"Sudah."
Indra bangkit dari pembaringannya lalu menuju lemari dan mengambil jaket hitam miliknya.
__ADS_1
"Mau kemana Ndra?"
"Mau ke rumah sakit. Kan adek masih di operasi sama Om Ali. Papi gimana sih," sahut Indra.
Rajendra menghampiri Indra lalu memeluk Indra, putranya.
"Jangan seperti ini Indra."
"Jangan seperti ini bagaimana sih Pi? Indra hanya ingin menjenguk adek."
"Relakan kepergian Ruhi, Ndra."
Deg!
Indra membeku.
"Gak mungkin. Ruhi masih hidup kan Pi?"
"Tenangkan dirimu nak."
"Lepaskan aku!" Indra menyentak pelukan Rajendra.
Sesampainya Indra di lantai satu, banyak orang yang mengaji untuk kepergian Ruhi. Pengajian malam ini diurus oleh Faris, Rizal, Ali, dan Saif dibantu oleh Danu dan teman-teman Ruhi dari teater Langit dan beberapa teman-teman sekelas Ruhi.
"Apa yang kalian lakukan disini!" Teriak Indra.
Semua orang menghentikan kegiatan mereka lantas menatap Indra.
"Apa yang kalian lakukan? Siapa yang meninggal? Pengajian untuk siapa ini? Adikku belum tiada! Ruhi masih hidup! RUHIKU MASIH HIDUP!" teriak Indra.
Semua orang menatap Indra pilu. Mereka turut sedih melihat keadaan Indra yang sangat terpuruk. Indra sangat menyayangi adiknya. Dia kehilangan belahan jiwanya. Ruhinya telah tiada.
"Om Ali dan om Saif, kenapa kalian disini? Bukannya kalian sedang mengoperasi Ruhi? Dan om Rizal ada apa kemari? Ruhi masih ada di-"
Plak!
Rajendra menampar Indra untuk menyadarkan putranya. Semua orang terkejut dengan tindakan Rajendra. Tapi mau bagaimana lagi? Rajendra tidak ingin Indra semakin memperberat langkah Ruhi kembali ke sisi Allah SWT.
__ADS_1
"Ruhi sudah tiada Indra! SADARLAH!" Sentak Rajendra. Indra masih diam di posisinya.
"Bukan hanya kau yang kehilangan Ruhi! Papi, Rendi, Ali, Rizal, Aziz, Adi, Tito, Caca, Nada, Riko, Danu, teman-teman Ruhi lainnya! Bahkan Bagas pun kehilangan Ruhi!" Lanjutnya.
Mendengar nama Bagas, Indra mendongak dan tangannya terkepal erat, "Gara-gara Bagas, Ruhi kecelakaan Pi!" Seru Indra.
"Apa maksudmu?"
"Ruhi melihat Bagas dan Maura di cafe. Mereka berpelukan tepat saat Ruhi datang. Bagas sengaja melakukan itu agar Ruhi melihat bahwa Bagas lebih memilih Maura ketimbang dirinya. Dan hal itu membuat Ruhi hancur!" Jerit Indra emosi. Dadanya kembang kempis karena amarahnya yang meluap-luap.
"Itu tidak benar Ndra."
Indra menoleh dan mendapati Bagas ikut hadir di malam pengajian, "Kau!"
"Tenang dulu Ndra. Aku akan menjelaskan kejadian di cafe kemarin. Aku...aku terlalu senang karena aku akan memulai hubungan yang baru bersama Ruhi. Aku melepas Maura dan akan memperbaiki hubunganku dengan Ruhi. Aku tidak tau kalau saat aku memeluk Maura, Ruhi datang. Dan-"
"CUKUP!" bentak Indra. Ia tidak ingin mendengar penjelasan apapun dari Bagas. Ia menganggap bahwa Bagas-lah yang menyebabkan Ruhi tiada. Dan Indra harus membalasnya.
"Nyawa dibalas dengan nyawa!" Seru Indra lalu berlari ke arah Bagas lantas menendang Bagas tepat di bagian dadanya. Bagas ambruk sementara keadaan menjadi ricuh. Indra meraih pedang yang terpajang di dekat tungku perapian. Ia mencabut pedang dari sarungnya lantai berjalan menuju Bagas.
"Mas Indra! Stop!" Cegah Tito.
"Minggir!" Sentak Indra mendorong Tito. Saat ini tidak akan ada yang bisa menenangkan Indra.
"INDRA!"
Klang!
Pedang itu terlepas dari tangan Indra setelah berhasil di tepis oleh Rendi dengan pedang lainnya. Rendi melemparkan pedangnya lantas menghampiri Indra dan melayangkan bogem mentahnya ke wajah Indra.
"Jangan bertindak bodoh! Bagas tidak bersalah. Ini takdir Indra! Jangan kau pikir hanya dirimu yang terluka disini! Papi bahkan lebih sakit ketika tau Ruhi tiada. Sadarlah dek, sadar."
Tangis Rendi kembali pecah sembari memeluk Indra. Indra juga ikut menangis. Dia masih tidak bisa menerima kepergian Ruhi. Ali sedari tadi sudah terisak melihat keponakannya yang biasanya terlihat tegar dan angkuh, kini menangis meraung-raung karena kehilangan Ruhi.
Tito membantu Bagas untuk duduk kemudian memberikannya minum. Sedangkan Rendi yang berhasil menenangkan Indra lantas membawanya kembali ke kamar. Pengajian dilanjutkan.
•••
__ADS_1
TBC♥️