
Bagas duduk termenung sembari mengaduk es limun pesanannya disalah satu meja di cafe dekat kampus.
"Lo gila Gas! Gue kira lo cuma bercanda. Ternyata memang lo serius. Gue gak tanggung jawab kalau suatu hari lo menyesal udah menyakiti hati Ruhi. Karena secara tidak sadar lo perlahan sayang sama Ruhi. DAN SAYANG LO UDAH BERUBAH MENJADI CINTA GAS!"
Bagas memijat pangkal hidungnya. Ucapan Maura kemarin cukup mengganggu pikiran Bagas. Ia berusaha memahami perasaannya baik-baik. Sebenarnya perasaan apa yang menggerayanginya selama ini. Selama proses pentas tunggal, Bagas sering merasakan jantungnya berdegup kencang saat ia berada di samping Ruhi. Jantungnya pun berdenyut sakit ketika ia melihat kedekatan Tito dan Ruhi.
Memang sejak awal dia mendekati Ruhi dengan cara yang salah. Bagas dan Maura adalah sepasang kekasih yang menjalani hubungan mereka dengan sembunyi-sembunyi. Bahkan Jodhi dan Deni pun tidak tau hubungan mereka. Lambat laun, tanpa disadari Bagas, perasaannya beralih kepada seorang gadis yang sudah ia sakiti habis-habisan.
"Gausah sayang sayangan deh! Lo sayangnya sama Ruhi bukan sama gue lagi. Gue sadar itu. Makanya gue gak mau Lo menyesal karena terlambat menyadari semuanya Gas."
Bagas menyeruput es limun-nya.
"Merepotkan!" Desis Bagas.
"Mas Bagas?"
Bagas mendongak, "Dika? Pras?"
"Udah lama mas?" Tanya Pras basa basi sembari berjabat tangan dengan Bagas.
"Lumayan. Kalian gak ada matkul lagi?"
"Kalo gue udah gak ada mas," jawab Dika.
"Sama," sahut Pras.
"Gue pesen dulu. Pret! Pesen apaan lo?"
"Gampang, nanti aja."
"Oke."
Setelah Dika pergi, hening menyelimuti. Terasa sangat kaku untuk Bagas dan Pras. Padahal biasanya tidak seperti ini.
"Mas, gue boleh tanya gak ?"
Bagas menatap Pras, "Selama gue tau jawabannya, silakan aja."
"Sebenarnya bagaimana perasaan mas Bagas sama Ruhi ?"
Deg!
"Kenapa lo tiba-tiba tanya itu?" Bagas berusaha mengendalikan rasa gugupnya.
"Jawab aja sih!" Ketus Pras.
"Kok lo nyolot!"
"Tinggal jawab aja susah amat."
"Gue sayang sama Ruhi! Puas!"
"Sayang karena inisiatif sendiri atau karena disuruh sama mas Danu?" Ucap Pras dengan telak seolah mencekik kerongkongan Bagas.
'Shit!' umpat Bagas dalam hati.
"Gue mau menunjukkan sesuatu yang akan membuat lo kaget mas."
"A-apa itu ?"
"Ish ish ish... Udah keringat dingin aja. Santai aja lah mas kek di pantai," ucap Pras dengan nada mengejek.
Pras mengutak-atik ponselnya. Setelah mendapat yang ia cari, Pras meminta Bagas untuk fokus ke layar ponselnya.
"*Sialan! Gara-gara Ruhi, gue dihajar sama Indra!"
"Salah sendiri! Udah tau Indra bukan tandingan lo, masih aja kebanyakan gaya!" Omel Maura.
__ADS_1
"Berisik lo Ra! Kalo bukan mas Danu gua mah ogah melakukan ini semua," sungut Bagas.
"Jangan bilang lo deketin Ruhi lagi bukan karena emang lo sadar sama perasaan lo, tapi karena diminta sama mas Danu!"
"Exactly."
"Keterlaluan lo Gas! Ruhi itu mencintaimu setulus hati Gas! Kenapa lo tega banget sih!"
"Gak usah munafik deh Ra! Gue tau kok kalau lo itu benci sama Ruhi. Tenang aja, gue cuma cinta sama lo Maura."
"Ya gak begini juga caranya Gas!"
"Lo tinggal diem aja kenapa sih! Terima jadi gitu aja repot. Gue udah bilang kan ? Gue melakukan semuanya gara-gara disuruh mas Danu. Gue juga ogah sama bocah penyakitan kek Ruhi! Gak sudi banget!"
"Tapi Gas. Gue juga cewek gas. Gue tau gimana rasanya diposisi Ruhi. Gue mohon hentikan Gas, hentikan!"
Bagas langsung saja memeluk Maura lalu mengecup kening Maura.
"Diem dan nurut*!"
Video selesai diputar. Bagas membelalakkan matanya. Wajahnya langsung saja memucat dengan keringat dingin yang membasahi keningnya.
"D-dari mana lo dapet video itu?"
"Dapet dari mana itu gak penting. Yang penting sekarang adalah gimana ya reaksi mas Indra melihat video ini ? Atau gimana reaksi Ruhi melihat ini?"
"Jangan Ruhi! Gue gak mau dia membenci gue!"
"Dih! Maruk amat mas! Asal mas tau ya! Gue cinta sama Ruhi tapi gue masih waras. Gak papa dia gak sama gue yang penting dia bahagia. Selama satu tahun ini gue berhasil menutup-nutupi perasaan gue. Gue rela Ruhi sama elo atau Tito. Asal dia bahagia! Tapi rupanya gue salah! Lo gak pantes untuk mendapatkan gadis sebaik Ruhi!"
"Lo itu picik ya mas? Pacaran sama Maura tapi deketin Ruhi. Gue udah curiga sejak gue denger pembicaraan elo sama abangnya Ruhi yang paling tua." Pras menerawang, kembali ke jadian waktu secara tidak sengaja dia mendengar ucapan Bagas pada Rendi di taman rumah sakit Mitra Husada.
"Aku tidak bisa menjaga jarak dengan Ruhi apalagi menjauhinya. Aku baru sadar kalau adik perempuanmu itu sudah berhasil merebut hatiku. Dia berhasil mengobrak-abrik pertahananku. Hatiku yang sekeras batu dilunakkan oleh seorang Ruhi. Gadis polos yang sudah ku permainkan. Aku menyadari kalau aku... mencintai Ruhi."
"Gue akui akting lo gak ada duanya mas. Top banget! Mempermainkan hati gadis sepolos Ruhi dan mempermainkannya sekali lagi dengan dalih akan memperbaiki segalanya. Hebat! Lo pantes mendapatkan penghargaan sebagai aktor pria terbaik!"
"Hapus gak!"
Pras beranjak pergi bersamaan dengan datangnya Dika yang membawa nampan berisi pesanannya.
"Loh Pret! Mau kemana lo!"
"Ada urusan!"
Kalau Pras ngasih video itu ke Indra, bisa mampus gue. Atau ke pak Raj, bisa-bisa beasiswa gue bakal dicabut! Astaga! "Pras! Tunggu!"
"Lah! Pada ngacir semuanya. Yaudah! Kalau begitu, makanan gue aman," kelakar Dika dengan dirinya sendiri.
#
Pyar!
Ruhi menggenggam pecahan gelas itu dengan erat. Ia tidak peduli lagi dengan darah yang mengalir dari luka karena menggenggam pecahan gelas.
"RUHI!" Seru Tito terkejut. Ia baru saja kembali dari kantin rumah sakit untuk mengisi perutnya yang keroncongan. Tito berlari menghampiri Ruhi yang terduduk dilantai dengan tangan yang berlumuran dengan darah.
"Lepaskan beling itu Ruhi! Tanganmu terluka Ruhi!"
"Ini gak sebanding dengan apa yang aku rasakan selama ini To. Aku menyerah!"
"Jangan menyerah Ru! Aku akan membencimu jika kau benar-benar menyerah dengan keadaan!"
"Aku mohon jangan membenciku Tito. Kau adalah kekuatanku. Maaf karena selama ini aku tidak membalas cintamu. Aku tidak sanggup membayangkan bagaimana tangismu di atas kuburku nanti."
Tito meletakkan telunjuknya ke mulut Ruhi.
"Ruhi akan sehat. Jangan menyerah Ru. Berjuanglah demi kami."
__ADS_1
"Astaghfirullah Ruhi!" Pekik Indra dan Rajendra saat memasuki ruang rawat Ruhi dan mendapati Ruhi terduduk dilantai dengan tangan yang berlumuran darah m
"Panggil suster Ndra!"
"Iya Pi."
Beberapa saat kemudian.
"Pi," panggil Ruhi memecah keheningan. Raj yang tengah fokus mengobati luka Ruhi menjawabnya dengan bergumam.
"Ruhi punya permintaan."
"Apa itu sayang?" ucap Rajendra dengan lembut.
"Ruhi ingin menyelesaikan tugas pentas tunggal Ruhi di teater langit."
"Tidak!"
"Ruhi mohon Pi."
"Itu akan membahayakan kesehatanmu Ru. Akhir-akhir ini saja kamu sudah keluar masuk rumah sakit berapa kali? Ditambah lagi kamu gak mau kemoterapi. Apa susahnya sih sayang?" Cerocos Rajendra.
"Kalau hanya memperpanjang umur Ruhi, seperti itu tidak perlu."
"Papi mohon untuk kali ini jangan keras kepala Ru."
"Tapi papi sudah berjanji."
"Sekali tidak ya tidak Ruhi!"
"Ruhi akan nekat."
Rajendra menjauh dari ranjang Ruhi, "Kalau kau nekat, tunggu saja. Besok akan ada surat pemberhentian pengoperasian UKM teater langit."
"Kalau papi melakukan itu, papi gak bakal bisa melihat Ruhi hidup setelah ini."
"RUHI!" Pekik semua orang.
Ruhi meraih pisau lipat yang tadi ia gunakan untuk mengupas apel, lalu mengarahkannya ke urat nadinya.
Tito dan Indra berusaha merebut pisau lipat itu dari tangan Ruhi namun gagal. Ruhi terlalu lihai dalam memainkan pisau lipatnya.
"Ru-ruhi! Buang pisau itu sayang!"
"Iya atau tidak sama sekali!"
"B-baiklah! Papi akan mengizinkanmu latihan. Tapi ini untuk terakhir kalinya. Setelah ini, kau harus mau di kemoterapi."
Ruhi mengangguk.
Tito menyingkirkan pisau lipat yang digenggam oleh Ruhi lalu meraih tubuh Ruhi kedalam pelukannya.
"Bandel," bisik Tito dengan suara paraunya. Tito menangis.
"Peluk teros!" Seru Indra tidak membuat Tito melepaskan pelukannya.
"Enak ya meluk anak saya," ucap Rajendra tepat di samping Tito yang masih nyaman memeluk Ruhi. Nada bicara Rajendra saat ini sangat tidak mengenakkan.
"Eh anu om... E T-tito bisa jelaskan." Tito tergagap melihat Rajendra yang mulai menunjukkan taringnya. Tito nyengir.
"Dasar."
Rajendra tersenyum kemudian memeluk Tito dan Ruhi.
"Eh hoi papi! Yang anaknya papi itu Indra bukan Tito," protes Indra. Dia cemburu.
Tito, Ruhi dan Rajendra tertawa melihat Indra yang sangat cemburuan.
__ADS_1
•••
TBC♥️