Luruh Tak Embuh

Luruh Tak Embuh
LTE | DUA PULUH EMPAT


__ADS_3

Latihan minggu selanjutnya...


Ruhi tertidur di mobil Indra setelah ditinggal Indra ke rumah Reno sebentar.


"Kamu latiannya dimana Ru?" Indra tersenyum melihat adiknya yang sudah tertidur pulas di jok depan.


"Dasar. Udah disuruh jangan ikut, ngeyel sih." Indra membenarkan posisi tidur Ruhi dan sedikit menurunkan joknya agar Ruhi nyaman. Indra meraih jaketnya di jok belakang lalu menyelimuti tubuh Ruhi.


"Wajahmu begitu damai saat tidur. Seolah tidak ada beban hidup yang menderamu. Hiduplah lebih lama lagi demi abang Ru," bisik Indra sembari menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah Ruhi. Indra mengusap air matanya. Ia selalu saja emosional jika berhubungan dengan Ruhi.


Dengan kecepatan sedang, Indra melajukan mobilnya menuju rumah Tito.


Sesampainya di rumah Tito, Indra langsung meminta Tito untuk masuk ke mobil agar cepat sampai di tempat latihan teater.


"Lah ? Ruhi malah tidur."


"Jangan diganggu Tito!"


"Iya iya mas."


Tito memandang wajah Ruhi yang tengah tertidur. Begitu damai dan tanpa beban. Tito tersenyum, tangannya terulur untuk membelai wajah Ruhi.


Plak!


Indra menggeplak punggung tangan Tito sebelum menyentuh pipi adiknya, "Don't touch her!"


"Dasar posesif," gumam Tito sembari mengusap punggung tangannya yang digeplak oleh Indra.


Hening.


Indra fokus pada jalanan sedang Tito fokus pada pemandangan indah di depannya ini.


"Mas Indra," panggil Tito.


Indra bergumam.


"Sebenernya mas Indra selalu ikut latihan teater langit itu kenapa sih ? Penasaran aku," ungkap Tito.


"Kau mau tau ?"


Tito mengangguk.


Indra melihat Tito melalui spion, "Untuk mengawasi Bagas. Pergerakannya sangat mencurigakan. Jodhi sudah menceritakan kebenarannya kepadaku. Dan detik itu juga aku sangat membenci seluruh gerak-gerik Bagas."


"Hanya mengawasi ? Kenapa tidak mas Indra beri pelajaran saja ?" Usul Tito.


"Apa kau gila! Aku bisa dicopot dari jabatan presiden BEM juga komandan MENWA secara tidak hormat! Aku masih waras To. Kemarin saja aku sudah kena SP 1 dari papiku. Huh! Menyebalkan sekali." Indra mendengus kesal ketika mengingat minggu kemarin dia mendapat SP 1 (Surat Peringatan 1) dari papinya. Kalau dia membuat ulah seperti kemarin, bisa-bisa berujung pada pemecatan secara tidak hormat.


"Kalau begitu biar aku saja yang membalaskannya."


"Apa maksudmu ?"


"Hari ini ada latihan adegan berkelahi menggunakan katana. Jadi, kalau ada yang terluka hanya akan dianggap sebagai kecelakaan kecil." Tito menyeringai sembari bersedekap.


"Ide yang bagus."


"Tunggu sebentar mas."


"Ada apa ?"


"Jodhi ? Jodhi sahabat si keparat itu ?"


"Iya."


"Dia cerita apa aja mas ?"

__ADS_1


Indra mulai menceritakan apa yang diceritakan oleh Jodhi waktu itu. Tito yang sudah tau sedikit, ia merasa tidak terkejut dengan cerita itu. Tapi tetap tangannya terkepal erat dengan sorot mata penuh kebencian. Detik berikutnya alis Tito saling bertautan.


"Tunggu dulu mas."


"Apa lagi ?"


"Apa mas Indra gak curiga dengan Jodhi ? Dengan mudahnya dia menceritakan itu semua sama mas Indra," ungkap Tito yang merasa ada kejanggalan disini.


"Awalnya aku curiga sama sepertimu. Saat itu...." Indra mulai menerawang me-rewind ingatannya kepada hari dimana Ruhi terakhir di rawat.


"*Leukimia ? Sejak kapan ?" Tanya Jodhi yang masih syok dengan kenyataan bahwa Ruhi mengidap kanker darah.


"Kurang lebih 7 bulan. Aku baru tau soal penyakitnya ini 2 bulan yang lalu. Miris bukan ?" Ujar Indra sembari terus menatap ruang UGD yang masih tertutup rapat.


"Bagas sudah tau Ndra ?"


"Tidak! Yang tau penyakit Ruhi di kampus hanya aku, Tito, Adi, Aziz dan Reno. Caca dan Nada yang sahabatnya saja tidak tau, kenapa keparat itu harus tau ?" Ketus Indra.


"Aku semakin menyesali perbuatanku Ndra, perbuatan kami."


"Penyesalan datang diakhir. Sebenarnya aku pun sekarang masih ingin untuk membunuhmu tapi... Ya sudahlah! Minimal kau sudah menceritakan kebenarannya dan menyesali semuanya."


"Kalau begitu aku pamit pulang Ndra," pamit Jodhi.


"Hati-hati."


Jodhi beranjak pergi dari rumah sakit.


"Reno!"


"Saya tuan muda," sahut Reno.


"Sudah ku bilang panggil aku Indra! Bukan tuan muda! Kita ini sahabat, paham ?"


"Iya tu- eh Indra."


"Baiklah tuang muda," patuh Reno.


"Sudah kubilang!"


"I-iya Ndra. Galak banget sih elah!" Celetuk Reno. Reno pun melaksanakan tugas yang diberikan oleh Indra*.


"Dulu kau bertanya kan ? Kenapa anak-anak MENWA patuh sama perintahku ?"


Tito mengangguk.


"Bukan karena jabatanku yang tinggi, melainkan semua anggota MENWA adalah bodyguard yang dibayar papiku untuk melindungi Ruhi," jelas Indra.


"WHAT THE HELL! Kenyataan yang mengejutkan mas bro! Terkejut diriku!" Seru Tito heboh.


"Engghh... Bang Indra berisik ah," protes Ruhi tetap dengan mata terpejam.


"Kamu sih To!"


"Sorry sorry." Tito nyengir. "Terus kelanjutannya gimana mas ?" Lanjutnya.


"Kelanjutannya... Reno dan semua anak-anak MENWA melakukan perintah dariku. Mereka dengan mudahnya menyelinap ke control room dan memeriksa semua cctv yang terpasang. Asal kau tau saja, aku sudah memasang penyadap suara di seluruh ruangan di kampus 1. Aku pun memasang cctv di sanggar teater langit tanpa sepengetahuan kalian," jelas Indra.


Tito menganga, "Pantas saja mas Indra tau semua kegiatan teater langit pas pentas parade lalu. Ternyata ini alasannya. Ckckck! Luar biasa! Lalu, apa mas Reno dapat jawabannya ?"


"Dapat! Jodhi berkata jujur. Dia memang menyesali perbuatannya. Dan rupanya Bagas dan Maura itu masih pacaran. Tapi sekarang mereka sudah putus karena Maura tau kalau keparat itu benar-benar jatuh cinta kepada Ruhi tapi Bagas gengsinya terlalu tinggi. Dan satu lagi."


"Apa mas ?"


"Ternyata Caca, Nada dan juga Riko sekarang sedang menyelidiki penyakit Ruhi. Tapi mereka selalu kehilangan jejak karena anak-anak MENWA selalu menggagalkan rencana mereka."

__ADS_1


"Mereka terlalu sayang sama Ruhi. Aku senang mendengar trio kampret itu peduli dengan keadaan Ruhi. Cepat atau lambat kita harus menceritakan kebenarannya pada mereka mas," ungkap Tito.


"Kau benar To."


"Ngomong-ngomong... Ini mau kemana mas ? GOR FIKS kan beda arah dengan kampus."


"Eh ? Benarkah ? Kamu sih gak bilang latihannya di GOR! Ya tak kirain latihannya di kampus 1."


"Situ gak tanya," dengus Tito.


"Ngahh! Ngabisin bensin aja sih!"


"Udah! Belok aja. Apa aku yang nyetir ?"


"Enak aja. Duduk diam, kita akan ngebut!"


"Eh mas jangan mas!" Teriak Tito dengan panik.


Indra tertawa kencang melihat Tito panik.


"Bercanda To."


"Tito ?" Ruhi mengucek matanya.


"Eh putri tidurnya udah bangun."


"Kok gak sampek-sampek dari tadi ?"


"Suruh siapa ketiduran ? Udah tau abang gak tau tempat latihannya, malah tidur. Yaudah abang jemput Tito. Eh taunya malah kebablasan ke kampus," oceh Indra.


"Maaf," lirih Ruhi dengan kepala tertunduk.


Indra tersenyum, "Gak masalah. Yok! Udah sampai."


Indra memarkirkan mobilnya kemudian turun dari mobil bersamaan dengan Ruhi dan Tito.


"Kalian telat 1 menit!" Seru Caca.


"Brisik dasar kaleng kacang!"


"Eh Tito! Belum ngerasain di sunat dua kali ya!"


"Ah kejam sekali kamu Ca! Riko, yang sabar ya punya pacar kek Caca."


"Sabar terus aku tu," celetuk Riko.


Caca mencubit pinggang Riko.


"Sakit yang," rengek Riko.


"Bodo amat," ketus Caca.


"Cih! Mending mereka punya status dan itu jelas. Gak kayak kalian. Sering jalan berdua tapi gak ada status," ucap Bagas dengan nada bercanda.


Bukannya tertawa, semua orang malah terdiam.


"Eh kenapa malah diem ? Aku tadi cuma bercanda. Ayolah."


Tito menarik kerah kaos Bagas, "Kalau menurutmu semua hubungan memerlukan status, lalu kau namai apa hubungan yang terjalin antara kau dengan Ruhi dan juga... Maura ?" Desis Tito tepat didepan wajah Bagas.


Deg!


Mata Bagas membulat sempurna, detak jantungnya seperti terhenti satu detik. Wajah Bagas memucat, ia takut Ruhi akan tau semuanya, lalu Ruhi akan membencinya. Jujur, Bagas belum siap untuk itu.


"Apaan sih To. Udah lepasin mas Bagas. Ayo ke kantin dulu. Mau beli susu," ajak Ruhi. Ruhi memeluk lengan Tito lalu menjauhkannya dari Bagas.

__ADS_1


•••


TBC♥️


__ADS_2