
Menunggu kemungkinan yang belum tentu terjadi. Kemungkinan kalau Bagas akan menelan ludahnya sendiri, yang mengatakan kalau dia tidak jatuh cinta dan tidak akan pernah jatuh cinta kepada Ruhi. Kita tidak akan pernah tau, kapan karma buruk akan diterimanya. Yang terpenting sekarang adalah apa yang ada di depan mata. Jalani dan selesaikan dengan baik.
Gadis manis bermarga Khan itu berjalan menyusuri koridor kampus yang menuju kelasnya. Dengan senyuman yang merekah, ia menyapa setiap mahasiswa yang tersenyum kepadanya. Siapa yang tidak mengenalnya ? Gadis manis ini adalah putri cantik rektor sekaligus pemilik yayasan yang menaungi Universitas PGRI Diponegoro, Surabaya.
Ruhi Rajendra Hayyat Khan.
Meskipun divonis mengidap penyakit yang luar biasa menakutkan, ia tidak pernah menunjukkan raut bersedih kepada semua orang. Hanya senyuman yang selalu terpampang di wajah cantiknya.
"Hai Ruhi," sapa seorang pemuda tampan berkemeja biru si pemilik lesung pipi di kedua pipinya.
Ruhi menatap wajah itu dengan lekat sembari tersenyum.
"Kenapa ? Apa ada yang salah dari penampilanku ?"
"Ah tidak. Aku hanya menatap wajah yang akan ku rindukan,"
"Memangnya kamu mau kemana, hm ?" Tanya Tito sembari merengkuh pinggang Ruhi.
"Kau tau kan To ? Kalau umurku hanya tersisa beberapa bulan lagi,"
Tito refleks menutup mulut Ruhi dengan telapak tangan kanannya. Ia menggeleng, sinar matanya seperti mengatakan kalau ia terluka mendengar ucapan Ruhi barusan.
"Jangan pernah mengatakan itu. Aku tidak akan pernah memaafkanmu kalau kau sampai meninggalkanku," ucap Tito penuh dengan penekanan. Ia tidak ingin ditinggal oleh Ruhi. Dia mencintai Ruhi walau ia tau Ruhi tidak pernah punya perasaan apapun kepadanya selain sebagai sahabat.
Ruhi menurunkan tangan Tito kemudian menariknya agar segera memasuki ruang perkuliahan.
"Jangan pernah membenciku karena aku tidak mampu membalas cintamu. Bukan hatiku yang tidak mampu, namun ragaku yang tidak mampu menanggung beban air matamu yang akhirnya akan menetes membasahi kuburku kelak," gumam Ruhi. Ia bukannya tidak tau kalau Tito mencintai dirinya. Ia tau, bahkan sangat tau. Tito memendam perasaan sejak lama kepadanya. Salahkan ia karena ia malah memilih cinta seorang bajingan seperti Bagas. Namun, satu sisi Ruhi yang tau kalau umurnya tidak lama lagi, ia memilih mengikhlaskan cinta Tito untuk gadis lain. Meskipun tidak sekarang, mungkin suatu hari nanti akan datang seorang gadis yang bisa membuat Tito berpaling darinya.
Entah perasaan apa yang menggerayangi aliran ritme jantung Bagas. Jantungnya berdenyut sakit, ia terluka, ia marah, ia cemburu melihat kedekatan Tito dan Ruhi. Tanpa sadar, Bagas meneteskan air mata. Ia tidak pernah merasakan sensasi ini sebelumnya.
Ia mulai sadar, jika apa yang ia rasakan terhadap Ruhi itu adalah perasaan cinta. Namun egonya terlalu mendominasi sehingga perasaan itu tenggelam oleh rasa ego Bagas yang berlebihan.
Mata kuliah tata bahasa baku adalah mata kuliah yang sangat membosankan bagi Ruhi dan teman-temannya. Selain dosen yang kaku, mata kuliahnya juga sangat merepotkan. Bagaimana tidak merepotkan ? Saat ujian entah itu tengah semester atau ujian akhir semester, sang dosen meminta penjabaran yang sesingkat mungkin, tapiii jika jawabannya singkat nilainya akan dikurangi. Entah apa maunya dosen satu ini. Merepotkan sekali.
"Silakan kelompok pertama mempresentasikan hasil diskusinya," ucap dosen bernama Almira Tunggadewi, beliau sering dipanggil dengan panggilan Bu Almari. Eh Bu Almira maksudnya.
Kelompok pertama yang terdiri atas Tito, Ruhi, Aziz, Adi, Vanya dan Eka. Mereka mempresentasikan hasil diskusi mereka mengenai baku tidaknya pidato presiden RI, Joko Widodo.
Kelompok lainnya mendengarkan dengan seksama karena mereka berniat untuk men-skak kelompok ini. Kelompok yang diketuai oleh Aziz ini adalah kelompok yang berisikan mahasiswa yang paling suka memojokkan mahasiswa yang lain yang sedang presentasi. Mereka bertanya ibaratnya dari A-Z, setiap inci materi yang dipresentasikan akan ditanyakan sampai tuntas tanpa ada yang terlewat. Sampai-sampai membuat orang yang presentasi mati kutu di muka kelas. Bukannya mereka jahat, tapi itulah mahasiswa. Semakin sering bertanya, semakin banyak nilai A yang mereka kumpulkan.
Presentasi selesai. Mahasiswa lain sudah menyeringai usil kepada Aziz dkk.
__ADS_1
Dan benar saja. Serentetan pertanyaan mulai mengalir dan membuat Vanya yang mencatat pertanyaan menjadi kewalahan. Serentetan pertanyaan dibarengi saling sanggah antara Aziz beserta kelompoknya dan si penanya.
Perdebatan seru terjadi saat Aziz dan Habib saling menyanggah pernyataan. Mereka sama-sama ngotot kalau apa yang mereka yakini itu benar.
Bu Almira tersenyum sembari membatin, 'Katanya mata kuliah yang menyebalkan. Lha kok semangat banget debatnya. Mana debatnya kalimat sepele lagi,'.
Ya, Habib dan Aziz berdebat mengenai lebih baku mana antara Nafas dan Napas. Astaga demi tuhan !! Tentu napas lah. Gitu aja di ributkan. --nafas Thor. Bukan napas,--.
Mari kita buktikan lewat KBBI.

Yak!! Jelas sekarang kalau author dan Aziz lah yang benar. *Prokprokprok.
Debat diakhiri dengan nilai sempurna untuk kelompok Aziz. Semua pertanyaan terjawab dengan sempurna, meskipun dalam penggarapan makalah mereka terdapat sedikit typo dan beberapa kesalahan tata letak.
"Baiklah. Terimakasih kelompoknya mas Aziz dan kawan-kawan. Untuk pertemuan selanjutnya, giliran kelompoknya Habib ya. Habib. Siapkan kelompokmu untuk minggu depan,"
"Siap Bu,"
"Sekian mata kuliah hari ini. Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatu,"
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatu,"
"Bodo amat," ejek Aziz.
"Makan dimana ?" Tanya Adi.
"Di kantin biasanya ya. Bang Indra udah nunggu di sana sama mas Reno." Ucap Ruhi.
"Woi kampret ngapain lo deket-deket adek gue mulu ? Sono jauhan dikit," Adi menyela tempat Tito dan menciptakan jarak antara Ruhi dan Tito. Dasar kakak sepupu yang tidak peka.
Mereka berenam berjalan beriringan menuju kantin kampus.
#
Terlihat Indra sudah menghabiskan dua gelas es teh dan sepiring nasi goreng. Disampingnya ada Reno, salah satu sahabat Indra yang paling menyebalkan sekaligus orang gila yang sering membuat Indra darah tinggi.
Mereka tengah sibuk dengan ponsel mereka, mungkin sedang mabar (main bareng) game yang tengah booming saat ini. Kalo gak Mobile Legend ya Chicken Dinner atau apalah itu namanya --masa iya mabar POU Thor--.
"Abang !!" Seru Ruhi sembari bergelayut manja pada Indra. Indra mencium pipi Ruhi tanpa mengalihkan fokusnya dari layar ponsel yang menunjukkan kalau dia hampir menang.
__ADS_1
"Udah makan belum ? Kalo belum, pesen dulu sana sama mbak Jubaedah. Ntar abang yang bayar,"
"Beneran ?!" Pekik Aziz dkk girang --salah fokus mereka--.
"Bukan kalian dasar biji ketapang !!" Sanggah Indra.
"Woi Ndra !! Kenapa afk sih !! Heh tai kebo !! Anjir !! Kalah kita woi !!" Reno ribut sendiri dengan game yang ia mainkan bersama Indra.
"Kan... Kalah..." Desah Reno menatap Indra sebal. Sedangkan Indra menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Indra menatap Aziz dkk yang berbaris rapi di pantri kantin, "Habis dah duit bulanan gue. Dasar sepupu keparat !!" Geram Indra.
Beberapa saat kemudian.
Aziz dan yang lain datang sembari membawa nampan yang penuh dengan makanan pesanan mereka.
"Bismillahirrahmanirrahim," Aziz dan yang menunduk membaca doa. "Itadakimasu," --mohon koreksinya-- seru Aziz dkk.
"Aakkkk"
Ruhi menyuapkan sesendok cumi pedas beserta nasi ke mulut Indra.
"Enak ?"
Indra mengangguk sembari mengunyah makanan yang disuapkan oleh Ruhi.
"Pesen sendiri," Ruhi menjulurkan lidahnya, mengejek Indra yang membrengut kesal.
"Kapan pentasnya teater langit ?" Tanya Adi.
"2 bulan lagi. Kalian nonton kan ?" Jawab Tito.
"Jelas lah. Ntar anak-anak PBSI 2A bakal gue giring biar nonton pentas tunggal kalian," sahut Aziz sembari menyendokkan es serut ke mulutnya.
"Giring ? Nggiring bebek kali ah," celetuk Eka.
"Permisi,"
Semua orang menengok ke asal suara.
"Bisa saya bicara dengan Ruhi sebentar ?"
__ADS_1
•••
TBC♥️