Luruh Tak Embuh

Luruh Tak Embuh
LTE | TUJUH BELAS


__ADS_3

"Tadi pagi, aku melihat banyak darah yang udah kering lho di deket tangga samping lobi utama kampus," ucap Eka kepada Vanya dan Aziz.


"Darah?"


"He'eh. Gak cuma di lobi. Dibeberapa titik di sepanjang lorong yang menuju lobi pun juga ada."


"Jangan-jangan!" Pekik Aziz. "Ponsel! Ponsel mana? Mana ponsel! Ponselku mana Van?"


"Mana aku tau."


"Ya Allah!" Aziz merogoh ponsel milik Adi. Adi menatap Aziz ingin protes tapi ia takut melihat kakaknya yang melotot seperti itu.


Aziz mendial nomor Tito.


"Angkat dong To!"


"Sisa pulsa anda tidak mencukupi untuk memenuhi panggilan ini. Sisa pulsa anda senilai 0 rupiah."


"Brengkes lele!" pekik Aziz dengan geram. Vanya, Eka dan Adi terkekeh melihat tingkah Aziz.


Aziz langsung mengambil ponselnya sendiri yang ada dalam tasnya.


"Nomor yang anda tuju sedang diluar jangkauan. Cobalah beberapa saat-"


"Bodo amat!" Aziz mondar mandir dengan panik sembari terus mencoba menghubungi Tito.


Setelah panggilan kelima dan nomor Tito tak kunjung aktif, Aziz meraih tas lalu merogoh kunci motornya. Ia langsung ngacir pergi ke parkiran untuk mengambil kuda besinya.


"Kenapa sih sama di Aziz?" Bisik Eka.


"Tau, belum sarapan kali," ucap Vanya asal.


"Eh, abis ini kan ada mata kuliahnya Bu Almari. Eh Bu Almira maksudnya. Kok si ajijah main ngacir seenak udel dia?" Tanya Eka.


"Kenapa perasaanku tidak enak ya?" Gumam Adi.


"Woi Adi!" seru Vanya dan Eka bersamaan.


"Apa?"


"Ditanyain malah diem aja."


"Aku juga gak tau."


#


Sudah setengah jam Ali termenung menatap berkas hasil pemeriksaan medis Ruhi. Matanya sembab karena selama setengah jam itu pula Ali menangis tanpa suara.


"Bagaimana Al?" Tanya Rajendra dengan napas yang memburu. Sejak ia tau kalau Ruhi masuk rumah sakit lagi, Rajendra langsung bergegas ke rumah sakit Mitra Husada. Untungnya jarak antara bandara dan rumah sakit tidak begitu jauh. Hanya seperempat jam waktu yang dibutuhkan Rajendra untuk sampai di rumah sakit.


Selama beberapa hari ini Rajendra sedang ada tugas dinas keluar kota. Makanya Rajendra tidak tau menahu mengenai Ruhi yang bolak-balik masuk rumah sakit.


"Kakak?"


Ali terkejut dengan kehadiran Rajendra. Ia menyeka air matanya dan merapikan berkas hasil pemeriksaan medis Ruhi yang berserakan di meja.


"Bagaimana hasilnya?" Tanya Rajendra sekali lagi.


Ali menatap Rajendra dengan tatapan yang sulit untuk diartikan. Melihat adiknya yang terus bungkam, perlahan Rajendra mengerti dengan keadaan.

__ADS_1


"Gak mungkin...." Rajendra meluruh ke lantai dengan tangan berpegangan pada kursi.


"Maaf kak. Tapi itu kenyataannya. Sel kanker sudah menyebar ke seluruh tubuh Ruhi. Satu-satunya cara adalah kemoterapi. Tapi itu tidak akan membantu apa-apa. Hanya untuk sedikit memperpanjang umur Ruhi."


"Apa maksudmu Ali!" Sentak Rajendra sembari berusaha berdiri.


Rajendra menatap Ali dengan nyalang, "Kau hanya dokter! Kau bukan tuhan! Kau hanya dokter Ali! HANYA DOKTER! ANAKKU AKAN SELAMAT! ANAKKU AKAN SEMBUH!"


Rajendra histeris, Ali terpaksa menyuntikkan obat penenang untuk Rajendra agar Rajendra tidak terkena serangan jantung lagi.


"Anakku... tidak mungkin...," Lirih Rajendra sebelum benar-benar tenang lalu tertidur pulas.


"Ada apa ini Al?"


"Bantu gue ngangkat abang gue dulu. Ntar gue jelasin."


Ali dan Saif mengangkat tubuh Rajendra yang kemudian mereka baringkan ke brangkar yang ada ruangan Ali.


"Sekarang jelaskan," tuntut Saif.


Ali memberikan berkas pemeriksaan medis Ruhi.


"Jangan sampai mereka tau kenyataan ini. Kalau tidak-"


"Kalau tidak apa om?" Potong Indra.


"Papi? Papi kenapa om?"


"Jawab pertanyaan Indra, om Saif. Kalau tidak apa?"


"Enggg, anu. Duh gimana ya."


Tito mengambil berkas pemeriksaan medis Ruhi dengan sedikit paksaan dari tangan Saif.


Saif dan Ali menunduk.


"Berkas apaan sih To?" Tanya Indra. Tito memberikan berkasnya pada Indra. Indra membaca laporan medis itu bersama dengan Rendi.


Seketika Indra seperti kehilangan pijakan. Tangannya bertumpu pada dinding.


'Kenapa selalu seperti ini pada akhirnya? Kenapa Ruhi harus menderita penyakit ini?' batin Indra dengan deraian air mata. Tubuhnya meluruh ke lantai.


"Kalian hanya dokter! Kalian bukan tuhan! Kalian-"


"Permisi dokter. Pasien atas nama Ruhi tidak ada di ruangannya."


"APA!"


Ali langsung melesat keluar menuju ruang rawat inap Ruhi. Dan benar saja, sesampainya di sana Ruhi tidak ada di pembaringan. Infusnya pun ikut hilang.


"Cepat cari Ruhi!" Perintah Ali kepada Rendi, Indra dan Tito.


"Iya om," sahut Rendi, Indra dan Tito.


#


"Ayo makan Ru. Jangan bandel." Aziz terus memaksa Ruhi untuk makan sedangkan Ruhi bersikeras untuk membungkam mulutnya.


"Ajijahh gak mau! Pait!" Tolak Ruhi.

__ADS_1


"Bisa gak panggil abang ? Aku lebih tua ketimbang kamu tau."


"Iya iya abang...," Ucap Ruhi sembari menekan kata abang.


"Makan Ru. Katanya tadi kalo udah di taman, kamu mau makan." Aziz masih terus berusaha menyuapi Ruhi.


"Itu tadi pas masih di dalem, wlee." Ruhi menjulurkan lidahnya kemudian memalingkan wajahnya karena Aziz tetap kekeuh untuk menyuapi Ruhi yang keras kepala.


"Eitss keluarga Khan tidak boleh ingkar janji. Makan atau balik ke kamar?" gertak Aziz.


"Gak mau dua-duanya," ucap Ruhi masih kekeuh dengan keras kepalanya.


"Ruhi."


Ruhi dan Aziz menoleh ke asal suara. Dibelakang mereka, Bagas berdiri sembari membawa sebuket bunga mawar putih kesukaan Ruhi.


"*Terima kasih bu Rumi." Bagas keluar dari ruang prodi PBSI setelah mendapat salam tempel dari Arumi, dosen sastra yang semester ini tidak bisa mengajar karena Arumi baru saja mengalami kecelakaan.


"Loh itu kan Aziz ? Kenapa terburu-buru ?" Gumam Bagas saat ia melihat Aziz dari kejauhan tengah berjalan terburu-buru menuju parkiran kampus. Bagas memutuskan untuk mengikutinya*.


"Mas Bagas?"


"Ngapain mas Bagas kesini?" Tanya Aziz dengan ketus.


"Abang... gak boleh gitu. Silakan duduk mas," ucap Ruhi mempersilakan Bagas duduk disampingnya.


"Ini... aku bawa bunga kesukaanmu. Masih sama kan?" Bagas memberikan bunga mawar putih itu dengan malu-malu.


"Hehe masih ingat rupanya. Makasih ya mas." Ruhi tersenyum sembari menghirup aroma bunga mawar putih pemberian Bagas.


"Udah? Ayo Ru masuk ke dalam," ajak Aziz. Aziz nampak kesal karena kedatangan Bagas.


Bagas mencegah kepergian Aziz, "Disini dulu Ziz. Aku mau bicara sama Ruhi."


"Nggak!"


"Tapi-"


"RUHI!"


Indra langsung memeluk Ruhi dengan erat.


"Ru-hi gak bisa napas bang," ucap Ruhi dengan susah payah karena pelukan Indra yang membuat Ruhi sesak.


"Ya Allah adek! Dari mana aja sih! Abang bingung nyari kamu. Ini pasti ulah Lo kan jis!"


"Hehe sorry bang. Salah sendiri Ruhi gak mau makan. Udah tau dia sakit hmmpphh-" ucapan Aziz terhenti karena mulutnya dibungkam oleh Tito.


"Kamu sakit apa Ru?"


"Bukan urusan anda." Suara Rendi terdengar sangat menyeramkan.


"Indra, bawa Ruhi masuk. Dan kamu, tetap disini," perintah Rendi kepada Indra dan Bagas. Keduanya mengangguk patuh.


Indra menatap Bagas dengan tatapan tidak suka.


"Indra! Masuk!" Sentak Rendi karena jengah melihat Indra yang terdiam sembari terus menatap bagas penuh dengan kebencian.


"Aku ingin berbicara dua mata denganmu," ucap Rendi.

__ADS_1


•••


TBC♥️


__ADS_2