
"Tapi kami tidak mengizinkan,"
"Papi ?"
_
"Ruhi mohon Pi..."
"Tidak berarti tidak Ru... Jangan memaksakan kehendakmu sendiri... Karena itu demi kesehatanmu Ru,"
"Baiklah kalau papi dan semuanya menolak permintaan terakhir Ruhi..." Diam-diam Ruhi meraih pisau yang ada di nakas sebelah brangkarnya. "Ruhi akan mempercepat kematian Ruhi..." Ucap Ruhi dengan tenang sembari meletakkan pisau yang dari tadi ia sembunyikan dibalik selimutnya ke perutnya.
"JANGAN RUHI !!!" Teriak Rajendra, Ali, Rendi, dan Indra.
Rendi berusaha mendekati Ruhi.
"Jangan mendekat... Ruhi akan semakin nekat... Kalian akan melihat pisau ini merobek perut Ruhi didepan mata kepala kalian..."
"B-baiklah... Kami mengizinkanmu latihan Ru..."
"Tapi Pi..."
"Biarkan dia menepati janjinya kepada Danu..."
"Makasih Pi,"
"Iya... Tapi letakkan dulu pisau itu..."
Ruhi meletakkan pisau itu kembali ke tempatnya.
#
Keesokannya,
"RUHI !!!!" Seru semua orang di ruang 305 saat melihat kehadiran Ruhi yang baik-baik saja. Karena semua mahasiswa Unipdi (Universitas PGRI Diponegoro) pasti sudah mendengar kabar mengenai kegaduhan yang terjadi saat Ruhi di larikan ke rumah sakit kemarin.
Eka dan Vanya langsung memeluk Ruhi dengan erat.
"Aku gak bisa napas woi," Ruhi melepaskan diri dari pelukan Eka dan Vanya.
"Kamu tau gak ?"
"Nggak,"
"Ih dengerin dulu..."
"Apa ?"
"Kemarin saat kami denger kamu di larikan ke rumah sakit, si trio wek wek kayak kebakaran jenggot... Langsung ngacir aja... Padahal kemarin pas jam matkulnya Bu Ivone..."
"Beneran ? Trus ?"
"Dan luar biasanya lagi, Bu Ivone gak menghukum mereka... Luar biasa kan ?"
"Luar biasa apanya ?! Itu karena Bu Ivone tau kalau Adi dan Aziz adalah keponakan rektor, sedangkan Tito itu anak dari Saif Vilanova penyumbang terbesar di yayasan... Terlebih lagi Ruhi itu anaknya pak rektor sekaligus pemilik yayasan... Jadi jelaslah Bu Ivone gak menghukum mereka..." Sahut Puspita.
"Maksud kamu apa ?!" Ucap Vanya tidak terima dengan nada bicara Puspita yang selalu menyudutkan Ruhi.
"Yaudah sih biasa aja... Toh itu kenyataan kan ?"
"Itu mulut ya..." Vanya mengangkat tangan kanannya berniat untuk menampar Puspita.
Ruhi menahan tangan Vanya lalu meminta sahabatnya itu untuk duduk.
"Udah... Gausah emosi..."
__ADS_1
"Tapi Ru..."
"Vanya..."
"Iya Ruhi...."
"Hallo epribodiehhhhh...." Teriak Aziz sembari mengambil tempat duduk di antara Vanya dan Ruhi.
"Waalaikumsalam," ucap Ruhi, Vanya dan Eka. Aziz hanya tersenyum kuda sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Adi dan Tito masuk lalu berebut mengambil tempat duduk di samping Ruhi.
"Kalian ngapain sih ?!"
"Ini bagianku,"
"Aku,"
"Aku,"
"A-"
"BERHENTI !!" Suara Bagas mengentikan aksi berebut kursi antara Tito dan Adi. "Seperti anak kecil !! Adi duduk di sampingnya Ruhi dan Tito cari tempat sendiri..."
"Ya kak,"
Adi duduk manis didekat Ruhi. Sedangkan Tito duduk dibelakang Ruhi dengan wajah ditekuk.
Terlihat Puspita berdecih. Ia benci karena semua lelaki yang ia sukai malah dekat dengan Ruhi semua. Dasar wanita.
"Seperti yang saya minta minggu kemarin, hari ini kita akan membahas mengenai karya sastra yang melegenda. Seperti Mahabharata dan Ramayana. Sudah membaca salah satunya ?"
"Sudah kak..."
"Sedikit," celetuk Adi, Tito dan Ruhi.
"Lupa kak," ucap Adi dan Tito cuek.
"Dasar kalian ini..." Bagas menghela napasnya, "Ada yang bisa menjelaskannya ?"
"Saya mas..." Ruhi mengangkat tangan kanannya.
"Mahabharata atau Ramayana ?"
"Mahabharata saja mas,"
"Silakan,"
"Mahabharata adalah kisah kepahlawanan yang menceritakan tentang perebutan kekuasaan antara Pandawa dan Kurawa. Pandawa adalah anak-anak pandu Dewanata sedangkan Kurawa adalah seratus bersaudara putra Drestrarastra,"
"Ada lagi ?"
"Belum kak,"
"Baiklah... Sekarang saya minta, kalian baca dan simpulkan sendiri, siapa tokoh yang kalian anggap sebagai tokoh utama dan berikan alasan kenapa kalian memilih tokoh itu..."
Tito sengaja menggoda Ruhi dengan memainkan rambut Ruhi yang di kuncir kuda. Ruhi berdecak sebal.
"Ih Tito geli tau," bisik Ruhi.
"Biarin... Salah sendiri pamer," bisik Tito.
Ruhi mengernyitkan keningnya, "Pamer apaan coba ?"
Tito mencondongkan tubuhnya ke depan mendekati Ruhi. Ia meletakkan dagunya di pundak kiri Ruhi.
__ADS_1
"Jangan kuncir rambutmu Ru..." Bisik Tito sembari melepaskan ikatan rambut Ruhi.
Bagas masih bisa melihat kegiatan Ruhi dan Tito yang 'bermesraan' di jam kuliahnya. Ia merasa jantungnya berdenyut sakit. Setelah bersabar untuk kesekian menit, akhirnya Bagas tidak tahan.
"TITO !! RUHI !!" Bentak Bagas seraya membanting bukunya ke meja hingga menimbulkan suara yang membuat semua mahasiswa terhenyak.
"Kemari..." Perintah Bagas.
Plak!!!
Bagas menampar Tito hingga sudut bibir pemuda itu robek dan mengeluarkan darah. Semua mahasiswa tidak percaya dengan perilaku Bagas yang diluar kendali.
"TITO !!" Seru Ruhi yang langsung menghampiri Tito yang terduduk di lantai.
Bagas sendiri syok setelah menampar Tito. Ia bisa lepas kendali setelah melihat kedekatan Tito dengan Ruhi, wanitanya. Tunggu dulu, sejak kapan Ruhi jadi wanitanya Bagas ?.
"Kamu gak papa To ?"
"Gak papa,"
"Mas tau ? Mas itu keterlaluan !! Dan seperti inikah sikap dari seorang pendidik ?! Mengecewakan !!" Hardik Ruhi kepada Bagas.
"Aku tidak bermaksud..." Ucap Bagas berusaha membantu Tito berdiri namun tangannya ditangkis oleh Ruhi.
"Ayo," Ruhi membantu Tito berdiri lalu menuntunnya keluar kelas menuju klinik kesehatan yang berada di samping camp HMPS (Himpunan Mahasiswa Program Studi) Sejarah.
Adi berdiri lalu menyusul Ruhi dan Tito. Tak beberapa lama kemudian Aziz juga beranjak.
"Memang Tito salah, tapi bukan berarti anda berhak menamparnya," Aziz keluar dari kelas menyusul Adi, Ruhi, dan Tito ke klinik kesehatan.
#
"Aku gak habis pikir ya... Bisa bisanya mas Bagas menampar Tito... Iya Tito salah... Tapi apa ya harus menamparnya ?!! Lihat sampai berdarah begini," sungut Ruhi sembari mengobati luka Tito. Tito tersenyum mendengar ocehan Ruhi ini. Ia sangat merindukan omelan Ruhi setelah beberapa hari tidak terdengar.
"Assalamualaikum,"
Semuanya menengok kearah ambang pintu.
"Waalaikumsalam,"
"Bang Indra ?"
"Sayangnya abang !!! Sini sini sini abang cium..." Indra menghampiri Ruhi lalu mencium pipi Ruhi dengan gemas.
"Jehhh mentang mentang abang main nyosor aja..." Dengus Tito.
"Utu utu utu... Calon adek ipar gue cemburu..."
"Dihh dasar pedofil,"
Indra malah tertawa. Seketika tawanya lenyap saat melihat luka disudut bibir Tito.
"Ini kenapa ?" Tanya Indra sembari jahil dengan menekan luka Tito.
"Ishh kurang ajar banget sih !! Sakit tau..."
"Ini kenapa woi,"
"Kelakuannya Bagas... Dia yang nampar Tito... Gara-gara dia melihat Tito yang terus gangguin Ruhi... Kayaknya dia cemburu..." Jelas Aziz sembari sibuk bermain game online di ponselnya.
"Bisa nggak, gausah bahas orang itu lagi ? Muak tau gak !!" Sungut Ruhi sembari mengobati luka Tito yang kembali berdarah karena ditekan oleh abangnya barusan.
"Gue harus bikin perhitungan,"
•••
__ADS_1
TBC❤️