
"Aku jahat ya To?" Ucap Ruhi tiba-tiba.
Matanya terus menatap Danu dan yang lain yang tengah sibuk dengan latihan pendalaman karakter tokoh. Tito dan Ruhi sudah mendapat giliran pertama jadilah kini mereka duduk di bawah pohon rindang sembari melepas sedikit penat karena latihan sejak pagi.
"Nggak Ru. Kamu orang baik," sahut Tito.
"Aku jahat To. Jelas-jelas kamu itu mencintaiku dan aku malah mencintai orang lain." Ruhi tersenyum miring, "Bodoh," desisnya.
Tito mengalihkan pandangannya kepada Ruhi. Ia menatap Ruhi dengan lekat. Nampak wajah Ruhi saat ini semakin tirus dan pucat.
"Ru, kamu udah minum obat belum?" Tanya Tito dengan cemas. "Wajahmu pucat banget Ru," lanjutnya.
"Jangan khawatirkan aku Tito. Khawatirkan hatimu. Kenapa kau masih mencintaiku sedangkan aku terlalu dalam menyakitimu? Jangan menjadi bodoh karena terus mencintaiku Tito."
"Kamu ngomong apaan sih Ru? Kamu sakit? Ayo izin ke mas Danu. Jangan memaksakan diri."
"Maaf karena aku tidak pernah membalas cintamu. Maafkan aku Tito," lirih Ruhi masih terdengar oleh telinga Tito. Air mata Ruhi sudah menetes.
"Jangan nangis Ruhi," ujar Tito sembari mengusap air mata Ruhi.
"Aku tidak perlu balasanmu. Aku mencintaimu karena hati, bukan karena meminta balasan. So, jangan menangis karena merasa bersalah," ucap Tito sembari menyematkan rambut Ruhi ke belakang telinganya.
"Tito."
"Hmm."
"Kalau aku udah gak ada nanti tolong carilah gadis yang juga mencintaimu ya."
Rahang Tito mengeras mendengar Ruhi berbicara mengenai kematian. Ia benci kalau harus membahas itu. Ruhi akan sembuh, itu yang Tito tanamkan dalam hatinya. Walaupun otaknya berkata lain.
Tito menatap kearah lain. Merasa salah bicara, Ruhi meraih dagu Tito lalu menolehkan kepala Tito ke arahnya. Keduanya saling tatap.
"Maaf."
"Jangan katakan hal mengerikan itu Ruhi. Aku membencinya," ucap Tito dengan datar.
"Tapi bagaimana jika-"
Ucapan Ruhi terhenti karena Tito sudah menarik Ruhi ke dalam pelukannya.
"I said no!" Tukas Tito sembari melepaskan pelukannya.
Ruhi menatap mata Tito dengan lekat.
"Apa?" Sungut Tito. Sepertinya ia masih kesal dengan ucapan Ruhi barusan.
"Matamu indah To."
Biasanya lelaki yang akan mengatakan itu kepada perempuan. Tapi ini, malah kebalikannya. Wajah Tito langsung memerah.
__ADS_1
"Hoi kalian berdua!" Seru Indra.
"Apaan!" Sahut Tito.
Indra menghampiri keduanya lalu duduk diantara Tito dan Ruhi.
"Enak ya mesra-mesraan mulu."
Indra menatap Tito dengan sengit. Tito yang merasa mendapatkan tatapan intimidasi dari Indra, langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Hiu! Ke kantin yok!" Seru Nada.
Ruhi bangkit dari duduknya, "Ayok!" Sahut Ruhi kemudian berlari menyusul Nada.
"Lo di sini aja sama gue," cegah Indra pada Tito yang berusaha mengekori Ruhi.
"Ngapain mas?"
"Diem aja kenapa sih," Sungut Indra. Tito memutar bola matanya kemudian berdecak kesal.
Karena kantin GOR FIKS tutup, mereka memilih untuk pergi ke warung yang berada di seberang jalan.
Di warung suka-suka.
"Kamu pesan apa Ru?" Tanya Caca.
"Aku mie goreng cup aja Ca. Lagi males makan nasi," sahut Ruhi.
"Sama kayak Ruhi tapi yang instan soto ya."
"Oke."
"Ca!" Panggil Ruhi.
"Apa? Mau nambah pesenan?" Tanya Caca.
"Aku pinjem hape kamu ya. Mau minta foto kita bertiga yang tadi pagi."
"Oke!"
Caca memesan pesanannya dan kedua sahabatnya. Nada sibuk dengan panggilan alam mendadak. Jadilah Ruhi duduk sendiri di bangku yang disediakan oleh pihak warung.
Ruhi membuka sandi ponsel Caca dengan mudahnya. Ia langsung menekan lambang pemandangan alias galeri ponsel Caca.
Sesuai dugaan, di ponsel Caca kebanyakan foto Caca dan Riko. Folder selanjutnya berisi foto mereka berlima, Ruhi, Tito, Caca, Riko dan Nada. Dan ada folder khusus lagi yang berisi foto gila Ruhi, Caca dan Nada. Ada juga folder keluarga besar Milan. Dan saat Ruhi menemukan apa yang dicarinya, perhatiannya malah terfokus pada satu folder.
Ruhi menukikkan alis kanannya, "File bukti untuk Ruhi? File apa ini?" Gumam Ruhi bertanya pada dirinya sendiri. Ia menekan folder tersebut dan terpampanglah puluhan foto mesra Bagas dan Maura. Melihat itu, jantung Ruhi serasa diremas sampai darah yang mengalir di dalamnya menjadi kering. Tangan Ruhi gemetar dan hampir saja menjatuhkan ponsel milik Caca. Ruhi menarik napas dalam-dalam kemudian menghembuskannya perlahan. Ia berusaha menetralkan ritme jantungnya yang berdetak tidak karuan.
Bagas nampak sangat mencintai Maura. Terbukti pada foto yang ia lihat saat ini.
__ADS_1
"Hei tapi tunggu dulu. Kenapa Caca menyimpan foto mas Bagas?" Gumam Ruhi bertanya-tanya, lagi.
Ia terus menggulirkan layar dan menampilkan foto Bagas dan Maura yang semakin mesra. Ruhi mengecek tanggal foto itu.
"Ini foto beberapa hari lalu. J-jadi selama ini mereka masih pacaran dan apa maksud mas Bagas mendekati aku lagi? Apa maksud semua ini?" Ruhi tambah penasaran. Ia melihat sebuah video. Tanpa pikir panjang lagi, Ruhi menekan tombol play di video tersebut.
"*Sialan! Gara-gara Ruhi, gue dihajar sama Indra!"
"Salah sendiri! Udah tau Indra bukan tandingan lo, masih aja kebanyakan gaya!" Omel Maura.
"Berisik lo Ra! Kalo bukan mas Danu gua mah ogah melakukan ini semua," sungut Bagas.
"Jangan bilang lo deketin Ruhi lagi bukan karena emang lo sadar sama perasaan lo, tapi karena diminta sama mas Danu!"
"Exactly."
"Keterlaluan lo Gas! Ruhi itu mencintaimu setulus hati Gas! Kenapa lo tega banget sih!"
"Gak usah munafik deh Ra! Gue tau kok kalau lo itu benci sama Ruhi. Tenang aja, gue cuma cinta sama lo Maura."
"Ya gak begini juga caranya Gas!"
"Lo tinggal diem aja kenapa sih! Terima jadi gitu aja repot. Gue udah bilang kan ? Gue melakukan semuanya gara-gara disuruh mas Danu. Gue juga ogah sama bocah penyakitan kek Ruhi! Gak sudi banget!"
"Tapi Gas. Gue juga cewek gas. Gue tau gimana rasanya diposisi Ruhi. Gue mohon hentikan Gas, hentikan!"
Bagas langsung saja memeluk Maura lalu mengecup kening Maura.
"Diem dan nurut*!"
Video selesai diputar. Perlahan air mata Ruhi luruh membasahi kedua pipinya. Dengan perlahan Ruhi meletakkan ponsel Caca. Ia mengusap air matanya lalu memutar tubuhnya kemudian beranjak pergi dari kantin.
"Loh Ru? Mau kemana? Woi! Hiu!" Seru Caca memanggil Ruhi. Ruhi yang dipanggil hanya terus berjalan tanpa arah.
Caca meletakkan nampan berisi pesanannya, Ruhi dan Nada di atas meja kemudian mengejar Ruhi karena merasa ada yang tidak beres, "Ruhi! Ruhi!" Serunya.
"Hoi Caca! Mau kemana!" Seru Nada yang baru saja selesai melakukan perhitungan dengan alam.
"Ngejar Ruhi! Ayo Nad!" Seru Caca.
Ruhi berjalan, kemudian berjalan cepat lalu berlari ke arah jalan raya. Ia berniat kembali ke GOR FIKS untuk mengajak Indra pulang. Saat menyebrang jalan, Ruhi tak menengok kanan kiri karena pikirannya penuh dengan video yang barusan ia tonton. Konspirasi besar Bagas dan Maura. Ruhi tidak menyalahkan Danu ataupun Bagas tapi ia menyalahkan dirinya sendiri karena sudah terlalu bodoh untuk mengerti mana ketulusan dan mana kemodusan.
Dari arah kanan, sebuah mobil berplat merah melaju sedikit kencang dan bersiap-siap menabrak tubuh Ruhi.
"RUHI AWAS!" Teriak Caca dan Nada yang berada di pinggir jalan dan ingin menyeberang.
TIIIINNNNN!
•••
__ADS_1
TBC♥️