Luruh Tak Embuh

Luruh Tak Embuh
LTE | EMPAT PULUH DELAPAN


__ADS_3

Bagas duduk di samping gundukan tanah merah yang masih basah dengan nisan yang bertuliskan nama Ruhi Rajendra Hayyat Khan binti Rajendra Hayyat Khan.


Makam gadis yang selalu ia sakiti. Ia terus menangis ketika teringat dengan Ruhi. Tangannya terulur lalu mengusap nisan Ruhi.


"Ru, demi Allah, aku sangat mencintaimu. Aku baru sadar ketika kau pergi dariku dan memilih untuk bersama dengan Tito. Kebersamaanmu dengan Tito membakar hatiku. Kau tersenyum bukan untukku, aku terbakar api cemburu. Aku sangat mencintaimu Ruhi. Maafkan aku yang selalu menyakitimu. Bahkan aku memilih untuk dihabisi oleh Indra dan ikut bersama denganmu di tempat kau berada sekarang."


Air mata Bagas terus mengalir. Ia ingin mencurahkan semua perasaannya kepada Ruhi.


"Kenapa ending dari kisah kita sama dengan ending dari kisah pentas tunggal kita kemarin? Aku juga akan melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan oleh Dian. Aku ingin ikut denganmu Ruhi."


Bagas mengeluarkan pisau dari balik jaketnya. Ia mengarahkan ujung pisau itu ke dadanya dan sebentar lagi pisau itu akan bersarang tepat di jantung Bagas.


*Satu....


Dua....


Tiga*....


Seorang pemuda menahan tangan Bagas lantas merebut pisau yang dipegang Bagas kemudian membuangnya.


"Apa kau gila?"


Bagas mendongak dan melihat siapa yang mencegahnya untuk bersama dengan Ruhi. Pemuda itu tersenyum. Tentu saja Bagas tidak mengenal dirinya. Tapi dia sangat mengenal Bagas.


"Namaku Alfa. Alfarin Manish Kurana," ucapnya.


"Bagas, Bagas Swogantara. Siapa kau?" Tanyanya sembari menyambut uluran tangan Alfa.


"Disini bukan tempat yang tepat untuk berbicara. Ayo kita cari tempat lain."


Keduanya beranjak dari makam Ruhi lantas pergi ke salah satu cafe.


"Sekarang, ceritakan siapa dirimu."


"Aku Alfa, sepupu mbak Ruhi. Aku anak dari Faris Aditama Kurana dan keponakan paman Rajendra. Dia suami dari mendiang bibiku, Frida Lidwina Kurana," jelas Alfa.

__ADS_1


"Tidak semua penyesalan berakhir dengan kematian. Usiaku terpaut beberapa tahun di bawahmu. Tapi aku menasehatimu mengenai kehidupan." Alfa terkekeh, "Jangan sia-siakan hidupmu untuk menyesali semua yang sudah terjadi. Memang penyesalan datang di akhir. Kau masih hidup, dan mohon pengampunan lah atas segala dosa-dosamu kepada Allah SWT," lanut lagi Alfa menutup obrolannya dengan Bagas lantas pergi meninggalkan Bagas sendirian di cafe sebelum pesanan mereka datang.


***


"*Abang!!!!!!!!!"


Indra berlari menghindari Ruhi yang masih gencar melemparinya dengan balon-balon berisi air.


"Abang jangan lari!" Seru Ruhi sembari melemparkan balon air dan malah mengenai Rendi yang sudah siap dengan seragam TNI-nya.


"Ups!"


"Bwahahaha sukurin!" Ledek Indra.


"Adekkk...." Rendi nampak geram. Ia berlari mengejar Ruhi yang sudah lebih dulu ngacir. Ruhi bersembunyi dibalik punggung Rajendra, meminta perlindungan dari serangan Rendi. Rajendra bertolak pinggang. Rendi berhenti dan tersenyum kuda kepada Rajendra.


Rajendra memberi isyarat dengan tangannya yang berarti ada apa kepada Rendi.


"Liat nih Pi! Seragamku basah gara-gara adek ngelempar bola air ke baju Rendi," adu Rendi.


"Eh Ruhi gak sengaja abang. Bang Indra noh!" Ucap Ruhi membela diri.


"Sudah, sudah. Kalian ini gak ada akur-akurnya," ujar Rajendra sembari menjewer telinga Indra dan Ruhi. Lantas keempat orang itu berpelukan dengan penuh cinta*.


Indra kembali menangis. Saat ini ia berada di kamar Ruhi dengan sebuah baju kesayangan Ruhi, pjamas bergambar Naruto. Ia memeluk baju itu yang masih meninggalkan aroma tubuh Ruhi yang saat ini sangat ia rindukan.


"*Abang!" Seru Ruhi sembari bergelayut manja pada Indra. Indra mencium pipi Ruhi tanpa mengalihkan fokusnya dari layar ponsel yang menunjukkan kalau dia hampir menang.


"Udah makan belum? Kalo belum, pesen dulu sana sama mbak Jubaedah. Ntar abang yang bayar."


"Beneran?" Pekik Aziz dkk girang --salah fokus mereka--.


"Bukan kalian dasar biji ketapang!" Sanggah Indra.


"Woi Ndra! Kenapa afk sih! Heh *** kebo! *****! Kalah kita woi!" Reno ribut sendiri dengan game yang ia mainkan bersama Indra.

__ADS_1


"Kan... Kalah..." Desah Reno menatap Indra sebal. Sedangkan Indra menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Indra menatap Aziz dkk yang berbaris rapi di pantri kantin, "Habis dah duit bulanan gue. Dasar sepupu keparat!" Geram Indra.


Beberapa saat kemudian.


Aziz dan yang lain datang sembari membawa nampan yang penuh dengan makanan pesanan mereka.


"Bismillahirrahmanirrahim," Aziz dan yang menunduk membaca doa. "Itadakimasu," seru Aziz dkk.


"Aakkkk!"


Ruhi menyuapkan sesendok cumi pedas beserta nasi ke mulut Indra.


"Enak?"


Indra mengangguk sembari mengunyah makanan yang disuapkan oleh Ruhi.


"Pesen sendiri," Ruhi menjulurkan lidahnya, mengejek Indra yang membrengut kesal*.


Indra terkekeh mengingat betapa manjanya Ruhi kepadanya. Ruhi sangat usil dan menggemaskan. Hingga membuat dia ingin terus melindungi adik cantiknya itu.


Ponselnya berdering dan menampilkan nama Reno. Indra lantas menjawab panggilan Reno.


"Halo?"


"Aku sudah tau keberadaan pelakunya."


"Temui aku di tempat biasanya."


"Siap tuan muda."


"Reno!"


"Tetaplah menjadi sahabatku Ndra," ujar Reno lalu mematikan sambungan telepon dengan Indra.

__ADS_1


•••


TBC♥️


__ADS_2