
"Permisi,"
Semua orang menengok ke asal suara.
"Bisa saya bicara dengan Ruhi sebentar?"
Bagas menelan salivanya kuat-kuat melihat tatapan tak bersahabat dari orang-orang di depannya ini. Apalagi tatapan mata Indra yang serasa ingin mencabik-cabiknya. Sorot mata Indra memancarkan kebencian yang luar biasa kepada Bagas.
Indra berdiri, pasang badan untuk menghalangi Bagas yang sepertinya ingin bicara dengan Ruhi.
"Selangkah lagi lo deketin adek gue, gue patahin kaki lo."
"Silakan lakukan apa saja yang lo mau, tapi izinkan gue bicara dengan Ruhi sebentar saja."
"Lo-"
"Abang." Indra menatap Ruhi. Ruhi mengisyaratkan bahwa ia akan baik-baik saja.
"Lima menit."
"Abang."
"Lima menit atau tidak sama sekali Ru," peringat Indra.
"Iya bang iya."
Indra mundur, ia berusaha percaya kepada Ruhi tapi tetap, ia memandang Bagas sangat tidak bersahabat. Ruhi berdiri lalu mengajak Bagas duduk di bangku yang berbeda dengan kakak dan teman-temannya.
"Aku tau, kesalahanku memang tidak bisa dimaafkan. Tapi Ru, aku ingin memperbaiki semuanya. Apa kamu mau memaafkanku?"
"Tanpa mas Bagas minta, aku sudah memaafkan mas Bagas. Toh, perasaan cinta bukanlah hal yang penting untukku saat ini. Aku hanya fokus dengan pe-" astagfirullah, hampir saja aku keceplosan, lanjut Ruhi dalam hati.
Alis Bagas terangkat sebelah, "Fokus dengan apa Ru ?"
"D-dengan pentas tunggal. Ah, ya pentas tunggal,"
Kening Bagas semakin berkerut, menatap Ruhi dengan tatapan curiga.
"Waktu bicara habis. Ayo," Indra menarik Ruhi dengan posesif untuk kembali ke bangku yang sama dengannya dan yang lainnya. Ruhi diam-diam menghela napas lega. Hampir saja dia keceplosan mengenai penyakitnya kepada Bagas.
#
Malam harinya,
Danu menatap seluruh anak didiknya dengan tatapan kecewa. Meskipun pentas tunggal masih lama, kurang lebih sekitar 2 minggu lagi, tetap saja !! Danu mengambil jalan cerita yang diselingi beberapa tarian di dalamnya.
Arina dan seluruh anggota teater langit yang hadir tertunduk. Mereka juga merasa kecewa pada diri mereka sendiri. Padahal latihan sudah berlangsung kurang lebih tiga minggu tapi tetap belum nampak hasilnya.
"Kalau kalian tidak berniat untuk pentas, bilang. Jangan seperti ini. Jujur, saya kecewa dengan kalian. Ini sudah minggu ketiga di bulan pertama latihan dan belum ada hasil apa-apa. Kalian bahkan belum hafal naskahnya. Sudah. Hari ini tidak ada latihan. Kalian pulang lalu pelajari naskah ini sekali lagi. Wassalamu'alaikum,"
Danu pergi dengan kekecewaan di dalam hatinya. Arina dan yang lain masih duduk ditempat menatap punggung Danu yang kian menjauh lalu hilang di persimpangan koridor.
"Bagaimana ini mbak ? Mas Danu kecewa sama kita," nada tertunduk lesu sembari menahan tangisnya.
"Udah ih jangan nangis. Kita masih bisa perbaiki semuanya. Ini belum terlambat,"
"Kendala kita ada di tari dan chemistry Rin. Gimana caranya kita bisa menutupi kesalahan itu ?"
"Kenapa kita gak jalan bareng aja ? Semakin sering kita bertemu kan semakin erat kemistri kita,"
"Bener juga omonganmu Ru. Gimana kalo besok kita jalan-jalan bareng ? Mumpung aku jam kosong," ucap Dika.
"Eh onyet !! Besok mah semuanya matkul nya kosong semua."
"Ya udah sih mbak Re, gausah ngegas,"
"Jadi besok jam berapa ?"
"Jam 9,"
#
__ADS_1
Keesokannya,
Gadis cantik itu sedang mematutkan dirinya di depan cermin meja riasnya.
Riasan yang kalem dengan dress berwarna baby pink di atas paha serta lambatnya yang ia gerai.
"Udah cantik,"
Ruhi menoleh kearah pintu. Dia ambang pintu kamarnya menampakkan Indra yang tersenyum kepadanya sembari memasukkan tangannya ke saku celana yang ia pakai. Indra berjalan menghampiri Ruhi.
"Ih abang mah... Malu tau,"
"Kenapa malu coba ? Kan adek abang emang cantik,"
"Makasih abang," Ruhi memeluk Indra. Indra membalas pelukan Ruhi.
Beberapa saat kemudian, Indra merasakan punggung Ruhi bergetar. Ruhi menangis. Indra melepas pelukannya namun ditahan oleh Ruhi.
"Ruhi mohon biarkan seperti ini dulu bang. Pelukan ini bakal Ruhi ingat selamanya,"
"Emangnya Ruhi mau kemana ? Ruhi bakal tetep di samping abang, ayah dan bang Rendi selamanya."
"Tapi umur Ruhi tinggal 3 bulan lagi bang,"
"Sstt... Umur, rejeki dan jodoh hanya Allah yang tau. Kita sebagai manusia tidak pantas untuk berucap seolah-olah kita tau semuanya."
"Ruhi sayang abang," Ruhi kembali memeluk Indra.
"Abang juga sayang Ruhi," Indra merengkuh tubuh adiknya. Diam-diam, ia meneteskan air matanya. Indra meyakinkan Ruhi kalau semuanya akan baik-baik saja tapi dia sendiri menangis karena ragu akan ucapannya. Ia terlalu mencintai adiknya ini. Indra mampu berubah menjadi sosok yang kejam jika ada yang berani melukai adiknya entah itu fisik atau perasaan, ia akan membalas sang pelaku berkali-kali lipat.
"Udah ih, makeup Ruhi luntur ntar,"
"Penting masih cantik akunya," ucap Ruhi percaya diri. Setelah mencium pipi Indra, Ruhi pamit karena sudah ditunggu oleh Tito.
Di ruang TV.
"Papi,"
"Cantiknya... Anak siapa sih," ucap Rajendra dengan gemas sembari mencubit kedua pipi Ruhi dengan gemas juga.
"Sama siapa dari sini ?"
"Sama Tito om," Tito masuk lalu menghampiri Rajendra kemudian mencium tangan Rajendra. Maklum, perjuangan memenangkan hati calon mertua. --Sembarangan lo Thor,-- --Emang iya kan ?--.
"Oh Tito toh. Jagain anak om ya To,"
"Pasti dong om,"
"Kita berangkat dulu ya Pi. Assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam,"
#
Hampir setengah jam Tito dan Ruhi menunggu di cafe tempat mereka janjian dengan anggota teater langit yang lain.
Salahkan Tito yang sudah menjemput Ruhi jam 7 pagi. Jadinya, mereka berjalan-jalan ke salah satu mall terdekat terlebih dahulu. Setelah satu setengah jam berkeliling, Ruhi meminta Tito untuk ke cafe tempat janjian karena kakinya cukup pegal setelah berjalan-jalan di mall.
"Pesen dulu apa nungguin yang lain ?"
"Nungguin yang lain aja. Tadi udah kamu beliin minuman. Bisa-bisa kembung perutku,"
Tito diam-diam mengambil foto Ruhi saat Ruhi berdiri untuk mengambil buku menu di meja sebelah. Ruhi tau kalau Tito usilnya sudah dalam tingkat akut, makanya dia sekalian berpose.
"Dih PD amat kamu."
"Emang bener kan kalo kamu motoin aku."
"Emang sih," Tito menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Upload ke Instagram ya Ru ?"
"Emang kalo aku bilang enggak kamu bakal nurut?"
__ADS_1
"Gadis pintar."
"Dih caption-nya kenapa gak jelas gini sih To?" Ruhi merebut ponsel milik Tito lalu duduk di samping Tito setelah mendapatkan ponsel pemuda disampingnya itu.
"Suka-suka abang ganteng dong," Tito merebut kembali ponselnya lalu menjulurkan lidahnya mengejek Ruhi.
"Ih rese," Ruhi mencebikkan bibirnya. Tito langsung menarik hidung Ruhi dengan gemas.
"Gemesin banget sih,"
"Sakit Tito,"
"Mau yang gak sakit ?"
"Apaan ?"
Tito melambaikan tangannya, mengisyaratkan untuk Ruhi mendekat, "Cium," bisiknya.
Pipi Ruhi merona, "Mesum!!" Pekik Ruhi sembari memukul dada bidang Tito. Tito tertawa mendapat serangan receh dari Ruhi.
"Ekhem!!"
Ruhi dan Tito terkejut karena sudah mendapati arina dan yang lain sedang asyik menonton adegan romantis mereka barusan.
"Eh udah pada dateng toh. Kirain belum,"
"Pacaran teross,"
"Romantis tapi cuma temen," sindir Caca. Ruhi dan Tito memicingkan mata mereka menatap Caca dengan tatapan nyalang.
"Apa ? Aku bener kan ?"
"Iya dah iya. Suka suka Caca,"
Bagas menatap Tito dengan tatapan tidak suka. Ia merasa ada sesuatu yang salah disini. Dan yang salah adalah egonya sendiri. Suruh siapa Bagas lebih memihak egonya ketimbang hatinya. Bagas sebenarnya mulai mencintai Ruhi tapi ya begitulah. Egonya terlalu tinggi, tingginya bahkan melebihi tinggi dari menara Burj Khalifa di Dubai.
Mereka akhirnya duduk di bangku masing-masing.
"Masa iya kita nyewa tempat buat latihan menari ? Kalo sehari dua hari mah gak papa. Lha ini ?! DUA BULAN WOI DUA BULAN !!" ucap Pras mendramatisir ucapannya.
"Kenapa gak latihan di rumahku aja ?"
Semua orang menatap Ruhi.
"Di rumah ada ruang khusus untuk latihan. Biasanya ruang itu aku gunakan untuk latihan menari sama bela diri sama bang Indra dan bang Rendi. Gimana ?"
"Hmmm, aku aku aku sih setuju. Kalian gimana ?" Ucap Riko sembari menirukan gaya bicara Anang Hermansyah tapi sedikit dilebih-lebihkan.
Semua orang berdecak.
"Aku mah setuju," ucap Rhea.
"Selapan," sahut Nada.
"Sesembilan," imbuh Caca.
"Sesepuluh," lanjut Pras.
"Malah itung itung. Serius ini woy," dengus Bagas.
"Ya udah. Kalo gitu, besok yang gak ada matkul, bisa ke rumahku jam satu siang. Soalnya besok ada matkul ya Bu Almira."
"Jadi ini fix latihan di rumahmu Ru ? Di rumah pak rektor ?"
"Kalo di rumah Ruhi, berarti di rumahnya pak rektor dong Caca sayang,"
"Iya iya bang Lico yang kampret."
"Baik. Mari kita jalan-jalan merefresh otak."
"Siap boskyuuuu!" seru semua orang yang ada di bangku nomor 10 itu.
__ADS_1
•••
TBC♥️