Luruh Tak Embuh

Luruh Tak Embuh
LTE | LIMA PULUH (Ekstra Part)


__ADS_3

Satu tahun kemudian....


Indra memberanikan diri untuk membuka barang yang menjadi 'phobia' nya sejak satu tahun yang lalu.


Ponsel Ruhi.


Ponsel keluaran Apple itu sudah lama tidak tersentuh baik oleh Indra, Rendi maupun Rajendra. Ketiga lelaki itu masih merasakan duka yang mendalam ketika melihat barang kesayangan Ruhi. Mereka merasa bahwa Ruhi belum tiada dan masih berada di suatu tempat yang suatu saat akan kembali. Tapi itu hanya angan mereka yang telah berubah obsesi.


Rajendra memutuskan untuk kembali ke India dan menetap di sana bersama Ali yang beberapa waktu lalu memutuskan untuk melepas seragamnya alias berhenti dari pekerjaannya sebagai seorang dokter. Mereka pun sampai mengganti kewarganegaraan menjadi warga negara India. Itu mereka lakukan karena tidak sanggup lagi menahan desakan emosi dalam diri mereka ketika jutaan kenangan bersama Ruhi membangkitkan rasa rindu di hati semuanya. Sebenarnya Indra pun ingin ikut tapi dia tidak bisa meninggalkan Tito sendirian.


Indra pikir dialah yang paling kehilangan Ruhi. Tapi ternyata dugaannya salah. Bahkan Indra masih lebih baik kondisinya ketimbang Tito. Hampir satu tahun ini Tito di rehabilitasi di rumah sakit jiwa karena depresi setelah kehilangan Ruhi. Dia nampak merelakan kepergian Ruhi namun ternyata salah. Tito sering menangis dan mengurung diri di dalam kamar. Saif sering memergoki Tito berbicara sendiri dengan foto mendiang Ruhi. Dan paginya, Saif bisa melihat Tito tertidur sembari memeluk foto Ruhi. Awalnya Saif membiarkan tingkah putra semata wayangnya itu karena pikirnya Tito masih berduka dan belum merelakan kepergian Ruhi. Sampai puncaknya adalah ketika Tito mulai sering mengamuk dan tidak segan-segan untuk melukai dirinya sendiri dan terus meracau kalau dia akan menyusul Ruhi dengan cara apapun. Dan dari itulah Saif memutuskan untuk mengirim Tito ke rumah sakit jiwa.


Indra, Riko, Aziz dan Adi sering menjenguk Tito. Seperti kemarin, Tito nampak lebih baik dan kata psikiater yang menangani Tito, Tito perlahan mulai sembuh dari depresinya. Hal itu membuat semua orang lega.


Kembali lagi pada Indra yang mulai menyalakan ponsel Ruhi. Dan ponsel itu masih berfungsi dengan baik padahal saat kecelakaan Ruhi, ponsel itu terlempar cukup jauh dari tempat jatuhnya Ruhi. Sekitar lima meter dari tubuh Ruhi. Ponsel itu ditemukan oleh seorang mahasiswa yang tidak sengaja menemukan ponsel milik Ruhi karena hardcase yang terpasang, tertulis "खान परिवार की लड़की" atau "khaan parivaar kee ladakee" yang artinya Gadis Keluarga Khan.


Indra berhasil membuka kunci ponsel Ruhi karena kata sandi dari ponsel Ruhi adalah nama panjang Rajendra, yaitu Rajendra Hayyat Khan. Ia lantas membuka galeri. Terdapat beberapa folder dengan masing-masing namanya. Salah satu folder paling menarik perhatian Indra adalah folder dengan nama "Meri Bhai" yang artinya "Saudaraku".


Indra mengeklik folder itu.



Foto dengan tanggal 30 Juli 2017, yang artinya ini adalah foto dimana diambil ketika pesta kejutan ulang tahun Ruhi yang ke tujuh belas. Adiknya nampak menggemaskan. Indra ingat saat itu Ruhi tengah kelelahan karena selepas diundang di acara kepramukaan di SMA.


Indra terkekeh ketika dia mengingat betapa mengenalkannya lilin dengan angka satu dan tujuh itu hampir meleleh semua karena Rendi yang terlalu awal menyalakannya. Rajendra sibuk mengomeli Rendi sedangkan Indra membuka pintu kamar Ruhi. Dan kalian tau? Rupanya di dalam kamar Ruhi sudah ada Tito yang juga membawa kue tart kesukaan Ruhi dengan tulisan "जन्मदिन मुबारक हो" atau "janmadin mubaarak ho" yang artinya "Selamat Ulang Tahun".


Yang menjadi pertanyaan Indra, sejak kapan Tito bisa seenaknya menyelinap ke kediaman Rajendra, di kamar Ruhi pula. Dan apa saja yang sudah pemuda mesum itu lakukan ketika selama dia bisa menyelinap?



Indra kembali terkekeh. Ketika melihat foto masa kecilnya bersama Rendi. Nampak menggemaskan. Foto itu tanpa kehadiran Ruhi karena Ruhi sudah tertidur ketika di perjalanan menuju rumah Faris.

__ADS_1


"Abang kangen Ru," bisik Indra sembari memeluk pigura foto Ruhi yang tersenyum ke arah kamera. Kala itu, dialah yang mengambil foto Ruhi.


Kata orang, jika kita memfoto seseorang, sama halnya kita memfoto jiwanya. Indra percaya itu karena setiap ia melihat foto Ruhi ia merasa seolah Ruhi masih ada di dekatnya. Dia merasa Ruhi memeluknya sembari mencium pipi Indra. Air mata Indra kembali luruh. Rasa sakit kehilangan Ruhi masih saja bersarang di hatinya. Padahal Indra sudah susah payah merelakan kepergian Ruhi. Tapi ternyata hal itu sangat sulit bagi Indra.


Indra melihat arlojinya, "Jam delapan. Aku harus siap-siap," ujarnya. Hari ini Tito keluar dari rumah sakit jiwa setelah satu tahun dirawat. Dan Indra bersama dengan Aziz, Adi, juga Riko berinisiatif untuk menjemput Tito. Indra kembali menyimpan ponsel Ruhi di nakas kemudian menguncinya.


***


"Hai."


Tito duduk bersimpuh di samping makam Ruhi yang nampak sangat terawat. Dia meletakkan buket bunga mawar kesukaan Ruhi di atas makam lalu mencium nisan Ruhi sedikit lebih lama.


"Maaf karena satu tahun ini aku tidak menemuimu," ujar Tito.


"Awalnya aku marah padamu karena kau dengan mudahnya menyerah. Kau tidak memikirkan bagaimana kelanjutan dari kisah kita Ru. Kau tidak memikirkan bagaimana hancurnya semua orang terutama aku. Aku baru keluar dari tempat terkutuk itu Ru. Papa memasukkan aku di tempat terkutuk itu. Padahal aku tidak gila. Aku hanya belum menerima kepergianmu Ru. Kau percaya padaku kan?"


Tito terkekeh, "Aku masih sangat mencintaimu Ru. Jujur aku tidak tahan dengan rasa sakit yang ku terima ketika aku jauh darimu. Kau semangat hidupku Ru. Aku mencintaimu tapi kau tidak pernah membalas cintaku. Awalnya aku kecewa karena kau lebih memilih cinta Bagas yang padahal sudah ku katakan jika cinta Bagas hanyalah sebuah kepalsuan belaka. Tapi kau tidak mendengarkan aku. Kau bodoh Ru! Tapi aku lebih bodoh karena aku tidak bisa membencimu bahkan aku semakin mencintaimu."


"Dan aku tidak kuat jika harus berjauhan lagi denganmu. Aku ikut denganmu ya Ru."


Pandangan Tito mulai buram, ia tersenyum.


"Semoga kita bertemu. Hanya aku dan kamu Ru. Tidak ada Bagas maupun siapapun. Hanya kita berdua," ujarnya.


Tito ambruk tepat di samping makam Ruhi dengan darah yang terus mengalir dengan deras. Tito berhasil menyusul Ruhi dengan caranya sendiri.


Tak lama berselang Indra, Aziz, Adi dan Riko datang ke makam setelah mereka diberi kabar oleh Saif kalau Tito kabur dari rumah sakit jiwa setengah jam sebelum ia resmi di bebaskan.


"TITO!" pekik keempat pemuda itu. Indra, Aziz, Adi dan Riko lemas ketika melihat Tito telah menjadi jasad dengan darah yang membasahi tubuh Tito dan makam Ruhi dengan belati didalam genggaman tangan Tito yang juga berlumuran dengan darah.


"Ya Allah Tito!"

__ADS_1


Pecahlah tangis keempat pemuda yang juga sahabat Tito. Mereka terlambat menyusul Tito. Mereka kembali kehilangan orang yang berharga di hidup mereka. Indra bertahan di Indonesia demi memberikan semangat kepada Tito agar tetap menjalani hidupnya seperti sebelum Ruhi tiada. Kini Indra kehilangan Tito. Aziz dan Adi kehilangan sahabat. Riko kehilangan sahabat yang sudah seperti saudaranya sendiri.


***


Pemakaman Tito diiringi gerimis. Makam Tito tepat di samping makam Ruhi sesuai dengan keinginan Tito yang ia tulis di selembar kertas usang.


*Untuk : Papa dan siapapun yang menemukan surat ini.


Sebelumnya aku meminta maaf karena aku egois. Aku memilih untuk menyusul Ruhi dengan cara apapun. Rasa sakit atas kehilangan Ruhi masih menyiksaku setiap detik di setiap hariku. Wajah ayunya sering menyapaku melalui mimpi. Dia nampak sedih dan sepertinya dia rindu padaku karena aku satu tahun ini tidak menemuinya sama sekali. Itu karena papa yang mengirim ku di tempat terkutuk ini. Padahal aku masih waras. Aku hanya belum menerima kepergian Ruhi.


Rasa cintaku kepada Ruhi terlalu besar dibandingkan dengan semangatku untuk hidup. Terima kasih kepada mas Indra, Aziz, Adi, dan Riko yang sering memberikanku semangat untuk hidup. Terima kasih karena hampir setiap Minggu kalian menjengukku di tempat keparat ini. Tapi maaf aku tidak bisa jika tidak bersama Ruhi. Maaf ya mas Indra, kita tidak jadi saudara ipar seperti guyonan kita waktu itu. Bukan aku tidak mau tapi orang yang ingin aku nikahi malah memilih pergi. Dan aku pun memilih untuk menyusulnya.


Tolong sampaikan kepada mas Bagas untuk camkan kata-kataku baik-baik. Aku masih sangat membencinya sampai aku mati pun aku tidak akan memaafkan Bagas. Aku mendoakan dia semoga Allah SWT mau membalaskan dendam ku karena dialah yang membuat Ruhi ku tiada.


Aku akan memaafkan dia ketika dia sudah mendapatkan rasa sakit yang sama seperti yang dirasakan oleh Ruhi. Jangan bunuh dia ya mas Indra. Boleh sih, tapi itu akan mempermudah dia. Oh astaga, maaf karena aku terlalu melantur. Aku, minta maaf.


Untuk Papa, maafkan Tito karena Tito memilih untuk pergi meninggalkan papa sendirian. Dan ingatkan wanita itu untuk jangan datang ke makamku. Memandang pun tak boleh. Biar dia mengurus hidupnya sendiri. Papa segeralah mencari wanita lain yang lebih baik dibandingkan dengan wanita itu.


Ah ya, satu lagi. Jika aku tiada, tolong makamkan aku di samping makam Ruhi. Setidaknya kami bisa selalu berdekatan.


Terimakasih semuanya.


Salam sayang,


**Muhammad Tito Vilanova***


Indra meremas surat tulisan tangan Tito. Belum sembuh luka atas kehilangan Ruhi, kini ditambah lagi luka karena kehilangan Tito. Dia sudah seperti adiknya sendiri. Indra menyayangi Tito meskipun mereka sering bertengkar karena saling berebut perhatian Ruhi.


"Kon ****** To! Jancok! Awakmu ninggalno aku! ******! Tito ******! Tito jancok! Gak ngutek! Rumangsamu lek awakmu mati ngene bakal ketemu Ruhi, ngono? Doso To, doso ya Allah Tito! Astaghfirullah!" Teriak Indra dengan frustrasi. (Kamu bodoh To! Jancok! Kau meninggalkanku! Bodoh! Tito bodoh! Tito jancok! Gak ngotak! Kau pikir kalau kau mati seperti ini bakal ketemu Ruhi, begitu? Dosa To, dosa, ya Allah Tito! Astaghfirullah!).


***

__ADS_1


***Kisah "Luruh Tak Embuh" benar-benar berakhir.


Terimakasih untuk teman-teman yang sudi membaca cerita ini. Walaupun masih banyak typo sana sini, ketidakjelasan cerita dan banyaknya kekurangan. Setidaknya kisah ini sudah saya selesaikan***.


__ADS_2