
Saif dan Ali terus memberikan penanganan untuk mengobati Ruhi yang kondisinya kian melemah. Kedua dokter itu terus merapalkan doa sembari berusaha untuk mengobati Ruhi. Operasi berjalan cukup lama.
Beberapa organ dalam Ruhi sudah rusak karena sel-sel kanker Ruhi semakin mengganas. Tangisan Saif dan Ali terus mengiringi jalannya operasi.
"Ruhi!"
"Om mohon jangan pergi Ruhi!"
"Ali! Detak jantungnya melemah!"
"Ambilkan pengejut jantung!"
"Suster cepat!"
"Ruhi!"
"Jangan tinggalkan om Ruhi!"
"Ruhi!"
"Ya Allah, aku mohon!"
"Ruhi!"
"Gak Ruhi!"
Layar monitor yang menunjukkan grafik ritme detak jantung Ruhi semakin tak beraturan dan perlahan melemah.
Ali panik sedang Saif terus menempelkan alat pengejut jantung ke dada Ruhi tepat bagian jantungnya agar jantung itu kembali berdetak.
"Saif! Ruhi tidak mungkin meninggalkan aku kan?"
"Saif!"
"Kenapa monitor itu terus berbunyi nyaring!"
Monitor berbunyi nyaring. Pada layarnya hanya ada garis lurus. Yang berarti bahwa Ruhi sudah tiada.
"TIDAK!"
"RUHI!"
Ali mengguncang tubuh Ruhi. Ia tidak terima jika Ruhi meninggalkan dirinya. Gadis kesayangan Ali sudah tiada. Ruhinya Ali kini sudah tiada.
Saif ikut menangis dan merasa sangat kehilangan. Ia tidak tau bagaimana cara untuk memberitahu kebenaran ini kepada Rajendra dan semua orang.
__ADS_1
"LAKUKAN APAPUN ITU SAIF! KEPONAKANKU MASIH HIDUP! DIA MASIH HIDUP! RUHI MASIH HIDUP!"
"Sudah, cukup Ali."
"GAK! RUHIKU MASIH HIDUP! DIA SUDAH BERJANJI PADAKU UNTUK SEMBUH!"
"Tenangkan dirimu Ali."
"RUHI!!!!!!!!!!"
Saif memeluk sahabatnya itu dan turut menangis. Dalam dekapan Saif, Ali masih menangis. Tangisannya sangat menyayat hati perawat yang mulai melepas alat penunjang kehidupan yang terpasang di tubuh Ruhi.
Ali melepaskan diri dari pelukan Saif. Ia mengusap air matanya dengan punggung tangannya.
"APA YANG KALIAN LAKUKAN? KEPONAKANKU MASIH HIDUP! RUHI MASIH HIDUP! DIA HANYA TERTIDUR!"
"Enough Ali! Dia sudah tiada! Tabahkan dirimu!"
Ali meluruh ke lantai dan berusaha mencegah para suster untuk membawa Ruhi ke kamar jenazah. Ia memegang salah satu kaki brangkar yang membawa Ruhi. Saif terus meyakinkan sahabatnya itu untuk tetap tabah.
"Ayo keluar."
***
Jangan ditanya seperti apa kesedihan semua orang terdekat Ruhi. Bahkan Caca sudah tidak sadarkan diri dan kini dibaringkan di kamar rawat.
Rajendra lemas.
Rendi terus melamun.
Nada terisak.
Riko tertunduk lesu.
Adi dan Aziz kehilangan semangat.
Tito hancur.
Indra remuk.
Bagas merasa jantungnya berhenti berdetak ketika mendapati kabar Ruhi sudah tiada. Ini salahnya. Andaikan waktu bisa diulang, Bagas tidak ingin memeluk Maura dan membuat Ruhi kecewa lagi. Selama ini Bagas sudah terlalu banyak menyakiti Ruhi. Ia ingin bersujud untuk mendapatkan maaf dari Ruhi. Ia ingin bertukar tempat dengan Ruhi. Dia ingin bernegosiasi dengan malaikat maut. Dia ingin Ruhi kembali.
Saif dan Ali keluar dari ruang operasi bersamaan dengan brangkar yang di dorong oleh suster. Tubuh gadis manis itu sudah tertutup kain putih hingga menutupi wajahnya.
Ali langsung bersujud di kaki Rajendra dan meminta maaf karena gagal menyembuhkan Ruhi. Rajendra membantu Ali untuk berdiri.
__ADS_1
"Maafkan Ali karena sudah gagal menyelamatkan Ruhi."
"Tenangkan dirimu Ali. Mungkin ini sudah jalan hidupnya Ruhi yang sudah di tuliskan oleh Allah SWT."
"Ruhi!!!!!!!!!!!"
Nada memeluk jenazah Ruhi dengan tangisan yang menyayat hati. Tak berselang lama kemudian, Caca datang setelah kabur dari ruang rawatnya. Dia berlari menghampiri jenazah Ruhi lantas melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan oleh Nada.
"Kau berjanji untuk sembuh Ru! Kenapa kau berbohong?"
"Ruhi jawab kita! Jangan tinggalkan kita Ruhi!"
"Kau harus menepati janjimu untuk menjadi guru di SMA kita Ruhi!"
"Jangan pergi Ruhi."
"Kami menyayangimu Ruhi. Kami berjanji, jika kau kembali, kami akan menjagamu. Aku bersumpah."
Riko menenangkan Caca sedangkan Rendi menenangkan Nada. Kedua gadis itu terisak dan masih tidak menerima kenyataan bahwa Ruhi sudah tiada.
Tito berdiri dengan kaku. Kakinya begitu berat untuk menghampiri Ruhi. Tapi dengan dorongan dari hati, Tito memantapkan hatinya untuk menghampiri Ruhi.
Tito menyibakkan kain yang menutupi wajah Ruhi lantas mengecup kening Ruhi lama.
"Pergilah Ru. Aku akan tetap mencintaimu."
Tito menutup wajah Ruhi yang nampak pucat. Tito tidak tahan dengan semua ini. Ia pergi entah kemana. Bagas mengejar Tito takut dia akan nekat.
Kini tinggal Indra.
Pemuda ini perlahan menghampiri Ruhi. Lantas memeluk Ruhi.
"Abang mohon jangan tinggalkan abang! Abang sayang sama Ruhi. Abang gak bisa kalau ditinggal Ruhi. Abang gak mau Ruhi pergi," racau Indra. Rajendra memeluk putranya itu dan membiarkan suster menjalankan tugasnya.
"Dia sudah pergi, Indra."
"Tapi Pi, adek masih hidup. Dia hanya tidur."
"Tabahkan hatimu Ndra."
"RUHI!!!!!!!!!!!!!"
•••
TBC♥️
__ADS_1