
Hari ini Resimen Mahasiswa mengadakan latihan bersama yang rutin diadakan setiap hari Senin dan Kamis bersama dengan anggota TNI AD KOREM Bhaskara Jaya, Surabaya.
Kebetulan, Rendi juga ikut dalam latihan rutin tiap minggu itu. Ia bangga melihat adiknya, Indra, yang terlihat begitu gahar saat mengenakan seragam komandan Resimen Mahasiswa berwarna krem itu tanpa mengurangi kadar tampannya.
Ia mengedarkan pandang melihat di sepanjang koridor lantai dua yang sesak dipenuhi mahasiswi yang berebut ingin melihat si tampan berdarah dingin yang tengah sibuk mengkomandoi pasukan menwa. Siapa lagi kalau bukan Indra.
Indra terlihat cuek dengan teriakan histeris mahasiswi itu. Kadang Rendi berpikir, adiknya ini bukan gay kan ?.
Berbeda dengan Indra. Ia nampak melamun. Sesekali ia mengusap air matanya yang menggenang di pelupuk matanya dan membuat pandangannya mengabur. Raganya ada di lapangan utama Universitas PGRI Diponegoro, tidak dengan pikirannya. Pikirannya melayang meratapi nasib Ruhi. Bahkan Rendi belum mengetahui penyakit adik bungsu mereka. Ia menatap sekilas kearah Rendi yang tengah bersedekap menatapnya dengan bangga.
'Penyakit yang sama dengan mendiang mami, kenapa harus kepada adik hamba Ya ALLAH ? dosa apakah keluarga kami ?' satu tetes air mata Indra berhasil menetes namun termanipulasi dengan keringat yang ikut menetes bersamaan dengan air matanya.
"Instruksi komandan !! Kapan berhentinya ini ?" teriak Reno membuyarkan lamunan Indra. Ia sudah sangat pegal karena hampir lima menit ia dan teman-temannya yang lain jalan ditempat tanpa stop.
"Oh, astagfirullah," Indra mengusap air matanya,"Berhenti GRAKK !!" pasukan berhenti. "Kalian istirahat dulu... maaf... BUBAR JALAN !!"
Pasukan membubarkan diri. Reno mendekati Indra dengan tertatih.
"Lo kenapa ? ngelamun mulu dari tadi..."
"Gue gak papa... sorry soal itu, gue permisi dulu," Indra pergi meninggalkan Reno yang menatapnya curiga. Rendi yang melihat gerak gerik aneh dari adiknya itu mengikuti Indra yang tengah menuju UKS.
Indra bersandar pada daun pintu UKS setelah menutupnya. Tubuhnya merosot dengan tangisan yang tidak bisa ia kontrol lagi. Ia hancur mendengar adiknya mengidap penyakit yang sama dengan ibundanya. Ia hancur karena sebagai abang dia tidak bisa berbuat apa-apa. Ia hancur sehancur hancurnya.
Dadanya terasa sangat sesak karena menahan tangisnya yang sejak tadi ingin keluar. Rendi mengetuk pintu UKS. Ia khawatir kepada Indra adiknya. Baru kali ini ia melihat kepedihan yang begitu mendalam dari raut wajah Indra setelah kematian ibu mereka.
Tok... Tok... Tok...
Indra membuka pintu UKS lalu menarik Rendi untuk masuk.
"Ndra.. hei kenapa lo nangis ?" tanya Rendi.
"Bang Rendi..." Indra menghambur ke pelukan Rendi. Rendi sedikit terhuyung karena pelukan Indra yang tiba-tiba.
"Kenapa ? apa ada masalah ?"
"Ruhi..."
"Ada apa dengan Ruhi ?" Rendi mulai cemas.
"Adek sakit..."
"Adek sakit apa Ndra ?" Rendi mengguncang bahu Indra. Ia sangat benci dengan teka teki.
"Leukimia,"
DEG!!
"Gak mungkin... lo pasti bercanda... lo lagi nge prank gue kan ? kalo iya, prank lo sama sekali gak lucu Ndra !!"
"Tapi gue jujur bang, gue gak lagi nge prank lo" Lemas rasanya tubuh Rendi. Ia mundur dua langkah dari tempatnya berdiri barusan. Ia menggeleng tidak percaya.
"Bohong,"
"Tapi itu kenyataannya bang... Ruhi sakit !! penyakit yang sama dengan penyebab kematian mami !!"
"Lo pasti bohong !!"
Bugh!!
__ADS_1
Rendi memukul perut Indra hingga Indra tersungkur ke belakang. Rendi menangis frustrasi.
"Kenapa lo gak jagain Ruhi ?! Lo hahhhhhhh" Rendi menendang perut Indra. Indra hanya pasrah mendapat tendangan di perutnya oleh abangnya sendiri. "Sejak kapan ?"
"Lima bulan yang lalu,"
"APA ?! *** !!"
Bugh!!
Rendi menendang Indra sekali lagi, "Kenapa tidak ada yang memberitauku selama ini ?! Kalian sudah tidak menganggapku sebagai bagian dari keluarga Hayyat Khan lagi ?! BEGITU ?!!!"
"Uhukk, bukan begitu bang... kami juga baru mengetahuinya baru-baru ini... Ruhi menyembunyikan segalanya dari kami sampai minggu lalu om Ali mendiaknosis Ruhi mengidap leukimia stadium akhir,"
"Adik perempuanku satu-satunya..." Rendi terduduk, ia menangis sembari menangkup wajahnya untuk meredam suara tangisnya. Indra merasakan sakit yang sama dengan yang dirasakan oleh Rendi saat ini.
"Sejak kecil gue bercita-cita ingin menjadi anggota angkatan darat demi bisa menjaga Ruhi... dia belahan jiwaku.."
"Belahan jiwa kita bang..."
Rendi beranjak pergi meninggalkan UKS. Dengan susah payah, Indra bangkit lalu mengejar Rendi.
Di Ruang A.202
"Pujangga lama merupakan bentuk pengklasifikasian karya sastra di Indonesia yang dihasilkan sebelum abad ke-20. Pada masa ini karya sastra di dominasi oleh syair, pantun, gurindam dan hikayat. Di Nusantara, budaya Melayu klasik dengan pengaruh Islam yang kuat meliputi sebagian besar negara pantai Sumatra dan Semenanjung Malaya. Di Sumatra bagian utara muncul karya-karya penting berbahasa Melayu, terutama karya-karya keagamaan. Hamzah Fansuri adalah yang pertama di antara penulis-penulis utama angkatan Pujangga Lama. Dari istana Kesultanan Aceh pada abad XVII muncul karya-karya klasik selanjutnya, yang paling terkemuka adalah karya-karya Syamsuddin Pasai dan Abdurrauf Singkil, serta Nuruddin ar-Raniri." Ucap Bagas menjelaskan materi sejarah sastra pada kelas 2 A. Semua mahasiswa dan mahasiswi nampak memperhatikan penjelasan dari Bagas. Termasuk Ruhi yang akhir-akhir ini mudah mengantuk. Ia beberapa kali ingin tidur tapi ia berusaha untuk menahannya.
Bagas sesekali memperhatikan Ruhi yang nampak sangat pucat. Ia berusaha tidak peduli dengan mengalihkan perhatiannya dengan menulis materi di papan tulis.
"Lo sakit Ru ?" tanya Aziz sembari berbisik.
"Cuma kurang tidur aja jiz,"
"Tapi-"
"Waalaikumsalam,"
Perhatian semua orang tertuju pada lelaki tampan berseragam TNI AD yang memasuki ruangan. Bagas meletakkan bukunya. Tito menyenggol bahu Ruhi yang sudah menangkupkan kepalanya dalam lipatan tangannya.
"Bukannya itu bang Rendi ya Ru ?" tanya Tito dengan berbisik kepada Ruhi.
"Apaan sih to?"
"Itu lihat siapa yang dateng,"
Ruhi yang melihat orang yang baru saja memasuki kelasnya, langsung berbinar matanya.
"Abang ?" gumamnya dengan senyum yang mengembang.
"Ada apa ya mas ?"
"Namaku Rendi, aku ingin menjemput Ruhi Rajendra Hayyat Khan... ada kepentingan keluarga..."
"Ruhi... kau boleh pulang,"
"Saya kak ?"
"Yang namanya Ruhi siapa lagi kampret," ucap Aziz jengah dengan kelemotan sahabat sekaligus sepupunya ini.
"Iye iye ajijahhh,"
__ADS_1
Rendi langsung menggapit tangan Ruhi lalu membawanya keluar kelas.
"Ruhi doang kak ? lha kita ?" celetuk Adi.
"Iya kak..."
"Gak gak... gak ada... kalian tetap disini..."
"Alaaaaaa," keluh semua mahasiswa dan mahasiswi.
'Dia siapanya Ruhi ? kenapa dia begitu dekat dengan Ruhi ? Jangan-jangan itu kekasihnya atau calon suaminya... ck... mikir apaan sih gue,' batin Bagas.
"Ada yang cemburu nih," celetuk Adi.
"Adi !! Jaga batasanmu," hardik Bagas.
Adi hanya tersenyum miring. Adi, Aziz dan Tito saling memandang lalu sama-sama menyeringai. Ketiga lelaki ini memang sangat sensitif jika mengenai Ruhi. Aziz dan Adi adalah sepupu Ruhi. Makanya tidak heran jika mereka sangat sensitif jika mengenai saudara perempuan satu-satunya dari keluarga Hayyat Khan.
#
"Kenapa masalah sebesar ini kalian sembunyikan dariku ?! Apa aku sudah tidak kalian anggap sebagai anggota keluarga lagi ?! Aku merasa menjadi orang paling tolol di keluarga ini !!! Arghhhhh!!!!" teriak Rendi dengan amarah yang meluap-luap. Untung saja ruang rektor ini kedap suara, kalau tidak, bisa dipastikan akan heboh satu kampus karena amarah Rendi.
Diikuti oleh Indra, Rendi membawa Ruhi ke ruang rektor. Beruntungnya lagi, Rajendra sedang ada ditempat dan tidak melakukan perjalanan dinas seperti biasa.
Tentu saja Rajendra sangat terkejut mendengar putra sulungnya berteriak penuh amarah. Ia sampai mengusap dadanya untuk menetralkan keterkejutannya. Seumur-umur, dia baru saat ini melihat amarah putranya.
"Jawab pi !! kenapa kalian rahasiakan semuanya dari Rendi ?! pantas saja selama lima bulan ini perasaan Rendi begitu tidak tenang... jadi ini alasannya..."
"Sebenernya papi sama bang Indra juga baru tau kemaren bang... maafin Ruhi.. Ruhi gak mau jadi beban kalian semua... Ruhi pasrah... Ruhi... hiks..." Ruhi menangis. Ia menangkupkan wajahnya dalam kedua telapak tangannya.
Rendi berlutut disamping Ruhi. Ia meraih tubuh Ruhi yang sudah gemetar karena menangis kedalam pelukannya.
"Kamu gak beban dek, kamu tanggung jawab kami... maaf karena bang Rendi berteriak tadi... sekarang berjanjilah kalau tidak akan ada rahasia diantara kita,"
"Iya bang, uhuk.." Ruhi terbatuk dan darah yang keluar. Darah juga mengalir dari kedua lubang hidung Ruhi. Darah itu mengotori seragam loreng yang dipakai oleh Rendi. Ruhi kembali tidak sadarkan diri.
"Ruhi ?!" pekik ketiga laki-laki itu.
"Cepat siapkan mobil papi Ndra," perintah Rajendra sembari melemparkan kunci mobilnya.
"Siap pi," Indra menangkap kunci itu dengan tangkapan sempurna.
"Biar Rendi yang bawa Ruhi," Rendi membopong Ruhi menuju mobil. "Bertahanlah sayang,"
Rajendra mengekori putranya yang tengah membawa putri kesayangannya. Ia sangat khawatir dan juga takut. Ia takut kalau Ruhi akan bernasib yang sama dengan mendiang istrinya.
"Itu Ruhi kan ?"
"Eh ada yang pingsan,"
"Astaga itu bukannya putrinya pak rektor ya ?"
"Astaga darahnya banyak banget..."
"Ambulan... ambulan..."
Banyak sekali mahasiswa yang menyaksikan Ruhi berdarah-darah. Rendi langsung membawa Ruhi ke rumah sakit.
"Papi mohon bertahanlah untuk papi Ru,"
__ADS_1
•••
TBC❤