
Mengapa mencintai harus seberat ini?
Cinta bertepuk sebelah tangan. Cih! Muak rasanya mendengar istilah itu walau memang kebenarannya memang seperti itu. Daripada fokus pada hal yang sangat tidak penting itu, lebih baik aku memikirkan proses menuju pentas tunggal nantinya. Cukup aku yang kecewa, jangan sampai pelatih teater Langit, Mas Danu kecewa karena persembahan yang sangat kurang dariku terutama.
Malam ini aku dan beberapa rekan sesama teater langit bersama mas Danu berkumpul dilapangan parkir belakang kampus, tempat yang biasanya kami gunakan untuk latihan.
"Meskipun tidak semua yang datang, tapi saya sudah senang," ucap mas Danu mengawali permulaan latihan untuk pentas tunggal teater langit di akhir bulan sastra nanti. Ku lihat wajah mas Danu nampak sendu melihat hanya beberapa anak yang datang menghadiri pertemuan pertama untuk mengawali latihan pentas tunggal. Bagaimana tidak kecewa? dari 95 orang dari semesterku, semester dua, kini hanya tinggal 5 orang yaitu aku, dua cunguk yang sialnya adalah sahabat gilaku, Nada dan Caca, ada juga dua cowok yang entah mereka manusia atau bukan. Karena tingkah mereka yang nauzubillah membuat orang yang melihatnya saja sudah lelah sendiri. Mereka adalah Riko dan Tito tentunya. Kalau untuk yang senior, ada mbak Arina, Mbak Rhea, Mbak Saza, Mas Dika, Mas Pras, dan dia. Mas Bagas.
Author POV
"Untuk pentas tunggal kali ini saya mau mengusung tema tarian dan nyanyian."
"Nah lohhh... berbau India nih kayaknya. Mbak Rhea... Yang sabar ya," goda Dika pada Rhea yang notabene adalah penggemar oppa oppa koreahhh. Rhea hanya berdecak kesal dan berusaha tidak mempedulikan Dika. Hal itu membuat Danu dan yang lain terkekeh.
"Hari ini langsung casting aja ya... biar cepet latiannya karena akan ada tarian dan sedikit lipsing... ala ala India gitu."
Semua orang terkekeh melihat Danu yang terus menggoda Rhea.
"Disini ada yang bisa menari India?" Tanya Danu.
"Ruhi mas!" tunjuk semua orang kompak kearah ruhi yang sibuk menggaruk telapak kakinya yang digigit nyamuk. Digaruk geli kagak digaruk gatel, huh serba salah, gumam Ruhi. Ruhi sontak terlonjak kaget karena ia terlalu fokus pada nyamuk kampret yang berani menghisap darah sucinya. Aih_-.
"Apa?" tanya Ruhi masih gagal paham dengan keadaan.
"Kamu bisa menari Ru?"
"B-bisa mas... enten napa mas?"
"Kalau kamu memang bisa menari, mungkin kamu bisa menjadi pemeran utama dalam drama ini."
"Drama nopo mas?"
"Juh arek iki... kon iku yak opo! wiwit mau kon ndek ndi wae seh? Iki awak dewe kate bahas drama pentas tunggal mengko."
"Oh."
"Hiiihhhh!"
Plak!
Nada menggeplak bahu Ruhi karena gemas dengan tingkah sahabatnya yang kadang membuat jengkel dan bloonnya minta dirukyah.
"Oh nari to mas? bisa... saya bisa... insyaallah... narik i duik," ucap Ruhi dengan wajah tanpa dosanya.
"Ruhi!" pekik semua orang sebal dengan Ruhi.
"Jangan marah... saya hanya bersikap hati-hati terhadap kata-kata."
"Itu dialog naskahnya Arifin C. Noer yang berjudul Aa-Ii-Uu... serius dulu hiu!" rutuk Caca.
"Caca ki ti batija kok galak sih..." rengek Ruhi.
"Bodo amat..." ucap Pras menyerah.
__ADS_1
"Tapi amat gak bodo mas pras."
"Hei sudah sudah... jangan bertengkar..." ucap Danu seraya mengurai kekehannya yang belum bisa berhenti. "Ayo Ru, tunjukan tarian tradisional India yang kamu tau."
"Njeh mas."
Ruhi berdiri lalu menepuk bokong dan juga pahanya yang kotor karena ia dan teman-teman teater yang lain tengah duduk bersila di lapangan tanpa beralaskan tikar. Ruhi sedikit meregangkan tubuhnya sembari mengikat rambutnya dan memamerkan leher jenjang mulus miliknya. Semua lelaki kecuali Danu berusaha dengan susah payah menelan ludah mereka melihat Ruhi mengikat rambutnya.
"Fan, musiknya."
"Njeh mas."
Musik diputar oleh Fandi. Lagu yang diputar oleh Fandi adalah lagu favoritnya jika tengah menari di ruang khusus yang disediakan oleh ayahnya di rumah. Lagu itu adalah ost Bajirao Mastani yang berjudul Deewani Mastani. Ruhi selesai memakai gelang kakinya yang setiap hari ia bawa di dalam ranselnya entah apa fungsinya. Ia sangat menyukai gelang kaki itu karena itu milik mendiang ibunya.
Suara gemerincing dari lonceng kecil yang terpasang pada gelang kaki yang dipakai Ruhi saling berbenturan dan menimbulkan suara yang nyaring. Musik mengalun begitu pula semua anggota tubuh Ruhi mengalun, menari, dan meliuk seirama dengan musik yang diputar oleh Fandi. Semua mata terpana melihat gerakan Ruhi yang sangat lincah tanpa meninggalkan kesan indah dalam tariannya. Ruhi membuat gerakan memutar dan membentuk lingkaran berukuran sedang tanpa terseok sedikitpun. Ikatan rambut panjangnya terlepas, rambut itu melambai indah dan senyum yang tak pernah luruh dari bibir tipis Ruhi. Semua orang menatap Ruhi dengan tatapan kagum tak terkecuali Bagas. Ia merasakan ada gelenyar aneh yang menjalar diseluruh tubuhnya. Ia begitu terpesona pada pesona Ruhi. Tanpa sadar ia tersenyum menatap Ruhi yang telah menyelesaikan tariannya. Ia menelan ludahnya susah payah saat melihat peluh membasahi wajah dan leher jenjang Ruhi.
"Jaga pandangan lo mas. Dia gak bakal bisa lo gapai lagi setelah apa yang lo lakuin ke dia. Selamat menyesal," bisik Tito yang melihat tatapan memuja dari Bagas untuk Ruhi. Bagas segera sadar dari imajinasi liarnya. Ia menetralkan wajah gugupnya.
"Luar biasa... kenapa gak ikut UKM tari?" tanya Danu kepada Ruhi. Ruhi tersenyum tulus kemudian menggeleng.
"Di teater, saya jadi tau mana yang tulus dan modus. Saya juga bisa tau mana yang drama dan nyata. Saya permisi ke kamar mandi dulu mas." Ruhi beranjak menuju kamar mandi wanita.
"Ada apa dengan Ruhi?" gumam Tito.
Di kamar mandi wanita...
"Pliss jangan sekarang..." Ruhi menyalakan keran lalu membersihkan darah yang keluar dari hidung mancungnya. "Selalu seperti ini... aku harus bertahan... Demi mas Danu dan yang lain..." Ia bergegas mengambil obat yang ia simpan disaku celana trainingnya. Pusing di kepala Ruhi sedikit mereda. Mimisannya pun sudah berhenti. Ia bergegas kembali ke lapangan parkir belakang.
Niat hati ingin berlari pagi dengan santai mengitari taman alun-alun, Ruhi malah terjebak rasa malas yang tiba-tiba menyerangnya. Ia memilih bangku kosong di bawah pohon rindang yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Ruhi tengah duduk termenung sendirian di taman alun-alun kota Surabaya. Suasana yang perlahan terik membuat Ruhi beranjak dari bangku yang sedari tadi memancarkan magnet kemalasan yang luar biasa untuk ke mobil es krim yang tengah membuka stand mengingat hari ini adalah car free day.
"Mas, es krim coklatnya satu ya, Ojo' sui-sui lho yo mas,"
"Ruhi to bak e ?!" pekik mas mas yang mengenakan celemek berwarna putih bertuliskan aku anak sholeh.
"Masyaallah Reza ?!" pekik Ruhi tak kalah kerasnya hingga mengundang tatapan dari orang yang sibuk berlalu lalang bersama keluarga mereka maupun bersama sahabat atau pasangan mereka.
"Aku kangen Ru," Reza turun dari mobil es krim lalu memeluk Ruhi dan mengundang perhatian orang semakin banyak.
"Sama bogel..." ucap Ruhi seraya membalas pelukan Reza.
"Heh gak sadar diri lo ?! Emang sih dulu gue lebih pendek, tapi sekarang gue berhasil melebihi tinggi badan lo... dan sekarang gelar bogel bisa disematkan dinama lo... Ruhi bogel..." Reza melepaskan pelukannya lalu menarik hidung Ruhi.
"Reza rese'.." Ruhi mengelak dan melepaskan paksa tangan laknat Reza dari hidung mancungnya.
"Woi mas, mbak... lek pacaran jok ndek kene !! Okeh arek cilik !!"teriak salah satu ibu-ibu mengenakan baju olahraga subhanallah warna warninya. Sudah seperti pelangi berjalan, batin Ruhi.
"Oh nggeh bukk saporaen..." Reza malah nyengir dengan wajah tanpa dosanya sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia melepas celemek yang menempel ditubuh atletisnya lalu mengambil dua cup es krim coklat kesukaan Ruhi. "Ini gue traktir... ayo ke sana..."
"Tapi stand lo ?"
"Ada anak buah gue... ayo..." Reza meraih tangan Ruhi lalu menariknya dengan lembut lalu membawanya ke bangku yang Ruhi duduki tadi. "Ini makan dulu es krimnya... biar gendut..."
"Jadi menurutmu aku kurus kering begitu ?" sungut Ruhi.
__ADS_1
"Iya..."
"Dari dulu sampe sekarang tetep aja nyebelin..."
"Tapi ganteng iya kan ?"
"Bodo,"
"Dih ngambek... habisin dulu tuh es krim... kalo encer malah kayak pup bayi yang encer itu..."
"Jihhh Reza jorok sumpah..."
"Yaudah makan aja sih repot amat..."
Ruhi menurut dengan mencebikkan bibirnya. Reza begitu gemas melihat Ruhi sahabat tercintanya. Perlu digaris bawahi. Sahabat tercinta. TERCINTA. Jangan ditanya sebesar apa lelaki itu mencintai putri kesayangan seorang Rajendra Hayyat Khan. Karena dia akan menjawab. "Cintaku pada Ruhi sebesar apa yang paling besar," absurd ? emang.
Setelah menghabiskan es krimnya, Ruhi merasakan pening dikepalanya. Gak mungkin kan kalau Reza meracuninya ? pikir Ruhi. Reza menangkap raut kesakitan dari Ruhi. Tiba-tiba darah segar mengalir dari hidung Ruhi.
"Ru.. kamu sakit ?"
"Hah ?" Ruhi linglung. Dia mengusap hidungnya, "Darah ? Re-za"
Bruk!!
Ruhi tak sadarkan diri. Beruntung Reza berhasil meraih tubuh Ruhi sebelum tubuh ringkih itu terjengkang kebelakang. Dengan panik ia membawa Ruhi ke rumah sakit terdekat dengan mobil mewahnya yang ia parkir tidak jauh dari stand kedai es krim miliknya.
Di rumah sakit...
Reza menangis mendengar diagnosa dokter yang mengatakan bahwa Ruhi...
"Tabahkan hatimu... mungkin dia bisa bertahan kurang dari satu tahun... tapi itu hanya prediksi saya sebagai dokter... yang menentukan hidup mati seseorang hanya Allah SWT. Pasrahkan semua urusan hanya kepada-Nya," jelas Saif, dokter yang menangani Ruhi kepada Reza. Ia berusaha menguatkan hati seseorang yang terluka melihat kekasih hatinya sakit. Bahkan harapan hidupnya kurang dari satu tahun.
"Saya sakit apa om ?" tanya Ruhi ketika tau yang menanganinya adalah Saif Vilanova ayah dari Muhammad Tito Vilanova.
"Kau sudah bangun ?" bukannya menjawab, Reza langsung memeluk Ruhi.
"Ada apa ini ? Reza ?"
"Om harap, kamu tabah mendengarnya Ru,"
"Berapa lama lagi ?" tanya Ruhi seolah tau apa yang didiagnosakan Saif pada dirinya.
"Kurang dari satu tahun..."
"Spesifiknya ?"
"Sepuluh bulan terhitung dari bulan ini..."
Ruhi menangis dalam diam. Ia berniat tidak memberitau siapapun mengenai penyakitnya ini termasuk kepada ayah dan kedua abangnya.
•••
TBC❤️
__ADS_1