
Jumat, 26 April 2019
Ruhi dan Caca mengecek barang-barang yang akan dibawa ke gedung serbaguna milik Ali yang sudah di sewa untuk pementasan drama tunggal Teater Langit besok.
Ya, besok.
Besok adalah hari dimana hasil dari semua lelah dan keringat selama latihan dipertaruhkan. Ruhi dan Caca dibantu oleh anggota teater Langit yang lain, menata barang-barang ke atas mobil pickup. Jangan tanya siapa sopirnya karena jawabannya adalah siapa lagi kalau bukan Ruhi.
Jantung para pemain pentas tunggal rasanya berdebar tidak karuan. Mereka cemas, khawatir, takut dan grogi untuk besok. Harapan mereka adalah besok malam jangan sampai hujan. Eh tapi, kalau hujan pun tidak apa karena gedung serbaguna milik Ali, paman Ruhi, adalah gedung berkelas VIP kedap suara.
Semua barang berupa, 4 box besar, satu box kain backdrop dan kain hitam lainnya, ada 2 box untuk wadah banner bekas untuk duduk para tamu, dan 1 box berisi tikar yang juga digunakan sebagai alas duduk tamu. Kemudian ada beberapa alat musik seperti jimbe, marakas, gitar, keyboard, jimbe rangkai, balera, dan simbal. Lalu ada beberapa level dan trap. 4 level kecil, 2 level panjang, 2 trap kecil, 2 trap besar, dan 2 level besar. Semuanya sudah ditata dengan rapi tinggal membawa ke gedung.
Kesibukan Ruhi dkk semakin meningkat. Para perempuan sibuk dengan jarum sum untuk menyatukan kain yang setelah selesai akan di pasang sebagai background untuk pementasan.
Mendadak, pusing kembali mendera Ruhi. Padahal, baru saja ia bersyukur karena selama seminggu latihan full, dia sehat-sehat saja. Tapi ini, tiba-tiba kepalanya pusing lagi sedangkan dia tidak membawa obat untuk meredakan pusingnya.
Ruhi merasakan cairan kental menetes dari hidungnya. Dengan gemetar Ruhi menyentuh cairan kental itu.
"Darah," ucapnya dengan tangan gemetar.
Pandangannya mulai kabur dan akhirnya...
Bruk!
"Ruhi!" Pekik semua orang. Ruhi lantas dibopong oleh salah seorang ALB yang kebetulan masih berada dalam gedung. Mereka membawa Ruhi ke klinik dekat gedung pementasan.
__ADS_1
***
Brak!
"Dimana Ruhi!" Seru Indra dengan panik.
"Tenangkan dirimu Ndra. Ruhi sudah ditangani oleh dokter. Ruhi hanya kelelahan," ucap Tito berusaha menenangkan Indra.
Tubuh Indra luruh ke lantai. Ia lega karena mimpi yang menjadi ketakutan terbesarnya tidak terjadi, untuk saat ini.
"Kembalilah... Bantu kawan-kawanmu," ucap Indra. Tito mengangguk. Meskipun berat meninggalkan Ruhi, Tito tetap memaksakan langkah kakinya kembali membantu setting panggung.
Semuanya kembali mengerjakan tugas masing-masing termasuk Tito. Hanya tersisa Indra yang menemani Ruhi yang masih terbaring tak sadarkan diri di atas brangkar klinik.
Indra meraih tangan adiknya lalu mengecupnya lama. Rasa sesak itu akhirnya tersalurkan melalui air mata pemuda tampan itu. Indra menitikkan air mata kala ia mengecup punggung tangan Ruhi yang ia genggam dengan sayang.
Nada merasa tersentuh kala melihat Indra yang nampak sangat rapuh.
Kata orang, tangis seorang lelaki itu lebih jujur ketimbang perempuan. Dan Nada akui itu. Ia bisa ikut merasakan rasa sesak yang terus memberontak dan berusaha mendorong untuk dilampiaskan.
Untuk sebentar Nada lupa tujuannya datang ke klinik. Saat ia ingat, ia langsung menghampiri Indra.
"Mas Indra."
Dengan segera Indra mengusap air matanya lalu menoleh ke arah Nada.
__ADS_1
"Ada apa?" Tanya Indra dengan suaranya yang terdengar parau.
"Aku disuruh sama mas Danu buat bilang ke mas Indra. Mas Danu bilang, Ruhi di bawa ke rumah sakit saja. Agar besok saat pementasan keadaannya sudah stabil," ucap Nada yang malah fokus pada mata Indra. Nada bisa melihat penderitaan Indra kala adiknya sakit begitu dalam. Ia sangat mencintai adiknya. Indra sangat mencintai Ruhi.
"Oke. Makasih ya Nad."
"Sama-sama mas. Aku permisi dulu ya," pamit Nada yang langsung keluar dari klinik karena dia sudah tidak tahan dengan perasaan yang ia rasakan sejak tadi. Perasaan sedih dan takut kehilangan dari seorang Indra untuk Ruhi sepertinya sudah menular kepada Nada.
Indra meminta izin dokter klinik tersebut untuk membawa Ruhi ke rumah sakit mitra husada, milih pamannya, Ali. Sang dokter mengiyakan permintaan Indra. Lantas Indra membawa adiknya ke rumah sakit.
***
RS Mitra Husada
Cairan infus terus menetes, mengaliri selang yang terhubung di punggung tangan Ruhi. Gadis itu terbaring lemah dan masih tak sadarkan diri setelah kambuh tadi sore.
Rajendra duduk di samping ranjang tempat Ruhi berbaring sembari menatap putri cantiknya yang nampak kurus dan pucat.
Rajendra menumpukan kedua sikunya di pinggiran ranjang kemudian menangkup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ia terisak. Punggung kokoh itu bergetar. Ia menangis, menangis sangat pilu.
"Sudahlah kak. Serahkan semua kepada Allah SWT," ucap Ali sembari menepuk pundak Rajendra. Ia tau kalau kakaknya tengah dirundung kemalangan yaitu anaknya yang menderita kanker darah stadium akhir. Kemalangan seperti apalagi bagi seorang ayah seperti Rajendra.
"Aku menyerahkan semuanya kepada Allah SWT. Aku pasrah," ucap Rajendra dengan sendu.
•••
__ADS_1
TBC♥️