Luruh Tak Embuh

Luruh Tak Embuh
LTE | EMPAT PULUH


__ADS_3

Bhula dena mujhe


Lupakan aku


Hai alvida tujhe


Ini adalah ucapan selamat tinggal


Tujhe jeena hai mere bina


Kau hidup tanpa aku ..


Safar yeh tera, yeh raasta tera


Ini adalah jalan untukmu, ini adalah jalan yang engkau tempuh


Tujhe jeena hai.. mere bina


Kau hidup tanpa aku...


Ho teri saari shoharatein


Semua ketenaran hanya untukmu


Hai yeh duaa...


Ini adalah doa saya


Tujhi pe saari rehabagim


Semoga rahmat bagimu


Hai yeh duaa...


Ini adalah doa saya


     "Apa arti dari semua kata-kata manis mu selama ini Dian?"


     Alexa menatap pasangan yang tengah dimabuk asmara di depannya ini dengan tatapan penuh luka. Mata yang selama satu bulan ini penuh dengan binar bahagia karena resmi berpacaran dengan Dian, pemuda yang sangat ia cintai, mendadak padam malam ini juga.


     Dian pun langsung menghampiri Alexa tapi langkahnya terhenti ketika tangan gadis itu mengudara, menghentikan langkahnya. Alexa mencoba menekan rasa yang begitu menyesakkan di dadanya dan juga meredam air matanya yang sudah menggenang di pelupuk matanya.


     "Sejak kapan?"


     "Apa?"


     "Sejak kapan kau mempermainkanku?"


     "Maafkan aku Alexa. Aku-"


     "Dengan tega kau mempermainkan perasaanku ini. Padahal aku berani bersumpah atas nama Tuhanku kalau cintaku ini tulus untukmu. Dan ini yang ku dapat." Alexa menghapus air matanya dengan kasar menggunakan punggung tangannya. Lantas ia tertawa terbahak-bahak. Tepatnya menertawakan dirinya sendiri yang begitu bodoh dengan menyerahkan cintanya kepada orang yang salah.


     Seketika lagu yang mulai DJ mainkan terhenti ketika mendengar tawa Alexa yang terdengar begitu memprihatinkan.


     "Aku bisa jelaskan semua-"


     "Menjelaskan apalagi? Mengenai taruhanmu dengan Yoga dan Kevin?" Tukas Alexa.


     "Bagaimana kau tau?" Suara Dian terdengar melemah namun masih terdengar.


     "Bahkan dinding pun memiliki telinga Ferdiansyah Martadinata."


     "Alexa... Aku... Benar-benar minta maaf."


     "Aku maafkan dan... Lupakan aku."


     Sebelum Dian menyahut ucapan Alexa, Alexa langsung tertawa namun matanya terus meneteskan air mata bahkan semakin deras membasahi wajah cantik itu. Untung saja make up nya waterproof. Semua memandang Alexa dengan pandangan miris.


     Seharusnya malam ini menjadi pesta karena kemenangan Alexa dan Dian dalam lomba dansa tradisi yang diadakan oleh walikota. Malah Alexa dan juga semua orang mendapat kejutan dari Dian. Bahkan, Delfano sudah ingin menerjang tubuh Dian dan menghajarnya sampai tewas saat itu juga. Tapi, tidak bisa karena dia ditahan oleh Anton dan juga Mella.

__ADS_1


     "Lupakan aku? Bwahahahaha! Aku bahkan berani bertaruh kalau kau tidak pernah mencintaiku. Bodohnya aku."


     Lagi-lagi Dian dihentikan oleh tangan Alexa yang mengudara ketika dia membuka mulut ingin menjawab ucapan Alexa.


     "Jangan menjelaskan apapun. Karena itu hanya akan semakin menyakiti perasaanku yang bertepuk sebelah tangan ini." Alexa berbalik dengan deraian air mata. Kekecewaan menderanya dengan luar biasa. Benar kata orang, jatuh cinta tak semenyenangkan seperti dalam FTV.


Tu hi hai kinaara tera


Dimana semua mata mekar


Tu hi to sahaara tera


Tu hi hai taraana kal ka


di mana cinta kita berada,


Tu hi to fasaana kal ka


Khud pe yaqeen tu karna


Aku akan bertemu nantinya, ini adalah janji saya ..


Ban.na tu apna khuda...


Aku akan menyertai kamu senantiasa ini janji saya ..


Tu hi hai kinaara tera


Dimana semua mata mekar


Tu hi to sahaara tera


Anda akan menemukan saya di sana...


Tu hi hai taraana kal ka


di mana cinta kita berada,


Tu hi to fasaana kal ka


Khud pe yaqeen tu karna


Aku akan bertemu nantinya, ini adalah janji saya ..


Ban.na tu apna khuda...


Aku akan menyertai kamu senantiasa ini janji saya..


     Vika berjalan menghampiri Dian kemudian mengusap lengan atas sebelah kiri pemuda itu.


     "Sudahlah sayang. Kita sudah ketahuan dan tidak bisa mengelak juga."


     Dian menyentak tangan Vika lantas mengejar Alexa.


     Keadaan diluar gedung pesta hujan deras disertai angin kencang. Tanpa ragu, Alexa berlari menerjang hujan kemudian terduduk di tengah jalan. Ia duduk bersimpuh sembari menangkup wajahnya. Alexa mengusap wajahnya kemudian menjerit sekencang-kencangnya; berharap hujan mampu meredam dan menghilangkan rasa sakitnya. Ia berharap hujan mampu melunturkan rasa cintanya pada pemuda brengsek itu.


     "Aku tidak pernah menuntut apapun darimu Tuhan! Saat ini aku menuntutmu! Aku menuntut, agar kau menghilangkan rasa cintaku kepada pemuda ******** itu! HILANGKAN!" Alexa menangis. Ia menangkup wajahnya kembali.


     Tiba-tiba, air hujan berhenti membasahi dirinya. Seperti ada yang menghalangi. Alexa mendongak dan mendapati Delfano, kakaknya. Delfano melempar payungnya hingga tubuhnya ikut basah kuyup seperti Alexa. Ia bersimpuh lantas memeluk adiknya.


     "Kakak bersumpah akan membalasnya."


     "Jangan kak."


     "Kenapa?"


     "Biarkan dia bahagia dengan pilihannya. Aku akan menyembuhkan lukaku. Sendiri."


***

__ADS_1


     Kondisi Alexa kian menurun. Sel-sel kanker semakin menggerogoti tubuh gadis manis itu. Tubuhnya semakin kurus dengan segala macam alat penunjang kehidupan terpasang. Dan sejak kejadian kemarin, Alexa tidak sadarkan diri. Sudah terhitung satu bulan semenjak kejadian keparat yang membuat Alexa menangis dan tiba-tiba tak sadarkan diri.


     Hal ini membuat Delfano geram setengah mati kepada pemuda ******** itu. Amarah mendorongnya untuk membalas dendam Alexa kepada Dian. Pembalasan dendam yang begitu cantik hingga siapapun tidak bisa tau kalau pelakunya adalah dia.


     Delfano hanya membuat Dian patah tulang kaki dan beberapa tulang rusuknya patah. Pemuda ******** itu juga sempat koma beberapa hari. Dan kalian tau? Bahkan polisi dibuat kelimpungan karena tidak menemukan satu pun bukti yang menjurus kepada si pelaku.


     Polisi sebenarnya sudah memeriksakan beberapa sahabat Dian bahkan Delfano juga ikut diperiksa. Tapi, seorang psikopat dengan segala alibinya mampu menutupi kebenaran. Alat pendeteksi kebohongan milik polisi pun tidak mendeteksi adanya kebohongan dari kesaksian Delfano. Delfano benar-benar pintar menyembunyikan rahasia. Termasuk rahasia kalau dia adalah psikopat. Hanya ayah dan adiknya yang tau mengenai kondisi psikisnya.


     Adegan demi adegan terus berlanjut hingga kini mencapai puncaknya. Dimana akhirnya Alexa menghembuskan napas terakhirnya selang dua hari dia sadar dari koma. Pemakaman gadis itu diiringi tangis oleh seluruh keluarga, kerabat dan sahabat Alexa. Mereka begitu terpukul dengan kematian Alexa yang begitu mendadak. Ah, namanya juga kematian. Hanya Tuhan yang tau kapan kita akan meninggalkan dunia ini.


     "Dimana Alexa? Aku ingin meminta maaf Fano."


     Suasana masih berkabung tapi keparat satu ini  semakin menghancurkan suasana hati Delfano.


     Tanpa ragu Delfano menarik samurai dari sarungnya yang terpajang di dinding rumahnya. Hal itu membuat orang-orang yang melihat menjerit ketakutan. Mahendra menghampiri Delfano dan berusaha menenangkannya.


     Delfano mulai mengejar Dian. Dian menghindari sabetan samurai Delfano. Saat Dian mulai terpojok, Delfano mengayunkan samurainya tinggi-tinggi. Dan...


Klang!


     Samurai itu dengan mudahnya terlepas dari tangannya Delfano. Dian lolos dari mautnya kali ini. Samurai itu terhempas karena belati milik Mahendra berhasil menangkis samurai yang dipegang oleh Delfano.


     "Kau mau tau dimana Alexa sekarang?" Tanya Mahendra.


     "Pi! Jangan biarkan dia menemui Alexa!"


     "Iya, aku ingin meminta maaf."


     "Pergilah ke TPU Ringinpitu. Tanahnya masih basah, kau bisa menemui Alexa di sana."


     "TPU Ringinpitu?"


     "Papi! Jangan biarkan dia menemui Alexa. Bahkan makamnya pun haram untuk pemuda ini!"


     "Delfano, papi tidak pernah mengajarkanmu untuk dendam. Ingat, Alexa akan sedih jika kau tidak bisa memaafkan Dian."


     "Kalian pasti bohong kan? Alexa masih hidup kan?"


     "Hari ini peringatan tujuh hari kematian Alexa, Dian."


     Dian lantas berlari keluar. Ia menghidupkan motornya lalu mengendarainya menuju pemakaman yang dimaksud oleh Mahendra. Yoga dan Kevin mengikuti Dian dari belakang. Mereka juga berniat meminta maaf walau sudah dibilang terlambat, mereka tidak peduli.


     TPU RINGINPITU.


     Mata Dian langsung menelusuri sekelilingnya. Dan pandangannya terkunci pada makam baru yang masih basah. Ia lantas berlari ke makam bertuliskan nama Alexa Mahendra. Semakin dekat dengan makam, langkah Dian melambat. Dia menatap nisan yang bertuliskan nama gadis yang sangat ia cintai. Dian melangkah dengan pasti. Ia terduduk ketika sampai di samping makam Alexa.


     Dian meraba gundukan tanah merah itu. Air matanya luruh begitu saja. Ia langsung memeluk nisan Alexa. Ia menangis meraung-raung. Dadanya begitu sesak mengetahui Alexa telah tiada. Beberapa saat kemudian Yoga dan Kevin datang yang juga langsung bersimpuh di samping makam Alexa.


     "Aku ingin bersamamu Alexa."


     "Maafkan kami Alexa."


     "Aku ingin bersamamu Alexa."


     Diam-diam Dian rupanya tadi mengambil belati milik Mahendra yang terhempas di dekat kakinya. Ia mengeluarkan belati yang nampak sangat tajam itu. Sedangkan Yoga dan Kevin tidak menyadari kalau Dian mengeluarkan belati itu. Mereka sibuk memejamkan mata untuk mendoakan Alexa.


     "Aku ingin bersamamu Alexa."


Jleb!


     Yoga dan Kevin terkejut mendapati Dian bunuh diri di samping makam Alexa.


     "Dian ******!"


     "Vin! Ayo kita bawa Dian ke rumah sakit sebelum terlambat!"


     Kevin gemetaran melihat darah yang mengalir dari luka Dian. Yoga menyentak Kevin untuk segera mengangkat tubuh Dian. Sedangkan Dian, entah keberanian dari mana, ia malah menancapkan belati semakin dalam. Dian tersenyum kemudian mati di samping makam Alexa.


     Yoga dan Kevin tetap membawa Dian ke rumah sakit untuk di otopsi.

__ADS_1


•••


TBC♥️


__ADS_2