
"RUHI AWAS!" Teriak Caca dan Nada yang berada di pinggir jalan dan ingin menyeberang.
TIIIINNNNN!
"RUHI!" Teriak Caca dan Nada sekuat tenaga.
Tubuh Ruhi lolos dari tabrakan maut tadi. Karena si pemilik dengan sigap menginjak pedal rem hingga mobil tersebut berhenti tepat sebelum mencium tubuh Ruhi.
Beruntung tidak ada mobil atau kendaraan lain di belakangnya karena memasuki jam makan siang kantor jadi sedikit lengang.
Si pemilik mobil menepikan mobilnya lalu keluar dari mobilnya. Ia langsung berlari menghampiri Ruhi dan membawanya ke pinggir jalan tempat Caca dan Nada masih berdiri. Ia lalu memeluk Ruhi.
"Ya Allah Ruhi!" Ujarnya cemas. Si pemilik mobil berplat merah itu rupanya Rajendra Hayyat Khan yang tidak lain tidak bukan adalah ayah Ruhi. Ruhi langsung menangis sesenggukan di pelukan sang ayah.
"Maaf, maafkan papi. Untung aja kamu gak ketabrak mobil papi."
"Ruhi pengen pulang," lirihnya dengan suara parau.
"Abangmu mana Ru? Caca, Nada dimana Indra sama Tito?" Tanya Rajendra.
"Di halaman belakang GOR FIKS om Raj," ucap Nada sedikit takut. Mereka sama pucatnya seperti Rajendra.
"Ck! Anak itu! Di suruh menjaga adiknya malah kelayapan."
Rajendra merogoh ponselnya di saku celananya. Ia mendial nomor Indra.
"INDRA! DIMANA KAMU!" Sentak Rajendra tanpa ba-bi-bu membuat Indra yang menerima sambungan telepon dari seberang sana terlonjak kaget.
"Indra ada di GOR FIKS Pi," sahut Indra dengan nada yang terdengar masih gemetar karena efek teriakan Rajendra.
"Pergi ke depan! SEKARANG!"
"B-baik Pi," ucap Indra patuh.
Beberapa menit kemudian...
"Papi."
Plak!
"Dari mana aja kamu ha! Adik kamu hampir tertabrak mobil papi! Untung aja papi refleks ngerem. Kalo nggak gimana?" Sentak Rajendra, lagi.
"Ini bukan salah abang Pi. Ini salahnya Ruhi. Jangan marahin abang Pi," ucap Ruhi sembari sesenggukan.
"Adek, kamu kenapa?" Tanya Indra dengan khawatir.
Ruhi menggeleng kemudian memeluk Rajendra lagi.
"Udah! Kamu izin ke Danu! Papi mau bawa Ruhi pulang." Titah Rajendra.
"Iya Pi."
"Ndra!"
"Iya Pi?"
"Maafkan papi."
Indra tersenyum, "Gak papa Pi. Indra juga salah kok," ujarnya sembari kembali ke GOR FIKS.
"Kalian berdua bisa kembali ke GOR FIKS lagi."
"Iya om."
"Ayo sayang."
Rajendra menggandeng Ruhi kemudian membukakan pintu mobil penumpang depan untuk Ruhi. Ruhi masuk lalu memasang sabuk pengaman. Rajendra pun turut masuk ke kursi pengemudi kemudian melajukan mobilnya kembali ke mansion.
"Ca, Ruhi kenapa sih?" Tanya Nada.
Caca teringat kalau Ruhi tadi meminjam ponselnya. Tiba-tiba wajahnya memucat.
"Jangan-jangan," Gumam Caca.
"Kenapa sih?"
"Jangan-jangan Ruhi udah liat video mas Bagas sama si Maura."
__ADS_1
"Duh! Bego banget sih!" Rutuk Nada.
"Duh gimana ini! Wah pasti Ruhi sedih banget."
"Kamu sih Ca! Kenapa gak kamu pindah ke laptopmu sih."
"Woi ciwi-ciwi! Ngapain di situ?" Seru Riko sembari menyeberang jalan dengan santai karena jalanan tengah sepi.
"Gawat Rik!"
"Gawat kenapa?"
"Ruhi udah liat video mas Bagas sama Maura."
"What! Kok bisa!" Pekik Riko.
"Ini salah aku. Hiks... Maaf," lirih Caca.
"Kenapa malah nangis sih? Justru rencana kita bisa dijalankan mulai sekarang."
"Bener juga kata si Riko. Udah Ca, maafin aku yang main nyalahin kamu."
Caca mengangguk. Mereka bertiga kembali ke halaman belakang GOR FIKS untuk menemui Danu.
#
Mansion Rajendra, 22.00 WIB.
Angin malam sedingin apapun tak menggoyahkan Ruhi untuk tetap berdiri di balkon kamarnya. Sudah sejak pukul 8 tadi Ruhi berdiri menatap kendaraan yang lalu lalang di depan kediamannya. Padahal tangannya sudah memucat dan sedingin es.
Ruhi terus menangis dan mengurung diri dalam kamar. Video yang ia tonton tadi siang cukup membuatnya terkejut. Kenyataan kalau Bagas mendekatinya hanya karena diminta mas Danu cukup menyesakkan dada Ruhi.
Angin malam menyapu wajah Ruhi, menerbangkan anak rambut yang jatuh menutupi wajahnya. Ruhi mengusap air matanya walau sudah mengering. Nampak jelas jejak air mata dan mata yang sembab karena terlalu lama menangis.
Ia harus bertahan. Demi apapun ia harus bertahan sampai tujuannya tercapai. Ia harus menepati janji yang telah diucapkannya saat malam Diklat teater langit dulu ketika awal masuk teater langit.
"Aku akan bertahan sampai akhir."
Begitulah janji Ruhi pada alumni, senior dan pada dirinya sendiri. Dalam keluarga Khan, tidak ada kata melanggar janji dalam hukum tidak tertulisnya. Sesulit apapun tepati harus bisa menepati janji.
Ruhi menoleh dan mendapati kakak sulungnya, Rendi berdiri di belakangnya dan membawakan selimut tebal untuk Ruhi.
"Mau cerita? Abang bawa selimut untukmu. Dipakai," ucap Rendi sembari menyampirkan selimut yang ia bawa ke pundak Ruhi. Ruhi tersenyum sembari merapatkan selimut yang disampirkan oleh kakaknya.
Ruhi duduk di samping Rendi lalu memeluk kakaknya dengan erat. Rendi mendekap tubuh adiknya lalu meletakkan dagunya di atas kepala Ruhi sembari mengusap kepala Ruhi dengan sayang. Ruhi perlahan mulai terisak di dalam pelukan Rendi. Pundaknya bergetar dan membuat senyum di bibir Rendi memudar. Alisnya bertautan ketika mendengar isak tangis adiknya.
"Cerita sama abang Ru. Siapa yang melukaimu? Tito? Atau-"
"Tidak ada bang. Ruhi hanya menangisi kebodohan Ruhi sendiri. Dua kali Ruhi terjerembab ke dalam lubang yang sama. Kesalahan yang sama. Sakit hati pada orang yang sama."
Rendi mulai konek dengan apa yang dikatakan Ruhi. Dalam pikirannya terbesit satu nama. Bagas.
"Apa yang dia lakukan padamu Ru?" Tanya Rendi. Ruhi merasa kalau rahang Rendi mengetat.
"Tidak ada."
"Katakan pada bang Rendi."
"D-dia mendekati Ruhi lagi atas permintaan mas Danu. Dan apa yang mas Bagas katakan sama bang Rendi di rumah sakit waktu itu semua bohong. Itu hanya akal bulusnya. Itu hanya tipuannya bang." Ruhi semakin terisak.
"Aku akan membunuhnya."
Deg!
Ruhi mendongak menatap kakaknya.
"No! Big no!"
"Why?"
"Because i love him!"
"Are you crazy! Kau masih mencintai pemuda bajingan itu?"
"Iya bang! Ruhi bodoh kan bang?"
"Nggak. Adek abang gak bodoh. Kau hanya masih terlalu naif untuk mencintai."
__ADS_1
Hening.
Ruhi kembali mendekap tubuh kakaknya. Kini mereka saling menghangatkan tubuh dalam satu selimut yang Rendi bawa tadi.
"Abang."
"Hmm."
"Besok ke makam mami yuk. Ruhi kangen," ucap Ruhi sembari menelusupkan kepalanya ke ceruk leher kakaknya.
"Ayok. Ntar abang bilang sama papi sama Indra."
"Ruhi sayang abang."
"Abang lebih sayang Ruhi," ucap Rendi mempererat pelukannya.
"Abang, abang."
"Apa?"
"Ceritain dong. Gimana rasanya jadi perwira TNI," pinta Ruhi.
"Susah senang ada semua. Tapi banyak senengnya. Misal kalau ada latihan gabungan dengan resimen mahasiswa Unipdi."
"Heleh, itu mah karena abang seneng bisa ketemu sama Ruhi."
"Dih! PD nya adek abang ini," ledek Rendi.
"Tapi bener kan?" Goda Ruhi.
"Iya aja deh biar seneng."
"Ih abang kok gitu."
"Jadi cerita nggak ini?"
"Jadi dong."
"Gini...."
Rendi mulai menceritakan suka duka menjadi perwira TNI AD. Banyak kejadian lucu ketika latihan rutin. Seperti saat sit up ada salah satu anggota yang kentut dan lain sebagainya. Jangan dipikir latihan TNI itu seserius apa yang kalian bayangkan. Memang serius, tapi terkadang ada senda gurau antara komandan dan prajurit.
"Gara-gara si Shakti kentut, semuanya jadi ketawa. Yang awal pada serius malah jadi gak konsen gara-gara ketawa. Terus-"
Ucapan Rendi terhenti ketika mendengar dengkuran halus dari Ruhi.
"Abang gak suka kalau kamu nangis hanya karena Bagas, Ru. Dan abang sayang Ruhi. Ingat itu Ru," bisik Rendi.
Rendi membopong Ruhi lalu membaringkannya di ranjang quen size milik Ruhi. Setelah menyelimuti tubuh Ruhi sampai batas dada, Rendi kembali ke balkon untuk mengambil ponselnya yang ia letakkan di atas meja.
Rendi meraih ponselnya lalu mendial nomor seseorang.
"Halo."
"...."
"Aku punya tugas untukmu."
"...."
"Beri sedikit pelajaran pada seseorang."
"...."
"Namanya Bagas Swogantara. Mahasiswa PBSI Unipdi semester 6. Nanti aku akan mengirimkan fotonya."
"...."
"Minimal buatlah tangannya patah."
"...."
Rendi mematikan sambungan telepon kemudian tersenyum miring, "Pembalasan tahap satu."
•••
TBC♥️
__ADS_1