
Azeem-o-shaan shahenshah
-Oh kaisar yang agung nan mulia
Azeem-o-shaan shahenshah
-Oh kaisar yang agung nan mulia
Ruhi memasuki panggung dengan dandanan ala pengantin India. Terselip sepasang pedang di pinggang Ruhi. Sedangkan Tito tengah duduk dengan gagahnya di sofa yang memiliki model seperti singgasana.
Farma rawa
-Semoga kerajaanmu
Hamesha hamesha salamat rahe
-Selalu dalam perlindungan (tuhan)
Ruhi menghadap Tito dengan kedua tangan yang mengatup di depan dadanya. Ruhi memberi salam kepada Tito. Tito mengangkat tangannya, memberi restu kepada Ruhi.
Tere ho kya bayaan
-Kami tak memiliki kata-kata untuk menggambarkan/memuji dirimu
Tu shaan-e-Hindustan
-Kau kebanggaan India
Hindustan teri jaan
-India adalah hidupmu
Tu jaan-e-Hindustan
-Kau kehidupan India
Marhaba ho marhaba
-Kami menyambutmu
Marhaba ho marhaba
-Kami menyambutmu
Ruhi kembali ke tengah panggung. Tito mengikuti Ruhi ke tengah panggung. Mereka mengambil posisi masing-masing.
Azeem-o-shaan shahenshah
-Oh kaisar yang agung nan mulia
Farma rawa
-Semoga kerajaanmu
Hamesha hamesha salamat rahe
-Selalu dalam perlindungan (tuhan)
Tere ho kya bayaan
-Kami tak memiliki kata-kata untuk menggambarkan/memuji dirimu
Tu shaan-e-Hindustan
-Kau kebanggaan India
Hindustan teri jaan
-India adalah hidupmu
Tu jaan-e-Hindustan
-Kau kehidupan India
Marhaba ho marhaba
-Kami menyambutmu
Marhaba ho marhaba
-Kami menyambutmu
Ruhi dan Tito saling adu pedang. Langkah demi langkah mereka begitu indah. Suara pedang beradu disertai dengan gemerincing gelang kaki, mereka padukan dengan begitu indah.
Jalaluddin Akbar
-Jalaluddin Akbar
Terlepas dari gerakan saling adu pedang, Tito masuk back stage. Kini tinggal Ruhi yang ada dipanggung. Ruhi mulai menari dengan gemulainya. Hentakan kaki Ruhi seirama dengan musik yang diputar. Semua penonton terkesima melihat tarian Ruhi. Sangat gemulai.
Sab nagran ma
-Di setiap kota
Har aangan ma
-Dalam setiap halaman
Prem hai tumra
-Ada cinta untukmu
Har har mann ma
__ADS_1
-Dalam setiap hati
Ta ra re ra... ta ra re ra
Ruhi memutar tubuhnya seperti tarian sufi.
Daya joh tumri
-Kebajikanmu
Mahabali hai
-Selalu menang
Desh ma sukh ki
-Di negara ini
Pavan chali hai
-Angin kebahagiaan bertiup
Chan chanan chan... chan chanan chan
Ruhi memutar tubuhnya kembali dan membuat sarinya mengembang dengan cantik.
Marhaba ho marhaba
-Kami menyambutmu
Marhaba ho marhaba
-Kami menyambutmu
Azeem-o-shaan shahenshah
-Oh kaisar yang agung nan mulia
Marhaba
-Selamat datang
Tito masuk dengan menunggangi kuda lalu melompat dari atas kudanya. Tito menghunuskan pedangnya lalu menyerang Ruhi. Ruhi menangkis pedang Tito. Terjadilah tarian saling adu pedang.
Deta hai har dil yehi gawahi
-Setiap hati sebagai saksi mengatakan bahwa
Dilwale hai zil-e-elahi
-Raja kami murah hati semoga terus dalam naungan Tuhan
Jaaon kahin bhi, niklo jidhar se
Galiyon galiyon sona barse
-Jalan jalan di hujani emas
Chan chanan chan... chan chanan chan
Marhaba ho marhaba
Marhaba ho marhaba
Azeem-o-shaan shahenshah
Tera mazhab hai joh mohabbat
-Agamamu adalah jalan penuh cinta kasih
Kitne dilon par teri hukumat
-Kau telah menaklukkan banyak hati
Jitna kahe hum utna kam hai
-Sebanyak apapun yang kita katakan (pujian) untukmu, itu belum cukup
Tehzeebon ka tu sangam hai
-Kau seperti penyatu seluruh tradisi
Chan chanan chan... chan chanan chan
Marhaba ho marhaba
-Kami menyambutmu
Marhaba ho marhaba
-Kami menyambutmu
Azeem-o-shaan shahenshah
-Oh kaisar yang agung nan mulia
Azeem-o-shaan shahenshah
-Oh kaisar yang agung nan mulia
Farma rawa
-Semoga kerajaanmu
__ADS_1
Hamesha hamesha salamat rahe
-Selalu dalam perlindungan (tuhan)
Tere ho kya bayaan
-Kami tak memiliki kata-kata untuk menggambarkan/memuji dirimu
Tu shaan-e-Hindustan
-Kau kebanggaan India
Hindustan teri jaan
-India adalah hidupmu
Tu jaan-e-Hindustan
-Kau kehidupan India
Marhaba ho marhaba
-Kami menyambutmu
Marhaba ho marhaba
-Kami menyambutmu
Tu hai raja... praja saari
Kau rajanya... kita adalah rakyatmu/pengikutmu
Yahan bhi wahan bhi hai teri dhoom
-Kau dipuji di mana-mana
Jalaluddin Akbar
-Jalaluddin Akbar
Hingga tarian selesai, penonton tidak sanggup untuk berkedip. Mereka sangat terpukau melihat kolaborasi antara Ruhi dan Tito. Sangat epik dan serasi. Diakhir tarian, Tito dan Ruhi membungkukkan tubuh kepada penonton. Seluruh penonton memberikan standing applause sembari berteriak dengan girang. Mereka sangat mengapresiasi tarian Tito dan Ruhi barusan.
#
Kendra menghampiri Tito dan Ruhi yang tengah sibuk membersihkan makeup-nya masing-masing.
"Luar biasa. Kalian sangat serasi saat menari tadi." Puji Kendra untuk penampilan Ruhi dan Tito barusan.
"Ah, jangan berlebihan lah mas. Kita hanya terbiasa." Ucap Tito.
"Hiu!" Teriak Caca dan Nada bersamaan.
"Berisik kaleng rombeng!"
Caca dan Nada menjulurkan lidahnya mengejek Tito. Tito mendengus.
"Bagus banget sumpah!"
"Iya Ru, seperti biasa."
"Uhh kalian lebay deh ah," ucap Ruhi sembari mencubit kedua pipi Caca kemudian Nada.
"Ini ada sedikit dari kami sebagai ucapan terimakasih," ucap Kendra sembari memberikan sebuah amplop berwarna putih kepada Arina yang baru saja datang bersama Rhea dan Saza.
Arina menolak amplop itu dengan halus. Ia tersenyum, "Mboten sah mas. Mungkin saget jenengan paring ne Tito utawa Ruhi mas,"
"Mboten sah mas. Kula kaleh Ruhi ikhlas. Kita melakukannya atas dasar cinta akan bidang menari dan kami melakukannya cuma-cuma, tidak mengharapkan bayaran,"
"Apa yang dibilang sama Tito benar mas," Ruhi tersenyum. Tiba-tiba, kepala Ruhi seperti di dihantam benda yang keras. Ruhi menahan ekspresinya sebisa mungkin.
Wajah Ruhi memerah menahan rasa sakit itu. Ia menggenggam tangan Tito dengan erat. Tito yang sadar dengan kode dari Ruhi, ia langsung pamit pulang.
"Mbak Rina, kita izin dulu ya. Udah ditelpon sama om Raj."
"Kok buru-buru ?"
"Iya nih, kok buru-buru ?"
"Sebentar lagi ada sesi bincang-bincang loh," ucap Kendra.
"Mau jalan ya kalian berdua?" Ucap Caca penuh selidik.
"Hehe, iya," jawab Tito asal, "Ayo Ru,"
Tito menarik Ruhi untuk pergi dari back stage menuju parkiran.
Di parkiran.
Ruhi terduduk sembari memegangi kepalanya yang semakin berdenyut dengan rasa sakit yang kian menghujam. Darah sudah mengalir dari kedua lubang hidungnya.
Tito menghampiri Ruhi setelah ia sadar kalau dia hanya menggandeng angin.
"RUHI !!"
"Sa-kit..." Lirih Ruhi.
"Ru !! Bertahanlah Ru," Tito membopong tubuh Ruhi masuk ke dalam mobil.
"Berjuanglah demi kami Ru," ucap Tito sembari melajukan mobilnya menuju Rumah Sakit Mitra Husada, milik Ali.
Tito menyetir mobilnya dengan ugal-ugalan. Ia tidak peduli kalau dia akan ditilang atau sebagainya. Yang terpenting saat ini adalah kesehatan Ruhi.
•••
__ADS_1
TBC♥️