
Pras, Nada dan Riko menelan ludah mendengar cerita Caca. Masa lalu Indra begitu kelam. Pantas saja dia ditakuti oleh sebagian besar mahasiswa. Ternyata, Indra sudah menorehkan tinta merah di kehidupannya.
Kepribadian Indra yang saat ini berbeda jauh dengan 2 tahun yang lalu. Beruntung Indra yang sekarang sedikit lebih 'jinak' sejak kejadian tragis itu. Baik Rajendra, Rendi, maupun Ali kompak menutup mulut mereka mengenai kejadian ini. Pihak keluarga dari Fandi dan Fani pun memilih menutup kasus ini karena mereka tidak memiliki bukti apapun untuk memberatkan Indra. Indra pun sebenarnya merasa bersalah bukan karena telah membunuh Fandi dan Fani tapi ia menyesal kenapa tidak dari dulu dia membunuh manusia keparat bernama Fandi juga Fani.
"Kalau begitu, mas Bagas dalam bahaya," ucap Riko.
"Untuk saat ini tidak. Mas Indra masih mode menggertak. Tapi, jika ini berlarut-larut, aku takut kalau itu akan terulang lagi."
"Meskipun aku benci mas Bagas, bukan berarti kita diam saja kan?" Pras menatap Caca, Riko dan Nada bergantian.
"Maksudnya mas?"
"Kita harus memperingatkan mas Bagas tentang ini. Jangan sampai ada nyawa yang melayang," jelas Pras.
"Setuju."
#
Asap tebal dari mulut Indra membumbung tinggi dengan aroma coklat yang memenuhi sudut kamarnya. Tidak biasanya Indra menghisap rokok elektriknya. Seorang Indra sangat jarang bahkan sudah tidak pernah lagi menyentuh barang berasap itu. Terakhir kali Indra menghisap rokok elektriknya adalah malam dimana dia membunuh Fandi dan Fani.
Jujur, Indra selama ini tertekan dengan dosa masa lalunya. Tapi, Indra juga tidak menyesal karena sudah membantu malaikat untuk menjemput nyawa sepasang parasit itu. Beruntung Indra sudah mendapatkan maaf dari kedua orang tua baik dari Fandi maupun Fani.
Sudah cukup Indra menahan diri selama beberapa bulan ini. Ia sudah hampir diambang batas kesabaran untuk tidak membunuh Bagas. Tangannya sudah terasa sangat gatal juga geram berlebihan kepada Bagas juga jalang bernama Maura itu.
Ia tidak bisa menerima jika Ruhi yang disakiti. Ia membenci semua orang yang sudah berani menyakiti Ruhi.
Beberapa waktu lalu Indra berhasil melukai kaki Puspita, teman sekelas Ruhi yang secara terang-terangan mengatakan ketidaksukaannya kepada Ruhi dan dia juga mengatakan kalau dia membenci Ruhi karena semua lelaki yang ia suka malah menyukai Ruhi.
Juga ada Rhea, Indra masih mengawasi seluruh gerak geriknya karena ia juga secara terang-terangan memperlihatkan ketidaksukaannya kepada Ruhi.
Indra menyeringai, "Aku harus membalas Bagas," ucapnya sembari menghembuskan asap rokok elektriknya.
Reno langsung menoleh kearah Indra. Memang dia membenci Bagas. Tapi Reno tidak ingin Indra membunuh orang lagi. Masih untung Indra tergolong cerdik dalam menyembunyikan barang bukti dan menghapus jejak kejahatannya, kalau ceroboh sedikit saja, pasti Indra sudah mendekam di penjara.
"Tenangkan pikiranmu dulu Ndra. Aku tidak ingin kau melakukan itu lagi," ucap Reno secara blak-blakan menyatakan ketidaksetujuannya mengenai niat Indra. Meskipun tidak menutup kemungkinan kalau Reno akan mengajukan dirinya sendiri dalam membantu Indra menyingkirkan Bagas.
"Tapi dia sudah menyakiti Ruhi adikku begitu dalam." Indra mengoleskan liquid pada rokok elektriknya.
"Aku bersumpah akan membunuh siapapun yang berani menyakiti Ruhi." Indra menghisap rokok elektriknya, lagi.
Reno menghela napasnya. Indra benar-benar menjadi seorang psikopat jika berurusan dengan Ruhi adiknya.
__ADS_1
#
"Sel kanker Ruhi sudah menyebar ke jantung juga beberapa organ lainnya. Kesempatan hidup Ruhi tinggal-"
"Jangan lanjutkan lagi Al!" Sergah Rajendra. Rajendra mengusap wajahnya sembari menghela napasnya.
"Kita harus memaksanya melakukan kemoterapi secepatnya kak. Kalau tidak maka...." Ali menggeleng dengan wajah tertunduk lesu.
"Perjuangkan hidup putriku Al. Kakak mohon," pinta Rajendra. Ali menatap iba kakaknya. 2 kali penyakit ganas ini menghampiri hidup Rajendra. Pertama pada Frida, istrinya dan yang kedua adalah Ruhi, gadis kesayangan keluarga Khan.
"Papi..." Lirih Ruhi.
Rajendra dan Ali bergegas menghampiri Ruhi yang perlahan membuka matanya.
"Iya sayang. Papi disini," shut Rajendra dengan lembut.
"Ruhi kangen mami," ucap Ruhi dengan lemah.
Rajendra menggenggam tangan kanan Ruhi lalu menciumnya.
"Ruhi mau ke makam mami?"
Ruhi mengangguk.
"Ngomong-ngomong, kapan Ruhi bisa kuliah lagi om?"
"Bilang aja mau latian teater dadak alasan kuliah," cibir Ali.
Ruhi hanya tersenyum.
Keesokannya...
Pukul 06.00 wib.
Lima orang berbeda generasi itu sama-sama tertunduk, larut pada doa mereka masing-masing. Rajendra, Ruhi, Ali, Rendi juga Indra. Sejak setengah 6 tadi sudah duduk saling berhadapan. Di depan mereka sudah ada makam bertuliskan nama Frida Lidwina, mendiang istri Rajendra yang meninggal sejak beberapa tahun lalu dengan penyakit yang sama dengan yang diderita oleh Ruhi saat ini.
Rendi dan Indra sama-sama menatap nisan ibu mereka. Perlahan air mata keduanya pun membasahi pipi masing-masing.
Ali dan Rajendra larut dengan doa mereka. Sedangkan Ruhi menangis dalam diam sembari terus memanjatkan doa kepada mendiang ibunya.
Tes... Tes... Tes...
__ADS_1
Darah kembali menetes dari hidung Ruhi. Darah itu menetes membasahi telapak tangan Ruhi yang sedang menengadah, berdoa untuk ibundanya.
'Apa seperti ini akhir dari segalanya Mi?' Batin Ruhi.
Pandangan Ruhi mengabur dan akhirnya ia tak sadarkan diri dengan bersandar di bahu Ali. Keempat lelaki itu langsung sadar jika Ruhi tak sadarkan diri.
"Darah?"
"Ya Allah!"
"Ruhi!"
Ali langsung membopong tubuh keponakannya itu lalu membawanya kembali ke rumah sakit. Rajendra, Rendi dan Indra mengekori Ali sampai ke rumah sakit.
'Frida, tolong katakan pada malaikat maut untuk jangan dulu mengambil nyawa putri kita.' batin Rajendra sembari mengemudikan mobilnya kembali ke rumah sakit.
Di rumah sakit.
"SUSTER! SIAPKAN BRANGKAR! CEPAT!" Teriak Ali dengan Ruhi di dalam pelukannya.
Dengan tergesa-gesa, suster membawa brangkar ke hadapan Ali. Ali membaringkan tubuh keponakannya ke atas brangkar lalu membawanya masuk ruang UGD.
"Cepat siapkan pengejut jantung!"
"Cek tekanan darahnya!"
"Kalian semua pakai baju yang steril! Ambilkan untukku juga!"
"CEPAT!"
Ali begitu panik ketika melihat darah yang keluar dari hidung Ruhi berwarna merah kehitaman. Setelah semua beres, Ali dan semua perawat juga sudah memakai pakaian yang steril, penanganan dimulai.
Ali menempelkan alat pengejut jantung ke dada Ruhi. Ali melakukannya beberapa kali hingga jantung Ruhi kembali merespon. Namun nihil.
Jantung Ruhi tetap tidak merespon. Detak jantungnya kian melemah.
Ali semakin bingung dan panik.
"Om mohon jangan menyerah dulu Ruhi... RUHIIIIII!"
•••
__ADS_1
TBC♥️