Luruh Tak Embuh

Luruh Tak Embuh
LTE | DUA PULUH


__ADS_3

"Sialan! Gara-gara Ruhi, gue dihajar sama Indra!"


"Salah sendiri! Udah tau Indra bukan tandingan lo, masih aja kebanyakan gaya!" Omel Maura.


"Berisik lo Ra! Kalo bukan mas Danu gua mah ogah melakukan ini semua," sungut Bagas.


"Jangan bilang lo deketin Ruhi lagi bukan karena emang lo sadar sama perasaan lo, tapi karena diminta sama mas Danu!"


"Exactly."


"Keterlaluan lo Gas! Ruhi itu mencintaimu setulus hati Gas! Kenapa lo tega banget sih!"


"Gak usah munafik deh Ra! Gue tau kok kalau lo itu benci sama Ruhi. Tenang aja, gue cuma cinta sama lo Maura."


"Ya gak begini juga caranya Gas!"


"Lo tinggal diem aja kenapa sih! Terima jadi gitu aja repot. Gue udah bilang kan? Gue melakukan semuanya gara-gara disuruh mas Danu. Gue juga ogah sama bocah penyakitan kek Ruhi! Gak sudi banget!"


"Tapi Gas. Gue juga cewek gas. Gue tau gimana rasanya diposisi Ruhi. Gue mohon hentikan Gas, hentikan!"


Bagas langsung saja memeluk Maura lalu mengecup kening Maura.


"Diem dan nurut!"


Klik!


"Kita berniat mencari tau mengenai Ruhi, kita malah dapat kenyataan ini. Bagas itu memang benar-benar lelaki brengsek!"


"Kamu benar Ca. Seumur-umur, aku baru tau ada orang begini bajingannya! Aku takut kalau Ruhi tau, dia bakal kayak waktu itu."


"Mau tidak mau kita harus memberitahu Ruhi mengenai Bagas. Kalau tidak, Ruhi akan semakin sakit karena akting Bagas ini."


Riko, Caca dan Nada bekerjasama untuk mencari kebenaran mengenai Ruhi. Rika, Caca dan Nada pergi dari depan UKS. Mereka sudah mengantongi satu bukti mengenai betapa brengseknya Bagas.


Mereka memutuskan untuk berkumpul di dalam sanggar teater langit.


"Rekaman saja tidak cukup! Kita harus menguak segalanya sebelum terlambat."


"Iya. Ayo kita berjuang demi sahabat kita, Ruhi."


"Bener."


#


Hari ini adalah hari Selasa. Sebagai ganti batalnya jadwal latihan bersama MENWA dan TNI dari KOREM.


Ruhi duduk diantara TNI yang ikut dalam kegiatan rutin ini. Tetap dengan penjagaan Rendi. Jiwa posesif Rendi tiba-tiba muncul ketika teman-temannya sesama TNI mulai menggoda Ruhi dalam artian bercanda dengan Ruhi.


"Kau tidak pernah mengenalkan adikmu pada kami Ren. Rupanya adikmu ini gadis yang manis ya?" Goda Jefri.


"Dasar mata keranjang lo Jef!"


"Dih! Posesif amat!" Yoga tertawa melihat wajah Rendi yang memerah karena geram melihat dia dan teman-temannya yang lain masih gencar menggoda Ruhi.


"Kalian! Jangan memancing amarah Rendi. Apa kalian mau kepala kalian itu diputar 360 derajat sama Rendi?" Ucap Satria menengahi percikan huru-hara yang akan membesar menjadi insiden.


Glek!


"Serem amat. Kami hanya bercanda Rendi. Santuy lah santuy."


Ruhi terkekeh melihat Rendi yang terus digoda oleh teman-temannya sesama TNI. Tiba-tiba, pandangan Ruhi mengabur.


Ruhi menyentuh cairan kental berwarna merah berbau anyir yang keluar dari kedua lubang hidungnya itu.


"Astaghfirullah!"


Ruhi berpura-pura bersin kemudian pamit ke kamar mandi.

__ADS_1


Ruhi berlari ke kamar mandi. Ketika jarak antara tempatnya berdiri dengan kamar mandi tinggal 5 meter lagi, Ruhi semakin merasakan pusing dan darah yang keluar semakin banyak.


Ruhi menahan tubuhnya dengan bersandar pada dinding tangga. Ia rehat sebentar berharap rasa sakit yang menderanya sedikit berkurang walaupun ia tau kalau itu tidak mungkin terjadi.


"Woi kalau tugas seperti itu aku mah nyerah aja. Eh guys! Lihat! Itu Ruhi bukan?" Seru Nada.


"Mana! Mana! Mana!" Heboh Caca dan Riko.


Mereka bertiga bersembunyi dibelakang pilar besar yang menjadi penyangga tangga menuju lantai kedua. Dengan langkah hati-hati, mereka mengikuti Ruhi tapi, tiba-tiba!


Ruhi menghilang!


Ruhi seperti lenyap ditelan bumi ketika Riko, Caca dan Nada hampir sangat dekat dengan Ruhi.


"Perasaan Ruhi tadi disini deh."


Caca menelusuri sekitar dan pandangannya fokus pada noda setetes darah yang masih segar di lantai.


"Darah?"


"Sebentar. Kemarin kalau tidak salah, kampus 1 digegerkan dengan penemuan noda darah yang telah mengering di sepanjang koridor yang menuju lobi. Noda darah itu dari lapangan parkir sampai tangga menuju lantai kedua yang berada di dekat koridor."


"Kalian ingat tidak? Malam itu Ruhi berlari sambil menutupi hidungnya. Dan kalau gak salah lihat, aku melihat noda darah menetes dari dagu Wida di bajunya."


Mereka bertiga saling menatap.


"Kalau pemikiran kita sama, kemungkinan ini adalah darah Ruhi. Dan satu-satunya kartu AS kita untuk menemukan kebenarannya, kita harus ke rumah sakit om Ali. Kita harus menyelidikinya sedetail-detailnya."


"Ide yang bagus Rik!"


"Ayo!"


#


Ali menatap Ruhi yang terbaring lemah dengan segala macam alat penunjang kehidupan terpasang di tubuhnya.


Ia melihat Tito yang terduduk lemas di depan UGD dengan menyangga kepalanya yang tertunduk. Ia tau kalau pemuda itu kini tengah menangis. Kemeja biru lautnya pun kotor, mungkin karena terkena darah Ruhi.


Ya, Tito lah orang yang membawa Ruhi ke rumah sakit.


"Bersabarlah. Aku tau, Allah tidak pernah tidur. Jadi, memohonlah sesuatu padaNYA. Aku percaya, Allah SWT akan mengabulkan doamu."


Tito mengangguk. Ia beranjak menuju langgar untuk melaksanakan ibadah salat ashar.


"Ya Allah, engkau adalah dzat yang menciptakan alam semesta. Tidak ada kekuatan yang mampu menandingi engkau. Hamba, seorang manusia hina ingin meminta satu padaMu. Hamba mohon, sembuhkan lah gadis yang amat sangat hamba cintai. Kalau bisa, hamba rela menukar jiwa hamba dengannya. Asal dia bisa sembuh dan hidup sedikit lebih lama lagi ya Allah. Aamiin."


Setelah selesai melaksanakan ibadah salat ashar, Tito kembali ke UGD tempat Ruhi ditangani.


"Tito!"


'Suaranya tidak asing,' batin Tito. Tito menoleh kebelakang.


"Riko? Caca? Nada? Ngapain kemari?"


"Kita mau nyari Ruhi."


Deg!


Apa mereka tau mengenai penyakit Ruhi ? "B-bukannya Ruhi di kampus ya?"


"Iya. Ruhi tadi emang di kampus. Tapi, pas kita mau samperin, eh! Dianya hilang. Dan kau tau To ? Ada noda darah di tempat Ruhi berdiri tadi."


"D-darah?"


"Btw kamu ngapain kesini?"


"Apa kalian lupa? Papaku bekerja disini. Ayahku dokter spesialis disini."

__ADS_1


"Oh iya."


"Hei, apa kau melihat Ruhi?"


"Tidak! Aku terakhir melihatnya tadi pas matkul."


"Oh ya sudah. Kami pamit dulu."


"Syukurlah mereka tidak curiga," gumam Tito sembari menghela napas.


Riko langsung menarik Caca dan Nada pergi dari hadapan Tito.


"Kalau kita bertanya pada Tito, kita tidak akan mendapat informasi apapun," ucap Riko sembari terus menarik Caca dan Nada.


"Kau benar juga Rik," sahut Caca.


Ketiga mahasiswa itu keliling rumah sakit Mitra Husada. Saat harapan mereka hampir lenyap, tiba-tiba mereka mendengar sesuatu yang tidak ingin mereka ketahui.


Disisi lain di waktu yang sama.


"Aku akui, aktingnya cukup bagus. Nyatanya, aku dan semua orang tertipu dengan kebohongannya selama satu minggu ini. Cih! Dia kira, aku tidak tau alasan dia mendekati Ruhi lagi," ucap Indra sembari meneguk minuman bersoda-nya.


Diam-diam Indra menyebarkan anak buahnya di Resimen Mahasiswa untuk menyelidiki Bagas. Sebegitu besarnya Indra tidak percaya dengan sikap Bagas. Dia adalah Indra, seorang pemuda yang mampu berubah menjadi psikopat jika ada yang berani mengganggu ketenangannya. Apalagi jika diantara mereka ada yang berani menyentuh adik tercintanya. Maka, siap-siap habis di tangan Indra. Ya meskipun tidak mati, minimal patah tulang belakang, dan yang paling parah adalah koma.


Malam itu, ketika Indra tengah berjalan-jalan mengitari alun-alun bersama Reno, pandangan Indra fokus pada 2 orang manusia yang ia kenal.


Bak mata-mata profesional, Indra dan Reno mengendap-endap untuk lebih dekat dengan 2 manusia itu.


"Bagaimana Bagas? Apa kamu sudah tau apa penyebab Ruhi akhir-akhir ini sering tidak hadir?"


"Sudah mas. Ruhi sakit radang mas. Mas tenang saja. Bagas bisa tangani."


"Dekati dengan caramu sendiri bukan berarti kamu menggunakan cara seolah-olah kamu mencintainya."


"M-maksud mas Danu?"


"Kau tau apa maksudku."


"Brengsek! Rupanya dia mendekati adikku karena di minta sama mas Danu," gumam Indra dengan geram.


"Mas Danu dia selamat karena hanya sedikit terlibat. Tapi untukmu Bagas, aku tidak akan ada ampun," ucap Indra disertai seringaian iblisnya. Hawa dingin yang menyeruak mampu membuat bulu kuduk Reno berdiri. Sisi inilah yang paling Reno benci dari seorang Indra.


"Emang, semua hal yang menyangkut Ruhi, kau selalu gerak cepat pak komandan," puji Reno.


"Dia adik tersayangku. Aku tidak akan pernah memaafkan orang yang berani menyakiti adikku. Bahkan jika itu adalah diriku sendiri."


Indra duduk disamping Reno.


"Kunci kemenangan lo ada di tangan Riko, Caca dan Nada. Mereka memiliki rekaman percakapan Bagas dan si jalang Maura."


Indra dan Reno menoleh kearah pintu masuk.


"Jodhi?"


"Hai Indra."


"Gue lebih tertarik dengan ucapan lo sebelum ini," ucap Indra tanpa tedeng aling-aling.


Jodhi menghela napas, "Lo memang tidak bisa berbasa-basi ya Ndra."


"Memang beginilah gue. Cepat katakan!"


"Sebenarnya...."


•••


TBC♥️

__ADS_1


__ADS_2