Luruh Tak Embuh

Luruh Tak Embuh
LTE | TUJUH


__ADS_3

"Eh kalian lihat gak tadi ?"


"Lihat apa ?"


"Tadi anaknya pak rektor di bopong sama lelaki pakai seragam TNI lho..."


"Terus terus ?"


"Darahnya banyak banget... Ihh serem pokoknya... Sampek darahnya tuh ngotorin seragamnya TNI itu lho..."


"Beneran ?"


"Iya bener... Viral tau di grup universitas..."


"Semoga cepet sembuh ya,"


"Iya..."


Bagas yang tak sengaja mendengar percakapan para mahasiswi itu mengerutkan keningnya.


'Ruhi sakit ? Perasaan tadi sehat sehat aja deh,' batin Bagas.


Terdengar derap langkah kaki diperkirakan berjumlah 3 orang mendekati tempat Bagas berdiri. Derap langkah itu cenderung seperti langkah orang tengah berlari. Dan benar rupanya...


Terlihat dari ujung lorong, ketiga cogannya --cowok gantengnya-- PBSI tengah berjalan dengan tergesa-gesa di sepanjang koridor.


Tito, Aziz dan Adi.


Mereka bertiga nampak berjalan tergesa-gesa. Nampak sangat raut panik di wajah mereka bertiga.


Tanpa menatap ataupun menyapa Bagas, ketiganya langsung menuruni tangga kemudian melesat pergi ke parkiran.


"Kenapa dengan mereka bertiga ?" Gumam Bagas sembari menaikkan satu alisnya.


Bagas berusaha tidak peduli. Ia memilih melanjutkan langkahnya menuju ruang prodi PBSI.


#


Rendi membuat geger lobi rumah sakit dengan teriakannya. Dengan panik, ia membopong tubuh ringkih Ruhi. Terlihat beberapa suster datang membawa brangkar untuk membawa Ruhi. Rendi meletakkan tubuh adiknya di atas brangkar lalu ikut mendorong brangkar tersebut.


Setelah brangkar dibawa masuk ke ruang UGD, baik Rendi, Indra maupun Rajendra menunggu di luar.


Rendi nampak sangat cemas. Tidak jauh beda dengan Indra dan Rajendra.


"Dimana pasiennya ?"


"Di UGD dok,"


"Baiklah..."


Ali meraih jas dokternya lalu mengalungkan stetoskop di lehernya. Jangan ditanya lagi seberapa terkejutnya Ali saat mendengar bahwa pasiennya adalah Ruhi, keponakan kesayangannya.


Ali memeriksa kondisi Ruhi. Ia menghela nafas, rupanya apa yang ia takutkan tidak terjadi.


"Gimana Al ?"


"Lebih baik ini kita bahas di dalam ruangan ku,"


Di ruangan Ali.


"Meskipun tadi sempat melemah, sekarang kondisi Ruhi sudah stabil... Hanya perlu menunggu Ruhi siuman... Dan satu lagi," Ali berdiri sembari melepas jas dokternya kemudian ia gantung dalam lemari kaca yang tersedia di ruangannya. Chandra menatap Ali tanpa putus menunggu kelanjutan ucapannya.


"Jangan sampai Ruhi kelelahan... Untuk sementara kegiatannya seperti menari dan teaternya direhatkan dulu,"


"Tapi sebentar lagi teater Langit akan mengadakan pentas tunggal... Dan ku dengar mas Danu mendapuk Ruhi menjadi pemeran utama wanita..." Jelas Rajendra.

__ADS_1


"Kakak lebih sayang universitas ketimbang anak sendiri ?"


"Bukan begitu Al... Kau tau sendiri kan bagaimana keras kepalanya Ruhi ?"


"Itu bukan urusanku," ucap Ali sekenanya.


Tuk!!


Rajendra menjitak kepala Ali.


"Bukannya memberi solusi malah kayak gitu... Mau ku jitak lagi ?"


"Semakin tua kau semakin emosian ya kak ?" Ucap Ali sembari mengusap bekas jitakan di kepalanya. "Saranku... Kakak bicara baik-baik dulu... Setelah itu, terserah tindakan apa yang akan kakak ambil..."


"Rendi setuju dengan om Ali pi..."


"Loh Rendi ? Om baru sadar kalau ada kamu... Ku kira tadi Tito..."


"Sindiran atau gimana nih ?"


"Sensian amat sih nih ponakan satu," ucap Ali gemas.


"Biarin," sungut Rendi.


"Permisi dokter... Ada yang membuat keributan di lobi,"


"Siapa ?"


"Tiga mahasiswa universitas PGRI Diponegoro..."


"Unipdi ? Siapa ? Ayo kita kesana,"


Ali berjalan mengekori satpam yang melapor tadi. Rajendra dan kedua putranya pun ikut. Karena ini juga berhubungan dengan universitas miliknya.


Di lobi.


"Ada apa ini ?" Tanya Ali setelah sampai ditempat.


"Papi," panggil Adi, Aziz dan Tito bersamaan.


"Kalian ? Kenapa kalian disini ? Kalian bolos ?"


"Kita denger kalau Ruhi dilarikan ke rumah sakit, makanya kita langsung otw kesini,"


"Astaghfirullah kalian ini," Rajendra menepuk dahinya.


"Lepaskan mereka pak... Mereka keponakan saya,"


"Lain kali jangan bikin keributan disini... Ini rumah sakit tau," omel si satpam kepada Tito, Aziz, dan Adi. Mereka bertiga mengangguk seperti anak kecil yang dimarahi ibunya.


#


Sekarang Tito, Aziz, Adi, dan Indra berada di ruang rawat Ruhi. Sampai hari menjelang malam Ruhi masih setia dengan kedua matanya yang tertutup rapat.


Ruhi sudah tak sepucat tadi saat dibawa ke rumah sakit. Ruhi nampak sangat damai dalam tidurnya.


Tito terus menatap wajah Ruhi. Ia memejamkan mata sembari merapatkan doa dalam hatinya.


'Ya Allah... Sembuhkan lah perempuan yang hamba cintai setelah ibu hamba ini ya Allah... Jangan biarkan dia pergi...'


'Berikanlah yang terbaik untuk adik hamba ya Allah...' batin Aziz.


"Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam," sahut semua orang yang ada di ruang rawat itu.

__ADS_1


Di ambang pintu nampak Rendi tengah menenteng dua kantong plastik berwarna hitam berisi makanan yang ia beli di kantin rumah sakit.


"Kalian makanlah dulu... Jangan sampai kalian ikut sakit..." Ucap Rendi sembari memberikan bungkusan yang berisi makanan kepada Tito, Adi, Aziz dan Indra.


Mereka berempat hanya memandang nanar bungkusan itu. Dengan kompak, mereka meletakkan bungkusan itu ke meja yang berada di dekat sofa tanpa berniat memakannya.


Rendi menggelengkan kepalanya kemudian ia bertolak pinggang.


"Kalau kalian tidak memakan makanan itu, aku jamin kalian gak bisa ketemu Ruhi lagi,"


"Loh kok mainnya ngancem ?" Protes Tito.


"Aku tidak main main dengan ucapanku... Aku akan mulai berhitung dan sebelum hitungan ke tiga, kalian harus sudah mengambil kemudian memakan makanan kalian," Rendi menatap Tito, Aziz, Adi dan Indra bergantian. Ia menghirup udara hingga memenuhi rongga paru-parunya kemudian menghembuskannya perlahan.


"Satu..." Rendi mulai menghitung.


Tito dan yang lainnya masih diam ditempat.


"Dua..."


Masih belum ada yang beranjak dari tempat.


"Ti..."


"FINE !!" Pekik keempatnya bersamaan. Mereka menyerah dan memilih untuk mengambil kembali bungkusan makanan mereka. Dengan berat hati, mereka akhirnya memakan makanan yang dibawa oleh Rendi.


Rendi tersenyum penuh kemenangan.


"Kenapa kami tidak beri tau mengenai sakitnya Ruhi ?" Tanya Aziz setelah membereskan sisa makanannya.


"Jangankan kalian, aku yang abangnya saja baru tau tadi siang..."


"Kau ini kakak macam apa ?" Ledek Tito dan dihadiahi jitakan dari Rendi. Tito menyesal sudah membangunkan singa jantan yang tertidur.


"Kami juga baru tau itu minggu lalu Ziz," jawab Indra yang juga sudah beres dengan makanannya. Ia membuang bungkus makanan itu ke tempat sampah kemudian mencuci tangannya di wastafel yang berada di kamar mandi ruang rawat Ruhi.


"Sejak kapan ?" Tanya Adi.


"Kalian ini banyak tanya ya," sungut Rendi dengan gemas.


"Kami baru bertanya dua pertanyaan mas," elak Azis.


"Iya iya..."


"Eh jawab dulu," tuntut Adi saat melihat Rendi beranjak dari duduknya.


"Lima bulan yang lalu," jawab Indra.


"APA ?!" pekik Aziz dan Adi bersamaan.


"Kalian kaget kan ? Sama... Kami pun sama terkejutnya seperti kalian... Tapi mau bagaimana lagi, yang sudah terjadi biarlah berlalu... Sekarang tugas kita adalah menjaganya agar penyakit keparat itu tidak menyebar semakin luas... Minimal biar dia bertahan hidup sedikit lebih lama..." Ujar Indra.


"Mas Indra kok babak belur ?"


"Kelakuannya tuh," ucap Indra sembari melirik Rendi yang sibuk dengan ponselnya.


"Apa ?! Mau lagi ?" Sungut Rendi tanpa mengalihkan pandangannya dari ponselnya.


"Pengen bunuh adek sendiri ?!" Indra mendengus kesal.


"Kalau dibutuhkan, kenapa enggak ?" Ucap Rendi dengan entengnya.


"Mati lu mas," ejek Aziz, Adi dan Tito sembari terkekeh.


•••

__ADS_1


TBC❤️


__ADS_2