Luruh Tak Embuh

Luruh Tak Embuh
LTE | DUA PULUH SATU


__ADS_3

Jodhi menghela napas, "Lo memang tidak bisa berbasa-basi ya Ndra."


"Memang beginilah gue. Cepat katakan!"


"Sebenarnya...."


_


"Gue akan menceritakan semuanya dari awal agar tidak ada salah paham diantara kita."


"Duduklah," pinta Indra.


"Tapi gue bukan anak MENWA," ucap Jodhi tidak enak.


"Gue adalah pimpinan tertinggi disini. Jadi... tenanglah tidak ada yang akan melarang lo."


Dengan ragu Jodhi duduk di sofa yang tersedia di Mako MENWA.


"Ceritakan. Gue akan merekam semua cerita lo."


"Baiklah. Kita mulai dari pertaruhan dulu."


"*Kalau aku menang dapat apa nih ?" Ucap Bagas lebih ke nada menantang.


Jodhi menerawang, "Mobil gue."


"Terus apa tantangannya ?" Tanya Bagas tergiur dengan hadiah yang ditawarkan oleh Jodhi.


"Lo harus deketin salah satu mahasiswi semester 1 terus lo pacari dia. Setelah sebulan, lo bisa memiliki mobil gue tapi cuma untuk satu minggu. Gimana ?"


Bagas terlihat tengah menimang taruhan tersebut.


"Deal!"


"Jadi, waktunya cuma 1 bulan 2 minggu. Lebih dari itu dan lo gak bisa memenuhinya, gue menang," ujar Jodhi.


"Oke! Siapa takut*!"


"Nah, mulai dari sana gue curiga dengan Bagas. Dia sepertinya sudah menyusun rencana." Jodhi kembali menerawang ke masa lalu.


"*Hei Gas! Gimana ? Udah ketemu siapa sasaran lo ?"


"Udah," jawab Bagas dengan mantap.


"Siapa ?" Tanya Jodhi sembari menyeruput soda pesanannya.


"Itu dia... Ruhi Rajendra Hayyat Khan." Bagas menunjuk ke arah seorang gadis manis blasteran Indonesia-India yang tengah duduk sembari membaca komik Naruto.


Jodhi terkejut bukan kepalang.


Jodhi menyemburkan soda yang sudah di mulutnya, "WHAT THE HELL!! Bagas! Apa lo gila! Dia itu adiknya Indra! Anak dari pak Raj, rektor sekaligus pemilik yayasan Unipdi!"


"Malah bagus itu. Gue akan mendapat keuntungan dua kali lipat!"


"Kalo dia target lo, gue nyerah! Gue masih sayang nyawa Gas. Lo gak mikir gimana jadinya kalau sampai Indra tau adiknya dijadikan sebagai bahan taruhan!"


"Gue gak tau dan gak mau mikir. Yang terpenting, gue menang di taruhan ini."


"Gue nyerah! Udah! Taruhan kita batalin!" Keputusan Jodhi sudah telak.


"Hoi! Gak bisa gitu dong! Gue bakal memenangkan ini. Liat aja!" Bagas tetap bersikukuh untuk melanjutkan taruhan konyol itu*.


"Gue sudah puluhan kali memperingatkan elo Ndra! Tapi elo nya yang bego! Lo ingat waktu kita ada acara di Gerha ?"


"Ingat."


"Di sana gue mau memperingatkan elo tentang hubungan Ruhi dan Bagas. Tapi sialnya ada Bagas dan Ruhi menghampiri kita dan membatalkan keinginanku."


*Seluruh mahasiswa Universitas PGRI Diponegoro Surabaya tengah berkumpul di Gerha Raharja, Gerha milik yayasan Unipdi. Di sana tengah diadakan acara seminar nasional yang bintang tamunya adalah penulis buku best seller yang sudah di film kan, Dr. Rangga Almahendra, S.T., M.M.


Mulai dari mahasiswa semester 1 hingga 5 berkumpul di Gerha Raharja.


"Gue harus beritahu Indra soal taruhan ini. Indra!"

__ADS_1


"Oh Jodhi. Ada apa ? Snack nya kurang ?" Goda Indra.


"Dih! Bukan itu. Ini soal Ruhi dan Bagas."


"Kenapa dengan mereka ?"


"Mengenai hubungan-"


"Abang!"


"Hai adek manis," sapa Ivan, wakit presiden BEM.


"Modusin adek gue, gue gampar lu!"


"Dih pak presiden kok kaku amat sih. Ntar adeknya tak nikahin lho."


"Jangan ngimpi!"


Tawa Ruhi dan yang lain seketika pecah. Jodhi mengurungkan niatnya untuk mengatakan segalanya*.


"Gue memutuskan untuk menyelidiki maksud Bagas. Dan ketahuan."


*Jodhi mengikuti Bagas tanpa terdeteksi oleh Bagas.


"Tunggu! Ini kan kos-kosannya Maura! Jangan bilang-"


"Hai sayang!"


"Hai!"


"Gimana ? Berhasil menang taruhan ?"


"Menang dong!" Ucap Bagas sembari memasang wajah angkuh.


"Terus, mana mobilnya ?"


"Ntar malem Jodhi ngasihnya. Kamu sabar aja sayang."


"I love you more," balas Bagas.


"Brengsek! Gue ditipu!" Geram Jodhi. Ia memukul batang pohon tempatnya bersembunyi*.


"Di malam semuanya terbongkar, gue sengaja memberikan kunci mobil gue dan mengatakan kalau Bagas menang taruhan pas habis pentas teater langit. Gue juga tau kalau di balik tirai tempat kita membicarakan taruhan, ada Ruhi yang berdiri dan gue harap dia mendengarkan semuanya."


"*Lo pikir gue mencintai Ruhi ? Cih! Jangan harap! bwahahahaha," gelak Bagas saat Jodhi menyerahkan kunci mobilnya kepada Bagas sebagai hadiah atas kemenangan Bagas dalam taruhan memperebutkan Ruhi.


"Jaga mobil gue gas. Cuma seminggu lho gas," Ucap Jodhi sembari memberikan kunci mobil dan STNK nya.


"Iya iya cerewet banget sih. Lumayan buat apel pacar gue."


"Lo beneran punya pacar gas ?"


"Ya punya lah. Lo kira gue jomblo gitu ?"


"Trus lo sama Ruhi gimana ?"


"Emang gue pacaran sama Ruhi ? Bwahahaha jangan berharap deh ya. Ah ya! Dan satu lagi. Gue dapet bonus njir!"


"Bonus ? Bonus apaan ?"


"KKN dipermudah sama dekan. Untung banget kan gue ?"


"Kok bisa ?"


"Ya bisalah. Gue memanfaatkan Ruhi. Dan walaa! Gue berhasil!"


Deg!!


"Benar-benar gak waras lo Gas!"


"Berisik! Yang penting gue dapet enaknya."


Tak sengaja Ruhi menyenggol ember yang berisi beberapa kunci inggris dan menyedot perhatian Bagas dan Jodhi.

__ADS_1


Bagas dan Jodhi terkejut mendapati Ruhi yang menangis sembari memunguti kunci inggris yang berserakan karena ulahnya. Ruhi mengusap air matanya dengan kasar. Bagas dan Jodhi menghampiri Ruhi.


"M-mas Bagas dipanggil sama mas Danu."


"Kamu dengar semuanya Ru ?" Tanya Jodhi. 'Kayaknya gue salah strategi deh,' batin Jodhi.


"Dengar apa ? Harusnya Ruhi yang sadar diri. Permisi."


"Ruhi !! Ruhi !!!!" Panggil Bagas.


Ruhi lari keluar gedung*.


"Demi Allah! Sejak melihat Ruhi menangis, setiap malam gue susah tidur gara-gara kepikiran itu. Gue merasa bersalah. Gue pengen minta maaf sama Ruhi. Dan inilah caraku untuk menebus sedikit kesalahanku dengan menceritakan kebenarannya."


"Terima kasih atas kejujuranmu mas."


Deg!


"Ruhi ?"


"Kalian tenang aja. Ruhi gak bakal nangis. Ruhi kuat...."


Bruk!


Ruhi ambruk diambang pintu masuk Mako MENWA. Beruntung Reno memiliki refleks yang terhitung bagus. Reno dengan sigap menangkap tubuh mungil itu.


"Eh Ndra! Adek lo kenapa? Dia mimisan!"


"Ya Allah! Jangan lagi!"


"Ruhi kenapa Ndra?"


"Dia sakit."


"Sakit? Sakit apa?"


"L-leukimia," jawab Indra dengan ragu.


"APA!"


"Sekarang bukan waktunya banyak tanya. Ayo bawa Ruhi ke rumah sakit milik om ku. Reno! Ambil mobil gue. CEPET!"


Bersama dengan Reno dan Jodhi, Indra membawa Ruhi ke rumah sakit lagi. Karena Ruhi sengaja kabur dari rumah sakit tanpa sepengetahuan Tito dan perawat.


#


"Gue tau cara kita ini salah Ra! Makanya... Daripada setengah-setengah, lebih baik kita nyemplung sekalian."


"Lo gila Gas! Gue kira lo cuma bercanda. Ternyata memang lo serius. Gue gak tanggung jawab kalau suatu hari lo menyesal udah menyakiti hati Ruhi. Karena secara tidak sadar lo perlahan sayang sama Ruhi. DAN SAYANG LO UDAH BERUBAH MENJADI CINTA GAS!"


"Ngomong apaan sih yang ?"


"Gausah sayang sayangan deh! Lo sayangnya sama Ruhi bukan sama gue lagi. Gue sadar itu. Makanya gue gak mau Lo menyesal karena terlambat menyadari semuanya Gas."


"Terus, apa mau lo sekarang ?"


"Kita putus."


"Oke. Tapi lo gak bakal bisa lolos dari hukuman pak Raj mengenai akal-akalan kita soal KKN itu."


"Gue gak takut ancaman lo. Karena pak Raj udah tau semuanya."


"A-apa ?"


"Iya. Pak Raj tau mengenai semua perilaku lo ke Ruhi kek gimana. Dan pak Raj tau semuanya karena Reno. Si intel kampus, yang sekarang menjabat sebagai anggota MENWA."


"Gak mungkin."


"Terserah mau percaya atau enggak. Yang penting gue gak mau masuk campur apapun nanti yang menimpa lo ataupun perasaan lo!"


•••


TBC♥️

__ADS_1


__ADS_2