Luruh Tak Embuh

Luruh Tak Embuh
LTE | DUA PULUH TUJUH


__ADS_3

"Katakan pada kami kalau itu tidak benar Ru."


Ruhi dan Tito sama-sama membeku di tempat mereka berdiri. Keringat dingin mulai mengalir ke pelipis Ruhi dan tangannya gemetar. Perlahan Ruhi memutar tubuhnya dan ia bisa melihat 3 orang sahabatnya, Riko, Caca dan Nada. Ketiganya menatap Ruhi dengan tatapan meminta kejelasan atas ucapannya barusan.


"Kalian?"


"Kenapa? Terkejut?" Ketus Caca.


"Kami lebih terkejut dengan ucapanmu barusan. Kami meminta penjelasan kalian berdua."


"Soal apa?" Tanya Ruhi berlagak tidak tau apa-apa.


"Leukimia."


"A-aku-"


"KAU ANGGAP APA KAMI INI RUHI! DENGAN KAU MENYEMBUNYIKAN KEBENARAN PENYAKITMU, KAU MALAH SEMAKIN MENYAKITI KAMI SEBAGAI SAHABATMU!"


"Aku tau Ca... Aku-"


"AKU KECEWA PADAMU RUHI! AKU KECEWA!"


"Kau anggap apa kami ini, ha! Kita ini sahabat Ru! Kenapa kau menyembunyikan hal sebesar itu dari kami! Dasar bodoh!"


"Itu karena aku tidak ingin membebani kalian," ucap Ruhi dengan menundukkan kepalanya.


Plak!


"Kita sudah lama bersahabat Ruhi! Kita sudah seperti saudara. Tapi kau!"


"Maaf! Maafkan aku. Aku salah karena menyembunyikan ini semua dari kalian. Aku takut kalau aku akan mengecewakan kalian semua," ujar Ruhi.


"Kau salah Ruhi. Kau salah!"


"Maafkan aku."


"Jadi itu alasanmu bolak balik rumah sakit? Iya?" Tanya Riko memastikan.


Ruhi mengangguk.

__ADS_1


"Kenapa Ruhi? Apa kau membenci kami? Atau kau sudah tidak percaya pada kami?" Tanya Riko lagi dengan nada terluka.


"Bukan begitu. Aku tau cepat atau lambat kalian pasti tau. Dan aku tidak mau kalian membuat langkahku menuju akhirat semakin berat."


"Bicara apa kau ini Ruhi! Kau akan sembuh Ruhi!" Sentak Tito tidak terima dengan pernyataan Ruhi.


"Kalian tidak tau apa yang ku rasakan selama ini! Aku... A...ku-"


Bruk!


"Ruhi!"


Ruhi ambruk. Beruntung Tito segera menangkap tubuh Ruhi. Ruhi mimisan lagi. Bahkan darahnya lebih pekat dan lebih banyak dibandingkan kemarin-kemarin.


"Ya Allah Ruhi mimisan mu semakin banyak!" Tito gemetar memangku kepala Ruhi. Ruhi benar-benar menutup matanya dan membuat Tito panik.


"Telpon ambulan! Telpon ambulan!" Teriak Tito histeris.


Caca, Riko dan Nada kalang kabut. Riko langsung menelpon ambulan sedangkan Caca pergi mencari Indra yang entah ada dimana dia sekarang.


Caca berlarian disepanjang lorong lalu menuruni tangga menuju lantai dua. Caca terus berlari mencari keberadaan Indra hingga dia menabrak beberapa orang dan beberapa kali juga dia harus minta maaf. Caca tidak peduli, yang ia pedulikan sekarang adalah mencari dimana Indra.


"Ruhi mas... Ruhi-"


Belum selesai mengatakan niatnya mencari Indra, perhatian mereka teralihkan pada ambulan yang memasuki kampus. Beberapa saat kemudian nampak Tito membopong tubuh dari gadis kesayangan Indra.


"Ruhi?" Gumam Indra sembari menajamkan penglihatannya.


"RUHI!" Teriak Indra saat ia benar-benar yakin kalau yang dibopong oleh Tito adalah adiknya. Indra berlari menghampiri Ruhi yang sudah dibaringkan di atas brangkar dengan darah yang terus mengalir dari hidungnya.


"Ruhi! Bangun!"


"Permisi, anda menghalangi kami untuk membawa pasien ke rumah sakit."


"Aku kakaknya! Biarkan aku ikut ambulan ini. Aku mohon!"


"Baiklah."


"Tito! Ambil kunci mobilku di Mako menwa lalu susul kami ke rumah sakit!"

__ADS_1


"I-iya mas."


Kedua perawat itu memasukkan brangkar ke ambulan kemudian Indra ikut naik.


"Hei ada apa itu? Kenapa ada ambulan?"


"Itu kan Ruhi!"


"Ya Tuhan! Cepat beritahukan kepada pak rektor!"


"Lagi?"


"Semoga lekas sembuh."


Setelah ambulan pergi, banyak bisik-bisik dari mahasiswa dan mahasiswi Unipdi yang melihat Ruhi di bawa masuk ambulan.


Caca, Nada dan Riko ikut mengekori ambulan dengan menaiki mobil Riko. Tito mengendarai mobil Indra gila-gilaan, hampir saja dia menabrak kendaraan di depannya. Tito mengatur napas dan juga tangannya yang gemetar. Keringat dingin membasahi pelipisnya. Ia sangat takut kehilangan Ruhi. Sangat takut. Semoga Ruhi baik-baik saja.


#


Rajendra terduduk lemas di lantai ruang rapat petinggi yayasan Unipdi. Baru saja dia selesai melakukan rapat dan tiba-tiba ia mendapat kabar bahwa putrinya kembali di bawa ke rumah sakit. Rajendra semakin takut kehilangan putri kecilnya. Ia belum siap dan tidak akan pernah siap menghadapi ketakutan kehilangan putri kecilnya itu.


Ponsel Rajendra bergetar dan menampilkan nama kontak Indra.


"...."


"Wa'alaikumsalam. Bagaimana keadaan adikmu Indra?"


"...."


Brak!


Ponsel Rajendra terjatuh ke lantai. Beruntung ponsel Rajendra tahan banting karena harga satuannya seharga dengan motor matic.


"Desta! Siapkan mobilku sekarang juga!"


•••


TBC🖤

__ADS_1


__ADS_2