
Bugh!
Bagas terjatuh tak sadarkan diri kemudian beberapa pemuda berseragam menwa menyeret tubuh Bagas memasuki gudang yang terletak di samping camp Pramuka dan sedikit terpencil dari kampus utama.
Bagas diikat di sebuah kursi kayu dengan keadaan wajah yang ditutupi kain hitam.
Lima menit kemudian, nampak pergerakan kecil dari Bagas menandakan dia sudah sadar dari pingsannya. Dengan kasar seseorang menarik kain yang menutupi wajah Bagas sampai sedikit menarik rambut Bagas. Bagas hanya memekik menahan sakitnya.
Pertama kali yang Bagas lihat adalah ruangan sempit berdebu dengan lampu temaram yang mungkin bohlamnya sebentar lagi akan putus. Mirip ruang pengintrogasian.
"Indra?"
Indra menghampiri Bagas dengan sebilah pisau di genggaman tangan kanannya. Indra menempelkan punggung pisaunya ke leher Bagas.
"Bajingan," desis Indra tepat di depan Bagas.
"A-apa maumu? D-dan apa salahku?" Tanya Bagas memberanikan dirinya.
Indra terbahak lalu sekejap kemudian air mukanya berubah menyeramkan.
"Kau bertanya apa kesalahanmu?"
Indra menekan punggung pisaunya ke leher Bagas dan semakin mencekik leher Bagas. Sedetik kemudian Indra melemparkan pisaunya ke sembarang arah. Pisau itu sangat tajam bahkan mampu menancap dengan sempurna di dinding.
Tangan kanan Indra yang sudah bebas, langsung mencengkeram rahang Bagas.
"Kesalahanmu hanya satu. Kau berani bermain-main dengan keluarga Khan."
Bagas menatap Indra.
"Masih tidak mengerti?" Ujar Indra sembari menodongkan tangannya meminta Reno untuk menyerahkan cambuk kesayangannya.
Plas!
Bagas memekik, "Indra!"
"Kau berani-beraninya menyakiti adikku Ruhi! Kau pikir siapa kau ini? Kau hanya manusia tak tau di untung yang secara kebetulan dicintai oleh adikku."
Plas!
"Kau mendekati Ruhi lagi karena permintaan mas Danu kan?"
Bagas menggeleng.
"Bohong!"
Plas!
"M-memang mas Danu meminta aku untuk mencari tau mengenai Ruhi. Karena aku tidak tau dengan cara apa, akhirnya aku memilih cara dengan mendekati Ruhi lagi melalui kakakmu Rendi."
"Bajingan kau Bagas!"
Indra mencambuk Bagas beberapa kali di bagian punggung. Indra semakin menggila dan akhirnya Reno dkk turun tangan untuk menahan kemarahan Indra sebelum Bagas benar-benar mati di tangan Indra.
"Lepaskan aku!"
Indra melepaskan dirinya lalu menghampiri Bagas yang mengerang kesakitan.
"Cepat atau lambat aku akan membunuhmu. Ingat itu bajingan!" Desis Indra.
__ADS_1
Indra memutar tubuhnya, "Urus dia," titahnya kepada Reno dan bawahannya yang lain. Reno dan yang lainnya mengangguk. Indra langsung meninggalkan gudang kotor itu dengan wajah mengerikan.
#
Seminggu kemudian.
Cafe rute 34, Surabaya.
Pras, Dika, Rhea, Arina, Bagas, Danu, Saza, Nada, Caca dan Riko tengah berkumpul di kafe langganan mereka jika selesai latihan teater untuk sekedar ngopi dan ngobrol.
Kesepuluh orang itu terdiam sembari sesekali saling memandang. Di keheningan itu, tiba-tiba Rhea bersuara.
"Mas Danu," panggil Rhea.
Danu menoleh menatap Rhea, "Kenapa?" Tanyanya.
"Pentas tunggal kan tinggal dua minggu lagi to mas. Tapi Ruhi, selaku tokoh utama, selama satu minggu ini dia tidak pernah datang untuk latihan bahkan hari minggu kemarin dia tidak ikut membuat properti dan pematangan musik."
"Langsung to the poin," ucap Danu.
"Bagaimana kalau peran Ruhi diganti saja mas? Daripada kita nunggu Ruhi yang cuma main-main itu," ucap Rhea.
"Apa maksud mbak Rhea mengatakan itu?" Sungut Caca. Rhea menatap Caca dengan tatapan tidak suka.
"Iya mbak. Mbak Rhea gak suka ya kalau Ruhi jadi pemeran utama?" Tanya Saza penuh selidik.
"Ya bukan begitu. Kan aku cuma pengen yang terbaik untuk teater Langit."
"Terbaik untuk teater Langit atau untuk dirimu sendiri?"
"Kenapa kau selalu memojokkanku? Sebenarnya apa masalahmu?"
"Siapa yang memojokkanmu? Bukan aku yang punya masalah denganmu disini. Tapi kau sendiri yang bermasalah dengan dirimu sendiri. Sudah beberapa kali kau menginginkan agar Ruhi diganti perannya. Kenapa? Ada apa? Kau pikir kalau kau bisa menggantikan posisi Ruhi, kau akan bisa menandinginya? Iya?" Sungut Bagas kesal kepada Rhea.
"Oke, kalau memang kau tidak setuju kalau Ruhi diganti."
"Emangnya kenapa sih mbak? Mbak Rhea gak suka sama Ruhi?"
"Bukan begitu... tapi, ada yang ingin aku pertanyakan. Kenapa Ruhi tidak hadir latihan? Kalau satu hari atau dua hari masih boleh lah. Lha ini? Satu minggu full dia tidak hadir. Alasan apalagi? Sakit? Atau masih tipes? Atau gimana hah?" Rhea mulai nyolot.
"A-"
"Apa yang dikatakan Rhea benar. Kalian sebagai sahabat terdekat Ruhi, kalian pasti tau dimana Ruhi saat ini," ujar Danu yang dari tadi menyimak pertengkaran anak didiknya.
Caca, Nada dan Riko saling menatap lalu sama-sama terdiam.
"Nah kan! Sahabatnya saja tidak tau dia ada dimana. Gimana mas?" Wajah Rhea saat ini benar-benar terlihat sangat menjengkelkan. Dia sekarang merasa di atas awan karena Danu sedikit membelanya.
Danu nampak berpikir.
"R-ruhi sakit mas," ucap Caca dengan ragu.
Danu dan yang lain menatap Caca kecuali Riko dan Nada yang nampak gugup juga. Mereka menunggu kelanjutan ucapan Caca.
"Lha iya sakit apa?"
"Mau alasan sakit lagi?" Sungut Rhea.
"Dia sakit-"
__ADS_1
"Lha iya! Sakit apa?" Bentak Rhea.
"Leukimia!" Jawab Caca juga berteriak.
Deg!
Seketika suasana kafe menjadi hening. Pelanggan yang lain pun ikut mendengar pertengkaran yang terjadi di meja nomer 5 itu.
"Kau pasti berbohong kan Ca?" Tanya Bagas tidak percaya.
"Untuk apa aku berbohong?"
"Ruhi didiagnosa menderita kanker darah stadium akhir ini sejak 8 bulan yang lalu."
"Jadi akhir-akhir ini Ruhi sering keluar masuk rumah sakit itu karena-"
"Ya! Dan mas Bagas malah terus-menerus menyakiti Ruhi! Sebelumnya saya mohon maaf mas Danu," ucap Caca sedikit melunakkan nada ketusnya.
Danu menatap Caca dengan intens, "Ada apa?"
"Apa benar mas Danu meminta mas Bagas untuk mendekati Ruhi lagi hanya untuk mencari tau tentang Ruhi?"
Danu mengerutkan alisnya lalu menatap Bagas dengan sengit. Kilatan amarah terpampang jelas di wajah Danu.
"Aku tidak pernah meminta Bagas melakukan itu. Aku hanya meminta Bagas untuk mencari tau tentang Ruhi dengan caranya sendiri tapi bukan berarti dengan cara seperti itu. Lagipula kau masih pacaran dengan Maura kan Gas?"
"Anu mas."
"Sudah kuduga." Caca berdiri, "Saya permisi pulang mas," pamitnya sembari menjabat tangan Danu.
"Kami juga pamit mas."
Nada dan Riko sama-sama pamit lalu segera pergi meninggalkan kafe itu.
#
"Satu... Dua...."
Ali menempelkan alat pengejut jantung ke dada Ruhi tempat jantung gadis cantik itu bersemayam.
Belum ada respon.
Ali kembali menempelkan alat pengejut jantung ke dada Ruhi. Pada percobaan ketiga, jantung Ruhi kembali berdetak.
Tubuh Ali meluruh ke lantai setelah mengamankan alat pengejut jantungnya. Ia masih bisa merasakan jantungnya berdetak walau ritme detak jantungnya seperti sehabis berlari satu kilometer.
Setidaknya keponakannya masih hidup.
Ali keluar dari ruang rawat Ruhi untuk menghampiri Rajendra dan kedua keponakannya yang lain.
"Bagaimana om?" Tanya Rendi yang masih lengkap dengan seragam lorengnya.
"Alhamdulillah Ruhi sudah stabil. Tinggal menunggu kapan Ruhi siuman."
"Syukurlah," gumam Indra dan Rajendra bersamaan.
"Apa aku boleh menemuinya?" Tanya Rajendra.
"Why not?"
__ADS_1
•••
TBC♥️